Dikdik Sayahdikumullah
Open Air Museum bukanlah sebuah konsep baru. Karya-karya senirupa kontemporer pun dapat ditampilkan pada museum seperti ini. Simak saja pameran perupa Jepang, Misawa Atsuhiko di Open Air Museum di Kagoshima City, Pegunungan Kirishima.
Searah perjalanan menuju Kagoshima city, orang-orang bergegas menuju sebuah museum senirupa kontemporer di kawasan pegunungan Kirishima. Museum ini berada di ketinggian 1000m diatas permukaan laut, aksesnya pun tidak biasa, jauh dari keramaian kota. Lokasinya dicapai melalui jalan aspal berkelok dan menanjak, dikelilingi panorama pohon Sugi dan bambu sebagaimana lazimnya hutan Jepang. Di gerbang museum ditandai patung bunga Yayoi Kusama, atmosfir lingkungannya merupakan wahana apresiasi karya seni rupa kontemporer di ruang luar terbuka hijau. Tidak salah jika namanya open air museum, di mana sebagian besar karya-karya seniman ditempatkan diantara rimbunan pepohonan, taman dan ruang luar museum.
Sebenarnya museum tersebut baru didirikan sekitar 10 tahun yang lalu, namun sudah cukup banyak menyelenggarakan program pameran yang melibatkan seniman kontemporer dari Eropa-Amerika dan Asia. Hal ini terlihat dari karya koleksi yang terbagi menjadi dua kategori; koleksi karya open-air gallery yang berada di luar ruangan dan koleksi karya art hall yang hanya bisa dilihat dalam ruang pameran. Ruang museum yang tidak terlalu besar menyebabkan pengunjung hanya mengapresiasi karya spesial event dan koleksi di luar museum. Sayang sekali penulis tidak bisa langsung melihat karya Heri Dono meskipun tercatat sebagai koleksi mereka.
Musim panas tahun ini, open-air museum menampilkan pameran tunggal pematung Misawa Atsuhiko berjudul Animal Plus yang berlangsung sejak 16 Juli – 23 September 2010. Patung karya Misawa terbuat dari kayu yang dipahat membentuk satwa mamalia buas, liar serta jinak, seperti; gajah, buaya, macan, badak, singa, jerapah, beruang, anjing, kucing dan momongga. Umumnya wujud satwa ditampilkan secara utuh, bertumpu diatas keempat kaki mereka namun sedikit menahan gerak ketika kepalanya menatap dingin kedepan. Kehadiran satwa di dalam ruang gallery ini jelas berbeda dengan melihat patung satwa simbolis yang terdapat di ruang publik atau halaman gedung pemerintahan kota. Bukan pula menghadirkan fable binatang apalagi pet-shop yang ramah lingkungan. Sehingga pertama kali memasuki ruang pameran ini terasa kuat bahwa Misawa hendak menawarkan metafora dunia binatang melalui bermacam karakter aneh, asing, kaku dan jenaka.
Sungguh pun patung-patung kayu tersebut tampak kasat mata, sehingga jelas karakternya, tetapi tidak berfungsi sebagai wahana yang mempersoalkan pengalaman individual seniman saja. Terdapat imajinasi kita yang melampui gesture patung sebagai sosok satwa alami. Meskipun tidak selalu meng-copy dengan realistis, tetapi terasa menawarkan personifikasi sense of human yang dibungkus kulit binatang. Pada bagian inilah, karyanya bisa ditafsirkan menunjuk pada makna satwa liar namun estetik. Sepintas bisa mirip satwa mainan yang menggugah imajinasi anak-anak, tapi disisi lain satwa patung kayu itu berdiri kaku disertai tatapan mata dan kepala dingin. Mengapa seniman Misawa sangat tertarik membuat karya seperti itu? Mungkin saja senimannya suka kebun binatang karena semua karakter satwa yang diekspresikan dalam bentuk patung kayu itu semuanya bisa ditemukan di kepulauan Jepang.
Misawa lahir di Murasakino dekat Daitokuji, Kyoto tahun 1961. Sejak masih mahasiswa ia sangat tertarik mewujudkan ide karya melalui bentuk figurative nude dan binatang. Tahun 1978 ia menamatkan pendidikan Jurusan Seni Patung dari Tokyo National University of Fine Arts and Music. Setahun kemudian ia melanjutkan ke jenjang postgraduate hingga berhasil menyandang gelar Master di bidang seni patung tahun 1989. Sejak tahun 1992-2001 dia terus bekerja sebagai asisten professor di kampus yang sama. Selama proses kreatif Misawa perlu waktu lama untuk hanya menyelesaikan sebuah karya patung, butuh beragam pertimbangan; struktur formal, kesadaran ruang, nilai estetik dan konsistensi kerja. Keasyikan bekerja di studio seringkali membuatnya kesulitan untuk menemukan kata-kata verbal yang tepat untuk menjelaskan detail karyanya kepada audience. Bahkan setiap kesulitan yang dihadapi selalu dilewati dengan intensitas bekerja yang tinggi, sebuah cermin sikap superiority compleks. Bisa diduga, ia menyimpan strategi kreatif sebagai upaya menjauhi dari latar akademis yang dimilikinya maupun batasan estetika yang hendak mengurungnya.
Catatan katalog pameran yang ditulis oleh kurator The Hiratsuka Museum of Art, Hijikata Meiji menyebutkan bahwa;
“Misawa sejak masih kecil sangat menghormati pada dua orang biksu Buddha bernama; Enku(1632- 1695) dan Hashimoto Heihachi(1897-1935). Enku adalah biksu pengelana sekaligus pematung, kemanapun dia pergi disepanjang kepulauan Jepang dia tidak pernah ketinggalan untuk selalu memahat patung kayu Buddha. Sebagian karyanya dia sumbangkan ke kuil Buddha dan sebagian lagi kadang dia berikan kepada orang yang pernah ditemuinya. Ia dikenal memakai teknik ‘natabori’ atau hatchet carving untuk menggambarkan peristiwa sang Buddha yang mewujud dari pohon suci. Tak heran bila kemudian, mencatat bahwa tokoh Enku sudah pernah memahat patung Buddha sebanyak 120.000 karya. Kini sebagian karyanya masih bisa ditemui di banyak national treasure Jepang. Seperti halnya Enku, sosok biksu Hashimoto Heihachi menerapkan pola hidup disiplin ala asketik”.
Melalui kedalaman spiritualnya ia segera dapat menyerap citarasa estetik karya-karya Enku. Sebab itulah, karyanya lebih memperlihatkan karater standing figur yang berbeda dibanding sezamannya, serta mengingatkan pada sosok tertutup yang berjarak dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun, sudah jelas bahwa kedua biksu tidak pernah hidup sezaman dengan Misawa, tetapi dapat kita lihat bahwa pemakaian kayu tidak hanya merupakan gagasan lama yang sudah tertanam dalam tradisi masyarakat Jepang. Perlakuan terhadap material kayu yang mendasari ekspresi suatu gagasan boleh dikatakan memerlukan suatu kepercayaan tersendiri. Sikap mempercayai material kayu yang berbeda dibanding perspektif modern.
Sebelum menemukan bentuk-bentuk hewan, Misawa-pun mengalami episode pembuatan karya tiga dimensi yang memperlihatkan gejala eksperimen, intuitif dan liar. Kegelisahan mengenai eksistensi dunia penciptaan akhirnya mengerucut pada upaya menciptakan bentuk figurative yang berkesan ringan, santai, dangkal sekaligus menyimpan kekurangan di dalamnya. Di sini, Misawa memahami benar bagaimana menggali imajinasi mulai dari kesenangannya membuat bentuk figuratif melalui penggabungan beberapa material, seperti; kayu Katsura, Kushu, clay, kertas, cat minyak dan akrilik.
Selain memamerkan karya tiga dimensi, Misawa juga menampilkan beberapa karya drawing dan satu ruangan khusus yang mendisplay suasana ruang kerja studio seniman, seperti memindahkan studio seniman kedalam ruang pameran. Pengunjung museum dapat sekaligus merasakan situasi seniman bekerja dengan membandingkan sejumlah barang-barang yang biasa dipergunakan seniman; dari model tiga dimensi, sketsa sampai peralatan kerja. Atmosfir ruang pameran yang berdinding putih terasa tepat menonjolkan kekuatan karya-karya patung kayu yang ditempatkan pada berberapa ruang yang berbeda. Jumlah karyanya tidaklah terlalu banyak, sehingga sebagian besar dinding ruang pameran terlihat kosong. Hal ini merupakan bagian dari strategi seniman dan museum untuk mengatasi dan memberikan ruang dialog yang nyaman bagi pengunjung yang terkadang datang dalam jumlah banyak.
Sedemikian jelas suasana tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pihak museum untuk bisa mempertunjukkan sebuah pameran seni rupa kontemporer yang tidak saja unik secara konseptual juga mengundang pengunjung seni rupa kontemporer dari semua kalangan, khususnya anak-anak. Responnya luar biasa bagi anak-anak, mereka begitu menikmati dan antusias meapresiasi karya hingga mendengarkan setiap penjelasan artist talk yang dipandu oleh seorang kurator pameran. Selain itu, anak-anak-pun dimanjakan oleh penyelenggaraan workshop clay bersama seniman, sehingga melengkapi suasana akhir liburan musim panas yang ceria diantara sekelompok satwa liar, lucu nan imajinatif di atas puncak gunung Kirishima. [V]
| |