|
INTERNASIONAL
|
Melepas Animal Plus di Kirishima Open Air Museum |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 03 November 2010 10:09 |
 | | Dikdik Sayahdikumullah
Open Air Museum bukanlah sebuah konsep baru. Karya-karya senirupa kontemporer pun dapat ditampilkan pada museum seperti ini. Simak saja pameran perupa Jepang, Misawa Atsuhiko di Open Air Museum di Kagoshima City, Pegunungan Kirishima.
Searah perjalanan menuju Kagoshima city, orang-orang bergegas menuju sebuah museum senirupa kontemporer di kawasan pegunungan Kirishima. Museum ini berada di ketinggian 1000m diatas permukaan laut, aksesnya pun tidak biasa, jauh dari keramaian kota. Lokasinya dicapai melalui jalan aspal berkelok dan menanjak, dikelilingi panorama pohon Sugi dan bambu sebagaimana lazimnya hutan Jepang. Di gerbang museum ditandai patung bunga Yayoi Kusama, atmosfir lingkungannya merupakan wahana apresiasi karya seni rupa kontemporer di ruang luar terbuka hijau. Tidak salah jika namanya open air museum, di mana sebagian besar karya-karya seniman ditempatkan diantara rimbunan pepohonan, taman dan ruang luar museum.
Sebenarnya museum tersebut baru didirikan sekitar 10 tahun yang lalu, namun sudah cukup banyak menyelenggarakan program pameran yang melibatkan seniman kontemporer dari Eropa-Amerika dan Asia. Hal ini terlihat dari karya koleksi yang terbagi menjadi dua kategori; koleksi karya open-air gallery yang berada di luar ruangan dan koleksi karya art hall yang hanya bisa dilihat dalam ruang pameran. Ruang museum yang tidak terlalu besar menyebabkan pengunjung hanya mengapresiasi karya spesial event dan koleksi di luar museum. Sayang sekali penulis tidak bisa langsung melihat karya Heri Dono meskipun tercatat sebagai koleksi mereka.
Musim panas tahun ini, open-air museum menampilkan pameran tunggal pematung Misawa Atsuhiko berjudul Animal Plus yang berlangsung sejak 16 Juli – 23 September 2010. Patung karya Misawa terbuat dari kayu yang dipahat membentuk satwa mamalia buas, liar serta jinak, seperti; gajah, buaya, macan, badak, singa, jerapah, beruang, anjing, kucing dan momongga. Umumnya wujud satwa ditampilkan secara utuh, bertumpu diatas keempat kaki mereka namun sedikit menahan gerak ketika kepalanya menatap dingin kedepan. Kehadiran satwa di dalam ruang gallery ini jelas berbeda dengan melihat patung satwa simbolis yang terdapat di ruang publik atau halaman gedung pemerintahan kota. Bukan pula menghadirkan fable binatang apalagi pet-shop yang ramah lingkungan. Sehingga pertama kali memasuki ruang pameran ini terasa kuat bahwa Misawa hendak menawarkan metafora dunia binatang melalui bermacam karakter aneh, asing, kaku dan jenaka.
Sungguh pun patung-patung kayu tersebut tampak kasat mata, sehingga jelas karakternya, tetapi tidak berfungsi sebagai wahana yang mempersoalkan pengalaman individual seniman saja. Terdapat imajinasi kita yang melampui gesture patung sebagai sosok satwa alami. Meskipun tidak selalu meng-copy dengan realistis, tetapi terasa menawarkan personifikasi sense of human yang dibungkus kulit binatang. Pada bagian inilah, karyanya bisa ditafsirkan menunjuk pada makna satwa liar namun estetik. Sepintas bisa mirip satwa mainan yang menggugah imajinasi anak-anak, tapi disisi lain satwa patung kayu itu berdiri kaku disertai tatapan mata dan kepala dingin. Mengapa seniman Misawa sangat tertarik membuat karya seperti itu? Mungkin saja senimannya suka kebun binatang karena semua karakter satwa yang diekspresikan dalam bentuk patung kayu itu semuanya bisa ditemukan di kepulauan Jepang.
Misawa lahir di Murasakino dekat Daitokuji, Kyoto tahun 1961. Sejak masih mahasiswa ia sangat tertarik mewujudkan ide karya melalui bentuk figurative nude dan binatang. Tahun 1978 ia menamatkan pendidikan Jurusan Seni Patung dari Tokyo National University of Fine Arts and Music. Setahun kemudian ia melanjutkan ke jenjang postgraduate hingga berhasil menyandang gelar Master di bidang seni patung tahun 1989. Sejak tahun 1992-2001 dia terus bekerja sebagai asisten professor di kampus yang sama. Selama proses kreatif Misawa perlu waktu lama untuk hanya menyelesaikan sebuah karya patung, butuh beragam pertimbangan; struktur formal, kesadaran ruang, nilai estetik dan konsistensi kerja. Keasyikan bekerja di studio seringkali membuatnya kesulitan untuk menemukan kata-kata verbal yang tepat untuk menjelaskan detail karyanya kepada audience. Bahkan setiap kesulitan yang dihadapi selalu dilewati dengan intensitas bekerja yang tinggi, sebuah cermin sikap superiority compleks. Bisa diduga, ia menyimpan strategi kreatif sebagai upaya menjauhi dari latar akademis yang dimilikinya maupun batasan estetika yang hendak mengurungnya.
Catatan katalog pameran yang ditulis oleh kurator The Hiratsuka Museum of Art, Hijikata Meiji menyebutkan bahwa;
“Misawa sejak masih kecil sangat menghormati pada dua orang biksu Buddha bernama; Enku(1632- 1695) dan Hashimoto Heihachi(1897-1935). Enku adalah biksu pengelana sekaligus pematung, kemanapun dia pergi disepanjang kepulauan Jepang dia tidak pernah ketinggalan untuk selalu memahat patung kayu Buddha. Sebagian karyanya dia sumbangkan ke kuil Buddha dan sebagian lagi kadang dia berikan kepada orang yang pernah ditemuinya. Ia dikenal memakai teknik ‘natabori’ atau hatchet carving untuk menggambarkan peristiwa sang Buddha yang mewujud dari pohon suci. Tak heran bila kemudian, mencatat bahwa tokoh Enku sudah pernah memahat patung Buddha sebanyak 120.000 karya. Kini sebagian karyanya masih bisa ditemui di banyak national treasure Jepang. Seperti halnya Enku, sosok biksu Hashimoto Heihachi menerapkan pola hidup disiplin ala asketik”.
Melalui kedalaman spiritualnya ia segera dapat menyerap citarasa estetik karya-karya Enku. Sebab itulah, karyanya lebih memperlihatkan karater standing figur yang berbeda dibanding sezamannya, serta mengingatkan pada sosok tertutup yang berjarak dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun, sudah jelas bahwa kedua biksu tidak pernah hidup sezaman dengan Misawa, tetapi dapat kita lihat bahwa pemakaian kayu tidak hanya merupakan gagasan lama yang sudah tertanam dalam tradisi masyarakat Jepang. Perlakuan terhadap material kayu yang mendasari ekspresi suatu gagasan boleh dikatakan memerlukan suatu kepercayaan tersendiri. Sikap mempercayai material kayu yang berbeda dibanding perspektif modern.
Sebelum menemukan bentuk-bentuk hewan, Misawa-pun mengalami episode pembuatan karya tiga dimensi yang memperlihatkan gejala eksperimen, intuitif dan liar. Kegelisahan mengenai eksistensi dunia penciptaan akhirnya mengerucut pada upaya menciptakan bentuk figurative yang berkesan ringan, santai, dangkal sekaligus menyimpan kekurangan di dalamnya. Di sini, Misawa memahami benar bagaimana menggali imajinasi mulai dari kesenangannya membuat bentuk figuratif melalui penggabungan beberapa material, seperti; kayu Katsura, Kushu, clay, kertas, cat minyak dan akrilik.
Selain memamerkan karya tiga dimensi, Misawa juga menampilkan beberapa karya drawing dan satu ruangan khusus yang mendisplay suasana ruang kerja studio seniman, seperti memindahkan studio seniman kedalam ruang pameran. Pengunjung museum dapat sekaligus merasakan situasi seniman bekerja dengan membandingkan sejumlah barang-barang yang biasa dipergunakan seniman; dari model tiga dimensi, sketsa sampai peralatan kerja. Atmosfir ruang pameran yang berdinding putih terasa tepat menonjolkan kekuatan karya-karya patung kayu yang ditempatkan pada berberapa ruang yang berbeda. Jumlah karyanya tidaklah terlalu banyak, sehingga sebagian besar dinding ruang pameran terlihat kosong. Hal ini merupakan bagian dari strategi seniman dan museum untuk mengatasi dan memberikan ruang dialog yang nyaman bagi pengunjung yang terkadang datang dalam jumlah banyak.
Sedemikian jelas suasana tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pihak museum untuk bisa mempertunjukkan sebuah pameran seni rupa kontemporer yang tidak saja unik secara konseptual juga mengundang pengunjung seni rupa kontemporer dari semua kalangan, khususnya anak-anak. Responnya luar biasa bagi anak-anak, mereka begitu menikmati dan antusias meapresiasi karya hingga mendengarkan setiap penjelasan artist talk yang dipandu oleh seorang kurator pameran. Selain itu, anak-anak-pun dimanjakan oleh penyelenggaraan workshop clay bersama seniman, sehingga melengkapi suasana akhir liburan musim panas yang ceria diantara sekelompok satwa liar, lucu nan imajinatif di atas puncak gunung Kirishima. [V]
| |
|
|
|
|
|
|
MAGNET MOKU HANGA / 8 MINGGU YANG MENGESANKAN |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 19 October 2010 16:09 |
      | | (Saya menulis ini dalam kabar salah seorang pembimbing workshop kami, sensei Masahiro Takade meninggal karena sakit pada 31 Desember 2009 yang lalu di Kobe, Japan. Selamat jalan sensei, kami akan selalu mengingat pelajaranmu!).
28 September sampai 20 November 2009 yang lalu saya bersama 5 seniman dari berbagai negara mengikuti Nagasawa Art Park Artist-in-Residence, Workshop Program for Japanese Woodblock Printmaking di Awaji City, Hyogo, Japan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nagasawa Art Park (NAP) Committe , sebuah lembaga non-profit yang telah menyelenggarakan program ini sejak tahun 1996 dan berlangsung setiap tahun secara kontinyu. Dalam catatan mereka tidak kurang dari 100 seniman dari 30 negara telah terlibat didalamnya. Saya sendiri adalah seniman Indonesia ketiga yang berpartisipasi dalam workshop ini. Dua seniman sebelumnya adalah Isa Perkasa (Bandung) di tahun 1997 dan Eddi Prabandono (Yogyakarta-Jepang) tahun 1998.
Disebabkan sesuatu hal, saya baru berangkat dari Indonesia tanggal 28 September dan tiba keesokan harinya di Bandara Kansai International. Dari bandara saya menumpang bis dengan perjalanan lebih kurang tiga jam menuju tempat perhentian bis Tsuna Ichinomiya di Pulau Awaji . Disana telah menunggu staff NAP Committee dengan mobilnya, Masahiro Kosaka (manager operasional) dan Ichi-san, sopir yang selanjutnya akan sering mengantar kami untuk berbagai keperluan selama menjalani program.
Tidak lebih dari 20 menit saya telah tiba di Umihira Residence di Awaji City (satu dari 4 kota yang ada di pulau Awaji), tempat dimana kami para peserta program menginap. Lokasi ini terletak di atas sebuah bukit (Umihara Hill) dan jalan kesana sangat menanjak. Saya disapa oleh seorang wanita cukup umur, kira-kira kepala enam atau lebih, yang kemudian saya ketahui sebagai Keiko-san. Ah…agak sedikit terkejut saya. Sepanjang kontak e-mail kami selama ini, saya membayangkan Keiko-san, atau nama lengkapnya Keiko Kadota sebagai perempuan muda yang energik dikarenakan posisinya sebagai Direktur Program NAP. Soal umur ternyata meleset dugaan saya karena ia tidak muda lagi, tapi tidak dalam penampilan dan pembawaan, Keiko-san tidak kalah dengan anak muda dan sangat energik.
Mengapa saya sampai kesana? Magnet apa yang menarik saya?
Jauh di tahun 1998 saya pernah mengirim lamaran ke NAPP (dulu bernama Nagasawa Art Park Project) Committee yang menyelenggarakan program Workshop Japanese Woodblock Printmaking. Namun keberuntungan belum dipihak saya karena proposal saya tidak diterima. Baru di tahun 2008 saya mengajukan lamaran lagi untuk mengikuti program ‘autumn workshop’ 2009 dan saya diterima. Saya merasa sangat beruntung karena mereka sangat ketat dalam menyaring peserta dan kesempatan ini mesti dijalani sebaik-baiknya.
Selama ini saya hanya mendengar dan mengakses informasi cetak dan digital seputar Japanese Woodblock Printmaking atau yang dikenal dunia sebagai Ukiyo-e (images of the floating world). Seni cetak grafis yang lahir pada zaman Edo (1603-1867) ini menggambarkan keindahan alam, kehidupan sehari-hari dan penggambaran tokoh-tokoh masyarakat Jepang pada waktu itu seperti para raja, pahlawan perang, samurai, pekerja seni termasuk geisha. Kehalusan dan detail gambar yang dihasilkan oleh teknik cetak karya seniman-seniman Ukiyo-e legendaris seperti Hokusai dan Hiroshige diakui Van Gogh telah mempengaruhi kerja artistik diawal karir kesenimannya.
Dalam pergaulan seni rupa internasional seni cetak ini kemudian popular dengan nama Moku Hanga (istilah wood print dalam bahasa Jepang, Moku=kayu, Hanga=cetak/grafis). Berbeda dengan teknik seni grafis asal Eropah ‘woodcut’ yang saya tekuni selama ini yang merupakan seni grafis ‘basis minyak’, Moku Hanga merupakan seni grafis ‘basis air’. Bila dalam teknik woodcut seniman menggunakan tinta cetak atau offset ink guna mencetak image dari papan cukilan atau cutting block, dalam teknik Moku Hanga seniman menggunakan cat air, gouache, tinta cair atau jenis pigmen semacamnya. Lalu ada pasta pengikat yang dicampurkan pada pigmen warna agar elastis dan tidak cepat mengering pada saat mencetak yang mereka sebut nori (rice paste). Selain itu dalam Moku Hanga dikenal juga istilah kento yang diakui banyak seniman adalah suatu cara register kertas yang sangat baik guna mencetak karya multi warna dengan tingkatan presisi tinggi. Juga ada bermacam sikat berbulu halus (maru-bake) untuk meratakan pigmen warna diatas permukaan papan pada saat pencetakan. Teknik ini tidak memerlukan peralatan berat atau alat press untuk mencetak gambarnya. Mereka cukup menggunakan baren, sebuah alat penggosok bagian belakang kertas yang dibuat khusus menggunakan daun bambu lebar pada permukaannya.
Bagi saya ini adalah pengalaman baru yang sama sekali saya belum pernah mencobanya. Kesempatan residensi di NAP ini merupakan momen yang saya tunggu-tunggu sebab saya berharap mendapatkan pengalaman langsung serta merasakan aura tradisi Moku Hanga yang mereka sebar-luaskan.
