SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
BERTOLAK DARI KEKALAHAN KOMPETISI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 17 October 2010 23:48

Oleh: Deni Junaedi

 

Musim kompetisi seni rupa kembali bersemi. Berbagai format, tingkat, lingkup, dan iming-iming ditawarkan untuk menarik peserta. Dari yang bertaraf nasional seperti Indonesia Art Award 2010 atau Jakarta Art Award 2010 hingga lingkup lokal semisal Tujuh Bintang Art Award. Kadang penyeleggara membidik usia tertentu, Bazaar Art Award 2010 hanya untuk perupa muda di bawah 30 tahun; sementara yang lebih tua asal tidak melampaui 40 tahun bisa mendaftar ke Bandung Contemporary Art Awards.

Tak hanya itu, jika mau, perupa Indonesia dapat memperluas jangkauannya ke kompetisi Internasional. Yang suka drawing, misalnya, bisa berlomba lewat World Gallery of Drawings Skopje 2010 di Macedonia; sementara yang demen bikin kartun dapat mengikuti sayembara 4th China Guangxi City College International Cartoon Contest 2010. Bukan impian kosong buat perupa Indonesia untuk menembus kompetisi Internasional, berbagai event pernah diraih. Sebut saja Nurkholis yang berhasil menyabet hadiah The Beppu Asia Contemporary Art Exhibition; atau Catur Binaprasetyo yang dapat menyandang juara pertama dalam Australian-Indonesia Golden Friendship Art Competition dan juga diterima di Jepang pada gelaran Osaka Trennale.

Namun demikian, sebagaimana layaknya kompetisi, jumlah peserta tersisih jauh lebih banyak ketimbang yang menjadi nominasi apalagi menyandang predikat juara. Contoh dalam Indonesia Art Award 2010, hanya 5 yang dihadiahi karya terbaik dan hanya 90 dalam deret nominasi, sementara 1.101 lainnya mesti tersisih. Angka itu itu belum apa-apa dibanding satu dasawarsa lalu yang mencapai 3.000-an karya tersisih dan tentu saja tidak bisa dipajang di Galeri Nasional Indonesia.

Kadang banyaknya jumlah peserta tertolak bisa merepotkan pemerintah. Sebagaimana dialami Napoleon III pada tahun 1863. Kala itu lebih dari 4.000 seniman tersisih dari Prix de Rome, suatu kompetisi dengan hadiah beasiswa belajar seni ke ibu kota seni rupa klasik Roma. Sang Presiden menggagas pameran untuk karya-karya yang tidak lolos seleksi, tajuk pameran pun sungguh literal: Salon des Refusés atau Pameran untuk Karya-Karya Tertolak. Meski demikian pameran tersebut tetap menimbulkan kontroversi, di antara peserta yang bangga karena karyanya dapat dipamerkan, tidak kurang dari 600 lukisan diturunkan senimannya karena merasa berada di bawah bayang-bayang.

 

Ketertolakan Sebagai Momentum

Sangat wajar jika perupa yang belum berhasil terseleksi merasa kecewa. Tentu saja kadar kekecewaan mereka berbeda. Ada yang kecewa berat karena awalnya sangat yakin akan menjadi juara dan telah mengimpikan hadiah ratusan juta rupiah, ada juga yang kecewa ringan karena hanya iseng-iseng saat mengirimkan proposal, atau mungkin merasa biasa-biasa saja karena telah berpengalaman ditolak.

Efek dari ketertolakan juga berlainan. Ada seniman yang semakin tertantang dan terpompa semangatnya untuk memenangkan kompetisi berikutnya. Ada yang tidak mau lagi mengikuti kompetisi karena merasa karyanya bukan jenis yang diinginkan dewan juri. Di sisi lain ada juga yang patah arang atau minder berkarya.

Di antara sekian banyak akibat yang timbul, terdapat beberapa seniman yang justru ngetop setelah kekalahannya. Peristiwa bersejarah yang dialami Édouard Manet pas sebagai contoh. Setelah menjadi pecundang dalam lomba lukis Prix de Rome, pelukis Paris kelahiran 23 January 1832 itu menjadi tokoh revolusioner dalam Salon des Refusés. Waktu itu ia tampil dengan Le déjeuner sur l'herbe atau Makan Siang di Rerumputan, lukisan cat minyak ukuran 208 × 265.5 cm.

Lewat karya yang sekarang dikoleksi Musée d'Orsay itu, Manet mengubah kebiasaan seniman akademis. Saat semua orang mengerjakan lukisan dengan kaidah seni klasik yang ketat, misalnya penggunaan gelap terang chiaroscuro, Manet lebih memilih warna-warna datar. Ketika yang lain memandang seni lukis mesti mengandung pesan tertentu, Manet berpendapat, “Lukisan adalah masalah bentuk, bukan persoalan isi.” Karena itu, sejarawan seni H. Harvard Arnason menempatkan Manet sebagai pelopor seni rupa modern.

Aksi seniman-seniman yang tidak terakomodasi dalam kompetisi juga mewarnai sejarah seni rupa Indonesia. Tahun 1974, Hardi, B. Murni Ardhi, M. Sulebar, dan empat belas seniman muda lainnya menandatangani Surat Pernyataan “Desember Hitam” sebagai protes keras terhadap juri Biennale Seni Lukis Indonesia yang hanya memilih lukisan-lukisan dekoratif sebagai karya terbaik. Unjuk rasa dilakukan lewat happening art sarkastik dengan haturan karangan bunga bertuliskan “Ikut berduka atas matinya seni lukis Indonesia”. Kendati beberapa pendemo mendapat sangsi akademis, namun peran mereka berarti bagi arah seni rupa Indonesia.

Tindakan berbeda dilakukan oleh Filippo Brunelleschi, ia memilih berkelana setelah kalah bertanding. Brunelleschi tersingkir oleh Lorenzo Ghiberti dalam persaingan ketat perlombaan mendesain pintu perunggu Baptisterium Firenze pada tahun 1401. Ia memutuskan berziarah ke Roma, mempelajari puing-puing seni klasik. Brunelleschi tidak mempedulikan urusan makan, minum, bertempat tinggal, atau berpakaian, asalakan dapat memuaskan diri dengan semua yang dilihat dan diukur (kelak cara hidup seperti itu banyak dicontoh seniman-seniman bohemian). Yang dikerjakan Brunelleschi tak sia-sia, akhirnya ia tercatat sebagai arsitek Renaissance terkemuka. Kubah Katedral Florence menjadi salah satu masterpiecenya.

 

Bukan Parameter Absolut

“Seberapa pun objektif tetap subjektif, seberapa pun subjektif tetap objektif,” demikian salah satu pendapat yang bisa jadi benar dalam penilaian kompetisi seni rupa. Objektifitas semakin meningkat jika para juri terdiri dari orang-orang yang berkompeten dalam bidang seni rupa, seperti kurator berpengalaman, kritikus berwawasan luas, atau akademisi cerdas. Sebaliknya, subjektifitas lah yang justru meningkat jika jurinya miskin visual dan gagap teori seni rupa. Juri tak sekedar butuh ketenaran nama karena sering membeli karya atau jabatan formal dalam pemerintahan. Meski para juri terdiri dari tokoh pintar dalam dunia seni rupa, tetap saja menyisakan unsur subjektifitas karena seni berkaitan dengan citarasa sementara citarasa berkaitan dengan pengalaman masing-masing orang.

Perbedaan parameter kadang menimbulkan kisah suatu karya ditolak pada event tertentu namun justru dielu-elukan dalam seleksi lain. Isur Suroso gagal lolos kurasi pameran drawing di Galeri Nasional Indonesia namun dengan karya yang sama, Therapy of Silence No.7, bisa bertengger di urutan ketiga The Beppu Asia Biennale of Contemporarary Art 2010.

Kendati kompetisi bukan segala-galanya untuk meraih keberhasilan hidup berkesenian, serius dalam menyiapkan karya jika ingin mengikuti kompetisi tetap saja diperlukan. Sebab dengan karya maksimal setidaknya dapat terukur seberapa kuat suatu karya dihadapan dewan juri. Mengajukan karya maksimal seharusnya justru mengurangi kekecewaan saat tahu tidak menembus kejuaraan, tidak lagi ada dugaan, “Seandainya dulu aku serius, mungkin…”



Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6816)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6655)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa