SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
CHINA-CHINA, BALI-BALI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 November 2010 10:24

Yusuf Susilo Hartono

PAMERAN INI MENGGIRING KITA AGAR MENGINGAT KEMBALI BAHWA KEBUDAYAAN BALI BANYAK MENYERAP KEBUDAYAAN CHINA, LEWAT KERAJAAN MAJAPAHIT. MISALNYA SAJA BARONG, BADE (MENARA NGABEN) YANG BANYAK MENJADI OBYEK LUKISAN TRADISIONAL BALI HINGGA SAAT INI.

Penyerapan itu diawali ketika kerajaan Majapahit di Jawa Timur yang berekspansi ke Bali pada abad 14, saat kebudayaan Majapahit banyak mengadopsi dan mengasimilasi unsur-unsur kebudayaan China. Dan ketika pada abad ke-16 Kerajaan Majapahit runtuh, para pemuka agama, cerdik pandai serta para seniman (pelukis, pemusik, penari, pematung dan arsitek) menyingkir ke Pulau Bali, mereka mendirikan kerajaan-kerajaan kecil. Dalam kerajaan-kerajaan itu para seniman, notabene telah membawa pengaruh besar kebudayaan Tiongkok ala Majapahit, berkarya dengan pakem-pakemnya yang menyimpan garis merah kebudayaan China.

Bertolak dari sinilah, Agus Dermawan T menyusun kuratorial pameran Ceremony 60 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 16-23 September 2010. Pameran yang digelar Bali bangkit dan Kedutaan Besar RRC di Jakarta, diniati untuk merayakan 60 Tahun hubungan Diplomatik Indonesia- China (yang dalam realitasnya tidak segenap angka itu, dan “harus dipotong” sekian tahun, karena cukup lama berada dalam kondisi cukup lama beku di era Orde Baru, sampai kemudian baru tahun 1990 berangsur-angsur dinormalkan kembali sampai sekarang). Dan untuk mengakomodasi berbagai kendala dan kepentingan diseputar pameran yang berbobot politis ini, di bawah judul besar itu Agus membuat sub judul. Seni lukis cat air China dibungkus dengan judul “Ketenangan dan Keselarasan”. Sedangkan lukisan tradisional Bali dikemas dalam judul “Alam dan Figurasi”. Masing-masing menyediakan katalog sendiri, di mana katalog lukisan tradisional Bali dicetak dengan lumayan mewah dan informatif. Sebaliknya katalog lukisan China dicetak sederhana, tidak informatif, dan dalam jumlah eksemplar yang sedikit sehingga sulit untuk mendapatkannya. Melihat fakta seperti ini, kita bisa maklum bila kuratorial Agus Dermawan T tidak mencoba melacak benang merah itu secara detil, namun hanya menyandingkan saja antara lukisan-lukisan China dan lukisan tradisional Bali dalam sebuah bangunan galeri, namun tetap dengan bloknya masing-masing.

Tapi memang, lukisan-lukisan China dan lukisan-lukisan tradisional Bali ini, memiliki watak, langgam, medium hingga teknik yang berbeda. Lukisan-lukisan cat air China,yang oleh masyarakat dunia populer disebut brush painting, yang dipajang di ruang utama Galeri Nasional pada umumnya berwatak tenang dan harmonis, lewat pilihan tema – umumnya memuja kearifan alam, tumbuh-tumbuhan, dan satwa – dengan sabetan kuas dan tinta hitam beserta gradasi monokromatiknya di atas kertas; satu dua menggunakan warna, baik sekedar aksen hingga menguasai bidang. Simak misalnya karya Qi Baishi, Li Keran, Wu Changshuo, hingga Pan Tianshou. Bagi kalangan kolektor yang matanya terbiasa bersentuhan dengan karya-karya klasik dan tradisional China, pada umumnya mengaku tidak mendapatkan “kejutan” dari karya-karya tersebut. Jangan salah, bukan karena jelek,  tapi karya-karya itu bukanlah karya-karya paling bagus dari  masing-masing perupa peserta yang sebagian diantaranya adalah sang maestro. Dan kita tahu, dua buah lukisan yang lahir dari satu tangan maestro yang sama, kualitasnya berbeda.

Bertolak belakang dengan itu, lukisan-lukisan tradisional Bali yang dipajang di ruang samping kanan, menunjukkan kemeriahan, kedetilan, kerumitan, dan dinamika relasi sosial antara figur, maupun antara figur dengan alam sekeliling dan religiusitasnya; yang di dalamnya mewakili era dan aliran. Mulai dari Pita Maha (Anak Agung Gede Sobrat, hingga Ida Bagus Made Poleng). Era Pita Prada (Nyoman Meja sampai Wayan Beneh). Selain itu ada aliran Batuan, Keliki, Sanur, Pengosekan dan lain-lain. Aliran Pengosekan, Taman Penestenan sampai Kutuh.

Sampai di sini kita bisa bertanya apakah lukisan-lukisan tradisional Bali yang tampil dalam pameran itu masih relevan untuk dikatakan menyerap dan kena pengaruh China, termasuk China lewat Mojopahit lima abad silam? Untuk menjawab ini, jangan-jangan kita perlu  mengucek-ucek dulu  mata kita, agar kita bisa lebih terang melihat Bali dulu (di zaman Majapahit), dan sekarang. Sebab seperti parikan daerah asal Agus Dermawan T, Jawa Timur, klemben-klemben, roti-roti, biyen-biyen, saiki-saiki, yang maknanya zaman dulu berbeda dengan sekarang. [V]


Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6822)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6660)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa