SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
MAGNET MOKU HANGA PENGALAMAN RESIDENSI DI JEPANG PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 19 October 2010 15:50

Oleh Syahrizal Pahlevi

 

 

SAYA MENULIS INI DI TENGAH SUASANA DUKA, KEHILANGAN SALAH SEORANG PEMBIMBING WORKSHOP KAMI, SENSEI MASAHIRO TAKADE, YANG MENINGGAL KARENA SAKIT PADA 31 DESEMBER 2009 DI KOBE, JEPANG. SELAMAT JALAN SENSEI, KAMI AKAN SELALU MENGINGAT PELAJARANMU!

Pada 28 September sampai 20 November 2009, saya bersama lima seniman dari berbagai negara mengikuti “Nagasawa Art Park Artist-in-Residence, Workshop Program for Japanese Woodblock Printmaking” di Awaji City, Hyogo, Jepang. Kegiatan ini diselenggarakan Nagasawa Art Park (NAP) Committe, sebuah lembaga non-profit. Program ini diselenggarakan sejak 1996 dan berlangsung setiap tahun. Dalam catatan mereka, tidak kurang dari 100 seniman dari 30 negara telah terlibat di dalamnya. Saya sendiri adalah seniman Indonesia ketiga yang berpartisipasi dalam workshop ini. Dua seniman sebelumnya adalah Isa Perkasa (Bandung) pada 1997 dan Eddi Prabandono (Yogyakarta-Jepang) tahun 1998.

Magnet apa yang menarik saya hingga ke Jepang? Bermula pada 1998, saya pernah mengirim lamaran ke NAPP (dulu bernama Nagasawa Art Park Project) Committee, yang menyelenggarakan program “Workshop Japanese Woodblock Printmaking”. Namun keberuntungan belum di pihak saya karena proposal saya tidak diterima. Baru pada 2008, saya mengajukan lamaran lagi untuk mengikuti program “autumn workshop” 2009, dan diterima. Saya merasa sangat beruntung karena mereka sangat ketat dalam menyaring peserta, dan kesempatan ini mesti dijalani sebaik-baiknya.

Selama ini, saya hanya mendengar dan mengakses informasi cetak dan digital seputar “Japanese Woodblock Printmaking” atau yang dikenal dunia sebagai ukiyo-e (images of the floating world). Seni cetak grafis yang lahir pada zaman Edo (1603-1867) ini menggambarkan keindahan alam, kehidupan sehari-hari, dan penggambaran tokoh-tokoh masyarakat Jepang pada waktu itu, seperti para raja, pahlawan perang, samurai, pekerja seni, termasuk geisha. Kehalusan dan detail gambar yang dihasilkan dengan teknik cetak karya seniman-seniman ukiyo-e legendaris, seperti Hokusai dan Hiroshige, diakui Van Gogh telah mempengaruhi kerja artistik di awal karier kesenimannya.

Dalam pergaulan senirupa internasional, seni cetak ini kemudian populer dengan nama moku hanga (istilah wood print dalam bahasa Jepang, moku = kayu, hanga = cetak/grafis). Berbeda dari teknik seni grafis asal Eropa “woodcut” yang saya tekuni selama ini yang merupakan seni grafis “basis minyak”, moku hanga merupakan seni grafis “basis air”. Bila dalam teknik woodcut seniman menggunakan tinta cetak atau offset ink untuk mencetak image dari papan cukilan atau cutting block, dalam teknik moku hanga seniman menggunakan cat air, gouache, tinta cair, atau jenis pigmen semacamnya. Lalu ada pasta pengikat yang dicampurkan pada pigmen warna agar elastis dan tidak cepat mengering pada saat mencetak, yang mereka sebut nori (rice paste).

