SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
KEKERASAN DARI SUATU JARAK PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 19 October 2010 15:20

Heru Hikayat

Saat menerima undangan pameran “Lama Sabahktani Club”, saya merasa bukan judul pameran yang paling menarik perhatian, melainkan citra karya pada undangan tersebut.

Citra karya tentu tidak memperlihatkan keseluruhan karya instalasi berdimensi 4,3 x 2,5 x 4 m itu. Namun sudut pandang pemotretan menunjukan ide dasar karya yang dijuduli Lama Sabakhtani #1 itu: pencanggihan bentuk dari guillotine. Karya dipotret dari perspektif mata semut, menonjolkan -- bukan satu -- tapi tiga mata kapak yang seolah siap menderas, menebas. Saya lalu menulis surat elektronik pada Hendro Wiyanto, kurator pameran: “Bung, tragis rasanya jika kekerasan bisa seindah ini”.

Pameran Lama Sabahktani Club berlangsung di Lawangwangi—Art & Science Estate—Bandung, 16 April – 2 Mei 2010, merupakan pameran tunggal Ay Tjoe Christine dalam kolaborasi dengan Deden Sambas. Deden Sambas menjadi pewujud karya-karya trimatra Christine. Sementara karya-karya dwimatra Christine kali ini, berbeda dari biasanya, tampak menjadi semacam rancangan karya-karya trimatra. Mereka berdua saat pembukaan diperkenalkan sebagai anggota “Lama Sabakhtani Club”, kelompok yang hanya beranggota dua orang.

Selain citranya disiarkan dalam undangan, karya Lama Sabakhtani#1 paling menarik perhatian karena paling memakan ruang dibanding karya-karya lain. Ia juga menawarkan pengalaman unik. Sebenarnya sebagai suatu rakitan, ia tetaplah berupa objek tatapan, hanya saja pengalaman yang ditawarkan kaya. Karya ditempatkan di sebuah ruangan dengan lantai merendah. Salah satu sisi ruangan dilengkapi tangga sekaligus tempat duduk. Disediakan satu bantal merah bagi seorang pelihat. Bantal ini diposisikan frontal, berhadap-hadapan langsung dengan dudukan kayu yang menyangga “kapak-kapak pemenggal”. Pelihat-pelihat lain bisa duduk di tangga atau mengitar ke samping kiri-kanan instalasi, mengamati rinci karya. Karya dilengkapi mekanik yang menggerakan bola-bola logam yang pada gilirannya menggerakkan “kapak-kapak pemenggal” itu. Saya menyebut karya ini pencanggihan bentuk guillotine paling tidak disebabkan oleh dua persoalan: satu, soal sejarah; dua, soal sensasi dari kekerasan.

Kita tahu, “Lama Sabahktani” merupakan seruan Yesus Kristus saat ia disalibkan sekitar 2000 tahun lalu. Judul pameran dan penamaan diri duet Christine-Sambas, menjadi petunjuk amat kuat bagi pelihat untuk menghubungkan peristiwa penyaliban Yesus dengan karya-karya di Lawangwangi. Salib dan tubuh Yesus terpancang padanya kemudian jadi simbol keimanan kristiani. Simbol ini sendiri telah mengandung kekerasan. Dan kekerasan yang terus menggema, memengaruhi jiwa berjuta umat manusia selama 2 milenium merupakan kekerasan yang legendaris.

Guillotine menjadi legendaris setelah menjadi alat eksekusi yang ampuh selama periode kekerasan yang dipicu revolusi Prancis. Konon alat ini dirancang dengan tujuan supaya hukuman mati jadi lebih manusiawi: si terhukum tidak merasakan sakit saat kepalanya dipenggal. Hal ini dimungkinkan karena kapak yang berat, menderas dari ketinggian tertentu, memenggal kepala dengan amat cepat dan tepat. Bentuk karya Lama Sabakhtani #1 jelas menyadur bentuk guillotine. Kemiripan bentuk ini menunjukan rujukan karya secara historis. Di Lawangwangi, kegagahan teknologi guillotine dipanggil kembali.

Duduk di muka karya Lama Sabakhtani #1, kita menghadapi tiga “kapak”. Mekanik menggerakan bola-bola logam di belakang dudukan kapak. Bola-bola bergerincing seiring rel dan temali yang kemudian perlahan mengangkat ketiga kapak ke atas dudukan, perlahan-lahan. Komposisi bola-bola yang berubah pelan, bayangan-bayang yang ditimbulkannya, bunyi gemerincing, semua itu memesona, membuat pelihat tidak terlalu sadar bahwa kapak-kapak telah berada di ujung atas dudukan. Lalu satu-persatu kapak menderas jatuh, menimbulkan bunyi yang mengejutkan. Bunyi keras itu menyadarkan pelihat: di hadapannya bukanlah suatu rakitan yang semata indah memesona, melainkan suatu pemanggil kekerasan yang telah terjadi di masa lalu.

Anehnya lubang yang disediakan untuk leher si terhukum bukan tiga, hanya satu. Dan lubang itu berupa lingkaran penuh yang tampak lebih simbolik daripada fungsional. Olah bentuk ini menegaskan jarak.

Kekerasan menakutkan sekaligus memikat. Berbagai kebudayaan manusia dipenuhi kekerasan yang dijadikan tontonan massal. Keunikan lain dari kekerasan, ia menawarkan pengalaman khas: setiap kali melihat kekerasan sensasi yang kita rasakan begitu kuat, seolah-olah kita belum pernah melihatnya sebelumnya. Kita bisa merasakan sensasi itu karena kita menjadi pelihat peristiwa kekerasan, bukan pelaku atau apalagi korbannya. Dengan kata lain, sensasi itu sendiri dimungkinkan karena si liyan-lah yang menjadi pelaku dan korban kekerasan, bukan kita.

Karya lain yang menurut saya menawarkan pengalaman yang tidak kalah kuat adalah “Timah Mahkota” #01, #02, #03 (dimensi tiap karya 5 x 21 x 21 cm). Bentuk karya ini mengingatkan pada mahkota duri yang dikenakan Yesus. Mahkota ini terbuat dari logam dan tidak dikenakan di kepala, melainkan dipajang di dinding. Bentuknya bagus dan tertata apik. Ketajaman ujung logam dan paku-paku yang disematkan di antaranya, kembali menggaungkan kekerasan.

Satu hal yang khas dari gambar-gambar Christine adalah garis-garis yang tajam, mewujudkan sosok sekaligus membuatnya melebur dengan latar di beberapa bagian. Kali ini, garis-garis tajam itu tidak semata tampak sebagai satu pencapaian artistik. Selain pada kanvas, gambar-gambar Christine dibuat pada plat logam. Silahkan bayangkan ujung paku/jarum harus seruncing apa untuk bisa menorehkan garis di atas permukaan logam. Ujung runcing logam bertemu logam, torehan meninggalkan jejak.

Lama Sabakhtani Club tidak menawarkan kekerasan aktual. Kekerasan ada di sana secara berjarak. Jaraknya direntangkan oleh sejarah dan insentif dari pencapaian artistik, pengalaman yang ditawarkan berupa pengalaman estetik, dengan begitu seni ditegaskan posisinya di hadapan kenyataan. [V]



Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6821)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6660)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa