SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
Kepingan Rekaman, Menyoal Keindonesian dalam Seni Rupa Indonesia PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 November 2010 13:31

Hafiz*

Tiga tahun lalu, saya diminta oleh Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk melakukan penelitian dan mempresentasikan arsip-arsip yang tersimpan di Pusat Data DKJ itu dalam pameran seni rupa arsip.

Kejutan-kejutan terjadi, karena penemuan beberapa sumber yang selama ini tersimpan dan tidak pernah dipublikasikan ke publik. Salah satu harta karun sejarah seni rupa Indonesia itu adalah rekaman suara Oesman Effendi (OE) saat ia menyampaikan pernyataan kontroversial tentang Seni Lukis Indonesia. Kepingan-kepingan rekaman itulah yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini.

Pada 28 Agustus 1969, di Lembaga Indonesia Amerika, Jalan Teuku Umar No. 9 Jakarta diadakan sebuah peristiwa yang menurut saya sangat penting dalam perkembangan seni rupa moderen Indonesia dewasa ini. Diskusi yang mengangkat tema ‘Dunia Kesenian di Indonesia Zaman Sekarang’ itu mengundang Oesman Effendi—yang pada waktu itu menjabat sebagai Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta— sebagai pembicara. Peristiwa ini menjadi penting, karena dari sini geliat perdebatan tentang identitas dan corak Indonesia dalam seni rupa moderen dunia mencuat keluar, sehingga terjadi respons-respons penting yang hingga hari ini tercatat sebagai bagian penting dari perjalan sejarah seni rupa kita pada tahun 1970an. Pernyataan OE yang mengatakan “tidak ada seni (rupa—penulis) lukis Indonesia”, itulah yang menjadi pemicunya.

Identitas keindonesiaan dan persoalan modernitas sudah menjadi perdebatan panjang sejak sebelum negara ini berdiri. Tidak hanya politik, dalam kesenian pun terjadi hal yang sama. Pada 1937, S. Sudjojono dan kawan-kawan, dengan PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia), mempertanyakan kembali bagaimana seni rupa sebagai identitas yang merepresentasikan keindonesian yang sebenarnya.

Seorang penulis Belanda, J. Hopman, menulis tentang seni lukis di Indonesia setelah sepuluh tahun setelah PERSAGI berdiri;

Jika saya mengatakan, bahwa kita dengan tiba-tiba saja berhadapan dengan seni lukis Indonesia, sebetulnya perkataan saya itu salah. Seni lukis itu belum ada, dan untuk sementara waktu ia juga tidak akan ada. [ ] Seteleng-seteleng (pameran) yang dipertunjukan di Jakarta sifatnya mengikuti seni Barat, [ ].

Tulisan di majalah Uitzich ini mendapat kecaman keras S. Sudjojono. Ia menuliskan pembelaan pada eksistensi seni lukis Indoenesia dalam ‘Kami Tahu Kemana Seni Lukis Indonesia Akan Kami Bawa’. Di salah satu bagian tulisan itu, Sudjojono menulis;

Mereka masih menyangka, bahwa orang Indonesia tidak akan bisa menjelamakan seni lukis yang impresionistik, ekspresionistik, realistic, kubistik, atau surrealistik kalau orang-orang seperti Kokoschka, Klee, Munch, Chagall, Utrillo, dan kawan-kawan tidak lahir. Kalau kita bisa membuat Borobudur, yang kalau dibandingakan dengan Hunpebedden dan ‘de Amsterdamse Beurs’ Belanda, sebenarnya perbandingan antara seorang nabi, dan seorang heiden, maka kita tidak omong kosong kalau kita bisa berkata; “ Kalau Eropa plus Belanda dan bangsa-bangsanya tumpas, kita yang akan meneruskan peradaban dan seni lukis dunia”.

Hampir dua puluh tahun setelah perdebatan J.Hopman dan S.Sudjojono terjadi, Oesman Effendi melemparkan bola panas persoalan identitas itu kembali dalam diskusi di Lembaga Indonesia Amerika itu. OE membuka presentasinya dengan mengatakan “seni lukis Indonesia tidak ada”. Pendapat ini menurutnya telah dia percaya dan pikirkan sejak tahun 1956, yang disampaikannya kepada kawan-kawan sesama pelukis. Baginya seni lukis Indonesia baru bisa dikatakan “ada” kalau sudah ada “cap Indonesia”—yaitu sebuah corak yang hanya muncul dengan kerja kesenian dari hasil pergumulan mati-matian dan ‘self-critic’ yang tiada habis-habisnya. Menurut OE hal itulah yang tidak ia temukan lagi pada seni lukis Indonesia pada tahun 1969. Namun, yang baik di sini adalah bangsa Indonesia sudah mulai melukis dan sudah banyak yang berani menerjunkan dirinya menjadi seorang pelukis.

