SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
Tanggapan Diskusi Investasi Seni (I) MELIHAT PELUANG INVESTASI SENIRUPA INDONESIA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 November 2010 15:32

Wiyu Wahono

DISKUSI VISUAL ARTS TENTANG INVESTASI SENIRUPA AGUSTUS LALU, TELAH MEMICU PRO KONTRA DAN ‘‘PANAS DINGIN“, TERUTAMA PANDANGAN LIN CHE WEI (BACA FOKUS VA SEPTEMBER ). SAAT ITU SAYA TIDAK BISA MENANGGAPI, KARENA POSISI SAYA SEBAGAI MODERATOR. KINI SAYA INGIN MENANGGAPINYA, TERUTAMA UNTUK “MENYEMANGATI“ PARA PELAKU ART MARKET AGAR TETAP BERINVESTASI DENGAN CERMAT.

Sampai dengan akhir abad yang lalu, jika seseorang mengeluarkan banyak sekali uang untuk membeli karya seni dan para investor pasar modal menanyakan dia, keuntungan apa yang dia dapatkan dengan mengeluarkan dana sedemikian besar nya, maka dia akan menjawab bahwa dia mendapatkan "dividen estetik". Ungkapan ini mempunyai arti bahwa dia mendapatkan keuntungan dalam bentuk kesenangan dari memiliki karya seni tersebut. Namun, ungkapan ini juga adalah satu  pembelaan, karena dengan mengeluarkan dana untuk karya seni dia tidak mendapatkan income yang nyata, sebagaimana halnya jika dia mengeluarkan dana tersebut untuk berinvestasi.

Di tahun 1990-an para investor mulai menunjukkan ketertarikan mereka untuk mengeluarkan sebagian dana yang mereka miliki untuk diinvestasikan ke senirupa. Penyebab perubahan ini sebagian adalah karena memang senirupa mempunyai atraktivitas tersendiri (atraktivitas intrinsik),  juga karena  mereka menyadari bahwa investasi konvensional yang mereka lakukan ternyata tidak memberikan return yang mereka harapkan. Penyebab lainnya adalah adanya beberapa perusahaan terbaik yang sahamnya dianggap sebagai sangat baik dan aman, ternyata bangkrut. Saham yang mereka miliki menjadi secarik kertas tanpa nilai sama sekali. Jika dana yang sama diinvestasikan ke karya seni, maka sebagaimana parahnya pasar senirupa, karya tersebut tetap masih mempunyai nilai. Apalagi jika karya yang dibeli adalah masterpiece dari perupa bersangkutan.

Di era yang bersamaan, dua profesor dari New York University, Mei JianPing dan Michael Moses, berhasil membuat Fine Art Index. Mereka menyediakan data-data yang dapat dipercaya dan independen dari harga-harga yang terjadi di transaksi pasar dalam kuantitas amat besar. Walau mendapatkan kritik dari berbagai pihak, Mei Moses Fine Art Index menyajikan bukti-bukti kuantitatif yang sangat diperlukan oleh para investor dalam mengambil keputusan atas perupa atau karya mana yang akan dibeli.

 

Cerita Sukses

Di tahun 1973 dunia Barat dilanda krisis ekonomi dan finansial yang disebabkan oleh krisis minyak OPEC. Pasar saham dan properti berjatuhan, angka inflasi naik tajam dan mata uang Poundsterling melemah terhadap mata uang Dollar Amerika menyebabkan British Rail Pension Fund melakukan investasi dari sebagian dananya ke senirupa. Tujuan dari diversifikasi ini adalah mencapai return yang minimal setingkat dengan angka inflasi. Sejak akuisisi karya seni pertama di akhir tahun 1974 sampai akuisisi terakhir di tahun 1980, British Rail Pension Fund membeli sekitar 2.400 karya seni. Karena kondisi pasar yang sangat baik, maka di pertengahan tahun 1987 sejumlah karya mulai dilelang. Sampai dengan penjualan total karya di tahun 2000 investasi ini menghasilkan return di atas angka inflasi.

Return yang baik ini dicapai setelah setengah dari keuntungan yang didapat dikeluarkan untuk biaya konsultan dan biaya balai lelang. Walau study berikutnya menunjukkan bahwa andaikan dana yang sama di tahun 1974 diinvestasikan di pasar saham, maka return yang dicapai seharusnya lebih tinggi dibandingkan dengan investasi seni. Namun, siapa yang bisa memprediksikan bahwa indeks harga saham bisa naik demikian baiknya. Lagi pula, tujuan dari investasi senirupa adalah mencapai return yang minimal setingkat dengan angka inflasi dan bukan mencapai return yang lebih tinggi dari pada investasi di pasar saham. Karena tujuannya tercapai, maka investasi senirupa dari British Rail Pension Fund dinyatakan sebagai sukses.

 

Kendala

Namun, suksesnya penjualan sejak 1987 tersebut di atas tidak menyebabkan para investor beramai-ramai mengalihkan dananya ke investasi senirupa atau menginvestasikannya di art fund. Mengapa? Salah satu  penyebabnya adalah pasar senirupa tidak terregulasi, sehingga para investor mengkuatirkan adanya risiko. Pasar senirupa juga tidak transparan. Di samping itu, biaya transaksi di pasar senirupa juga sangat tinggi (margin galeri, komisi penjual dan premi pembeli di balai lelang).

