Oleh : Melani Setiawan
Di hamparan Airport Charles de Gaulle, Paris, 14 Maret 2010, usai terbang dari Singapura bersama pesawat Airbus A380-800 yang dapat memuat sekaligus 475 penumpang, kami langsung diusap oleh suhu dingin melembut dan aroma parfum dari orang-orang yang hilir mudik hendak melintasi dunia. Langkah dan hirupan udara yang tak pernah hilang untuk selalu bermimpi berada di bawah Eiffel dan kemegahan perhelatan seni di kota yang pernah dikuasai oleh Napoleon Bonaparte di kota fesyen ini.
Namun kunjungan 25 orang yang terdiri dari para perupa dan pecinta seni ke Paris tak hanya dalam selimut manja kota yang artistik dan modern itu, tetapi apresiasi seni yang telah lama didambakan oleh para perupa untuk tampil bersama seniman dunia lainnya. Sebuah art fair terkemuka saat ini yang lahir dari gagasan Lorenzo Rudolf, seorang organizer yang pernah memimpin Art Basel yang kini menjadi direktur Art Paris 2010.
Pesta seni yang ke 11 dengan brand “Art Paris + Guest”, merupakan perluasan konsep dari art fair tradisional dengan konsep baru dan terbebas dari keusangan. Sebuah pesta seni rupa yang digelar di atas tujuh puluh dua ribu meter persegi yang diikuti oleh 50 galeri dengan projek-projek khusus yang kerap berkolaborasi dengan “Guest” (kolektor, museum, fondation, arsitek, desainer, fesyen, dll.) dan menampilkan karya-karya seni dengan new concept yang belum pernah ditampilkan pada art fair sebelumnya.
Selama 4 tahun berturut-turut Art Paris mengambil tempat di Great Glass of The Grand Palais, sebuah lahan pertaruhan para senirupawan di arus seni rupa kontemporer yang kini tumbuh kembang menjadi pesta seni kontemporer bergengsi, bahkan merupakan major event di awal musim semi kota Paris.
Seakan tak ada sempat berleha untuk segera membongkar paket lukisan dan patung yang telah lebih dulu terkirim. Gegas rombonganpun langsung menuju lokasi pameran yang menempuh waktu 90 menit menuju Avenue Winston Churchill. Di hadapan gedung yang megah pandangan kami tiba-tiba disergap oleh baliho berukuran raksasa dengan tampilan karya 3-dimensi Agus Suwage yang bertajuk Luxury Crime, bergambar tengkorak logam yang sedang santai berendam di bak besar terisi beras.
Suatu kebanggaan yang tak ternilai kehadiran rombongan Indonesia dan beberapa negara lainnya yang diundang secara khusus oleh Lorenzo Rudolf, sebagai perwakilan Asia yang memiliki potensi karakteristik berbeda untuk diperlihatkan ke mata dunia.
Sebuah langkah konkrit memperkenalkan seni rupa Indonesia, karena secara geografis Indonesia masih dianggap belum banyak dikenal oleh publik seni internasional. Termasuk di antaranya yang terlibat sebagai Guest adalah Afrika, Finlandia dan Ukraina. Hanya sayangnya India dan China sebagai terundang tidak ikut tampil untuk berpartisipasi menjadi salah satu ‘”Guest” di Art Paris 2010.
Kehadiran seni rupa Indonesia di Art Fair diharapkan terjadinya integrasi dalam proses berkesenian serta munculnya nilai-nilai kreatifitas baru di ranah seni rupa. Khususnya angin segar buat Asia Tenggara yang kini sedang giat merangkai pola budaya terkini sebagai perwujudan membangun prestise dan kesejahteraan sebuah negeri melalui seniman, intitusi seni, museum, galeri dan pecinta seni. Serta Indonesia kedepan mampu membangun platform seni rupa internasional.
Pavilion Indonesia
Terasa kompak dan semangat ketika teman-teman perupa dari Indonesia bongkar pasang karya, bahkan pihak promotor terlibat ikut angkut-angkut karya di tengah kesibukan para seniman dari negara lainnya yang sama-sama hendak mendisplay karya. Termasuk tak ketinggalan Eddie Hara, sahabat perupa yang jauh datang dari Swiss untuk membantu proses pemasangan karya. Maklum pavilion Indonesia mendapat ruang display seluas 300 m2
Pameran yang berlangsung 18 – 22 Maret 2010 merupakan upaya Deddy Kusuma dalam mempresentasikan seniman kontemporer Indonesia untuk bisa terlibat dalam festival seni internasional, yang jauh dipersiapkan setelah kehadiran Lorenzo Rudolf datang ke Indonesia. yang kemudian didampingi oleh Suprajitno Sutomo dan Inge Santoso selaku project director serta memasang Enin Supriyanto dan Agung Hujatnikajennong selaku konsultan artistik.
Para seniman yang terlibat adalah Heri Dono yang menampilkan performance yang mengisahkan seorang pesulap yang kesasar dengan menampilkan karya seni instalasi berupa mobil-mobilan dan wayang. Sebuah ironi dari perubahan peradaban di mana dulu Barat berguru pada Timur, namun kini sebaliknya Timur lebih banyak berguru pada Barat. Begitu juga karya Astari Rasjid yang melihat paradigma kaum lelaki yang melindungi wanita kini malah justru kaum perempuan yang melindungi laki-laki. Karya Ronald Manulang dan Jerry Thung yang juga tak lepas dari eksistensi sex dan gender.
Ternyata banyak pengunjung yang justru antusias melihat karya-karya seniman kita yang memiliki metafora tentang ke Indonesian-nya, terutama karya Suraji yang menampilkan lukisan dengan tikus-tikusnya yang digarap secara realistik. Boleh jadi karena karya tersebut sarat dengan isu tentang korupsi di Indonesia. Karya lainnya seperti karya Entang Wiharso, Putu Sutawijaya, Nyoman Masriadi, Yunizar, Irfan, Alfi, Budi Kustarto, dan FX Harsono yang banyak menceritakan tentang isu sosial dan budaya Indonesia juga mampu menarik perhatian publik. Sementara simbol-simbol yang metaforik serta karya tiga dimensi dari Pintor Sirait yang dikemas dalam karya yang berbobot berat terbuat dari bahan metal yang membentuk mobil Formula I, Rudi Mantofani, Yusra Martinus dan Handiwirman yang memamerkan objek art-nya, Melati dengan video art-nya dan karya Christine Ay Tjoe yang interaktif. Kesemuannya mampu memberi aksen variatif dari karya seniman tanah air.
Tidak hanya pameran Art Paris tapi rombongan secara terpisah memburu ketakjuban penyelenggara seni lainnya di kompleks Grand Palais, di antaranya pameran dari belahan Eropa dengan konsep-konsep uniknya, seperti karya instalasi yang menampilkan prototipe mobil Fiat yang sepenuhnya terlabur oleh warna putih dan karya seni rupa lainnya yang menyatukan antara seni dua dimensi dan art objek lainnya.
Ketakjuban tidak hanya isi karya seni rupanya saja tetapi juga para official yang lengkap dengan kendaraan operasional yang keren. Dengan reklame informasi pameran di segala tempat sehingga para peserta dan pengunjung dibuat nyaman untuk hadir dan berada di sekelilingnya. Oleh karena setiap tahun Art Paris memberikan kontribusi apresiasi yang menakjubkan, maka kedepan Art Paris berencana akan membuat sistem penyelenggaraannya seperti museum. Bayangkan saja, pengunjung seakan tak henti menghadiri perhelatan menakjubkan dari berbagai negara. Termasuk pameran desain karya Yves Saint Laurent di Petite Palais yang artistik, yang letaknya tepat didepan gedung utama Grand Palais yang harus antri berjam-jam untuk bisa masuk ke dalammya..
Merupakan pengalaman dan tantangan kedepan yang harus dihadapi oleh seniman dan penyelenggara seni anah air untuk lebih kompetitif merebut pandangan tentang Indonesia, agar demokrasi, pola budaya dan modernitas dapat tampil elegan bersama perupa berbakat lainnya di pelosok tanah air dan belahan dunia lainnya. Sehingga Indonesia yang kini mengejar debut kreatifitas di bidang seni dapat tercapai.
|