SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
BERBAGI DI JATIWANGI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 November 2010 14:44

Wulan Dirgantoro

 

DI KOTA KECIL JATIWANGI, JAWA BARAT, DIGELAR SEBUAH FESTIVAL INTERNASIONAL LINTAS DISIPLIN, UNTUK MENCIPTAKAN KEMUNGKINAN KOLABORASI ARTISTIK DI TENGAH MASYARAKAT.

Sebuah festival biasanya berangkat dari sebuah pembayangan akan keniscayaan ruang-ruang kebersamaan publik; sebuah ruang bersama dimana anggota-anggota masyarakat datang dan bertemu melalui berbagai macam media (cetak, elektronik maupun bertemu muka). Sebuah festival lantas tidak hanya sekedar perayaan tetapi juga ruang yang memungkinkan anggota masyarakatnya saling berkomunikasi untuk kemudian melahirkan sebuah pendapat public, dan akhirnya melahirkan pembayangan tujuan bersama atau rasa kepemilikan yang muncul dalam wacana lokal; sebuah ruang mediasi diskusi dan/atau sebuah ruang imajiner wacana kebudayaan.

Festival seni dapat dilihat sebagai sebuah ruang bersama, baik lokal maupun asing, dan dibayangkan sebagai sesuatu entitas yang bergerak di ruang-ruang antara dalam wacana lokal, global, nasional dan juga regional. Akan tetapi wacana lokal di dalam konteks ini tidak bisa semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang berlawanan dengan global, tetapi justru terdiri dari unsur-unsur global yang saling terkait dan melibatkan penciptaan ‘lokal.’

Dengan demikian Jatiwangi Artists in Residence Festival 2010 (selanjutnya JARF 2010) yang sudah berjalan pada 26 Juni hingga 9 Juli 2010 lalu juga mengikuti premis di atas, yaitu membuat sebuah event lokal untuk memancing imajinasi dan mengubah nilai-nilai sosial yang sudah terbayang, tidak hanya pada tingkat lokal tetapi juga nasional dan regional. Festival yang dikuratori oleh Heru Hikayat ini menawarkan tema On Shared Weltanschauung. Weltanschauung adalah sebuah pemahaman akan dunia dari sebuah posisi tertentu, dalam konteks festival ini seniman dipandang sebagai seseorang yang dapat membagi pemahaman dan keahlian artistik mereka kepada masyarakat Jatiwangi.

Para seniman yang yang terlibat JARF 2010 datang dari dalam dan luar negeri: Dani Iswardana (Solo), Daniel Milan Cabrera (Mexico), Bagasworo Aryaningtyas/Forum Lenteng (Jakarta), Ghazi Alqudzy (Singapore), Haidar Afandi (Singapore), Haseena Abdul Majid (Singapore), Handi Hermansyah (Bandung), Hiroyuki Hukuoka (Japan), Indrani Ashe (USA), Jacklyn Soo (Singapore), Jeremy Chu (Singapore), Kosala Priyam Kumara (Sri Lanka), Len Jittima (Thailand), Mella Jaarsma (Yogyakarta), Mohammad Angga Wedhaswhara (Bandung), Natas Setiabudhi (Bandung), Nindityo Adipurnomo (Yogyakarta), Nurdian Ichsan (Bandung), Naresh Subash (Singapore), Paisan Plienbangchang (Thailand), Prilla Tania (Bandung), Rahmat Haron (Malaysia).

Selama sembilan hari, mereka tinggal bersama penduduk dari tujuh buah desa yang berada di dalam kecamatan Jatiwangi. Empat hari terakhir, festival diakhiri dengan presentasi karya dari seniman dan komunitas.

Pemilihan seniman yang ikut dalam festival ini tidak terbatas pada perupa tetapi juga pemusik dan penulis di mana menurut kurator untuk membuka kemungkinan-kemungkinan bentuk kolaborasi artistik yang lebih beragam.  Berbeda dengan JARF sebelumnya, JARF 2010 kerangka kuratorialnya berfokus pada karya seni sebagai perangkat untuk meningkatkan kesadaran (consciousness raising). Dengan menekankan  pada keterlibatan  masyarakat, dimana seniman hanya bertindak sebagai inisiator dan juga memfasilitasi ide-ide yang ditawarkan oleh masyarakat dari tujuh desa yang terlibat dalam proyek ini.

Sebagian besar presentasi seniman peserta festival, mengikuti konsep kuratorial yang ditawarkan oleh kurator dengan menitikberatkan konsep kolaborasi dan juga partisipasi dari masyarakat desa-desa tersebut dalam proyek artistik mereka. Pada penghujung festival, pengunjung disuguhi berbagai presentasi hasil dari beragam kolaborasi artistik tersebut di desa Jatisura, Surawangi, Sutawangi, Leweunggede, Sukaraja Wetan, Burujul Wetan dan Loji.

Dengan kerangka kuratorial yang akomodatif itu, maka menjadi menarik saat melihat bagaimana proses demokrasi dalam berkesenian ini terjadi pada prakteknya. Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo mengadakan workshop dengan anak-anak desa Sukaraja Wetan tentang konsep rumah. Dengan Nindityo, para peserta workshop dibimbing untuk membuat pemetaan visual tentang rumah berdasarkan imajinasi mereka dalam bentuk denah dan maket sederhana. Sementara Mella Jaarsma membuat film pendek dan maket dengan peserta workshop berdasarkan ide tentang rumah pertama yang ada di bumi. Presentasi proses ini kemudian dilakukan dengan menawan di malam hari di sebuah tempat pengeringan genteng yang banyak ditemui di kecamatan Jatiwangi. Para pengunjung dengan menggunakan senter dibimbing secara bergiliran oleh para ‘arsitek cilik’ untuk melihat denah rumah mereka.

Rahmat Haron selama residensinya menekankan pada semangat berdialog dalam lintas-budaya untuk memahami konteks lokal. Proyek-proyek performance Rahman bekerja sama dengan penduduk desa Jatisura yang antara lain dalam bentuk membersihkan makam lokal terlihat memunculkan semangat komunal yang menjadi jiwa festival ini. Beberapa seniman peserta seperti Naresh Subash, Jeremy Chu dan Dani Iswardhana, kolaborasi antara Prilla Tania, Hiroyuki Hukuoka dan Daniel Cabrera, Kosala Priyam dan Jacklyn Soo, bekerja sama dengan penduduk desa masing-masing untuk membuat acara satelit dari festival ini, juga merepresentasikan semangat yang sama. Pertunjukan tari, musik, pameran kecil, instalasi hingga performance art mereka menjadi menarik dari segi lintas-medium dan eksplorasi artistik secara individu, dari intervensi dari partisipan mereka dan juga dari ruang publik di mana mereka mempresentasikan proses tersebut. Di sinilah kemudian kontrol kuratorial dan artistik terlihat melonggar sehingga yang hadir justru identitas komunitas masing-masing desa.

Secara umum, JARF 2010 ini terasa menyegarkan karena seperti mengingatkan kembali akan proyek-proyek kesenian yang pernah penting di medan sosial seni rupa Indonesia. Di tengah-tengah keriuhan wacana pasar di Indonesia yang menekankan pada karya seni sebagai produk akhir, festival ini justru melihat kembali pada proses dan dialog seniman-publik yang kini semakin terasa terabaikan. Baik para seniman maupun partisipan non-seni dikondisikan untuk saling berkolaborasi dan bertukar pikiran tentang gagasan artistik maupun kondisi sosial-budaya yang mengelilingi mereka.

Namun demikian, proses dialog ini bukanlah tanpa hambatan. Pada beberapa presentasi terlihat adanya jarak antara seniman dan penonton/partisipan, di mana seniman tetap berada pada posisi tunggal sebagai pencipta makna sementara penonton/partisipan berada di pinggiran proses tersebut. Tentu hal ini dapat dimaklumi karena bagaimanapun juga tidak mudah bagi kedua belah pihak untuk menyepakati makna dan/atau pemahaman akan suatu proses/proyek, i.e. seni kontemporer, bila ia masih dilihat sebagai ekspresi simbolik yang bersifat pribadi dan independen dari lingkungannya.

JARF 2010 adalah kali ketiga even ini diselenggarakan oleh Arief Yudi, Ginggi S. Hasyim dan JAF, sebagai sebuah even kesenian festival ini tampak masih mencari identitasnya. Tawaran pola kuratorial yang baru kali ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan untuk penyelenggaraan JARF berikutnya. Secara lebih jauh tawaran kuratorial tersebut dapat melingkupi isu bagaimana sebuah festival kesenian yang berbasis komunal dapat memfasilitasi partisipasi yang setara antara publik seni dan non-seni. Isu kesetaraan dalam pertukaran pikiran dan dialog antara seniman dan komunitas menjadi terasa penting bila JARF bertujuan untuk membuka ruang-ruang pemaknaan baru dalam seni rupa kontemporer Indonesia juga mengembangkan aspirasi Jatiwangi menuju self-reliant economy.  Selamat atas JARF 2010 yang sudah lewat dan saya menanti even berikutnya di tahun 2012! [V]


Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6822)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6660)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa