Arahmaiani
PAMERAN PARA PERUPA MUSLIM INI INGIN MEMBERI PENGERTIAN KOMPREHENSIF, SEKALIGUS MENGKOREKSI DAN MEMPERBARUI PERSPEKTIF BARAT MENGENAI KEBUDAYAAN ISLAM.
Pameran dengan mengambil judul agak provokatif “Unexpected” telah digelar di Bochum, Jerman. Kerja kreatif yang diprakarsai dan diselenggarakan oleh Museum Seni Bochum ini merupakan bagian dari acara seni dan budaya kawasan Ruhr (Essen, Bochum, Obehausen, Duisburg, Dortmund, dan Gelsenkirchen). Kawasan ini dinobatkan sebagai Cultural Capital of Europe untuk tahun 2010. Pameran yang dibuka bulan Juni dan akan berahir bulan Oktober mendatang mengetengahkan 3 hal dalam tingkatan berbeda: seni (tradisional) Islam, projek foto keluarga imigran Muslim di Bochum, dan seni kontemporer dari dunia Islam (Palestina, Libanon, Iran, Mesir, Maroko, Turki, Bosnia, Pakistan, Kuwait, dan Indonesia).
Pameran yang ditata sedemikian rupa untuk memberikan pengertian komprehensif mengenai realitas budaya Islam ini juga dimaksudkan untuk mengkoreksi dan memperbaharui perspektif Barat mengenai kebudayaan Islam, selain sudut pandang Eurosentris yang cenderung melihat budaya Eropa sebagai yang unggul. Para kurator yang terdiri dari Dr.Hans Guenter Golinski, Prof. Dr. Claus-Peter Haase, Marfa Heimbach, Sepp Hiekisch-Picard, Dr. Necmi Soenmez, dan Kerstin Weber sepakat menganggap bahwa cara pandang Barat atas budaya Islam hingga saat ini cenderung dipengaruhi sikap kolonial dan klise orientalisme. Sehingga kerap menghambat komunikasi dan menimbulkan salah paham ataupun prasangka buruk.
Maka digelarnya seni Islam yang terdiri dari manuskrip-manuskrip tua, kaligrafi, keramik, maupun karpet antik memperlihatkan tidak saja aspek religiositas namun juga gaya dan bentuk yang dikembangan dalam cara kepemimpinan dan sistem budaya Islam. Penelusuran melalui perpektif sejarah ini sangat pembantu penonton untuk bisa memahami perpektif estetik dan budaya kaum Muslim. Seni kontemporer yang tidak mudah dipahami oleh penonton (Eropa) kemudian diletakkan dalam konteksnya sehingga membantu pembacaan dan pemahaman. Memungkinkan penonton untuk melihat jejak keberlanjutan spiritualitas, perubahan budaya maupun hubungan peralihan.
Selain kesalahan dalam mendefinisikan budaya Islam yang menimbulkan jarak dan keterpisahan, peristiwa pemboman gedung World Trade Center di New York pada tahun 2001 lalu memang telah makin memperlebar jurang polarisasi dunia Barat dan Islam. Keadaan ini seperti umum diketahui telah melahirkan tragedi kemanusiaan yang amat memprihatinkan, berbagai petaka terjadi dan menimbulkan ketegangan hingga perang yang merugikan kedua belah pihak. Khususnya kaum Muslim bahkan mendapat stigma, entah dianggap sebagai kelompok manusia bermental teroris ataupun masyarakat penganut budaya kekerasan. Yang mana sebetulnya tidak sesuai dengan realita.
Menurut survey Gallup Poll lewat wawancara dengan lebih dari 10 ribu Muslim dari 35 negara Islam terbukti bahwa umumnya kaum Muslim tidak suka dan tidak menoleransi kekerasan – apalagi dengan membawa nama Tuhan dan agama. Kaum Muslim umumnya juga tidak membenci orang Barat (untuk keterangan lengkap silahkan baca “Who Speaks for Islam” yang ditulis dan diedit oleh John L.Esposito dan Dalia Mogahed). Memang mereka yang radikal atau pendukung garis keras dan terang-terangan melakukan tindakan-tindakan yang tidak berperi-kemanusiaan juga ada. Tapi mereka dalam kenyataanya adalah golongan minoritas yang menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan kekuasaan kelompok maupun pribadi.
Projek Foto Keluarga.
Kawasan Ruhr abad lalu adalah kawasan industri batu bara dan baja yang telah mendatangkan “keajaiban ekonomi” bagi masyarakat Jerman. Kawasan ini tentu saja pada masa itu menjadi sentra industri dan imigran yang kemudian bekerja sebagai buruhpun berdatangan dari mancanegara, termasuk dari negeri-negeri Islam. Karena keberhasilan industri yang gemilang, para buruh yang awalnya dipekerjakan untuk sementara waktu akhirnya tinggal menetap hingga saat ini. Beranak pinak dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat wilayah North Rhine Wesphalia yang merupakan wilayah terkaya di Jerman.
Projek foto keluarga menampilkan sejumlah foto keluarga Muslim yang menetap di Bochum dengan setting ruang keluarga yang bersifat pribadi. Jadi lewat bingkai foto-foto ukuran besar tersebut pemerhati diajak melihat selintas kehidupan dan budaya keluarga Muslim yang bermigrasi ke Jerman. Diantaranya ada keluarga Turki, Pakistan, Mesir dan juga Jawa ataupun keluarga pasangan campuran Jerman dan Iran misalnya. Tuomo Manninen adalah photografer Finlandia yang mengambil foto-foto tersebut. Sejak pertengahan tahun 90an ia memang sudah terlibat dan menunjukan perhatian atas projek fotografi yang mengeksplorasi dan mempertanyakan hubungan antara individu dan masyarakat, antara identitas dan peran.
Hingga saat ini ia telah membuat lebih dari 200 “foto keluarga” yang diambil dari seluruh pelosok dunia yang memperlihatkan persilangan sosial, tempat asal, dan panorama masyarakat dunia. Jadi lewat strategi kerja seperti ini sang fotographer telah mengalih-fungsikan motif klasik: foto bersama yang dianggap sebagai bagian dari sejarah seni menjadi hal lain yang berurusan dengan kondisi kehidupan hari ini. Dengan demikian ia telah membebaskannya dari status untuk sekedar merepresentasikan maupun posisi yang diakibatkan oleh hambatan-hambatan sosial tertentu. Maka “Potret Keluarga Dunia untuk Dunia”pun bisa diciptakan. Mencerminkan impian dan dambaan manusia siapapun yang ingin hidup bersama di dunia dengan damai dan sejahtera.
Seni Kontemporer
Dengan mengundang 11 perupa dari 10 negara Islam (Arash Hanei, Hambra Abbas, Lara Baladi, Mounir Fatmi, Mustafa Kunt, Nebosja Seric Shoba, Oeslem Guenyol, Shady El Noshokaty, Tarek El Ghousseini, Zineb Sedira, dan saya) penyelenggara pameran bermaksud memperlihatkan inovasi, keragaman estetik maupun masalah-masalah sosial dari dunia Islam yang tidak bersifat klise. Kelompok seniman ini yang juga bisa dianggap sebagai generasi lanjut sesudah seniman-seniman seperti Shirin Neshat, Mona Hatoum, Rashid Arain dll. yang telah dikenal cukup luas oleh pemerhati di Barat. Memang jika menilik karya-karya dalam pameran ini bisa terlihat jelas bahwa para perupa disini selain membawa pendekatan estetik yang baru juga mengetengahkan persoalan-persoalan sosial budaya yang kompleks.
Jika diamati lebih jauh akan terlihat beberapa ciri yang membedakan. Generasi awal tampaknya lebih memfokuskan diri pada persoalan-persoalan yang timbul di lingkungan masyarakat dari mana mereka datang dan cenderung hijrah ke Barat. Sehingga suara kritis maupun tema karya biasanya terfokus pada hal-hal dan keprihatinan yang menyangkut budaya asal mereka. Sementara di sisi lain para perupa generasi selanjutnya - bisa jadi karena dimungkinkan untuk melakukan ulang-alik budaya dan keluar masuk wilayah budaya Islam dan lainya (atau Barat khususnya) - mengakibatkan perspektif budaya mereka menjadi berbeda dan lebih kompleks. Atau dengan kata lain, jika disederhanakan, mereka tidak hanya melihat persoalan dan kekurangan di lingkungan sendiri tapi juga melihat persoalan dan kekurang dari dunia dan budaya Barat.
Memang dalam satu dekade akhir dunia seni Islam bergerak dengan sangat pesat. Koleksi “seni Islam” sudah secara radikal direvisi seperti bisa dilihat di Museum for Islamic Art, Doha; David Collection, Kopenhagen; ataupun Aga Khan Collection, Toronto. Begitu pula pameran-pameran penting telah diselenggarakan di kota-kota besar dunia, baik seni tradisional maupun kontemporer. Hal ini telah mengubah dan membawa persepsi baru selain memberi tempat pada seni kontemporer dengan secara setara dihadapan kebudayaan lain (khususnya Barat). Demikian usaha untuk membuka perspektif Internasional dalam basis kesetaraan lewat pertukaran budaya dan estetika yang memperlihatkan pengaruh maupun potensi wilayah budaya Islam dalam pameran khusus yang penting ini tergarap secara apik dan proporsional.[V]
| |