Selain itu, dalam moku hanga dikenal juga istilah kento, yang diakui banyak seniman adalah suatu cara register kertas yang sangat baik guna mencetak karya multi-warna dengan tingkat presisi tinggi. Ada pula bermacam sikat berbulu halus (maru-bake) untuk meratakan pigmen warna di atas permukaan papan pada saat pencetakan. Teknik ini tidak memerlukan peralatan berat atau alat press untuk mencetak gambarnya. Mereka cukup menggunakan baren, alat penggosok bagian belakang kertas yang dibuat khusus menggunakan daun bambu lebar pada permukaannya.

Bagi saya, ini pengalaman baru yang sama sekali saya belum pernah mencobanya. Kesempatan residensi di NAP ini merupakan momen yang saya tunggu-tunggu, sebab saya berharap mendapatkan pengalaman langsung dan merasakan aura tradisi moku hanga yang mereka sebar luaskan.

Saya bersama lima seniman dari Jerman (desainer grafis), Italia (pegrafis dan desainer interior), Irlandia (pelukis), Inggris (pegrafis dan seniman enamel), dan Amerika Serikat (perupa) ditempatkan di lantai atas residence dan masing-masing mendapat sebuah kamar berdampingan. Studio tempat kami akan bekerja ada di lantai bawah. Residence hanya diisi oleh kami berenam dan karenanya panitia menginginkan kami berlaku layaknya sebuah keluarga.

Kami harus mengurus sendiri segala keperluan, dari menyiapkan makanan, menjaga kebersihan ruangan dan studio, sampai membuang sampah ke tempat pembuangan sementara yang letaknya tidak jauh dari residence. Untuk sementara, residence menjadi “milik” kami yang harus kami jaga dan rawat seperti merawat rumah sendiri. Workshop berlangsung selama delapan minggu, dimulai pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore dalam lima hari setiap minggu. Sabtu dan Minggu adalah hari libur, tapi sewaktu-waktu panitia dapat membuat acara yang harus kami ikuti.

Jadwal yang disusun Committee NAP sangat memudahkan kami dalam menyerap dan mengikuti program workshop. Minggu pertama adalah masa pengenalan sejarah singkat dan pengetahuan umum teknik moku hanga. Sesi ini diberikan langsung oleh Keiko-san. Kami diperkenalkan dengan alat-alat yang biasa dipakai dan akan kami pergunakan selama workshop, seperti satu set pisau cukil kualitas tinggi, pisau kento, cat air dan gouache, nori, maru-bake, serta bermacam-macam kuas. Bila seniman moku hanga profesional menggunakan cherry block sebagai papan cukil karena kualitasnya terkenal baik, dalam workshop ini kami akan menggunakan shina-beni plywood, jenis kayu lapis yang kedua permukaannya sangat halus, cukup lembut ketika dicukil tapi tidak mudah pecah, dan lebih murah. Untuk kertas, panitia menyediakan kertas khusus untuk moku hanga dalam jumlah banyak dan membebaskan kami mencetak sepuasnya.

Kami juga berkesempatan melihat dan menyentuh langsung koleksi cutting block (papan yang telah dicukil) dari karya-karya klasik moku hanga yang berumur ratusan tahun tapi masih terawat baik. Dan tentu saja koleksi itu sangat memukau. Ada yang dalam bentuk lembaran seperti poster, kartu ucapan, dan buku-buku teks maupun komik yang semuanya asli hasil cetakan manual. Kemudian Keiko-san melakukan sedikit demo dan memberi pengarahan kepada kami untuk memastikan agar kami tidak terlalu asing pada teknik yang akan kami pelajari di bawah bimbingan para master moku hanga di minggu-minggu selanjutnya.

