Hardiman
INILAH PAMERAN SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA YANG SECARA BERTERUS-TERANG MENYANGKAL PERSEPSI UMUM BAHWA CRAFT DALAM DIKOTOMI ART-CRAFT BUKAN KARYA SENI.
Jim Supangkat, kurator pameran “Making is Thinking” ini membukan tulisan kuratorialnya dengan sederet kata yang menyeret apresian pada persoalan seni rupa hari-hari ini. Tulis Jim: “Semua karya yang ditampilkan pada pameran ini menunjukkan craftmanship karena pemeran ini merupakan bagian dari acara Jazz-craft Vaganza yang diselenggarakan di kota Baru Parahyangan, Padalarang, 9-11 Juli 2010. Pameran ini berdampingan dengan Art-craft Fair yang diwarnai pertunjukan musik Jazz.”
Yang segera ingin diajukan Jim Supangkat, jelas bukan perkara pameran seni rupa yang berdampingan dengan Art-craft Fair dan pertunjukan musik jazz, tetapi lebih pada persoalan karya sei rupa yang memperlihatkan craftmanship. Inilah pameran seni rupa kontemporer Indonesia yang secara berterus-terang menyangkal persepsi umum bahwa craft dalam dikotomi art-craft bukan karya seni. Jalan penyangkalan yang ditempuh kuratorial pameran ini bersandar pada pemikiran Richard Sennet, seorang filsof yang dikenal sebagai pragmatis gelombang kedua. Persoalan yang diajukan pragmatisme adalah homo faber (man as maker) dalam konteks sistem kerja dan produksi.
Yang segera mudah terbaca dari karya 29 perupa ini adalah karya yang memperlihatkan karakteristik craftmanship dalam konteks lokal. Hal ini pula, saya kira, yang amat dekat dengan pemikiran Richard Sennet ihwal ‘kerja tangan’ yang tidak bisa dipisahkan dari ‘kerja memikir’ yang dekat dengan pragmatisme, yaitu memecahkan persoalan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Lihat misalnya Masters of Conflict (tapestry, embroider, kolase, 150 x 150 cm) karya Biranul Anas, Moonscape (kayu 25 x 68 cm) karya Carola Vooges, Lebacy Cocoon (fibreglass 240 x 480 cm) karya Nus Salomo, Layer (bambu 100 x 160 cm) karya Rini Chairini Hayati, Take Off (kayu lapis, 240 x 160 x 130 cm) karya Rudy Hendrianto, dan You & Me 1 (AK 47 airsoft gun, kayu, lycal, polyster resin, 92 x 27 x 8 cm) karya Yuli Prayitno. Secara politis, karya-karya para perupa ini dekat pula dengan identitas lokal yang selalu mengalami proses-menjadi dalam pertarungan seni rupa global. Dalam konteks politis inilah karya-karya ini menjadi penting.
Karya yang lain, selain mengemukakan perkara craftmanship dengan misalnya, mengajukan sensibilitas dan kepekaan mengolah bahan juga memiliki muatan yang terbilang kompleks. Karya Tisna Sanjaya, Wajah Peradaban (aspal pada kanvas, 200 x 200 cm) menyimpan makna konotatif tentang budaya agraris bahkan mungkin budaya kekerasan. Serupa itu, karya Ichwan Noor, Wanita Duduk (bronze, 90 x 85x55 cm) bisa terbaca sebagai tubuh perempuan yang runtuh, atau kebalikannya, justru tentang kaki yang kukuh.
Membuat pameran yang dilandasi pandangan making is thinking ini, pada akhirnya harus diakui sebagai membuat adalah meyakinkan. [V]
| |