SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
MARKET NEWS
MENUNGGU SENTRALISASI DISTRIK SENI BARU (?) PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 16 January 2012 10:40
bernama Jakarta Art District. Terlepas dari berbagai kontroversi (baca Fokus Visual Arts
No 36, April-Mei 2009) , keberadaan JAD tak pelak menjadi salah satu urat nadi aktivitas di
medan sosial senirupa Indonesia.
Memasuki tahun 2012, kita mendengar bahwa keberadaan JAD di Grand Indonesia memasuki
babak akhir. Mengapa? Sederhana. Pihak Grand Indonesia akan mengalokasikan tempat
tersebut (seluruh East Mall) bagi investor barunya untuk menjadi sebuah pusat pertokoan
baru. Kabarnya “face-lift” ini secara fisik akan dilakukan pada pertengahan tahun. Dan hal ini
berarti AGSI hanya akan memiliki tempat di JAD Grand Indonesia sampai bulan Mei 2012
seperti yang dikonfirmasikan oleh Edwin Rahardjo dari Edwin’s Gallery.

Tak terasa dua tahun berlalu sejak senirupa Indonesia memiliki sebuah sentralisasi galeri yang bernama Jakarta Art District. Terlepas dari berbagai kontroversi (baca Fokus Visual Arts No 36, April-Mei 2009) , keberadaan JAD tak pelak menjadi salah satu urat nadi aktivitas di medan sosial senirupa Indonesia.
Memasuki tahun 2012, kita mendengar bahwa keberadaan JAD di Grand Indonesia memasuki babak akhir. Mengapa? Sederhana. Pihak Grand Indonesia akan mengalokasikan tempat tersebut (seluruh East Mall) bagi investor barunya untuk menjadi sebuah pusat pertokoan baru. Kabarnya “face-lift” ini secara fisik akan dilakukan pada pertengahan tahun. Dan hal ini berarti AGSI hanya akan memiliki tempat di JAD Grand Indonesia sampai bulan Mei 2012 seperti yang dikonfirmasikan oleh Edwin Rahardjo dari Edwin’s Gallery. Lebih lanjut baca VISUAL ARTS Januari-Februari 2012

 
 
LAPORAN PASAR SENIRUPA 2010 PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 20 December 2010 17:09

Seorang teman bertanya kepada saya apakah pasar senirupa adalah sebuah pasar yang sebenarnya. Dan pertanyaan itu pun tetap mengusik pikiran sampai sekarang.

Pasar atau kekuatan penawaran dan permintaan sehingga penukaran barang dan jasa dengan uang dimungkinkan. Sebenarnya kemudian mekanisme sederhana pasar dengan adanya penawaran dan permintaan pun terpenuhi. Tapi tentunya yang mengusik dari komentar tentang pasar tersebut adalah apakah memang pasar (penawaran dan permintaan) yang muncul dalam pasar senirupa adalah pasar yang “riil” dan bukanlah pasar yang dimanipulasi atau pun pasar yang dibentuk tanpa kesadaraan terhadap pengetahuan (baca: wacana) senirupa Indonesia.

Walaupun mungkin pasar senirupa Indonesia belumlah “seideal’ yang diharapkan banyak orang, paling tidak beberapa fakta menarik seputar pasar senirupa Indonesia di tahun 2010 patut dilansir. Perlulah diingat bila kemudian laporan pasar senirupa ini melaporkan berbagai macam karya senirupa yang meraih harga “tertinggi”, tingginya harga tidaklah secara mutlak maupun sahih  menandakan kualitas karya tersebut. Seperti yang telah kita sadari, harga lelang yang menjadi acuan laporan ini adalah harga yang bisa jadi muncul bukan karena pertimbangan estetis tapi karena emosi. Dengan kesadaran ini pulalah, kami coba melihat karya-karya yang “menarik” perhatian publik sepanjang tahun 2010.

Koleksi Ajip Rosidi. Kita mengenal Ajip Rosidi sebagai sastrawan-budayawan yang menjadi penggagas Pusat Studi Sunda. Ketertarikannya terhadap senirupa pun didukung oleh jaringan pertemannya dengan banyak perupa saat ia memimpin Dewan Kesenian Jakarta dari tahun 1972-1981. Roesli adalah satu dari mereka selain, Hendra Gunawan, Nashar, Ahmad Sadali dan juga Affandi. Pada lelang Larasati tanggal 14 Agustus 2010,  30 karya koleksinya pun ditawarkan kepada publik. Karya-karya menarik dari Nashar (Bunga di Taman dan Yang Tumbuh) serta sketsa Hendra Gunawan termasuk di dalamnya.

Ahmad Sadali, Abstraksi Pintu Surga. Karya yang dilelang oleh balai lelang Masterpiece pada tanggal 14 Maret 2010 ini menyedot perhatian publik karena berhasil meraih harga. Sebuah harga yang cukup fantastis bagi sebuah karya abstrak yang biasanya jarang mendapat apresiasi publik.

Dullah, Sketch of Bung Karno amidst Revolutionary Fighters.  Siapa yang tak kenal dengan Dullah dan kedekatannya dengan Presiden pertama Indonesia yang jug kolektor karya senirupa, Bung Karno. Tentunya banyak karya Dullah yang telah dikoleksi oleh Soekarno sendiri. Dan karyanya yang berjudul Sketch of Bung Karno amidst Revolutionary Fighters yang dijual di lelang Christie’s ini menunjukkan kedekatan sang perupa dengan sang proklamator. Karya yang terbilang tidak besar ini sekilas memang tidak menarik lebih karena terlihat lusuh dan kurang dirawat tapi ini adalah salah satu karya langka Dullah yang ditandatangani oleh Bung Karno sendiri di balik kanvas, tanda persetujuan agar karya ini dibuat pada kanvas berformat lebih besar. Karya ini terjual dengan harga US$ 61.476 atau setara dengan Rp 550 juta.

I Nyoman Lempad, Episode of A Play and Tale of Batur Taskara. Batur Taskara adalah sebuah lakon dalam Wayang Kulit Tantri yang mengisahkan lika-liku hidup Sang Batur Taskara. Dulunya ia adalah seorang penjahat yang seiring dengan perjalanan waktu mengalami pencerahan spiritual dan menjadi seorang pendeta. Tapi ternyata ia tidak dapat lepas dari karmanya di masa lalu. Cerita rakyat inilah yang juga diangkat pelukis maestro Bali, I Nyoman Lempad dalam beberapa karyanya termasuk Episode of A Play and Tale of Batur Taskara  yang dilelang oleh Borobudur Auction pada tanggal 15 Mei 2010. Karya ini merupakan rekor karya termahal sang perupa dan mampu meraih harga S$ 42.700 atau setara dengan Rp 290 juta.

Karya-karya I Nyoman Masriadi. Nama perupa ini mencuat menjadi buah bibir di medio tahun 2006 saat senirupa Indonesia mendapat perhatian yang cukup banyak di pasar dunia.  Dan empat tahun setelah momen tersebut, karya-karya perupa  ini masih berada di jajaran teratas karya termahal. Bahkan bisa dikatan setengah dari dua puluh karya senirupa Indonesia di tahun ini didominasi oleh namanya.

J Araditya Pramuhendra, Holy Mass. Karya pesanan ini pertama kali dipamerkan ke publik pada pameran tunggal perdana sang perupa di Cemara 6 Gallery pada tahun 2008. Dan perjalanan karier sang perupa pun melonjak setelahnya termasuk diantaranya adalah mampu menembus ruang pamer National University Museum Singapore hanya setahun setelah pameran solo pertamanya tersebut. Pencapaian karya Holly Mass pada lelang Sotheby’s HongKong hampir sepuluh kali lipat dari harga karya tersebut (US$ 884,000 atau setara dengan Rp1 milyar) dalam waktu 2 tahun. Sunggu sebuah pencapaian harga yang fantastis.

S. Sudjojono, A New Dawn. Karya S. Sudjojono ini dilelang oleh Sotheby’s Hong Kong pada tanggal 4 Oktober 2010 yang lalu. Preview karya ini pun sempat diadakan selama perhelatan Bazaar Art Jakarta di pertengahan tahun 2010. Pada pameran sketsa Sudjojono yang diselenggarakan di akhir bulan Oktober menampilkan sketsa (rancang gambar) lukisan ini. Karya yang menjadi lot termahal lelang tersebut mampu meraih harga US$ 1,376,923 atau setara dengan Rp 12 miliar.

Ugo Untoro,Epos. Karya yang menjulang tinggi ini berasal dari seri kuda yang dimiliki oleh Ugo Untoro. Seri ini menampilkan satu hal yang paling akrab di hati Ugo yaitu, kuda. Epos atau wiracarita digambarkannya sebagai sosok kuda yang terangkaikan oleh sejumlah anak panah. Kisah keberanian dan kepahlawanan binatang kuda pun terlihat tak lekang walaupun sekujur tubuhnya dihujami panah. Karya ini terjual di lelang Larasati Jakarta, 7 Maret 2010.

Laporan ini disusun berdasarkan data yang diperoleh sampai tanggal 22 November 2010. Dengan demikian paling tidak sedikitnya tiga lelang yang belum diperoleh datanya dalam penyusunan artikel ini, yaitu: lelang Masterpiece pada tanggal 28 November 2010, Christie’s Hong Kong dan juga One East Larasati yang dilaksanakan pada minggu yang sama. [V] Vidhyasuri Utami

 
 
Tanggapan Diskusi Investasi Senirupa (2) DIMANA POSISI SENIMAN DALAM PERMAINAN PASAR PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 November 2010 15:41

Arahmaiani

Acara diskusi majalah Visual Art tentang investasi senirupa, menampilkan kritikus seni Jim Supangkat dan pakar pasar saham  Lin Che Wei, menawarkan sebuah perspektif menarik tentang pasar seni kontemporer Indonesia dan masa depanya.

Pembicara  terakhir (Che Wei-Red) yang lugas dan to the point ini pada dasarnya mempertanyakan dimensi etik dalam kancah permainan pasar seni yang secara tegas dianggap tidak mengikuti prinsip aturan main yang fair. Seperti dengan telak ditunjukan bahwa mekanisme rumah lelang yang dijalankan tanpa aturan dan tidak berorientasi pada nilai pada akhirnya hanya akan merugikan dunia seni maupun pasar itu sendiri. Tingkah pelaku pasar yang hanya semata mementingkan keuntungan nominal dan mengabaikan aturan serta nilai-nilai dianggapnya identik dengan tindak kejahatan. Dan pasti tidak menjanjikan masa depan. Inilah analisis pasar seni Indonesia yang begitu tajam dan berani yang pernah saya dengar dalam kurun waktu satu dekade akhir. Jelas menunjukan pemahaman dan sekaligus integritas pihak pengalisis yang patut untuk diancungi jempol, dipertimbangkan dengan cermat dan direnungkan lebih lanjut.

Pasar seni Indonesia yang tidak didukung oleh infrastruktur yang baik maupun sistem penilaian karya yang ajeg cenderung menjadi ajang manipulasi para spekulan untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dalam waktu singkat. Di sisi lain pihak-pihak yang semestinya memegang otoritas atas penilaian karya macam komponen: museum, perguruan tinggi seni, kritikus seni, maupun kurator bisa dikatakan tidak ada atau tidak berfungsi dengan semestinya dan sebagian malah dikooptasi oleh pasar. Jadi tidak m  engherankan jika pasar menjadi liar – siapa saja yang mempunyai modal besar dan memiliki akses terhadap media ia bisa menjadi bukan saja pedagang dan kolektor besar tapi juga memiliki otoritas menentukan apa itu yang disebut sebagai karya seni! Ini adalah situasi setback yang sangat memprihatinkan. Dalam usianya yang masih belia (sekitar setengah abad lebih), seni  kontemporer Indonesia yang dicoba dibangun oleh komponen-komponen yang tidak lengkap amat mudah dimanipulasi. Akibatnya segala macam wacana dan nilai-nilai yang dicoba dibangun seakan menjadi kehilangan relevansi dan makna.

Dulu seniman bergulat dengan berbagai gagasan dan insight untuk diungkapkan lewat karya. Nilai-nilai adalah hal yang ingin diketengahkan dalam ekpresi dan bukan sensasi visual semata. Jadi pertama-tama bukan pertimbangan pasar yang diutamakan tapi pemikiran dan sikap yang melandasi kegiatan berkarya tersebut. Namun kini terjadi perubahan yang cukup mendasar dimana kegiatan berkarya sudah menjadi sebuah kegiatan berproduksi macam  pabrik atau industri. Segala macam pengembangan teknis dan gaya semata berorientasi pada sensasi visual dan konsep menjadi tidak penting lagi. Sialnya para seniman secara umum tidak punya cukup bekal pengetahuan tentang pasar dan segala dinamikanya, juga sikap kritis tidak berkembang lalu menganggap hal macam ini sebagai lumrah saja. Tidak ada pertanyaan yang dilontarkan dan situasi dianggap sebagai kenyataan yang harus diterima. Dengan mengemukakan alasan bahwa seniman juga perlu hidup, apalagi ditambah kewajiban untuk membantu ekonomi keluarga maka semua pertanyaan seputar ihwal pasar menjadi tampak tidak relevan.

Kekuatan modal di sini tidak dilihat secara kritis sebagai kekuasaan yang mendikte tetapi malah dilihat sebagai jalan menuju sukses. Memang ini bukan gejala masa kini – sejak manusia lahir ke bumi sudah dikenal cerita bagaimana manusia “menjual diri” demi kehidupan duniawi atau kekuasaan semu. Namun jika demikian halnya maka harus ditanyakan kembali apa sebetulnya fungsi seniman dalam kehidupan? Apakah ia hanya sekedar pencipta objek estetis mahal atau sebaiknya memiliki fungsi lain yang lebih bermakna seperti: ia yang bertugas untuk menemukan terobosan misalnya? Atau bahkan sebagai “ia yang membawa obor dalam kegelapan”? Jim Supangkat tidak terlalu pesimis dengan pengaruh negatif pasar seni. Dikatakan bahwa masih ada cukup banyak seniman Indonesia yang tidak komersil dan tetap setia bekerja di jalan yang diyakininya. Memang betul seniman-seniman yang berkarya dengan sungguh-sungguh masih ada, tapi juga harus diakui bahwa di kalangan seniman muda jumlahnya semakin hari semakin sedikit. Silahkan hitung dalam kurun  satu dekade akhir atau di era reformasi ini ada berapa seniman  muda Indonesia yang tampil dengan kuat di ajang seni dunia (?)

Apakah kita akan terus berkilah bahwa hal itu disebabkan oleh “dominasi Barat” – padahal dalam kurun waktu satu  dekade akhir karya-karya yang hadir dan menarik perhatian dunia adalah yang datang dari China. Dan seniman Indonesia yang baik nyatanya juga tetap diapresiasi oleh komunitas internasional. Tidakkah kita sebaiknya mulai berintrospeksi dan tidak menjadikan pihak lain sebagai “kambing hitam”? Bahwa sulitnya seniman kita muncul di arena internasional adalah karena kelemahan sendiri dan bukan karena “konspirasi hegemonik” Barat? Atau surut kedalam sikap kerdil sok nasionalis dan menganggap bahwa arena internasional tak penting karena sudah bisa berbangga diri sebab harga lukisan sudah mencapai milyaran? Dan juga adalah kesalahan jika memandang bahwa tingginya nilai nominal sebuah karya adalah indikator untuk dianggap sukses di dunia seni.  Jika seorang pakar saham bisa sedemikian jujur dalam melihat realita, bagaimana dengan seniman yang katanya kreatif dan sering dilihat sebagai seorang yang memiliki visi ini, apakah dicukupkan untuk sekedar menjadi tukang dan konspirator pendukung kejahatan di pasar seni saja?? [V]
 
 
Tanggapan Diskusi Investasi Seni (I) MELIHAT PELUANG INVESTASI SENIRUPA INDONESIA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 November 2010 15:32

Wiyu Wahono

DISKUSI VISUAL ARTS TENTANG INVESTASI SENIRUPA AGUSTUS LALU, TELAH MEMICU PRO KONTRA DAN ‘‘PANAS DINGIN“, TERUTAMA PANDANGAN LIN CHE WEI (BACA FOKUS VA SEPTEMBER ). SAAT ITU SAYA TIDAK BISA MENANGGAPI, KARENA POSISI SAYA SEBAGAI MODERATOR. KINI SAYA INGIN MENANGGAPINYA, TERUTAMA UNTUK “MENYEMANGATI“ PARA PELAKU ART MARKET AGAR TETAP BERINVESTASI DENGAN CERMAT.

Sampai dengan akhir abad yang lalu, jika seseorang mengeluarkan banyak sekali uang untuk membeli karya seni dan para investor pasar modal menanyakan dia, keuntungan apa yang dia dapatkan dengan mengeluarkan dana sedemikian besar nya, maka dia akan menjawab bahwa dia mendapatkan "dividen estetik". Ungkapan ini mempunyai arti bahwa dia mendapatkan keuntungan dalam bentuk kesenangan dari memiliki karya seni tersebut. Namun, ungkapan ini juga adalah satu  pembelaan, karena dengan mengeluarkan dana untuk karya seni dia tidak mendapatkan income yang nyata, sebagaimana halnya jika dia mengeluarkan dana tersebut untuk berinvestasi.

Di tahun 1990-an para investor mulai menunjukkan ketertarikan mereka untuk mengeluarkan sebagian dana yang mereka miliki untuk diinvestasikan ke senirupa. Penyebab perubahan ini sebagian adalah karena memang senirupa mempunyai atraktivitas tersendiri (atraktivitas intrinsik),  juga karena  mereka menyadari bahwa investasi konvensional yang mereka lakukan ternyata tidak memberikan return yang mereka harapkan. Penyebab lainnya adalah adanya beberapa perusahaan terbaik yang sahamnya dianggap sebagai sangat baik dan aman, ternyata bangkrut. Saham yang mereka miliki menjadi secarik kertas tanpa nilai sama sekali. Jika dana yang sama diinvestasikan ke karya seni, maka sebagaimana parahnya pasar senirupa, karya tersebut tetap masih mempunyai nilai. Apalagi jika karya yang dibeli adalah masterpiece dari perupa bersangkutan.

Di era yang bersamaan, dua profesor dari New York University, Mei JianPing dan Michael Moses, berhasil membuat Fine Art Index. Mereka menyediakan data-data yang dapat dipercaya dan independen dari harga-harga yang terjadi di transaksi pasar dalam kuantitas amat besar. Walau mendapatkan kritik dari berbagai pihak, Mei Moses Fine Art Index menyajikan bukti-bukti kuantitatif yang sangat diperlukan oleh para investor dalam mengambil keputusan atas perupa atau karya mana yang akan dibeli.

 

Cerita Sukses

Di tahun 1973 dunia Barat dilanda krisis ekonomi dan finansial yang disebabkan oleh krisis minyak OPEC. Pasar saham dan properti berjatuhan, angka inflasi naik tajam dan mata uang Poundsterling melemah terhadap mata uang Dollar Amerika menyebabkan British Rail Pension Fund melakukan investasi dari sebagian dananya ke senirupa. Tujuan dari diversifikasi ini adalah mencapai return yang minimal setingkat dengan angka inflasi. Sejak akuisisi karya seni pertama di akhir tahun 1974 sampai akuisisi terakhir di tahun 1980, British Rail Pension Fund membeli sekitar 2.400 karya seni. Karena kondisi pasar yang sangat baik, maka di pertengahan tahun 1987 sejumlah karya mulai dilelang. Sampai dengan penjualan total karya di tahun 2000 investasi ini menghasilkan return di atas angka inflasi.

Return yang baik ini dicapai setelah setengah dari keuntungan yang didapat dikeluarkan untuk biaya konsultan dan biaya balai lelang. Walau study berikutnya menunjukkan bahwa andaikan dana yang sama di tahun 1974 diinvestasikan di pasar saham, maka return yang dicapai seharusnya lebih tinggi dibandingkan dengan investasi seni. Namun, siapa yang bisa memprediksikan bahwa indeks harga saham bisa naik demikian baiknya. Lagi pula, tujuan dari investasi senirupa adalah mencapai return yang minimal setingkat dengan angka inflasi dan bukan mencapai return yang lebih tinggi dari pada investasi di pasar saham. Karena tujuannya tercapai, maka investasi senirupa dari British Rail Pension Fund dinyatakan sebagai sukses.

 

Kendala

Namun, suksesnya penjualan sejak 1987 tersebut di atas tidak menyebabkan para investor beramai-ramai mengalihkan dananya ke investasi senirupa atau menginvestasikannya di art fund. Mengapa? Salah satu  penyebabnya adalah pasar senirupa tidak terregulasi, sehingga para investor mengkuatirkan adanya risiko. Pasar senirupa juga tidak transparan. Di samping itu, biaya transaksi di pasar senirupa juga sangat tinggi (margin galeri, komisi penjual dan premi pembeli di balai lelang).

Salah satu kendala besar adalah tidak adanya art expert yang mempunyai kredibilitas dan rekam jejak dari performa yang dicapai sebagai manager di pasar modal. Suksesnya satu art investment fund sangat tergantung dari adanya art expert yang memberikan rekomendasi terhadap akuisisi-akuisisi potensial. Rekomendasi dari art expert menjadi sangat penting terutama di senirupa kontemporer karena sebagian besar orang yang melihat karya senirupa kontemporer tidak menyukainya. Ada pepatah yang merefleksikan kondisi ini dengan baik: "Anda harus melihat ratusan karya senirupa kontemporer yang Anda tidak suka, sampai Anda mulai mengerti apa yang Anda suka".  Art expert yang bekerja di art investment fund tidak boleh mempunyai konflik kepentingan dalam memberikan rekomendasi tersebut di atas. Artinya, para art dealer dan galeris tidak bisa menjadi konsultan di art fund.

 

Senirupa sebagai Asset Class

Baru di tahun 2003 Glenmede Trust Company (salah satu institusi finansial ternama di Amerika Serikat) merekomendasikan 12% dari diversified portfolio dari seorang investor ke senirupa agar return yang dicapai secara keseluruhan menjadi lebih tinggi. Langkah Glenmede ini diikuti oleh Barclays Capital yang merekomendasikan 10% alokasi asset.

Beberapa tahun terakhir ini ditandai dengan berdirinya banyak Art Investment Fund yang masing-masing mempunyai strategi bisnis yang berbeda. Ada yang menggunakan dana untuk mengakuisisi karya-karya dari kolektor yang meninggal, bercerai atau berhutang. Ada juga yang menggunakan dana untuk mengakuisisi sebanyak mungkin karya dari seorang perupa agar bisa mengontrol harga di pasar. Beberapa art fund mengkhususkan diri berinvestasi di emerging markets. (China, India, dan lain-lain). Dengan kerja-sama antara manager handal di pasar modal dan art expert, mereka memproyeksikan dana yang kita investasikan menjadi dua kali lipat dalam jangka waktu lima tahun.

Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa investasi senirupa bisa menghasilkan return yang baik, jika bisnis dijalankan dengan memperhatikan faktor-faktor yang menentukan. Suksesnya investasi seni di emerging markets (India dan China) merefleksikan kondisi bahwa senirupa adalah satu investasi yang baik, tidak hanya di negara-negara yang sudah berkembang, karena di negara-negara ini infrastruktur pasar senirupa pun sama kondisinya dengan di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Kendala-kendala yang diuraikan di atas adalah kendala yang bersifat global. Pasar apa pun di dunia dimulai dari kondisi tanpa aturan main yang jelas. Dalam perkembangannya nanti, karena timbul berbagai permasalahan yang serius, maka secara alami akan timbul institusi yang akan mengatur dan mengeluarkan regulasi. Tidak adanya regulasi pasar dan tidak transparannya pasar justru merupakaan peluang bisnis yang menjanjikan bagi investor-investor yang mengetahui seluk-beluk pasar senirupa dengan baik.

Sulitnya menentukan nilai artistik dari karya-karya senirupa kontemporer, merupakan satu tantangan jaman yang bersifat global. Kata kunci "Pluralisme" di saat sekarang, dimana apa saja bisa menjadi karya seni, tidak bisa lantas disimpulkan bahwa kondisi saat ini carut marut. Sulitnya menentukan nilai ekonomi dari satu karya senirupa kontemporer juga merupakan satu fenomena global. Di negara-negara Barat yang mempunyai galeris-galeris dengan latar belakang pendidikan sejarah senirupa yang dikombinasikan dengan latar belakang pendidikan art management, persoalan menentukan harga dari satu karya seni juga merupakan problem besar yang selalu tidak nyaman untuk didiskusikan dihadapan publik. Para galeris selalu mengelak untuk menjawab, jika ditanya bagaimana mereka menentukan harga dari satu karya seni.

Jika dengan mempelajari kondisi aktual di Indonesia sekarang ini kita lalu mengambil kesimpulan bahwa investasi senirupa Indonesia tidak baik, maka kita harus siap menerima kenyataan bahwa suatu hari para art fund managers dari luar negeri yang akan mengeruk keuntungan dari pasar senirupa Indonesia. Apalagi kita semua menyadari bahwa volume penjualan karya senirupa di Asia (termasuk di Indonesia) terus meningkat tajam, sejalan dengan terus meningkatkan Produk Domestik Bruto. Peningkatan kesejahteraan rakyat di satu negara selalu berimplikasi pada meningkatnya harga-harga karya seni. Oleh sebab itu, hanya masalah waktu saja, dimana para art investor dari luar negeri akan datang ke Indonesia, apalagi Patricia Chen (seorang South East Asian Art Market Analyst) sudah siap menyajikan Indonesian Art Index yang dibangunnya sejak bertahun-tahun. Apakah peluang investasi ini kita biarkan diambil oleh mereka? [V]

pullcuotes

...hanya masalah waktu saja, para art investor dari luar negeri akan datang ke Indonesia

 
 



images/stories/articles.jpg
Art Talk with HONF at Umah Seni Jakarta
Monday, 16 January 2012 14:23
images/stories/articles.jpg
2012, JANGAN MEMBABI-BUTA
Monday, 16 January 2012 12:11
images/stories/articles.jpg
2012, JANGAN MEMBABI-BUTA
Monday, 16 January 2012 12:00
images/stories/articles.jpg
Mengelola & Merawat Koleksi Anda: Beberapa Tip Praktis untuk Kolektor
Monday, 16 January 2012 11:17
images/stories/articles.jpg
“WAYANG BEBER” DOKTER AUCKY
Monday, 16 January 2012 10:44


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7186)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 5779)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 5658)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 3893)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 3712)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa