Bagaimanakah rupa sebuah museum di masa depan? Menjulang tinggikah? Virtualkah? Dan karya-karya apa sajakah yang mampu menembus institusi ini? Paling tidak itu adalah sedikit dari banyak pertimbangan tentang permuseuman di masa depan. Salah satu zona dalam Pasar Seni ITB yang mendatang (10 Oktober 2010) adalah menampilkan bentuk museum masa depan lengkap dengan karya-karya inovatif yang masuk ke dalamnya.
Zona Museum Masa Depan bukanlah satu-satunya zona yang akan ditampilkan Pasar Seni ITB (yang selanjutnya disingkat sebagai PS ITB). Ada Zona sawah yang penanaman sawahnya menjadi salah satu mata acara pra PS ITB. Ada Zona Neraka, Jamming, Kamar Vibrator dan Air Doa. Atraksi lain adalah para performer yang akan tampil dengan dua tema yaitu “Mengingatkan” dan “Melupakan”. Penampilan “Mengingatkan” adalah area di mana penonton akan diingatkan dengan kesenian tradisi nusantara; sementara penampilan “Melupakan” diharapkan dapat membuat penontonnya lupa akan kenyataan yang ada. Selain zona, penampilan, PS ITB pun menyuguhkan stan-stan yang menawarkan berbagai karya senirupa.
Siapa yang tak kenal Pasar Seni ITB. Ajang rutin empat tahun sekali ini telah menjadi agenda rutin yang dinanti-nanti oleh berbagai kalangan. Ajang ini pun mampu menjadi agen perubahan di medan sosial senirupa Indonesia. Tak lekang dari ingatan kita bahwa ajang ini mampu menginspirasikan seorang Ciputra untuk kemudian menggagas Pasar Seni Jaya Ancol yang kemudian tumbuh menjadi sebuah polar sendiri di ranah senirupa Indonesia.
PS ITB ini sebenarnya lahir di tahun 1972 atas prakarsa Prof A.D, Pirous yang juga menjadi pengajar di FSRD ITB. Ide ini bermula setelah kepulangan AD Pirous dari studinya di Amerika Serikat pada dekade 1970-an. Selama berkesenian di Negeri Paman Sam ini, ia dan teman-teman perupa memiliki sebuah tradisi yaitu garage sale di pergantian musim gugur mengingat datangnya musim dingin tanpa storage yang layak dapat membahayakan karya-karya para mahasiswa. Kegiatan inilah yang berusaha ditumbuhkan sang professor di civitasnya. Dan lebih dari sekedar garage sale para mahasiswa, PS ITB telah menjadi ajang “pencarian bakat” dan juga memediasi para mahasiswa-perupa dengan publik tanpa perantara institusi galeri komersial yang kerap membuat orang awam sungkan.
Tahun ini, PS ITB pun berkerjasama dengan berbagai institusi senirupa seperti ISI, IKJ, UPH Mushashino dan Kobe Malaysia untuk menampilkan berbagai karya senirupa. Selain institusi, berbagai komunitas pun akan turut meramaikan acara yang menjadi Halan Ganesha sebagai nadi acara ini. Dan tentunya masih banyak hal lain yang ditampilkan. Sampai Bertemu di Bandung [V]
|