Bagi OE, zaman gemilang seni lukis Indonesia adalah saat revolusi di Indonesia. Pada periode itu, para pelukis muda yang dimotori oleh S. Sudjojono dan Affandi dengan mati-matian dan menyerahkan seluruh hidupnya bagi tujuan yang jelas bagi kesenian Indonesia. Kegemilangan itu pudar setelah mulai masuk pengaruh-pengaruh dari luar (internasiona) yang sangat menentukan bagaimana para seniman berkarya. Bangsa Indonesia, menurut OE sangat rapuh terhadap hal-hal yang baru.

Dalam diskusi itu menurut OE, yang tidak ada dari para pelukis Indonesia adalah suatu sikap yang jelas. Arah dan gaya dari para pelukis lebih banyak ditentukan oleh beberapa gelintir pelukis senior saja. Apa yang menurut Sudjojono benar, akan diikuti oleh pengikutnya. Apa yang menurut Seniman Indonesia Muda (SIM) benar, akan diikuti pula oleh para anggotanya. Apa yang menurut para seniman senior di LEKRA benar, diikuti pula oleh para kader-kadernya. Begitu pula apa yang diajarkan oleh para pengajar di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung dan ASRI (ISI Yogyakarta sekarang), akan diikuti oleh para murid-muridnya.

OE mengatakan yang paling sangat menyedihkan adalah tidak ada satu pun ahli kritik (kritikus seni rupa) yang melihat keadaan pindah arah, pinda aliran, dan taktik untuk mencapai sukses yang bertujuan untuk kepentingan laku banyak lukisannya sebagai sebuah persoalan. Padahal semua itu tidak ada hubungannya dengan bagaimana seorang pelukis seharusnya berprilaku dalam kesenian, kalau ia ingin disebut seorang seniman. Hampir tidak ada pelukis yang tunduk pada panggilan dan menyelamatkan bakatnya. Boleh dikatakan hampir semuanya menyerah pada nasib atau memilih mencari nafkah semata. Hal ini tidak lepas pengaruh dari galeri, para kolektor, para pembeli yang menjadi  maesenas baru.

Dalam pernyataannya OE mengatakan:

“Nyata-nyata kita lihat, tiap-tiap pelukis yang laku, hampir semuanya tidak ada lagi keberanian untuk mengadakan semacam eksperimen baru, self-critic, atau melakukan sedikit ‘berhenti sebentar’ untuk merenungkan dirinya, atau berhenti sebentar untuk melakukan ‘perhitungan’ dengan segala yang telah dicapainya. Hampir semuanya mengulang apa yang menurutnya ‘dijamin’ laku. Sudah menjadi ‘tradisi’ bagi para pelukis muda sekarang, seorang pelukis yang benar bisa diakui sebagai seorang pelukis yang ‘sukses’ adalah pelukis yang laku.”

Bagi OE, yang tidak ada dalam dunia seni lukis adalah memperjuangkan “ide” atau pikiran dan cita-cita besar. Kita sudah kehilangan arah. Baginya, banyak dari para pelukis itu yang hanya bertopeng untuk memperjuangkan ide dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Semuanya tergantung pasar. Menurut OE, tidak ada tercatat sejarah kesenian di setiap bangsa, bahwa ‘seni lukis’ itu bisa dikatakan seni lukis karena pasar yang menentukannya. Itu adalah sebuah kekeliruan yang besar. Suatu bahaya yang tak terhingga. OE mengatakan; “inilah yang meyakinkan saya bahwa seni lukis Indonesia itu, tidak ada”. Apa yang dilakukan oleh para pelukis jaman sekarang, hanya menyatakan tentang kebodohanya sendiri dan membunuh bakatnya.

Pada bagian lain OE mengatakan;

“Selama pelukis Indonesia tidak bisa mengucapkan yang khas dari dirinya, selama itu pula tidak ada seni lukis Indonesia.[ ]. Yang ada hanya para pemuda-pemudi kita jaman sekarang, bisa melukis. Mereka juga banyak tahu, bentuk yang bagus, dan warna yang bagus. Mereka tahu sejarah seni lukis dan kebudayaan dunia. Itu tentu kabar baik. Tapi sayang tidak ada yang tahu kekuatan apa yang terkandung dalam jiwanya. Itulah yang menjadi masalah besar bagi kita. Kalau semua terus begini, bangsa kita akan dianggap kerdil”.

Beberapa kepingan pernyataan OE di atas, menurut saya masih menarik untuk diperbincangkan hingga sekarang. Setelah peristiwa pernyataan kontroversial pada bulan Agustus 1969 ini, ada banyak diskusi yang dilakukan hingga tahun1977 di Taman Ismail Marzuki. Isu ‘seni lukis Indonesia tidak ada’ selalu menjadi topik yang menarik sebagai penghubung dalam berbagai peristiwa seni rupa yang terjadi pada tahun 1970an, dari Pesta Seni Lukis Indonesia 1969, peristiwa Desember Hitam, hingga Gerakan Seni Rupa Baru. Saya melihat peran pernyataan OE ini sebagai ‘energi’ gerakan perubahan dan perdebatan tentang seni rupa modern Indonesia setelah PERSAGI 1937 dan perdebatan J.Hopman dengan S.Sudjojono 1947-1948.

Mengomentari pernyataan OE, Sanento Yuliman menulis di majalah Budaya Jaya, pada bagian akhir tulisannya ia mengatakan;

“Dan Oesman Effendi, kecewa oleh perkembangan seni lukis kita dan oleh arah-arah yang ditempuh pelukis-pelukis muda yang muncul bagai cendawan di musim hujan dewasa ini, mengumumkan bahwa seni lukis Indonesia tidak ada. Dan Sudjojono, yang dulu dengan keras menangkis serangan Hopman (Kami Tahu Kemana Seni Lukis Indonesia Akan Kami Bawa, 1948), mengangguk kepada Oesman, dan dengan cemooh mengarahkan pandangannya kepada pelukis-pelukis muda dari angkatan-angkatatan lebih muda.

Semua orang melihat adanya seni lukis di Indonesia sejak abad ini. Tapi banyak orang tidak melihat adanya Indonesia dalam seni lukis. [ ].

Ada sesuatu yang salah dengan seni lukis kita, [ ]. Yang pasti saya menarik kesimpulan: ada sesuatu yang salah dengan kritik seni lukis di Indonesia.

Setelah periode pedebatan yang saya sebutkan di atas, tidak banyak peristiwa-peristiwa yang dapat dicatat sebagai ‘peristiwa penting’ dalam membicarakan seni rupa moderen Indonesia. Tentu kita perlu mencatat perdebatan post-modernism dan seni instalasi pada Bienniale Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta 1993 di media massa pada waktu itu. Setelah itu, yang muncul hanya perdebatan “goreng-menggoreng dan pasar” yang sebelumnya sudah dikritik dengan keras oleh Oesman Effendi dalam diskusi yang saya kutip di atas.

Tentang Oesman Effendi

Oesman Efendi dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 26 Desember 1919. Ia adalah salah seorang pelukis penting dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Ia belajar secara otodidak. Saat umur 14 tahun, ia merantau ke Jakarta dan sekolah di Konningen Wilhemina School, 1934-1939. Ia mulai menulis tentang seni rupa saat bekerja di Kantor Berita Pendudukan Jepang, Domei beberapa majalah di Jakarta. OE muda pernah bekerja di Jawatan Kereta Api di zaman kolonial Belanda. Ia bergabung dalam Seniman Indonesia Muda (SIM), Solo, 1947. Pada tahun 1950an, OE adalah desainer mata uang yang ditunjuk pemerintah Indonesia. OE turut membentuk Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki bersama Trisno Sumardjo dan duduk sebagai pengurus pertama Dewan Kesenian Jakarta, 1968-1972. Ia adalah pendiri dan pengajar Akademi Seni Rupa LPKJ (IKJ) hingga 1972. Pada prinsipnya, pemikiran OE dapat ditempatkan dalam tiga factor utama dari dasar pembentukan seni lukis, yaitu jiwa (kepribadian), lingkungan (latar sosial, yang antara lain melahirkan konsepsi nasionalisme dalam seni lukis), dan kemurnian; semua factor itu berakhir di dalam diri seniman, sebagai pusat tunggal yang diandaikan sangan mandiri dari campur tangan apapun dan pihak manapun dalam penciptaan karya.

----------

*Seniman, Kurator dan Peneliti Seni Rupa/Seni Media. Pendiri Ruangrupa Jakarta dan Forum Lenteng. Chief Editor www.jurnalfootage.net



Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6816)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6655)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa