|
Written by Administrator
|
|
Friday, 08 July 2011 13:13 |
 | | REALITAS SENIRUPA INDONESIA SAAT INI ADALAH MASING-MASING MEDAN SOSIAL SENIRUPA BERJALAN SENDIRI-SENDIRI, DENGAN AMAT SEDIKIT CAMPUR TANGAN PEMERINTAH. HEBATNYA -- UNTUK TIDAK BILANG ANEH -- DALAM SITUASI JALAN SENDIRI-SENDIRI, SENIRUPA INDONESIA DENGAN CARANYA SENDIRI PULA, DAPAT BERKEMBANG DINAMIS DI DALAM NEGERI, DAN SECARA PERLAHAN TAPI PASTI TERUS MASUK LEBIH DALAM KE ORBIT INTERNASIONAL, BAIK DALAM MEDAN WACANA (BIENAL, TRIENAL) MAUPUN MEDAN PASAR (ART FAIR).
Idealnya, ibarat bangunan rumah, senirupa Indonesia tidak bisa ditegakkaan hanya oleh satu dua orang saja, melainkan harus ditegakkan oleh banyak orang yang berbeda peran dan fungsi, secara bersama, termasuk pemerintah di dalamnya. Mengapa pemerintah perlu? Karena dalam UUD 1945 pemerintah mempunyai tugas dan tanggungjawab memajukan kesenian Indonesia. Kata “bersama” perlu digaris bawahi, sebab percuma saja kalau banyak orang atau banyak pihak namun berjalan sendiri-sendiri. Ini sama percumanya kalau “bersama” hanya dilakukan oleh pihak-pihak dalam satu peran dan fungsi saja. Dan kita tahu, bahwa di antara banyak orang dan institusi “penegak rumah senirupa” yang berbeda peran dan fungsinya itu – dan masih jalan sendiri-sendiri itu -- ada yang menonjol di antara yang lain, dalam hal dedikasi, kontribusi dan prestasinya. Di antara yang menonjol itu, kini ada yang sudah bisa menjadi inspirasi, teladan, contoh, semangat, cermin bagi siapa saja, tertutama kaum muda, yang sedang mencari jati diri dan meraih impiannya. Sisi positif inilah yang patut kita apresiasi bersama.
Dalam perspektif seperti itulah Majalah Visual Arts memberikan penghargaan Visual Arts Award kepada 25 Tokoh dan Institusi Senirupa, berdasar kriteria dedikasi, kontribusi, dan prestasi dalam kurun waktu satu dasa warsa belakangan ini. Pembatasan tahun ini tentu saja hanya teknis belaka, sebab kami tahu pada umumnya mereka telah menggeluti bidangnya sejak lama, bahkan ketika usia mereka masih muda belia. Jujur kami harus akui, di luar 25 orang dan institusi ini, masih banyak yang “tercecer” namun layak menerima penghargaan.
Selengkapnya, baca Majalah Visual Arts edisi Juli-Agustus 2011
| |
|
|
|
|