Masih dalam rangka pengenalan program, di samping mengikuti beberapa acara penyambutan yang cukup meriah dengan panitia, masyarakat, dan beberapa tokoh Pemerintah Kota Awaji, dalam minggu pertama ini kami bersama panitia juga melakukan tour island, mengunjungi tempat-tempat penting yang menjadi penanda dan andalan Pulau Awaji. Kami mengunjungi beberapa temple/kuil penting, museum earthquake (museum peringatan gempa besar Awaji 1995) yang sangat modern, rumah pembuatan wewangian aromaterapi yang mempertahankan cara kerja manual, tempat pembuatan sake, menonton pertunjukan wayang klasik Jepang, dan beberapa tempat menarik lainnya. Kunjungan ini, selain untuk mengenal lebih dekat kondisi sosial dan budaya setempat, bagi saya juga adalah prolog yang menghipnotis kami untuk masuk lebih dalam pada praktik moku hanga yang menjadi tujuan residensi.

Minggu kedua sampai minggu keempat adalah pengalaman berharga bersama penekun-penekun tradisi. Dalam tiga minggu ini, selama tiga hari setiap minggu, kami belajar banyak dari para profesional yang merupakan master dalam bidangnya masing-masing. Mereka melatih kami dengan sabar, ramah, dan penuh kerendahan hati. Yang turut mengesankan, mereka tidak hanya mentransfer ilmu, melainkan juga memberikan kenang-kenangan buat kami berenam, berupa karya moku hanga, kartu pos, sekeping cherry block, dan benda-benda unik lain yang semuanya membuat hubungan guru dan murid terasa intim. Indah sekali cara yang mereka lakukan.

Kami memanggil dengan sebutan sensei (guru). Mereka adalah Sensei Masahiro Takade --pria ramah dan berpembawaan tenang, seorang seniman moku hanga yang aktif berkarya dan berpameran. Ia juga berpengalaman lama sebagai pengajar di sebuah akademi seni di Kobe. Lalu Sensei Yusuke Sekioka, lelaki pendiam yang lebih banyak bekerja, seorang master carver/pencukil yang merupakan murid langsung Hanbei Oekura --generasi keempat carver moku hanga. Ia juga pendiri Sekioka Horiyu Studio pada 1983 di Tokyo. Kemudian Sensei Toru Ueba, pria eksentrik yang master printer/pencetak sekaligus pemilik workshop Banpudo di Kyoto yang telah mengerjakan pencetakan ulang ribuan karya klasik moku hanga dan banyak karya cetak seniman kontemporer. Ia sendiri banyak membuat karya cetak dan mengikuti pameran.

Selama tiga hari pada minggu kedua tersebut, Sensei Takade mengajar kami prinsip-prinsip dasar teknik moku hanga. Dari mempersiapkan desain/gambar, mempersiapkan woodblock/papan yang akan dicukil, memindai gambar ke atas papan, membuat cutting block/cukilan, mempersiapkan kertas --melembapkannya dengan cara dan perhitungan tertentu-- menyiapkan pigmen warna --meratakannya di atas papan, mencetak-menggosok belakang kertas, mengangkat kertas, mengeringkan hasil cetakan, sampai memberi tanda pensil di setiap karya yang dianggap berhasil. Semua tahap ini harus dilakukan berulang-ulang sampai kami dianggap cukup menguasai prinsip-prinsip teknik tersebut.

Pada minggu ketiga, selama tiga hari pula Sensei Sekioka memberi kami latihan bagaimana menggunakan pisau cukil secara benar dan efektif. Mengingat profesinya sebagai carver profesional --di tengah minimnya jumlah carver moku hanga di Jepang sebagaimana ia katakan-- Sensei Sekioka mengarahkan kami agar dapat mencukil papan secara efektif guna mencapai hasil yang maksimal. Pencukil dilatih agar dapat melakukan pekerjaan dalam satu posisi menghadapi papan cukil tanpa perlu banyak memutar papan yang hanya akan menghambat pekerjaan.

Dalam workshop ini, saya mendapat pengetahuan bahwa pisau utama dan terpenting dalam moku hanga multi-warna adalah pisau miring/hangi-to. Pisau ini sangat diandalkan untuk membuat garis secara tepat, dibantu dengan pisau lain seperti pisau U/maru-to dan pisau datar/hira-to untuk membersihkan bekas cukilan. Seniman moku hanga jarang atau hampir tidak pernah menggunakan pisau V/sankaku-to karena berisiko merusak garis yang dibuat. Sebaliknya, dalam teknik woodcut yang saya kembangkan selama ini, justru pisau favorit dan paling banyak saya gunakan adalah pisau V. Saya hanya menggunakan pisau miring dan pisau lainnya untuk memperluas cukilan.

Dalam workshop ini, untuk menyesuaikan dengan tradisi moku hanga, saya mau tidak mau untuk sementara menyingkirkan pisau V dari jangkauan saya dan berusaha familier dengan pisau miring/hangi-to. Bukan hal mudah mengubah kebiasaan itu, tapi saya terus mencoba hingga mulai menikmatinya.

Dalam seni grafis, pemeliharaan alat ikut menentukan sukses-tidaknya proses berkarya. Merawat pisau cukil adalah hal penting yang juga harus diperhatikan pencukil kayu, dengan selalu mengontrol mata pisau agar terjaga ketajamannya. Pisau cukil perlu diasah karena akan tumpul setelah cukup lama digunakan. Sensei Sekioka melatih kami teknik yang benar dalam mengasah pisau. Tidak mudah melakukannya karena mesti hati-hati dan penuh kesabaran agar tidak merusak mata pisau.

Lalu, pada minggu keempat, selama tiga hari pula Sensei Ueba menggenapkan pelajaran. Keahliannya adalah seluk-beluk pencetakan moku hanga. Ia banyak memberi kami alternatif, trik, dan siasat pencetakan, mulai teknik pembasahan kertas/dampness paper, sizing paper/melapisi kertas dengan campuran air dan bahan kimia untuk memperkuat warna, menggunakan pigmen warna, hingga teknik menggosok bagian belakang kertas dengan baren. Sensei Ueba sangat ahli dan selalu berusaha membantu memecahkan problem pencetakan yang sering kami temui.

Pada minggu kelima hingga minggu kedelapan, kami bekerja tanpa pembimbing. Ini adalah saatnya mempraktikkan hasil latihan bersama para sensei yang sangat berharga itu. Kami mendapat tugas membuat tiga karya individual,  masing-masing dicetak lebih dari tiga edisi. Dalam term of condition program yang dikeluarkan NAP Committee, kami berkewajiban memberikan tiga karya berbeda yang kami buat, masing-masing tiga edisi sebagai koleksi mereka. Karya-karya itu akan dipamerkan pada Maret 2010 di galeri NAP.

Ternyata sisa waktu empat minggu terakhir dirasakan kurang oleh sebagian peserta program ini untuk menyelesaikan karya. Kegagalan demi kegagalan dalam mencetak harus kami hadapi. Maklum, sebagian besar dari kami untuk pertama kalinya bekerja dengan teknik ini. Namun akhirnya kami berenam dapat menyelesaikan karya masing-masing tepat pada waktunya. Mendebarkan dan mengesankan.

Selain kesibukan membuat karya, banyak acara yang kami ikuti di tengah workshop ini. Misalnya mengunjungi pabrik kertas terkenal Awagami di Tokushima yang membuat kertas ukuran 2,5 x 5,5 meter secara manual, hallowen party bersama anak-anak, presentasi karya dan open studio bersama masyarakat sekitar residence, serta berkaraoke-ria.

Salah satu tujuan program ini, seperti yang dikatakan Keiko-san dalam sayonara party menjelang berakhirnya workshop, bukan untuk menuntut peserta agar berkarya seperti seniman moku hanga. Tapi adalah tugas NAP Committee untuk mentransfer teknik itu kepada para seniman peserta guna lebih merangsang kerja kreatif mereka ke depan. Ini adalah magnet moku hanga! [V]



Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6818)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6657)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa