ALIA SWASTIKA
NAMA-NAMA BESAR DALAM RANAH SENI RUPA KONTEMPORER DUNIA BERTEMU DALAM PERISTIWA SENI YANG SEKARANG PUNYA GENGSI TINGGI UNTUK LINGKUP ASIA: ART HK (BACA:ART HONGKONG 2010)
Meskipun mengambil bentuk sebagai art fair, tetapi nyatanya, forum ini memberikan kontribusi yang penting pula dalam pengembangan wacana dan pembangunan infrastruktur seni di Asia. Meskipun sekarang di sejumlah tempat yang dianggap sebagai pusat seni Asia ada percepatan yang luar biasa dalam menyerap bentuk-bentuk seni Barat, tetapi peristiwa seni semacam Art HK 2010 ini justru menjadi ruang yang mempertemukan para pelaku seni Asia dengan institusi dan piranti seni di Amerika dan Eropa.
Tahun 2010 ini saja tak kurang dari 150 galeri berpartisipasi, termasuk di dalamnya galeri-galeri yang disebut sebagai pemain utama dalam medan seni rupa dunia, yang menelurkan seniman-seniman besar seperti Andy Warhol, Damien Hirst, Takashi Murakami, ke wilayah pasar dengan harga-harga yang melambung tinggi. Sebut saja galeri kenamaan seperti White Cube dari London, Gagosian Gallery, Max Protecht Gallery dan James Cohan Gallery dari New York, atau Ota Gallery dari Tokyo. Galeri-galeri semacam mereka memberi panggung bagi tampilnya bintang seni rupa tadi pada audiens Asia. Di tahun 2010 ini, selain nama-nama klasik yang nyaris selalu ada di semua art fair besar di seluruh dunia, bisa disebut pula galeri seperti Arario (Korea), Marianna Goersky (New York), Pekin Fine Arts (Beijing), atau Osage (Hongkong/Singapura) yang menampilkan karya seniman seperti Yoshitomo Nara, Subodh Gupta, Tsang Kin Wah, Donna Ong, dan lain sebagainya. Dari Indonesia, tampil Ark Galerie, Langgeng Gallery dan Nadi Gallery menampilkan seniman mulai dari Agus Suwage hingga generasi termuda seperti Pramuhendra.
Tentu saja, bagaimana pun, nama-nama besar seperti Hierst, Bill Viola, Julian Opie, Tracey Emin, Folker de Jong, Anish Kapoor, Yayoi Kusama, Takashi Murakami, Yositomo Nara masih menjadi magnet yang menarik bagi seniman Asia maupun para kolektor yang memadati perhelatan tersebut. Tentu saja, tak semua seniman terkenal itu menampilkan karya terbaiknya, tetapi tetap, rasanya ‘mendebarkan’ menatap karya-karya mereka di sana.
Karya Damien Hirst yang dibawa oleh Lisson Gallery, yang terpampang langsung dari pintu masuk utama pengunjung, tentu saja mendapatkan perhatian yang sangat besar dari para penonton. Ia membawa karya-karya utamanya yang fenomenal, seperti litograf dari karya patung tengkorak berlian, lukisan polkadot warna pastel yang memang identik dengan dirinya, dan, yang tak kalah fenomenal adalah instalasi obat-obatan yang kali ini ia buat dengan menggunakan kristal dan batu intan. Lemari tempat ia meletakkan batu berbentuk obat itu terbuat semua dari kaca, sehingga memantulkan bayangan dari kerumunan pengunjung, dan membuat karya menjadi riuh dan realitasnya menjadi lebih kabur.
Karya Julian Opie masih menampilkan kecenderungan yang biasa ia kerjakan. Mengadaptasi semangat pop-art, ia menampilkan lukisan yang didominasi oleh kekuatan garis dan warna yang terang dan mudah dikenali. Selain itu, ia juga memajang karya video berukuran cukup besar yang menegaskan garis piksel dan teknologi komputer yang paling sederhana. Saya sendiri merasa, setelah menonton karyanya beberapa kali dan tidak menemukan hal baru, Julian Opie sudah terasa lewat masanya, kurang bisa mengimbangi perkembangan yang cepat dalam seni rupa kontemporer, terutama karena gaya pengadopsian budaya pop semacam itu sudah menjadi nyaris klise, dan amat banyak seniman melakukannya dengan aneka ragam pendekatan.
Folker de Jong dan Bill Viola, yang direpresentasi oleh Galeri James Cohan dari New York juga menjadi daya tarik tersembunyi. Menampilkan karya video dengan model presentasi yang nyaris biasa-biasa saja, di tengah kepungan begitu banyak karya super besar, karya Bill Viola buat saya menampilkan oase yang berbeda. Ada ketenangan dan terror atas rutin yang digarisbawahi. Sementara de Jong menampilkan patung manusia yang mirip Michael Jackson, dengan ciri khas yang membawanya terkenal: terbuat dari spons yang dikerjakan dengan teknik tinggi sehingga ia betul-betul menyerupai fiber, termasuk dengan teknik pewarnaannya.
Seniman India-Inggris, Anish Kapoor juga membawa karya trade marknya yang berupa patung terbuat dari stainless steel yang punya fungsi dan efek seperti kaca, tetapi terbalik sehingga kita seperti tak bisa berkata-kata dan membayangkan bagaimana teknik ini ditemukan. Karya ini memang sudah dibawa oleh Kapoor hampir ke seluruh belahan dunia dalam skala-skala yang nyaris tak terbayangkan. Di ajang Art HK 2010 kemarin, penonton Asia berkesempatan menyaksikan sensasi visual yang ditampilkan dari permainan persepsi atas realitas.
Selain karya seniman-seniman Eropa dan Amerika yang sudah menjadi legenda dalam ranah seni rupa, karya seniman Asia yang terkenal juga menarik perhatian publik. Sebut saja bintang seni rupa India, Subodh Gupta yang kali ini direpresentasi oleh galeri Korea, Arario. Ia membuat dua karya yang berangkat dari amatannya keseharian para pekerja kelas bawah di kota-kota besar di India, yang selalu membawa rantang untuk makan siang. Rantang-rantang alumunium ini kemudian disusun sedemikian rupa, membentuk gedung-gedung bertingkat dan lanskap kota. Karya lain memajang panci –panci ini dalam satu bidang datar yang luas, menyerupai dinding, dengan susunan yang acak, menyerupai lukisan abstrak.
Pasar dan Wacana
Yang menarik, meski mendasarkan ukuran-ukurannya pada angka ekonomis, sekarang ini ada kecenderungan bahwa art fair juga menjalankan strategi tertentu untuk mendapatkan kewibawaan diskursusnya. Mereka tak hanya mengundang galeri komersial, tetapi menawarkan kesempatan pada kurator-kurator untuk membuat proposal yang beriorientasi pada proyek seni. Salah satu yang tampil dalam Art Hongkong 2010 ini adalah Rirkrit Tiravanija yang dipromosikan oleh kurator Joseph Ng dari Tang Contemporary Art Bangkok. Karya Rirkrit untuk proyek ini tampil dalam visualisasi yang serupa dengan karyanya yang dipamerkan di banyak museum atau bienal/trienal internasional lainnya.
Selain mengundang seniman berbasis proyek, art fair juga menggelar serangkaian acara diskusi dan seniman bicara (artist’s talk) dan juga program panduan tur yang membantu audiens untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang kecenderungan terkini seni rupa global, dan konsep yang menyertai karya-karya seniman. Tak tanggung-tanggung, untuk acara diskusi semacam ini pun panitia mendatangkan para kurator, kritikus dan seniman kenamaan dari seluruh penjuru dunia. Martha Rosenthal, seorang seniman terkemuka dari New York, misalnya, memberikan presentasi dalam satu sesi diskusi mengenai peran seniman dalam membangun dialektika dalam ranah sosial politik. Tema semacam ini tentu saja dulunya tak mampir dalam peristiwa-peristiwa seni yang berorientasi pasar.
Karena reputasinya yang semakin baik, tak heran jika Art Hongkong kali ini menjadi ruang bertemu bagi hampir semua pemain dalam ‘industri’ seni rupa dunia. Tak hanya galeri, seniman dan kolektor, pemain utama dalam ‘pasar dagang’ itu saja, melainkan juga para kurator, kritikus, direktur museum, sejarawan seni, dan kelompok lain yang biasa sedikit alergi pada pasar. Pada hari pertama pembukaan saja, ribuan orang mendatangi acara ini, yang dapat dipastikan datang dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Kanada hingga Australia. Pada hari berikutnya, masyarakat umum berbondong-bondong datang menyaksikan satu demi satu karya dalam areal pameran, mencari pengalaman estetika baru yang sensasinya berbeda dengan memasuki museum.
Sekarang ini, pasar justru menjadi jawaban terhadap persoalan besar yang dihadapi oleh seni kontemporer ketika ia makin mengarah pada kecenderungan konseptual, dan merentang jarak yang semakin jauh dengan publiknya. Ketika berkembang menjadi industri, dengan pengemasan dan strategi promosi yang baru terhadap seni konseptual dan gagasan dasarnya, maka audiens menjadi lebih mudah untuk dirangkul dan tumbuh bersama dalam infrastruktur dan dinamika seni kontemporer sekarang ini.
Fokus dari Art HK 2010 ini tentu saja adalah art fair, yang dengan demikian langsung merujuk pada pasar, dan, lebih khusus lagi, perdagangan karya seni. Jika demikian, yang menjadi tolak ukur keberhasilan tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan angka: jumlah transaksi, persentase penjualan, rekor harga, dan semacamnya. Reputasi sebuah art fair disebut baik jika angka-angka itu menunjukkan indeks yang tinggi, yang artinya peristiwa tersebut mampu mendatangkan dan merawat pasar untuk jangka waktu tertentu.
Galeri Indonesia
Karya-karya seniman Indonesia merupakan salah satu tampilan yang cukup menarik dalam Art Hongkong 2010 ini. J Ariadhitia Pramuhendra, yang tampil bersama Platform 3 dalam seksi/bagian khusus yaitu Art Future, mendapat cukup banyak perhatian melalui karyanya Ashes to Ashes. Banyak pengamat mengatakan bahwa karya Hendra pantas memenangkan kategori khusus sebagai penampil terbaik dalam kategori ini, yang pada akhirnya dimenangkan seniman senior Sazkia Shikander. Demikian pula karya dari Yuli Prayitno, The Tin(g) King, yang membuat orang banyak terkagum dengan imajinasi dan ketekunannya. Karya Eko Nugroho dan Agustinus Kuswidananto aka Jompet, dari booth Ark Galerie, juga mendapat banyak perhatian dari khalayak dan media massa karena unik dan berbeda dari booth-booth yang lain. Sementara Indieguerrilas juga menarik perhatian publik dengan karya komikalnya yang banyak menyajikan ironi-ironi dari globalisasi, sebuah tema yang masih terasa relevan untuk publik Asia.
Secara umum, karya seniman Indonesia cukup membanggakan dalam ajang ini. Tetapi harus diingat bahwa sebagian besar seniman Indonesia yang dibawa ke Art HK 2010 ini sudah masuk dalam kategori mapan. Selama dua tiga tahun kedepan, harus ada kerja regenerasi yang intensif agar tumbuh seniman-seniman baru yang menciptakan karya dan kuat dan segar, serta relevan dengan mata zaman. [V]
Pullquotes
Karya-karya seniman Indonesia merupakan salah satu tampilan yang cukup menarik.
| |