Saya bersama 5 seniman dari German (disainer grafis), Italia (pegrafis dan disainer interior), Irlandia (pelukis), Inggris (pegrafis dan seniman enamel) dan Amerika Serikat (perupa) ditempatkan di lantai atas residence dan masing-masing mendapat sebuah kamar berdampingan. Studio tempat dimana kami akan bekerja nantinya ada di lantai bawah. Residence hanya diisi oleh kami berenam dan karenanya panitia menginginkan agar kami berlaku layaknya sebuah keluarga. Kami harus mengurus sendiri segala keperluan dari menyiapkan makanan, menjaga kebersihan ruangan dan studio sampai membuang sampah ke tempat pembuangan sementara yang letaknya tidak jauh dari residence. Untuk sementara, residence menjadi ‘milik’ kami yang harus kami jaga dan rawat seperti merawat rumah sendiri. Workshop berlangsung selama 8 minggu dimulai jam 9 pagi sampai jam 5 sore dalam 5 hari setiap minggunya. Sabtu dan Minggu adalah hari libur, namun sewaktu-waktu panitia dapat membuat acara yang harus kami ikuti.
Schedule yang disusun oleh Committee NAP sangat memudahkan kami dalam menyerap dan mengikuti program workshop. Minggu pertama adalah masa pengenalan sejarah singkat dan pengetahuan umum teknik Moku Hanga. Sesi ini diberikan langsung oleh Keiko-san. Kami diperkenalkan dengan alat-alat yang biasa dipakai dan akan kami pergunakan nantinya selama workshop, seperti satu set pisau cukil kwalitas tinggi, pisau kento, cat air dan gouache, nori, maru-bake, bermacam kuas dan lain-lain. Bila seniman Moku Hanga professional menggunakan cherry block sebagai papan cukil karena terkenal baik kwalitasnya, dalam workshop kami akan menggunakan shina-beni plywood, jenis kayu lapis yang sangat halus kedua permukaannya, cukup lembut saat dicukil namun tidak mudah pecah, dan lebih murah tentunya. Untuk kertas panitia menyediakan kertas khusus untuk Moku Hanga dalam jumlah banyak dan membebaskan kami untuk mencetak sepuasnya.
Kami juga berkesempatan melihat dan menyentuh langsung koleksi cutting block (papan yang telah dicukil) dari karya-karya klasik Moku Hanga yang sudah berumur ratusan tahun namun masih terawat baik. Dan, tentu saja koleksi karya-karya klasik yang sangat memukau itu. Ada yang dalam bentuk lembaran seperti poster, kartu ucapan dan buku-buku teks maupun komik yang kesemuanya asli hasil cetakan manual!
Kemudian Keiko-san melakukan sedikit demo dan memberi pengarahan kepada kami untuk memastikan agar kami tidak terlalu asing dengan teknik yang akan kami pelajari dibawah bimbingan para master Moku Hanga di minggu-minggu selanjutnya..
Masih dalam rangka pengenalan program, disamping mengikuti beberapa acara penyambutan yang cukup meriah dengan panitia, masyarakat dan beberapa tokoh pemerintahan kota Awaji, dalam minggu pertama ini juga kami bersama panitia melakukan tour island mengunjungi tempat-tempat penting yang menjadi penanda dan andalan Pulau Awaji. Kami mengunjungi beberapa temple/kuil penting, museum earthquake (museum peringatan gempa besar Awaji 1995) yang sangat modern, rumah pembuatan wewangian aromatherapi yang mempertahankan cara kerja manual, tempat pembuatan sake, menonton pertunjukan wayang klasik Jepang dan beberapa tempat menarik lain. Kunjungan tersebut selain buat mengenal lebih dekat kondisi sosial dan budaya setempat bagi saya juga adalah prolog yang menghipnotis kami untuk masuk lebih dalam lagi dengan praktek Moku Hanga yang menjadi tujuan residensi.
Minggu kedua sampai minggu keempat adalah pengalaman berharga bersama penekun-penekun tradisi. Dalam tiga minggu ini, selama 3 hari setiap minggunya, kami belajar banyak dari para professional yang merupakan master dalam bidangnya masing-masing. Mereka melatih kami dengan sabar, ramah dan penuh kerendahan hati. Yang turut mengesankan karena mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tapi mereka memberikan kenang-kenangan buat kami berenam berupa; karya Moku Hanga, kartupos, sekeping cherry block dan benda-benda unik lain yang kesemuanya membuat hubungan guru dan murid terasa intim. Indah sekali cara yang mereka lakukan! Kami memanggil dengan sebutan sensei (guru). Mereka adalah sensei Masahiro Takade-pria ramah dan berpembawaan tenang, seorang seniman Moku Hanga yang aktif berkarya dan berpameran. Ia juga berpengalaman lama sebagai pengajar di sebuah akademi seni di Kobe. Lalu sensei Yusuke Sekioka-lelaki pendiam yang lebih banyak bekerja, seorang master carver/pencukil yang merupakan murid langsung dari Hanbei Oekura-generasi keempat dari Moku Hanga carver. Ia juga adalah pendiri Sekioka Horiyu Studio pada tahun 1983 di Tokyo. Kemudian ada sensei Toru Ueba, pria eksentrik yang master printer/pencetak sekaligus pemilik workshop ‘Banpudo’ di Kyoto yang telah mengerjakan pencetakan ulang ribuan karya klasik Moku Hanga dan banyak karya cetak seniman kontemporer. Ia sendiri banyak membuat karya cetak dan mengikuti pameran.
Selama tiga hari di minggu kedua tersebut, sensei Takade mengajar kami prinsip-prinsip dasar teknik Moku Hanga; mulai dari mempersiapkan disain/gambar, mempersiapkan woodblock/papan yang akan dicukil, memindai gambar keatas papan, membuat cutting block/cukilan, mempersiapkan kertas-melembabkannya dengan cara dan perhitungan tertentu, menyiapkan pigmen warna-meratakannya di atas papan, mencetak-menggosok belakang kertas, mengangkat kertas, mengeringkan hasil cetakan sampai memberi tanda pensil di setiap karya yang dianggap berhasil. Kesemua tahapan ini harus dilakukan berulang-ulang sampai kami dianggap cukup menguasai prinsip-prinsip teknik tersebut.
Di minggu ketiga, selama tiga hari pula sensei Sekioka memberi kami latihan bagaimana menggunakan pisau cukil secara benar dan efektif. Mengingat profesinya sebagai seorang carver professional -ditengah minimnya jumlah carver Moku Hanga di Jepang sendiri sebagaimana ia katakan- sensei Sekioka mengarahkan kami agar dapat mencukil papan secara efektif guna mencapai hasil yang maksimal. Pencukil dilatih agar dapat melakukan pekerjaannya dalam satu posisi menghadapi papan cukil tanpa perlu banyak memutar-mutar papan yang hanya akan menghambat pekerjaan. Dalam workshop ini saya mendapat pengetahuan bahwa pisau utama dan terpenting dalam Moku Hanga multi warna adalah pisau miring/hangi-to. Pisau ini sangat diandalkan untuk membuat garis secara tepat dan dibantu dengan pisau lain seperti pisau U/Maru-to dan pisau datar/Hira-to untuk membersihkan bekas cukilan. Seniman Moku Hanga jarang atau hamper tidak pernah menggunakan pisau V/Sankaku-to karena beresiko merusak garis yang dibuat. Sebaliknya dalam teknik woodcut yang saya kembangkan selama ini justru pisau pavorit dan paling banyak saya gunakan adalah pisau V. Saya hanya menggunakan pisau miring dan pisau lainnya untuk memperluas cukilan. Dalam workshop, guna menyesuaikan dengan tradisi Moku Hanga, saya mau tidak mau untuk sementara menyingkirkan pisau V-pisau pavorit-dari jangkauan saya dan berusaha familiar dengan pisau miring/hangi-to. Bukan hal mudah merubah kebiasaan namun saya terus mencoba hingga mulai menikmatinya.
Dalam seni grafis pemeliharaan alat ikut menentukan sukses tidaknya proses berkarya. Merawat pisau cukil adalah hal penting yang juga harus diperhatikan pencukil kayu dengan selalu mengontrol mata pisau agar terjaga ketajamannya. Pisau cukil perlu diasah karena akan tumpul setelah cukup lama dipergunakan. Kami dilatih teknik yang benar dalam mengasah pisau. Tidak mudah melakukannya karena mesti berhati-hati dan penuh kesabaran agar tidak merusak mata pisau.
Lalu di minggu keempat, selama tiga hari pula Sensei Ueba menggenapkan pelajaran. Keahliannya adalah seluk beluk pencetakan Moku Hanga. Ia banyak memberikan kami alternatif, trik-trik dan siasat pencetakan mulai dari teknik pembasahan kertas/dampness paper, sizing paper/melapisi kertas dengan campuran air dan bahan kimia untuk memperkuat warna, menggunakan pigmen warna hingga teknik menggosok bagian belakang kertas dengan baren. Sensei Ueba sangat ahli dalam hal ini dan selalu berusaha membantu dari setiap problem pencetakan yang sering kami temui.
Minggu kelima hingga minggu kedelapan kami bekerja tanpa pembimbing. Ini adalah saatnya mempraktekkan hasil latihan bersama para sensei yang sangat berharga tersebut. Kami mendapat tugas membuat 3 karya individual dengan masing-masing dicetak lebih dari tiga edisi. Dalam Term of Condition program yang dikeluarkan oleh NAP Committe, kami berkewajiban memberikan 3 buah karya berbeda yang kami buat dengan masing-masing sejumlah 3 edisi sebagai koleksi mereka. Karya-karya tersebut akan dipamerkan pada maret 2010 di galeri NAP. Ternyata sisa waktu 4 minggu terakhir dirasakan kurang oleh sebagian dari kami para peserta program untuk menyelesaikan karya. Kegagalan demi kegagalan dalam mencetak harus kami hadapi. Maklum sebagian besar dari kami untuk pertama kalinya bekerja dengan teknik ini. Namun akhirnya kami berenam dapat menyelesaikan karya masing-masing tepat pada waktunya. Mendebarkan dan mengesankan.
Selain kesibukan membuat karya, banyak acara yang kami ikuti ditengah workshop seperti; mengunjungi pabrik kertas terkenal Awagami di Tokushima yang membuat kertas ukuran 2,5x5,5 meter secara manual, hallowen party bersama anak-anak, presentasi karya dan open studio bersama masyarakat sekitar residence, berkaraoke ria.
Salah satu tujuan program ini seperti yang dikatakan oleh Keiko-san dalam sayonara party menjelang berakhirnya workshop adalah bukan untuk menuntut peserta agar berkarya seperti seniman Moku Hanga. Tapi adalah tugas NAP Committee untuk mentransfer teknik kepada para seniman peserta guna lebih merangsang kerja kreatif mereka kedepan. Ini adalah magnet Moku Hanga!
Syahrizal Pahlevi,
Perupa.
| |
|
|
|
|
|
MAGNET MOKU HANGA PENGALAMAN RESIDENSI DI JEPANG |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 19 October 2010 15:50 |
     | | Oleh Syahrizal Pahlevi
SAYA MENULIS INI DI TENGAH SUASANA DUKA, KEHILANGAN SALAH SEORANG PEMBIMBING WORKSHOP KAMI, SENSEI MASAHIRO TAKADE, YANG MENINGGAL KARENA SAKIT PADA 31 DESEMBER 2009 DI KOBE, JEPANG. SELAMAT JALAN SENSEI, KAMI AKAN SELALU MENGINGAT PELAJARANMU!
Pada 28 September sampai 20 November 2009, saya bersama lima seniman dari berbagai negara mengikuti “Nagasawa Art Park Artist-in-Residence, Workshop Program for Japanese Woodblock Printmaking” di Awaji City, Hyogo, Jepang. Kegiatan ini diselenggarakan Nagasawa Art Park (NAP) Committe, sebuah lembaga non-profit. Program ini diselenggarakan sejak 1996 dan berlangsung setiap tahun. Dalam catatan mereka, tidak kurang dari 100 seniman dari 30 negara telah terlibat di dalamnya. Saya sendiri adalah seniman Indonesia ketiga yang berpartisipasi dalam workshop ini. Dua seniman sebelumnya adalah Isa Perkasa (Bandung) pada 1997 dan Eddi Prabandono (Yogyakarta-Jepang) tahun 1998.
Magnet apa yang menarik saya hingga ke Jepang? Bermula pada 1998, saya pernah mengirim lamaran ke NAPP (dulu bernama Nagasawa Art Park Project) Committee, yang menyelenggarakan program “Workshop Japanese Woodblock Printmaking”. Namun keberuntungan belum di pihak saya karena proposal saya tidak diterima. Baru pada 2008, saya mengajukan lamaran lagi untuk mengikuti program “autumn workshop” 2009, dan diterima. Saya merasa sangat beruntung karena mereka sangat ketat dalam menyaring peserta, dan kesempatan ini mesti dijalani sebaik-baiknya.
Selama ini, saya hanya mendengar dan mengakses informasi cetak dan digital seputar “Japanese Woodblock Printmaking” atau yang dikenal dunia sebagai ukiyo-e (images of the floating world). Seni cetak grafis yang lahir pada zaman Edo (1603-1867) ini menggambarkan keindahan alam, kehidupan sehari-hari, dan penggambaran tokoh-tokoh masyarakat Jepang pada waktu itu, seperti para raja, pahlawan perang, samurai, pekerja seni, termasuk geisha. Kehalusan dan detail gambar yang dihasilkan dengan teknik cetak karya seniman-seniman ukiyo-e legendaris, seperti Hokusai dan Hiroshige, diakui Van Gogh telah mempengaruhi kerja artistik di awal karier kesenimannya.
Dalam pergaulan senirupa internasional, seni cetak ini kemudian populer dengan nama moku hanga (istilah wood print dalam bahasa Jepang, moku = kayu, hanga = cetak/grafis). Berbeda dari teknik seni grafis asal Eropa “woodcut” yang saya tekuni selama ini yang merupakan seni grafis “basis minyak”, moku hanga merupakan seni grafis “basis air”. Bila dalam teknik woodcut seniman menggunakan tinta cetak atau offset ink untuk mencetak image dari papan cukilan atau cutting block, dalam teknik moku hanga seniman menggunakan cat air, gouache, tinta cair, atau jenis pigmen semacamnya. Lalu ada pasta pengikat yang dicampurkan pada pigmen warna agar elastis dan tidak cepat mengering pada saat mencetak, yang mereka sebut nori (rice paste).
Selain itu, dalam moku hanga dikenal juga istilah kento, yang diakui banyak seniman adalah suatu cara register kertas yang sangat baik guna mencetak karya multi-warna dengan tingkat presisi tinggi. Ada pula bermacam sikat berbulu halus (maru-bake) untuk meratakan pigmen warna di atas permukaan papan pada saat pencetakan. Teknik ini tidak memerlukan peralatan berat atau alat press untuk mencetak gambarnya. Mereka cukup menggunakan baren, alat penggosok bagian belakang kertas yang dibuat khusus menggunakan daun bambu lebar pada permukaannya.
Bagi saya, ini pengalaman baru yang sama sekali saya belum pernah mencobanya. Kesempatan residensi di NAP ini merupakan momen yang saya tunggu-tunggu, sebab saya berharap mendapatkan pengalaman langsung dan merasakan aura tradisi moku hanga yang mereka sebar luaskan.
Saya bersama lima seniman dari Jerman (desainer grafis), Italia (pegrafis dan desainer interior), Irlandia (pelukis), Inggris (pegrafis dan seniman enamel), dan Amerika Serikat (perupa) ditempatkan di lantai atas residence dan masing-masing mendapat sebuah kamar berdampingan. Studio tempat kami akan bekerja ada di lantai bawah. Residence hanya diisi oleh kami berenam dan karenanya panitia menginginkan kami berlaku layaknya sebuah keluarga.
Kami harus mengurus sendiri segala keperluan, dari menyiapkan makanan, menjaga kebersihan ruangan dan studio, sampai membuang sampah ke tempat pembuangan sementara yang letaknya tidak jauh dari residence. Untuk sementara, residence menjadi “milik” kami yang harus kami jaga dan rawat seperti merawat rumah sendiri. Workshop berlangsung selama delapan minggu, dimulai pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore dalam lima hari setiap minggu. Sabtu dan Minggu adalah hari libur, tapi sewaktu-waktu panitia dapat membuat acara yang harus kami ikuti.
Jadwal yang disusun Committee NAP sangat memudahkan kami dalam menyerap dan mengikuti program workshop. Minggu pertama adalah masa pengenalan sejarah singkat dan pengetahuan umum teknik moku hanga. Sesi ini diberikan langsung oleh Keiko-san. Kami diperkenalkan dengan alat-alat yang biasa dipakai dan akan kami pergunakan selama workshop, seperti satu set pisau cukil kualitas tinggi, pisau kento, cat air dan gouache, nori, maru-bake, serta bermacam-macam kuas. Bila seniman moku hanga profesional menggunakan cherry block sebagai papan cukil karena kualitasnya terkenal baik, dalam workshop ini kami akan menggunakan shina-beni plywood, jenis kayu lapis yang kedua permukaannya sangat halus, cukup lembut ketika dicukil tapi tidak mudah pecah, dan lebih murah. Untuk kertas, panitia menyediakan kertas khusus untuk moku hanga dalam jumlah banyak dan membebaskan kami mencetak sepuasnya.
Kami juga berkesempatan melihat dan menyentuh langsung koleksi cutting block (papan yang telah dicukil) dari karya-karya klasik moku hanga yang berumur ratusan tahun tapi masih terawat baik. Dan tentu saja koleksi itu sangat memukau. Ada yang dalam bentuk lembaran seperti poster, kartu ucapan, dan buku-buku teks maupun komik yang semuanya asli hasil cetakan manual. Kemudian Keiko-san melakukan sedikit demo dan memberi pengarahan kepada kami untuk memastikan agar kami tidak terlalu asing pada teknik yang akan kami pelajari di bawah bimbingan para master moku hanga di minggu-minggu selanjutnya.
Masih dalam rangka pengenalan program, di samping mengikuti beberapa acara penyambutan yang cukup meriah dengan panitia, masyarakat, dan beberapa tokoh Pemerintah Kota Awaji, dalam minggu pertama ini kami bersama panitia juga melakukan tour island, mengunjungi tempat-tempat penting yang menjadi penanda dan andalan Pulau Awaji. Kami mengunjungi beberapa temple/kuil penting, museum earthquake (museum peringatan gempa besar Awaji 1995) yang sangat modern, rumah pembuatan wewangian aromaterapi yang mempertahankan cara kerja manual, tempat pembuatan sake, menonton pertunjukan wayang klasik Jepang, dan beberapa tempat menarik lainnya. Kunjungan ini, selain untuk mengenal lebih dekat kondisi sosial dan budaya setempat, bagi saya juga adalah prolog yang menghipnotis kami untuk masuk lebih dalam pada praktik moku hanga yang menjadi tujuan residensi.
Minggu kedua sampai minggu keempat adalah pengalaman berharga bersama penekun-penekun tradisi. Dalam tiga minggu ini, selama tiga hari setiap minggu, kami belajar banyak dari para profesional yang merupakan master dalam bidangnya masing-masing. Mereka melatih kami dengan sabar, ramah, dan penuh kerendahan hati. Yang turut mengesankan, mereka tidak hanya mentransfer ilmu, melainkan juga memberikan kenang-kenangan buat kami berenam, berupa karya moku hanga, kartu pos, sekeping cherry block, dan benda-benda unik lain yang semuanya membuat hubungan guru dan murid terasa intim. Indah sekali cara yang mereka lakukan.
Kami memanggil dengan sebutan sensei (guru). Mereka adalah Sensei Masahiro Takade --pria ramah dan berpembawaan tenang, seorang seniman moku hanga yang aktif berkarya dan berpameran. Ia juga berpengalaman lama sebagai pengajar di sebuah akademi seni di Kobe. Lalu Sensei Yusuke Sekioka, lelaki pendiam yang lebih banyak bekerja, seorang master carver/pencukil yang merupakan murid langsung Hanbei Oekura --generasi keempat carver moku hanga. Ia juga pendiri Sekioka Horiyu Studio pada 1983 di Tokyo. Kemudian Sensei Toru Ueba, pria eksentrik yang master printer/pencetak sekaligus pemilik workshop Banpudo di Kyoto yang telah mengerjakan pencetakan ulang ribuan karya klasik moku hanga dan banyak karya cetak seniman kontemporer. Ia sendiri banyak membuat karya cetak dan mengikuti pameran.
Selama tiga hari pada minggu kedua tersebut, Sensei Takade mengajar kami prinsip-prinsip dasar teknik moku hanga. Dari mempersiapkan desain/gambar, mempersiapkan woodblock/papan yang akan dicukil, memindai gambar ke atas papan, membuat cutting block/cukilan, mempersiapkan kertas --melembapkannya dengan cara dan perhitungan tertentu-- menyiapkan pigmen warna --meratakannya di atas papan, mencetak-menggosok belakang kertas, mengangkat kertas, mengeringkan hasil cetakan, sampai memberi tanda pensil di setiap karya yang dianggap berhasil. Semua tahap ini harus dilakukan berulang-ulang sampai kami dianggap cukup menguasai prinsip-prinsip teknik tersebut.
Pada minggu ketiga, selama tiga hari pula Sensei Sekioka memberi kami latihan bagaimana menggunakan pisau cukil secara benar dan efektif. Mengingat profesinya sebagai carver profesional --di tengah minimnya jumlah carver moku hanga di Jepang sebagaimana ia katakan-- Sensei Sekioka mengarahkan kami agar dapat mencukil papan secara efektif guna mencapai hasil yang maksimal. Pencukil dilatih agar dapat melakukan pekerjaan dalam satu posisi menghadapi papan cukil tanpa perlu banyak memutar papan yang hanya akan menghambat pekerjaan.
Dalam workshop ini, saya mendapat pengetahuan bahwa pisau utama dan terpenting dalam moku hanga multi-warna adalah pisau miring/hangi-to. Pisau ini sangat diandalkan untuk membuat garis secara tepat, dibantu dengan pisau lain seperti pisau U/maru-to dan pisau datar/hira-to untuk membersihkan bekas cukilan. Seniman moku hanga jarang atau hampir tidak pernah menggunakan pisau V/sankaku-to karena berisiko merusak garis yang dibuat. Sebaliknya, dalam teknik woodcut yang saya kembangkan selama ini, justru pisau favorit dan paling banyak saya gunakan adalah pisau V. Saya hanya menggunakan pisau miring dan pisau lainnya untuk memperluas cukilan.
Dalam workshop ini, untuk menyesuaikan dengan tradisi moku hanga, saya mau tidak mau untuk sementara menyingkirkan pisau V dari jangkauan saya dan berusaha familier dengan pisau miring/hangi-to. Bukan hal mudah mengubah kebiasaan itu, tapi saya terus mencoba hingga mulai menikmatinya.
Dalam seni grafis, pemeliharaan alat ikut menentukan sukses-tidaknya proses berkarya. Merawat pisau cukil adalah hal penting yang juga harus diperhatikan pencukil kayu, dengan selalu mengontrol mata pisau agar terjaga ketajamannya. Pisau cukil perlu diasah karena akan tumpul setelah cukup lama digunakan. Sensei Sekioka melatih kami teknik yang benar dalam mengasah pisau. Tidak mudah melakukannya karena mesti hati-hati dan penuh kesabaran agar tidak merusak mata pisau.
Lalu, pada minggu keempat, selama tiga hari pula Sensei Ueba menggenapkan pelajaran. Keahliannya adalah seluk-beluk pencetakan moku hanga. Ia banyak memberi kami alternatif, trik, dan siasat pencetakan, mulai teknik pembasahan kertas/dampness paper, sizing paper/melapisi kertas dengan campuran air dan bahan kimia untuk memperkuat warna, menggunakan pigmen warna, hingga teknik menggosok bagian belakang kertas dengan baren. Sensei Ueba sangat ahli dan selalu berusaha membantu memecahkan problem pencetakan yang sering kami temui.
Pada minggu kelima hingga minggu kedelapan, kami bekerja tanpa pembimbing. Ini adalah saatnya mempraktikkan hasil latihan bersama para sensei yang sangat berharga itu. Kami mendapat tugas membuat tiga karya individual, masing-masing dicetak lebih dari tiga edisi. Dalam term of condition program yang dikeluarkan NAP Committee, kami berkewajiban memberikan tiga karya berbeda yang kami buat, masing-masing tiga edisi sebagai koleksi mereka. Karya-karya itu akan dipamerkan pada Maret 2010 di galeri NAP.
Ternyata sisa waktu empat minggu terakhir dirasakan kurang oleh sebagian peserta program ini untuk menyelesaikan karya. Kegagalan demi kegagalan dalam mencetak harus kami hadapi. Maklum, sebagian besar dari kami untuk pertama kalinya bekerja dengan teknik ini. Namun akhirnya kami berenam dapat menyelesaikan karya masing-masing tepat pada waktunya. Mendebarkan dan mengesankan.
Selain kesibukan membuat karya, banyak acara yang kami ikuti di tengah workshop ini. Misalnya mengunjungi pabrik kertas terkenal Awagami di Tokushima yang membuat kertas ukuran 2,5 x 5,5 meter secara manual, hallowen party bersama anak-anak, presentasi karya dan open studio bersama masyarakat sekitar residence, serta berkaraoke-ria.
Salah satu tujuan program ini, seperti yang dikatakan Keiko-san dalam sayonara party menjelang berakhirnya workshop, bukan untuk menuntut peserta agar berkarya seperti seniman moku hanga. Tapi adalah tugas NAP Committee untuk mentransfer teknik itu kepada para seniman peserta guna lebih merangsang kerja kreatif mereka ke depan. Ini adalah magnet moku hanga! [V]
| |
|
|
|
|
|
Kartu Pos Kesenian dari Berlin I |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 19 October 2010 15:41 |
  | | Oleh: Claudia Seise
Suasana kesenian di Berlin kadang terasa mirip dengan suasana kesenian di Yogyakarta. Walaupun untuk masyarakat biasa sering hanyadalam jendela toko yang dibelakangnya ada pameran, obyek seni atau poster, suasana kesenian untuk orang yang punya pengetahuan sedikit mendalam, Berlin adalah macam box pandora, yang tidak habis-habis surprisenya. Kalau ingin pameran sebenarnya ada banyak kesempatan; galeri kecil, art space sangat kecil, tempat umum, jendela toko, dll. Tetapi kalau ingin makan juga lebih baik mencari galeri-galeri komersial yang biasanya mengkontrak si seniman, mengurus pameran-pameran dan mencari para pembeli. Mendapat sebuah kontrak dengan galeri komersial di Berlin, maupun galeri-galeri di kota Jerman lain seperti Munich, Köln atau bahkan Leipzig adalah impian banyak seniman Jerman maupun pendatang.
Seperti sudah ditulis di atas suasana kesenian di Berlin sangat ramai dan galeri komersial cukup banyak. Ada pameran seniman Korea Selatan, Jerman, Swiss, Perancis dan mancanegara. Salah satunya adalah pameran Franziska Fennert, seorang seniwati asal Jerman yang lagi menjadi Meisterschülerin di Universitas Kesenian di Dresden. Di Yogyakarta mungkin ada yang ingat dengan Franziska, yang menjadi mahasiswi beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia tahun 2007/ 2008. Bahkan Franziska pernah pameran tunggal di Museum Affandi dan ikut beberapa pameran kelompok, di antaranya di Galeri Biasa.
Kini Franziska Fennert mengadakan pameran tunggal di salah satu galeri komersial Berlin, namanya „Galerie Susanne Albrecht“ dekat atraksi turis „Check Point Charly“ yang dulu menjadi salah satu gerbang pembatasan tembok Berlin di antara Berlin timur dan Berlin barat. Bersama „Galerie Susanne Albrecht“ Franziska pernah juga ikut artfair di Zurich, Swiss.
Karya Franziska Fennert seperti diciptakan dengan semacam kemudahan yang penuh kebahagian seperti dijelaskan oleh pihak galeri. Lingkungan sekitarnya menjadi hidup. Setiap karya Franziska Fennert dimulai dengan sebuah drawing. Dan ternyata drawing yang digambar dengan ukuran besar yang menjadi karya Franziska paling kuat.
Selain pameran-pameran di galeri-galeri komersial para pecinta seni juga bisa menikmati pameran cukup mewah di tempat-tempat pameran yang telah disediakan pemerintah kota. Untuk yang tertarik dengan seni bukan kontemporer ada banyak Museum yang mampu memuaskan kerinduan para master seni sedunia. Mungkin tidak seterkenal dan selengkap Museum Louvre di Paris, Berlin sanggup menawarkan koleksi-koleksi yang cukup mengesankan. Untuk yang tertarik dengan seni kontemporer bagusnya langsung ke „Neue Nationalgalerie“ (Galeri Nasional Baru) yang setiap beberapa bulan mengadakan pameran seniman kontemporer. Yang lebih menyenangkan lagi adalah bahwa setiap hari kamis dari jam 6 sore sampai jam 10 malam semua penonton masuk gratis. Jadi, untuk orang kurang mampu pun tidak ada alasan lagi untuk tidak mencari pengetahuan baru tentang dunia seni kecuali ketidaktertarikan. Galeri Nasional Baru dibangun tahun 1968 oleh mantan direktor Bauhaus namanya Ludwig Mies van der Rohe. Gedung pameran tersebut dikatakan menjadi salah satu keberhasilan Modernisme dan kelihatan seperti sebuah box persegi raksasa yang dindingnya terbuat dari kaca.
Pameran yang sedang berlangsung hingga sampai dengan 24 mei 2010 adalah pameran seniman Rudolf Stingel yang berasal dari Tirol Selatan (propinsi utara Italy yang memiliki status mandiri) dan sekarang tinggal di New York. Awalnya memasuki ruang pameran Rudolph Stingel para penonton agak bingung, dengan ekspresi wajahnya „Lho, mana seninya?“ Saya pun agak kaget “Kok, kosong?” Bayar tiket pun tidak ada. Sesudah beberapa detik saya melihat meja dengan flyer informasi pameran tersebut. Saya membaca kalimat pertama dan harus senyum. Ternyata, saya lagi menginjak obyek seni pameran ini. Karpet! Pada umunya kalau kita menonton pameran ada tulisan “Jangan sentuh!”, kali ini para penonton mau tidak mau menginjak obyek pameran. Menyentuh juga boleh, duduk boleh, guling boleh. Saya merasa seperti di sebuah mesjid yang cukup besar dan kontemporer. Hanya tidak ada yang sedang sholat atau mengaji. Tidak ada obyek yang mengganggu penglihatan kecuali karpet, beberapa dinding dan sebuah lampu sangat mewah yang bisa dikatakan dari sebuah istana seorang raja yang amat kaya.
Karpet Rudolf Stingel khusus diproduksikan untuk ruang Galeri Nasional Baru di Berlin dan diinspirasikan oleh motif-motif sebuah karpet antik dari India Agra yang dimiliki si seniman. Awalnya Stingel mengubah nada motif karpet antik tersebut menjadi hanya hitam-putih. Sesudah itu motif baru diprint di atas beberapa bagian karpet besar yang akhirnya menjadi satu karya seni yang monumental. Bersama lampu mewah yang digantung di atas karpet tersebut, suasana menjadi penuh dengan peringatan sejarah seni Eropa dan sejarah budaya. Ide apa ada di belakang karya karpet tersebut? Menurut si Stingel karpet India dan Persia seperti direproduksikan di Galeri Nasional Baru Berlin termasuk barang yang terindah di dalam rumah kelas menengah ke atas dimana-mana di dunia. Khususnya dalam budaya salon (salon culture) di abad 19 dan 20 di Eropa. Karpet India dan Persia tersebut mencerminkan lifestyle yang beradab dan menurut Stingel adalah “sebuah hasrat untuk yang asing”. Membawa sebuah karpet yang merefleksikan kerumitan dalam motif ke dalam sebuah gedung Bauhaus yang menyangkal semua yang bukan purism dan jelas adalah sebuah paradoks tersendiri. Dengan paradoks itulah si seniman main. Tetapi dari pandangan seorang Muslim yang tinggal di Jerman paradoks itu justru tidak ditafsirkan sebagai paradoks, tetapi sebagai paduan budaya dan nilai-nilai Islam dengan kehidupan Jerman masa kini. Apakah itu bisa menjadi tafsir karya Stingel mestinya ditanya kepada si seniman sendiri.
Mendampingi pameran karpet raksasa ini ada beberapa acara performance, termasuk “Flying Bach”, sebuah re-interpretasi breakdancing bersama musik dari salah satu komposer Jerman terkenal Johann Sebastian Bach. Sebuah pertunjukkan yang pasti unik.
Beberapa bulan yang lalu (September 2009 – Januari 2010) ada sebuah pameran yang juga cukup menarik yaitu pameran Thomas Demand yang membangun hidup, sejarah dan peringatan kembali dengan media dari kardus ukuran hampir selalu 1:1 dengan obyek asli. Obyek kardus yang meniru obyek asli terus dipotret. Fotonya dicetak dalam ukuran besar. Bersama obyek kardus dan fotonnya ingatan massal diciptakan dengan media seni rupa. Kadang sebuah detail kecil dari obyek asli dirubah dalam karyanya. Menciptakan efek perubahan ingatan pribadi dengan fantasi. Dengan memainkan memori, memori tersebut direkonstruksikan, bahkan dipertanyakan secara radikal? Apakah ada semacam ingatan massal atau apakah setiap individu mempunyai ingatan tersendiri yang tidak pernah sama dengan yang lain? Bersama pertanyaan tersebut Demand merekonstruksikan peristiwa-peristiwa sejarah Jerman 30 tahun yang terakhir ini.
Sebenarnya masih banyak event-event lainnya yang bisa diceritakan. Misalnya beberapa bulan lagi akan ada proyek berkesenian seniman Indonesia bersama seniman orang Jerman di Dresden dan Berlin, Jerman. Proyek dengan nama U(dys)topia sudah direncanakan selama dua tahun dan akan mengeksplorasikan tanggapan seniman Indonesia maupun Jerman tentang mitos, legenda dan dongeng di masa sekarang. Salah satu pengurus adalah seniwati Franziska Fennert juga.
kadang yang saya rindukan suasana kesenian di Berlin ini adalah keramaian dan keakraban para seniman yang menonton pameran. Walaupun suasana seni cukup ramai tetap terasa agak kaku dan terlalu individu. Mencerminkan budaya Jerman .
| |
|
|
|
|
|
Catatan dari Art Hongkong 2010: MEMETAKAN ASIA, MENGHAMPAR DUNIA |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 19 October 2010 14:38 |
    | | ALIA SWASTIKA
NAMA-NAMA BESAR DALAM RANAH SENI RUPA KONTEMPORER DUNIA BERTEMU DALAM PERISTIWA SENI YANG SEKARANG PUNYA GENGSI TINGGI UNTUK LINGKUP ASIA: ART HK (BACA:ART HONGKONG 2010)
Meskipun mengambil bentuk sebagai art fair, tetapi nyatanya, forum ini memberikan kontribusi yang penting pula dalam pengembangan wacana dan pembangunan infrastruktur seni di Asia. Meskipun sekarang di sejumlah tempat yang dianggap sebagai pusat seni Asia ada percepatan yang luar biasa dalam menyerap bentuk-bentuk seni Barat, tetapi peristiwa seni semacam Art HK 2010 ini justru menjadi ruang yang mempertemukan para pelaku seni Asia dengan institusi dan piranti seni di Amerika dan Eropa.
Tahun 2010 ini saja tak kurang dari 150 galeri berpartisipasi, termasuk di dalamnya galeri-galeri yang disebut sebagai pemain utama dalam medan seni rupa dunia, yang menelurkan seniman-seniman besar seperti Andy Warhol, Damien Hirst, Takashi Murakami, ke wilayah pasar dengan harga-harga yang melambung tinggi. Sebut saja galeri kenamaan seperti White Cube dari London, Gagosian Gallery, Max Protecht Gallery dan James Cohan Gallery dari New York, atau Ota Gallery dari Tokyo. Galeri-galeri semacam mereka memberi panggung bagi tampilnya bintang seni rupa tadi pada audiens Asia. Di tahun 2010 ini, selain nama-nama klasik yang nyaris selalu ada di semua art fair besar di seluruh dunia, bisa disebut pula galeri seperti Arario (Korea), Marianna Goersky (New York), Pekin Fine Arts (Beijing), atau Osage (Hongkong/Singapura) yang menampilkan karya seniman seperti Yoshitomo Nara, Subodh Gupta, Tsang Kin Wah, Donna Ong, dan lain sebagainya. Dari Indonesia, tampil Ark Galerie, Langgeng Gallery dan Nadi Gallery menampilkan seniman mulai dari Agus Suwage hingga generasi termuda seperti Pramuhendra.
Tentu saja, bagaimana pun, nama-nama besar seperti Hierst, Bill Viola, Julian Opie, Tracey Emin, Folker de Jong, Anish Kapoor, Yayoi Kusama, Takashi Murakami, Yositomo Nara masih menjadi magnet yang menarik bagi seniman Asia maupun para kolektor yang memadati perhelatan tersebut. Tentu saja, tak semua seniman terkenal itu menampilkan karya terbaiknya, tetapi tetap, rasanya ‘mendebarkan’ menatap karya-karya mereka di sana.
Karya Damien Hirst yang dibawa oleh Lisson Gallery, yang terpampang langsung dari pintu masuk utama pengunjung, tentu saja mendapatkan perhatian yang sangat besar dari para penonton. Ia membawa karya-karya utamanya yang fenomenal, seperti litograf dari karya patung tengkorak berlian, lukisan polkadot warna pastel yang memang identik dengan dirinya, dan, yang tak kalah fenomenal adalah instalasi obat-obatan yang kali ini ia buat dengan menggunakan kristal dan batu intan. Lemari tempat ia meletakkan batu berbentuk obat itu terbuat semua dari kaca, sehingga memantulkan bayangan dari kerumunan pengunjung, dan membuat karya menjadi riuh dan realitasnya menjadi lebih kabur.
Karya Julian Opie masih menampilkan kecenderungan yang biasa ia kerjakan. Mengadaptasi semangat pop-art, ia menampilkan lukisan yang didominasi oleh kekuatan garis dan warna yang terang dan mudah dikenali. Selain itu, ia juga memajang karya video berukuran cukup besar yang menegaskan garis piksel dan teknologi komputer yang paling sederhana. Saya sendiri merasa, setelah menonton karyanya beberapa kali dan tidak menemukan hal baru, Julian Opie sudah terasa lewat masanya, kurang bisa mengimbangi perkembangan yang cepat dalam seni rupa kontemporer, terutama karena gaya pengadopsian budaya pop semacam itu sudah menjadi nyaris klise, dan amat banyak seniman melakukannya dengan aneka ragam pendekatan.
Folker de Jong dan Bill Viola, yang direpresentasi oleh Galeri James Cohan dari New York juga menjadi daya tarik tersembunyi. Menampilkan karya video dengan model presentasi yang nyaris biasa-biasa saja, di tengah kepungan begitu banyak karya super besar, karya Bill Viola buat saya menampilkan oase yang berbeda. Ada ketenangan dan terror atas rutin yang digarisbawahi. Sementara de Jong menampilkan patung manusia yang mirip Michael Jackson, dengan ciri khas yang membawanya terkenal: terbuat dari spons yang dikerjakan dengan teknik tinggi sehingga ia betul-betul menyerupai fiber, termasuk dengan teknik pewarnaannya.
Seniman India-Inggris, Anish Kapoor juga membawa karya trade marknya yang berupa patung terbuat dari stainless steel yang punya fungsi dan efek seperti kaca, tetapi terbalik sehingga kita seperti tak bisa berkata-kata dan membayangkan bagaimana teknik ini ditemukan. Karya ini memang sudah dibawa oleh Kapoor hampir ke seluruh belahan dunia dalam skala-skala yang nyaris tak terbayangkan. Di ajang Art HK 2010 kemarin, penonton Asia berkesempatan menyaksikan sensasi visual yang ditampilkan dari permainan persepsi atas realitas.
Selain karya seniman-seniman Eropa dan Amerika yang sudah menjadi legenda dalam ranah seni rupa, karya seniman Asia yang terkenal juga menarik perhatian publik. Sebut saja bintang seni rupa India, Subodh Gupta yang kali ini direpresentasi oleh galeri Korea, Arario. Ia membuat dua karya yang berangkat dari amatannya keseharian para pekerja kelas bawah di kota-kota besar di India, yang selalu membawa rantang untuk makan siang. Rantang-rantang alumunium ini kemudian disusun sedemikian rupa, membentuk gedung-gedung bertingkat dan lanskap kota. Karya lain memajang panci –panci ini dalam satu bidang datar yang luas, menyerupai dinding, dengan susunan yang acak, menyerupai lukisan abstrak.
Pasar dan Wacana
Yang menarik, meski mendasarkan ukuran-ukurannya pada angka ekonomis, sekarang ini ada kecenderungan bahwa art fair juga menjalankan strategi tertentu untuk mendapatkan kewibawaan diskursusnya. Mereka tak hanya mengundang galeri komersial, tetapi menawarkan kesempatan pada kurator-kurator untuk membuat proposal yang beriorientasi pada proyek seni. Salah satu yang tampil dalam Art Hongkong 2010 ini adalah Rirkrit Tiravanija yang dipromosikan oleh kurator Joseph Ng dari Tang Contemporary Art Bangkok. Karya Rirkrit untuk proyek ini tampil dalam visualisasi yang serupa dengan karyanya yang dipamerkan di banyak museum atau bienal/trienal internasional lainnya.
Selain mengundang seniman berbasis proyek, art fair juga menggelar serangkaian acara diskusi dan seniman bicara (artist’s talk) dan juga program panduan tur yang membantu audiens untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang kecenderungan terkini seni rupa global, dan konsep yang menyertai karya-karya seniman. Tak tanggung-tanggung, untuk acara diskusi semacam ini pun panitia mendatangkan para kurator, kritikus dan seniman kenamaan dari seluruh penjuru dunia. Martha Rosenthal, seorang seniman terkemuka dari New York, misalnya, memberikan presentasi dalam satu sesi diskusi mengenai peran seniman dalam membangun dialektika dalam ranah sosial politik. Tema semacam ini tentu saja dulunya tak mampir dalam peristiwa-peristiwa seni yang berorientasi pasar.
Karena reputasinya yang semakin baik, tak heran jika Art Hongkong kali ini menjadi ruang bertemu bagi hampir semua pemain dalam ‘industri’ seni rupa dunia. Tak hanya galeri, seniman dan kolektor, pemain utama dalam ‘pasar dagang’ itu saja, melainkan juga para kurator, kritikus, direktur museum, sejarawan seni, dan kelompok lain yang biasa sedikit alergi pada pasar. Pada hari pertama pembukaan saja, ribuan orang mendatangi acara ini, yang dapat dipastikan datang dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Kanada hingga Australia. Pada hari berikutnya, masyarakat umum berbondong-bondong datang menyaksikan satu demi satu karya dalam areal pameran, mencari pengalaman estetika baru yang sensasinya berbeda dengan memasuki museum.
Sekarang ini, pasar justru menjadi jawaban terhadap persoalan besar yang dihadapi oleh seni kontemporer ketika ia makin mengarah pada kecenderungan konseptual, dan merentang jarak yang semakin jauh dengan publiknya. Ketika berkembang menjadi industri, dengan pengemasan dan strategi promosi yang baru terhadap seni konseptual dan gagasan dasarnya, maka audiens menjadi lebih mudah untuk dirangkul dan tumbuh bersama dalam infrastruktur dan dinamika seni kontemporer sekarang ini.
Fokus dari Art HK 2010 ini tentu saja adalah art fair, yang dengan demikian langsung merujuk pada pasar, dan, lebih khusus lagi, perdagangan karya seni. Jika demikian, yang menjadi tolak ukur keberhasilan tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan angka: jumlah transaksi, persentase penjualan, rekor harga, dan semacamnya. Reputasi sebuah art fair disebut baik jika angka-angka itu menunjukkan indeks yang tinggi, yang artinya peristiwa tersebut mampu mendatangkan dan merawat pasar untuk jangka waktu tertentu.
Galeri Indonesia
Karya-karya seniman Indonesia merupakan salah satu tampilan yang cukup menarik dalam Art Hongkong 2010 ini. J Ariadhitia Pramuhendra, yang tampil bersama Platform 3 dalam seksi/bagian khusus yaitu Art Future, mendapat cukup banyak perhatian melalui karyanya Ashes to Ashes. Banyak pengamat mengatakan bahwa karya Hendra pantas memenangkan kategori khusus sebagai penampil terbaik dalam kategori ini, yang pada akhirnya dimenangkan seniman senior Sazkia Shikander. Demikian pula karya dari Yuli Prayitno, The Tin(g) King, yang membuat orang banyak terkagum dengan imajinasi dan ketekunannya. Karya Eko Nugroho dan Agustinus Kuswidananto aka Jompet, dari booth Ark Galerie, juga mendapat banyak perhatian dari khalayak dan media massa karena unik dan berbeda dari booth-booth yang lain. Sementara Indieguerrilas juga menarik perhatian publik dengan karya komikalnya yang banyak menyajikan ironi-ironi dari globalisasi, sebuah tema yang masih terasa relevan untuk publik Asia.
Secara umum, karya seniman Indonesia cukup membanggakan dalam ajang ini. Tetapi harus diingat bahwa sebagian besar seniman Indonesia yang dibawa ke Art HK 2010 ini sudah masuk dalam kategori mapan. Selama dua tiga tahun kedepan, harus ada kerja regenerasi yang intensif agar tumbuh seniman-seniman baru yang menciptakan karya dan kuat dan segar, serta relevan dengan mata zaman. [V]
Pullquotes
Karya-karya seniman Indonesia merupakan salah satu tampilan yang cukup menarik.
| |
|
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Page 1 of 2 |
|
|
|
|
|
|
|
|