Industri kreatif memang harus dikelola secara kreatif. Dadang Christanto, perupa Indonesia yang pada saat ini mengajar dan berkarya di Australia, diundang ke Jepang untuk berkarya bersama para seniman dari berbagai negara. Dari ajang internasional itu, ia bertanya bagaimana industri kreatif di Indonesia ditangani.
April lalu, saya mendapat undangan ke Jepang untuk mengikuti “Setouchi International Art Festival 2010”. Undangan itu guna meninjau lokasi dan memilihnya di areal yang terdiri dari tujuh pulau kecil di Seto Inland Sea --untuk melengkapinya, baca tulisan saya, “Ooiii… Naoshima”, di harian Kompas (3/5/09). Rencananya, festival itu dibuka pada Juli 2010.
Dan bulan Juli silam, saya kembali ke Jepang, menyelesaikan instalasi saya untuk sebuah pameran outdoor yang menempati areal seluas 672 kilometer persegi, bertajuk “Niigata Water and Land Art Festival”. Pameran ini diikuti 72 seniman dari 13 negara dan dibuka pada 18 Juli hingga 12 Desember 2009.
Tampaknya event-event pameran outdoor dengan areal luas dan bertaraf internasional merupakan fenomena baru, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, di Jepang. Dapat dikatakan, itu terjadi setelah keberhasilan “House Project” yang ada di Pulau Naoshima dan “Echigo Tsumari Art Triennial” (ETAT) yang mendapat sorotan dari kalangan pemerhati senirupa dunia. Nama-nama besar dalam senirupa kontemporer pernah tercatat dalam pameran ini. Sebut saja Christian Boltanski, Jenny Hozler, Cai Go Ciang, Antony Gormley, Tadashi Kawamata, Yayoyi Kusama, Ilya and Emelia Kabkov, Alfredo Jaar, James Turel, dan Marina Abramovic.
Event-event semacam ini sangat berkaitan dengan apa yang disebut industri kreatif, yang sifatnya tidak cuma berkutat pada seniman, broker seni, dan galeri komersial, melainkan juga mampu menjangkau masyarakat luas. Terutama pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat lokal secara langsung, tempat event tersebut diselenggarakan.
Di Jepang, kegiatan pemberdayaan ekonomi lokal dan budaya yang didukung pemerintah lewat ajang industri kreatif senirupa kontemporer berlangsung sejak satu darsawarsa lalu. Salah satunya adalah ETAT, yang gaungnya mendunia. Echigo Tsumari sendiri adalah nama salah satu bagian wilayah di Niigata Prefecture. Dulu wilayah perbukitan indah ini terisolasi. Setelah Perang Dunia II, mulai banyak dibangun terowongan/jalan tembus yang menghubungkan antara desa dan kota sekitar.
LEBIH LANJUT BACA VA EDISI 33
| |