Salah satu kendala besar adalah tidak adanya art expert yang mempunyai kredibilitas dan rekam jejak dari performa yang dicapai sebagai manager di pasar modal. Suksesnya satu art investment fund sangat tergantung dari adanya art expert yang memberikan rekomendasi terhadap akuisisi-akuisisi potensial. Rekomendasi dari art expert menjadi sangat penting terutama di senirupa kontemporer karena sebagian besar orang yang melihat karya senirupa kontemporer tidak menyukainya. Ada pepatah yang merefleksikan kondisi ini dengan baik: "Anda harus melihat ratusan karya senirupa kontemporer yang Anda tidak suka, sampai Anda mulai mengerti apa yang Anda suka".  Art expert yang bekerja di art investment fund tidak boleh mempunyai konflik kepentingan dalam memberikan rekomendasi tersebut di atas. Artinya, para art dealer dan galeris tidak bisa menjadi konsultan di art fund.

 

Senirupa sebagai Asset Class

Baru di tahun 2003 Glenmede Trust Company (salah satu institusi finansial ternama di Amerika Serikat) merekomendasikan 12% dari diversified portfolio dari seorang investor ke senirupa agar return yang dicapai secara keseluruhan menjadi lebih tinggi. Langkah Glenmede ini diikuti oleh Barclays Capital yang merekomendasikan 10% alokasi asset.

Beberapa tahun terakhir ini ditandai dengan berdirinya banyak Art Investment Fund yang masing-masing mempunyai strategi bisnis yang berbeda. Ada yang menggunakan dana untuk mengakuisisi karya-karya dari kolektor yang meninggal, bercerai atau berhutang. Ada juga yang menggunakan dana untuk mengakuisisi sebanyak mungkin karya dari seorang perupa agar bisa mengontrol harga di pasar. Beberapa art fund mengkhususkan diri berinvestasi di emerging markets. (China, India, dan lain-lain). Dengan kerja-sama antara manager handal di pasar modal dan art expert, mereka memproyeksikan dana yang kita investasikan menjadi dua kali lipat dalam jangka waktu lima tahun.

Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa investasi senirupa bisa menghasilkan return yang baik, jika bisnis dijalankan dengan memperhatikan faktor-faktor yang menentukan. Suksesnya investasi seni di emerging markets (India dan China) merefleksikan kondisi bahwa senirupa adalah satu investasi yang baik, tidak hanya di negara-negara yang sudah berkembang, karena di negara-negara ini infrastruktur pasar senirupa pun sama kondisinya dengan di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Kendala-kendala yang diuraikan di atas adalah kendala yang bersifat global. Pasar apa pun di dunia dimulai dari kondisi tanpa aturan main yang jelas. Dalam perkembangannya nanti, karena timbul berbagai permasalahan yang serius, maka secara alami akan timbul institusi yang akan mengatur dan mengeluarkan regulasi. Tidak adanya regulasi pasar dan tidak transparannya pasar justru merupakaan peluang bisnis yang menjanjikan bagi investor-investor yang mengetahui seluk-beluk pasar senirupa dengan baik.

Sulitnya menentukan nilai artistik dari karya-karya senirupa kontemporer, merupakan satu tantangan jaman yang bersifat global. Kata kunci "Pluralisme" di saat sekarang, dimana apa saja bisa menjadi karya seni, tidak bisa lantas disimpulkan bahwa kondisi saat ini carut marut. Sulitnya menentukan nilai ekonomi dari satu karya senirupa kontemporer juga merupakan satu fenomena global. Di negara-negara Barat yang mempunyai galeris-galeris dengan latar belakang pendidikan sejarah senirupa yang dikombinasikan dengan latar belakang pendidikan art management, persoalan menentukan harga dari satu karya seni juga merupakan problem besar yang selalu tidak nyaman untuk didiskusikan dihadapan publik. Para galeris selalu mengelak untuk menjawab, jika ditanya bagaimana mereka menentukan harga dari satu karya seni.

Jika dengan mempelajari kondisi aktual di Indonesia sekarang ini kita lalu mengambil kesimpulan bahwa investasi senirupa Indonesia tidak baik, maka kita harus siap menerima kenyataan bahwa suatu hari para art fund managers dari luar negeri yang akan mengeruk keuntungan dari pasar senirupa Indonesia. Apalagi kita semua menyadari bahwa volume penjualan karya senirupa di Asia (termasuk di Indonesia) terus meningkat tajam, sejalan dengan terus meningkatkan Produk Domestik Bruto. Peningkatan kesejahteraan rakyat di satu negara selalu berimplikasi pada meningkatnya harga-harga karya seni. Oleh sebab itu, hanya masalah waktu saja, dimana para art investor dari luar negeri akan datang ke Indonesia, apalagi Patricia Chen (seorang South East Asian Art Market Analyst) sudah siap menyajikan Indonesian Art Index yang dibangunnya sejak bertahun-tahun. Apakah peluang investasi ini kita biarkan diambil oleh mereka? [V]

pullcuotes

...hanya masalah waktu saja, para art investor dari luar negeri akan datang ke Indonesia



Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6820)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6659)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa