Oleh: Claudia Seise
Suasana kesenian di Berlin kadang terasa mirip dengan suasana kesenian di Yogyakarta. Walaupun untuk masyarakat biasa sering hanyadalam jendela toko yang dibelakangnya ada pameran, obyek seni atau poster, suasana kesenian untuk orang yang punya pengetahuan sedikit mendalam, Berlin adalah macam box pandora, yang tidak habis-habis surprisenya. Kalau ingin pameran sebenarnya ada banyak kesempatan; galeri kecil, art space sangat kecil, tempat umum, jendela toko, dll. Tetapi kalau ingin makan juga lebih baik mencari galeri-galeri komersial yang biasanya mengkontrak si seniman, mengurus pameran-pameran dan mencari para pembeli. Mendapat sebuah kontrak dengan galeri komersial di Berlin, maupun galeri-galeri di kota Jerman lain seperti Munich, Köln atau bahkan Leipzig adalah impian banyak seniman Jerman maupun pendatang.
Seperti sudah ditulis di atas suasana kesenian di Berlin sangat ramai dan galeri komersial cukup banyak. Ada pameran seniman Korea Selatan, Jerman, Swiss, Perancis dan mancanegara. Salah satunya adalah pameran Franziska Fennert, seorang seniwati asal Jerman yang lagi menjadi Meisterschülerin di Universitas Kesenian di Dresden. Di Yogyakarta mungkin ada yang ingat dengan Franziska, yang menjadi mahasiswi beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia tahun 2007/ 2008. Bahkan Franziska pernah pameran tunggal di Museum Affandi dan ikut beberapa pameran kelompok, di antaranya di Galeri Biasa.
Kini Franziska Fennert mengadakan pameran tunggal di salah satu galeri komersial Berlin, namanya „Galerie Susanne Albrecht“ dekat atraksi turis „Check Point Charly“ yang dulu menjadi salah satu gerbang pembatasan tembok Berlin di antara Berlin timur dan Berlin barat. Bersama „Galerie Susanne Albrecht“ Franziska pernah juga ikut artfair di Zurich, Swiss.
Karya Franziska Fennert seperti diciptakan dengan semacam kemudahan yang penuh kebahagian seperti dijelaskan oleh pihak galeri. Lingkungan sekitarnya menjadi hidup. Setiap karya Franziska Fennert dimulai dengan sebuah drawing. Dan ternyata drawing yang digambar dengan ukuran besar yang menjadi karya Franziska paling kuat.
Selain pameran-pameran di galeri-galeri komersial para pecinta seni juga bisa menikmati pameran cukup mewah di tempat-tempat pameran yang telah disediakan pemerintah kota. Untuk yang tertarik dengan seni bukan kontemporer ada banyak Museum yang mampu memuaskan kerinduan para master seni sedunia. Mungkin tidak seterkenal dan selengkap Museum Louvre di Paris, Berlin sanggup menawarkan koleksi-koleksi yang cukup mengesankan. Untuk yang tertarik dengan seni kontemporer bagusnya langsung ke „Neue Nationalgalerie“ (Galeri Nasional Baru) yang setiap beberapa bulan mengadakan pameran seniman kontemporer. Yang lebih menyenangkan lagi adalah bahwa setiap hari kamis dari jam 6 sore sampai jam 10 malam semua penonton masuk gratis. Jadi, untuk orang kurang mampu pun tidak ada alasan lagi untuk tidak mencari pengetahuan baru tentang dunia seni kecuali ketidaktertarikan. Galeri Nasional Baru dibangun tahun 1968 oleh mantan direktor Bauhaus namanya Ludwig Mies van der Rohe. Gedung pameran tersebut dikatakan menjadi salah satu keberhasilan Modernisme dan kelihatan seperti sebuah box persegi raksasa yang dindingnya terbuat dari kaca.
Pameran yang sedang berlangsung hingga sampai dengan 24 mei 2010 adalah pameran seniman Rudolf Stingel yang berasal dari Tirol Selatan (propinsi utara Italy yang memiliki status mandiri) dan sekarang tinggal di New York. Awalnya memasuki ruang pameran Rudolph Stingel para penonton agak bingung, dengan ekspresi wajahnya „Lho, mana seninya?“ Saya pun agak kaget “Kok, kosong?” Bayar tiket pun tidak ada. Sesudah beberapa detik saya melihat meja dengan flyer informasi pameran tersebut. Saya membaca kalimat pertama dan harus senyum. Ternyata, saya lagi menginjak obyek seni pameran ini. Karpet! Pada umunya kalau kita menonton pameran ada tulisan “Jangan sentuh!”, kali ini para penonton mau tidak mau menginjak obyek pameran. Menyentuh juga boleh, duduk boleh, guling boleh. Saya merasa seperti di sebuah mesjid yang cukup besar dan kontemporer. Hanya tidak ada yang sedang sholat atau mengaji. Tidak ada obyek yang mengganggu penglihatan kecuali karpet, beberapa dinding dan sebuah lampu sangat mewah yang bisa dikatakan dari sebuah istana seorang raja yang amat kaya.
Karpet Rudolf Stingel khusus diproduksikan untuk ruang Galeri Nasional Baru di Berlin dan diinspirasikan oleh motif-motif sebuah karpet antik dari India Agra yang dimiliki si seniman. Awalnya Stingel mengubah nada motif karpet antik tersebut menjadi hanya hitam-putih. Sesudah itu motif baru diprint di atas beberapa bagian karpet besar yang akhirnya menjadi satu karya seni yang monumental. Bersama lampu mewah yang digantung di atas karpet tersebut, suasana menjadi penuh dengan peringatan sejarah seni Eropa dan sejarah budaya. Ide apa ada di belakang karya karpet tersebut? Menurut si Stingel karpet India dan Persia seperti direproduksikan di Galeri Nasional Baru Berlin termasuk barang yang terindah di dalam rumah kelas menengah ke atas dimana-mana di dunia. Khususnya dalam budaya salon (salon culture) di abad 19 dan 20 di Eropa. Karpet India dan Persia tersebut mencerminkan lifestyle yang beradab dan menurut Stingel adalah “sebuah hasrat untuk yang asing”. Membawa sebuah karpet yang merefleksikan kerumitan dalam motif ke dalam sebuah gedung Bauhaus yang menyangkal semua yang bukan purism dan jelas adalah sebuah paradoks tersendiri. Dengan paradoks itulah si seniman main. Tetapi dari pandangan seorang Muslim yang tinggal di Jerman paradoks itu justru tidak ditafsirkan sebagai paradoks, tetapi sebagai paduan budaya dan nilai-nilai Islam dengan kehidupan Jerman masa kini. Apakah itu bisa menjadi tafsir karya Stingel mestinya ditanya kepada si seniman sendiri.
Mendampingi pameran karpet raksasa ini ada beberapa acara performance, termasuk “Flying Bach”, sebuah re-interpretasi breakdancing bersama musik dari salah satu komposer Jerman terkenal Johann Sebastian Bach. Sebuah pertunjukkan yang pasti unik.
Beberapa bulan yang lalu (September 2009 – Januari 2010) ada sebuah pameran yang juga cukup menarik yaitu pameran Thomas Demand yang membangun hidup, sejarah dan peringatan kembali dengan media dari kardus ukuran hampir selalu 1:1 dengan obyek asli. Obyek kardus yang meniru obyek asli terus dipotret. Fotonya dicetak dalam ukuran besar. Bersama obyek kardus dan fotonnya ingatan massal diciptakan dengan media seni rupa. Kadang sebuah detail kecil dari obyek asli dirubah dalam karyanya. Menciptakan efek perubahan ingatan pribadi dengan fantasi. Dengan memainkan memori, memori tersebut direkonstruksikan, bahkan dipertanyakan secara radikal? Apakah ada semacam ingatan massal atau apakah setiap individu mempunyai ingatan tersendiri yang tidak pernah sama dengan yang lain? Bersama pertanyaan tersebut Demand merekonstruksikan peristiwa-peristiwa sejarah Jerman 30 tahun yang terakhir ini.
Sebenarnya masih banyak event-event lainnya yang bisa diceritakan. Misalnya beberapa bulan lagi akan ada proyek berkesenian seniman Indonesia bersama seniman orang Jerman di Dresden dan Berlin, Jerman. Proyek dengan nama U(dys)topia sudah direncanakan selama dua tahun dan akan mengeksplorasikan tanggapan seniman Indonesia maupun Jerman tentang mitos, legenda dan dongeng di masa sekarang. Salah satu pengurus adalah seniwati Franziska Fennert juga.
kadang yang saya rindukan suasana kesenian di Berlin ini adalah keramaian dan keakraban para seniman yang menonton pameran. Walaupun suasana seni cukup ramai tetap terasa agak kaku dan terlalu individu. Mencerminkan budaya Jerman .
|