Bambang Bujono
Kerangka keemasan mandi di ember perak karya instalasi Agus Suwage tentulah bukan kerangka sebenarnya. Borobudur lukisan Srihadi Soedarsono bukan Stupa Borobudur di Magelang itu sendiri. Juga lukisan Affandi kerbau membajak sawah hanyalah gambaran dari sebuah peristiwa nyata. bagaimanakah sebuah karya menceritakan kisahnya?
Ada jarak antara obyek dalam karya senirupa dan kenyataan yang sebenarnya. Jarak ini membuka kemungkinan bahwa antara kenyataan dan citra kenyataan itu dalam karya seni rupa terdapat ketidakterbatasan hubungan, dari ada di satu kutub sampai tidak ada pada kutub di ujung berlawanan. Dan garis yang menghubungkan ada dengan tak ada itu pun tak terbatas, sebanyak garis yang bisa ditarik dari titik pusat lingkaran ke segala arah, dari yang membentuk bidang datar sampai yang membangun sebuah ruang. Mungkin, inilah gambaran daya imajinasi manusia, entah di mana batasnya.
Syahdan demikianlah sumber gagasan, sumber penciptaan ada di seluas yang tanpa batas itu. Dan kabarnya seni rupa pun berkembang melepaskan diri dari yang pernah ada, terbang tanpa batas, lalu tercetuslah dua pernyataan yang masing-masing menempel di satu sisi keping mata uang yang sama: “apa pun bisa menjadi karya seni rupa” dan (karena itu) “seni rupa sudah mati”. Dan Danto, kritikus yang setia menulis itu mengkaji perkembangan itu dalam bukunya After the End of Art (1997). Ia menduga bahwa diperlukan cara pandang berbeda pada dunia seni rupa dengan segala prasarananya ketika senirupa bukan lagi terutama diapresiasi lewat melihat.
Lebih dari 20 tahun sebelumnya, Sanento Yuliman (1941-1992) menulis dalam katalogus pameran Seni Rupa Baru Indonesia, bahwa tak mungkin lagi kita menikmati kaya-karya yang disajikan lewat ritme garis, nuansa warna, dan beragam bentuk ketika karya seni rupa bukan lagi susunan liris unsur kesenirupaan. Dengan kata lain, karya senirupa pada perkembangan setelah senirupa modern sesungguhnya seperti hendak menggeser sang rupa ke samping dan di tempat itu ditaruhlah mungkin itu tema, cerita, wacana, dan lain sebagainya.
Di tengah perkembangan seperti itu, dua kurator -- Agung Hujatnikajennong dan kemudian Wahyuddin-- menyodorkan gagasan, mengapa para senirupawan tak berkarya bertolak dari seni yang lain, dan yang dimaksudkanna adalah seni sastra. Sebelumnya, adalah penyair Sitok Srengenge menggagas pameran karya seni rupa yang diciptakan berdasarkan puisi-puisi yang dipilih, yang kemudian diwujudkan bersama Wahyuddin sebagai kurator. Tiga pameran yang lahir dari gagasan Jennong (“Magainin”, Jakarta Art Distric, akhir Februari 2010), Wahyuddin (“Tansfiguration”, Jakarta Art Distric, April 2010), dan Sitok (“Perang, Kata, dan Rupa”, Galeri Salihara, Juli 2009) menggoda kita ketika beranjak dari karya ke karya di ruang pameran untuk mencocokkan yang kita lihat dengan karya sastra yang menjadi sumber diciptakannya karya tersebut.
Bagi saya, godaan itu mengganggu. Saya belum membaca karya sastra yang dijadikan sumber penciptaan tiap karya. Andai saya sudah membacanya, sejauh pengalaman selama ini, hal itu bukan jaminan bahwa saya akan “memahami” karya tersebut dengan lebih baik. Saya menduga, godaan ini datang dari cara mengapresiasi karya seni rupa dengan bertanya: “Ini gambar apa?” Lalu si penanya merasa sudah memahami karya itu bila ada jawaban, misalnya: “Itu gambar perang.”
Mungkin, kata “perang” itu menjadikan penanya itu lalu bisa berimajinasi tentang perang yang ia pahami lewat film atau novel, misalnya; atau siapa tahu penanya itu seorang veteran perang. Dan kemudian ia merasa “sudah tahu” tentang lukisan itu.
Jalan apresiasi seni rupa seperti itu memang tidak salah, karena tak ada yang melarang memandang karya seni dengan cara masing-masing. Maka seseorang memiliki apreasi sendiri yang berbeda --sedikit atau banyak-- dengan apreasi orang lain, termasuk dengan penciptanya. Bukankah dengan demikian karya seni “abadi” karena apresiasi yang berbeda-beda ini dari orang per orang, dari zaman ke zaman? Termasuk, tiap senirupawan tentulah punya apresiasi masing-masing tentang sebuah cerita pendek.
Lihat saja Pameran “Magainin” yang dikuratori Agung Hujatnikajennong itu. Dua puluh senirupawan memiliki tafsir masing-masing tentang cerita pendek karya Dinar Rahayu itu. Tiap seniman rupa itu, di samping gaya masing-masing berbeda, juga bangkitnya kepekaan mereka disebabkan pula oleh hal berbeda-beda.
Sekadar contoh, Suraji misalnya. Ia menafsirkan kisah Magainin yang fantastis -- perempuan pemburu yang hamil dalam semalam akibat diperkosa dewa berkepala dua di tengah padang—menggambarkannya dengan segerombol hewan yang diikat menjadi satu. Seekor kucing, seekor anjing dan beberapa ekor tikus. Terlihat pula me nyembul dari ikatan cakar entah apa, mungkin burung raksasa. Lalu, seorang perempuan berrok merah duduk di kejauhan di sebatang pohon rebah. Mungkin dialah Magainin. Bandingkan dengan karya Nyoman Darya, raksasa bak sebungkah batu besar memeluk dan mencium perempuan berrok putih. Nyoman lebih tersentuh oleh kisa perkosaan itu tampaknya. Raksasa itu adalah dewa pemerkosa itu meski tak berkepala dua sebagaimana dalam gambaran Dinar. Dan perempuan itu, siapa lagi bila bukan Magainin. Bandingkan pula dengan karya tiga dimensi Taufik, yang entah apa kaitannya dengan kisah Magainin. Karya ini berupa dua lengan tangan yang saling mencengkeram pangkal lengan, dan keseluruhan “kesalingmencengkeraman” ini membentuk kerangka sebuah limas segi tiga. Mungkin Taufik mengabstraksi kisah Magainin, dan patung inilah yang ia anggap mencerminkan hasil abstraksinya. Kemustahilan, bisa jadi itulah yang hendak ia katakan. Satu contoh lagi dari Magainin, lukisan komik Bambang Toko. Karya ini tak mengesankan suasana fantastis, atau magis. Tiga adegan yang digambarkan mengingatkan pada komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Th. Satu-sayunya pertanda karya ini datang dari cerita pendek Dinar Rahayu, pada adegan kedua lelaki itu berkata: “Mintalah yang lain ... Magainin!!”
Bila dari satu karya cerita pendek bisa ada 20 perwujudan yang berbeda-beda, apalagi bila tiap karya seni rupa yang dipamerkan datang dari cerita pendek yang berbeda. “Transfiguration” memamerkan karya 21 senirupawan yang menafsirkan cerita pendek dalam kumpulan cerita pendek karya Triyanto Triwikromo, Ular di mangkuk Nabi. Dan di Jakarta Art Distric itu saya menyaksikan karya-karya yang memang berbeda-beda wujud, media, pokok karya, suasana –biarpun ada karya yang bersumber satu cerita pendek (lukisan Pande Ketut Taman, Dadang rukmana, dan Gusmen Heriadi, sama-sama mewujudkan cerpen “Kalanaga”, satu dari 15 cerpen dalam kumpulan ini).
Kalau toh hendak “mengukur” seberapa sungguh-sungguh para perupa membaca karya sastranya, pokok pikiran Acep Iwan Saiudi dalam disertasinya bisa dijadikan acuan. Disertasi itu dibukukan dengan jusul Narasi Simbolik Seni Rupa Kontemporer Indonesia (Isacbook, Yogyakarta, 2008). Acep memberikan kriteria senirupa yang mengandung narasi (cerita atau tuturan). Dan betapa absurnya pun sebuah karya sastra, tetaplah terkadang kisah di dalamnya. Meminjam disertasi Acep, munculnya narasi atau cerita dalam karya seni rupa ditandai oleh “adanya relasi antar elemen rupanya” dan “strategi penyimbolan (simbolisasi)” yang dilakukan oleh seniman rupa dalam karyanya (halaman 314).
Bertolak dari kriteria itu, menurut saya, dari tiga pameran yang disebutkan, karya Saftari Sirkus Api Natasja Korolenko dalam “Transfiguration” paling kuat narasinya. Elemen-elemen dalam karya ini adalah ruang kamar merah jambu dengan pintu tertutup, tempat tidur berkain tilam gambar mawar merah jambu, satu batang korek api dan sebatang lilin berukuran sama dengan tempat tidur.
Batang korek api seperti berpasangan dengan sebatang lilin, tempat tidur adalah arena pergulatan dua sejoli batang korek api dana lilin itu, kamar yang tertutup dan suasana romantis merah jambu. Sebuah kisah asmara yang romantis dan siap berubah menjadi api nan membakar segalanya. Pasangan itu, korek api dan lilin adalah pasangan yang punya dua sisi: lilin bisa menjadi alat penerangan ketika dinyalakan, namun bisa membakar bila api lilin merembet ke kain tilam dan seterusnya.
Batang korek api dan lilin adalah tokoh utama kisah asmara ini yang memang berakhir dengan kebakarn. Dan tokoh “aku” seperti melihat tikus, kelelawar, ular, naga, laki-laki tersalib melayang-layang keluar dari rumah terbakar itu. Saftari dengan bijak tak menggambarkan adegan kebakaran itu dengan segala pemandangan surealistisnya. Ia “membekukan” cerita pendek itu tepat di esensinya: asmara yang bisa membakar.
Maka, bagi saya, urusan cerita pendek sumber karya adalah lebih sebagai urusan senirupawannya. Cerita pendek atau apa pun --termasuk hidup ini sendiri-- bisa menjadi nafas dan tenaga sebuah karya, tergantung penafsirnya, dan bagaimana ia mewujudkan penafsirannya. Kita bisa mendapat kesan bahwa karya seni rupa satu ini datang dari karya sastra bila saja ada elemen-elemen yang saling berelasi membangun narasi itu tadi. Tapi, sebuah lukisan adalah lukisan, patung adalah patung, karya adalah instalasi, bersumber dari karya sastra atau apa pun, dan tetap nilainya tergantung karya itu sendiri dan bukannya sumbernya. Bahkan ketika karya seni rupa tidak terutama diapresiasi dari melihat, dan sumber penciptaan menjadi relevan diketahui, namun tetap saja nilai karya ada pada dirinya sendiri, dan bukan sesuatu yang ada di luar karya. Maka menarik adalah pameran yang karya-karyanya bukan merupakan tafsir dari cerita pendek, melainkan karya-karya itu menjadi elemen di dalam ruangan, berelasi membentuk kisah. Itulah pameran tunggal Syagini Ratna Wulan di Viviyip, Jakarta, Januari 2910 lalu. Tapi sepertinya yang satu ini memerlukan ulasan sendiri. [V]
| |