Payahnya kehidupan majalah seni diawali dari kurang
diapresiasinya seni di Tanah Air. Tragedi itu diawali oleh
terpinggirkannya citra besar Sang Kebudayaan.
Dalam berbagai rumusan yang ditulis oleh beragam kitab besar, Kebudayaan diartikan sebagai upaya manusia untuk melakukan “penghalusan pribadi dan masyarakat”, yang pada ujungnya dikristalkan menjadi “peradaban”. Contoh simpel atas pasal ini adalah, bila ada orang yang bersopan-santun disebut sebagai orang yang berbudaya, atau beradab. Sementara perupa yang menggambarkan (maaf) manusia berlumur kotoran karena terserang desentri, sebagaimana kita pernah melihatnya waktu tahun lalu di majalah ini, disebut sebagai “tidak berbudaya”, atau “tidak beradab”. Dari pemahaman ini, masyarakat yang memiliki “kehalusan” dianggap sebagai berkebudayaan, dan dijunjung sebagai “lebih tinggi” dibanding masyarakat lainnya. Sebagian buah penting dari kebudayaan itu adalah karya seni, seperti sastra, musik, tari, drama, seni rupa dan sebagainya.
Namun dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi dan antropologi, kebudayaan tidak dianggap sekadar sebagai “penghalusan” yang berhubungan dengan pribadi dan masyarakat. Bahkan bukan pula disebut sebagai “prestasi yang lebih tinggi dari kehidupan bersama pada suatu masa dalam sejarah”, sebagaimana para sejarahwan mengartikan. Di sini kebudayaan diartikan sebagai “seluruh prestasi dari kehidupan bersama dengan merengkuh segala aspek yang ada”. Dengan pengertian ini sistem politik, sistem pendidikan, sistem ekonomi dan aneka sistem lain adalah bagian dari kebudayaan, atau hasil kebudayaan.
Selengkapnya baca Majalah Visual Arts edisi Juli-Agustus 2011
| |
Comments