|
NASIONAL
|
LANGKAH, BUMI DAN MATAHARI |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 09 December 2010 16:41 |
 | | | Bermula dari lingkaran piring dan penari, dengan titik tengah akting Putu Wijaya, yang terus berkata-kata. Komposisi tarian Tom Ibnur yang bertolak dari Tari Zapin itu kemudian mencair, mengikuti alur cerita “Langkah, Bumi dan Matahari”. Antara cahaya dan gerak, antara pesan dan komposisi dua ratus seniman (penari, penyanyi, dramawan), antara permainan garis, ruang dan bidang, menggambarkan sebuah masa depan, yang dikhayalkan bahagia. Seperti doa dan pujian untuk Teater Besar TIM dengan 1500 kursi yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Fawzi Bowo, 30 Oktober 2010. Seperti semangat yang dihasratkan untuk awal kebangkitan kembali sebuah pusat kesenian yang pernah berjasa semasa Ali Sadikin. Tarian, sejatinya kehidupan, doa sekaligus pujian, dengan cahaya kata-kata yang dilukiskan segenap hati.[V] Foto/teks: YSH
| |
|
|
|
|
25 Karya Terbaik Hasil Penjurian : Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 08 December 2010 15:51 |
| | Sebanyak 446 aplikasi masuk ke dalam pendataan panitia BaCAA ketika tanggal 1 September 2010 adalah tenggat waktu terakhir aplikasi kompetisi BaCAA bagi seluruh seniman yang mendaftarkan karya terbaiknya. Sejak terkumpulnya aplikasi tersebut, selama dua (2) bulan dilakukan proses penilaian oleh Dewan Juri yang terdiri dari Carla Bianpoen (Jurnalis Seni), Mella Jaarsma (Seniman), Agus Suwage (Seniman), Rifky Effendy (Kurator), Hendro Wiyanto (Kurator), Wiyu Wahono (Kolektor Seni) dan Syakieb Sungkar (Kolektor Seni). Para Dewan Juri menjalani dua (2) tahap proses penjurian untuk menyeleksi 446 karya yang masuk menjadi 60 karya terbaik yang kemudian diseleksi kembali menjadi 25 karya terbaik yang berhak menjadi finalis dan memperebutkan juara pertama dan tiga terbaik.
Kekaryaan yang terpilih pada seleksi awal sangat beragam dari mulai lukisan dengan medium cat minyak, akrilik, media campur, lalu gambar dengan teknik cat air, intaglio, etsa sampai cetak saring, kemudian patung, instalasi, fotografi, video, bahkan seni suara sekalipun. Proses penjurian dilakukan cukup efisien dimulai dari penyeleksian dalam gambar karya yang dikirim seniman melalui layar monitor komputer yang terproyeksi lebih besar pada dinding sampai melihat langsung detail karya, teknik, dan konsep yang menyertai kekaryaan tersebut.
Penilaian berlangsung juga dalam forum diskusi antar 7 Dewan juri yang mempunyai berbagai sudut pandang yang berbeda terhadap karya-karya pilihannya. Dengan berbagai argumen yang membangun diskusi penilaian karya terbaik, akhirnya Dewan Juri sepakat untuk memilih 25 karya terbaik yang mewakili semua pilihan ke-7 Dewan Juri tersebut. Ke-25 karya tersebut adalah :
-
“ Mooi in (Die) series : Tommorow “ oleh Aditya Novali
-
“ On-Off ” oleh Afdhal
-
“ To pack Mooi Indie “ oleh Agus Triyanto BR
-
“ Belantara Teks “ oleh Aidi Yupri
-
“ Sinema Elektronik “ oleh Anggun Priambodo
-
“ Introspeksi “ oleh AT Sitompul
-
“ Pandora “ oleh Bagus Pandega
-
“ Current, Curtain, Certain “ oleh Budi Adi Nugroho
-
“ Heart “ oleh Dita Gambiro
-
“ Sutra Kama Sutra “ oleh Eddy Susanto
-
“ Perempuan Pekerja dan Koper Merah “ oleh Endang Lestari
-
“ Today Parcel “ oleh Erianto
-
“ Mirror sees series “ oleh Erika Ernawan
-
“ Drowning in Pleasure “ oleh Erwin W. Pranata
-
“ Sesuatu dan Seseorang “ oleh Francy Vidriani
-
“ Drop- Off ‘ oleh Fransgupita
-
“ Fetish #4 “ oleh I Made Widya Diputra
-
“ Euphoria Globalisasi “ oleh I Wayan Upadana
-
“ Ayo Maju “ oleh Maria Indriasari
-
“ Jalan Merdeka “ oleh Mariam Sofrina
-
“ Revolusi dari Ruang Belakang “ oleh Mimi Fadmi
-
“ Face off “ oleh Nadya Savitri
-
“ Agent of Change “ oleh Rocka Radipa
-
“ Kesumat (seri ayat-ayat Stefan) “ oleh Stefan Buana
-
“ Signs of the Wind “ oleh Very Aprianto
Para Dewan Juri sepakat bahwa ke – 25 karya terbaik dari seniman tersebut diatas berhak masuk ke dalam finalis Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) yang akan dipamerkan di Lawangwangi, art & science estate pada Februari 2011 untuk penentuan pemenang pertama dan tiga (3) terbaik yang berhak mendapatkan residensi seniman di Eropa/Asia.
| |
|
|
|
|
|
KAIN TENUN NTT, Spirit Keluhuran dari Masa Neolitikum |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 03 November 2010 14:16 |
  | | Tomy Faisal Alim
Kain tenun tak lepas dari keseharian kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Perempuan atau lelaki, mereka masih patuh membalut tubuhnya sebagai rajutan busana budaya, sosial dan religi.
|
Terutama kaum ibu yang senantiasa menyimpan kain dan merawatnya sebagai piranti tradisi sejak masa perkawinan sebagai bagian dari mahar hingga puluhan lapis kain yang dipersiapkan untuk membungkus rapat tubuh kala datang kematian sang suami atau dirinya. Termasuk sebagai nilai bayar denda pada suatu perselisihan tertentu.
|
Di ranah tradisi dan adat istiadat, tidak sembarang motif dan warna dapat digunakan, semuanya memiliki makna dan strata sosial. Khususnya buat masyarakat Sumba, kain merupakan media ekspresi untuk memuja leluhur sebagai perwujudan terhadap kekuatan alam, bahkan diyakini pada motif tumbuhan dan hewan tertentu dapat mengusir bala. Maka dapat dipastikan bahwa setiap motif kain memiliki makna simbol yang di pelajari atas kearifan alam, sehingga setiap ragam corak senantiasa menelusuri bentuk-bentuk flora dan fauna yang memiliki nilai sakral.
Keahlian menenun masyarakat NTT diperkirakan telah berlangsung pada tahun 700 SM, sejak migrasi dari Dongson, Vietnam. Yang di tenun menggunakan alat gedongan (alat tenun yang terbuat dari bambu dan kayu) termasuk pewarnaan yang diolah dari pewarna alam. Seperti lumpur, bunga dan buah. Di antaranya adalah pohon Tarum (indigo tinctoria) untuk pewarna biru. Warna merah dari kulit pohon Mengkudu (Morinda Citrofolia) dan kunyit untuk warna kuning.
Para penenun tradisi yang menggunakan pewarna alam memiliki kebiasaan memulai kerjanya di musim hujan, karena mereka berkesempatan menuai tumbuh-tumbuhan untuk mewarnai benang hasil pintalannya dan kembali melakun pengeringan di saat musim panas. Teknik yang digunakan adalah tenun sotis yang banyak ditemukan di Kabupaten Kupang dengan ciri garis-garis ikat polos yang banyak digunakan untuk selimut Flores Timur yang dominan digunakan untuk sarung, Belu terkenal dengan sarung ragam hias geometris, Alor dengan ragam hias tradisi tenun yang cukup tua seperti ikat lungsi, Sikka yang terkenal dengan kain sebagai penukaran mas kawin, Ngada yang banyak bermotifkan hewan kuda dan gajah, Manggarai yang sarungnya dapat dikenakan oleh kaum laki dan perempuan, daerah Lembata, Sumba Barat dan Timur serta wilayah Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan. Sementara tenun buna banyak dijumpai di wilayah Kerajaan Insana.
Namun yang lebih banyak dilakukan oleh mayoritas penenun Flobamor sebutan lain dari NTT (Flores, Sumba dan Timor adalah tenun ikat. Di antaranya Ragam hias Tumpal atau Pucuk Rebung yang berasal dari masa Neolitikum atau ragam hias kaif (kait) dan kunci, di antara sekian motif yang memang dikenal di Asia Tenggara. Termasuk motif-motif yang dominan geometris dan simetris yang memiliki kemiripan pada motif potongan keramik dan perunggu yang berasal dari peninggalan kebudayaan Dongson di Flores.
Kemahiran menenun masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan spirit keluhuran terhadap alam sekitar. Saling silang yang dipengaruhi oleh pertukaran budaya yang dibawa oleh pedagang Sriwijaya, Sulawesi, bangsa China, India, Portugis hingga Belanda. Namun tidak hanya kain tenun, tapi masyarakat NTT juga tergolong mahir dalam membuat peralatan dan ragam hias yang terbuat dari perunggu. Seperti terbukti pada artefak peninggalan jaman perunggu di abad ke 6 yang menampilkan sosok perempuan berbentuk patung yang sedang menenun sambil menyusui bayinya, yang kini berada di Museum di Astralia.
Tradisi saling silang penuh denga n cinta ini telah diterima sejak berabad-abad lalu, di antaranya adalah motif geometris yang diambil dari ragam Patola dari Gujarat, ragam hias burung phoenix dari China dan motif-motif geometris lainnya seperti ular atau naga sebagai lambang kesaktian, pohon lambang kehidupan dan kematian, biawak atau buaya lambang penjaga, burung kakatua sebagai lambang musyawarah, ayam jantan sebagai roh, kuda lambang keperkasaan dan kendaraan arwah leluhur termasuk mamuli, hiasan telinga di Sumba sebagai lambang alat kelamin wanita. Dalam Lagu Tenun Sumba Timur menggambarkan:
Paranjanya latinungu, Jijilunya wunango, wotunya linguadana
paihinya pamawango, pahiamanya lapolu, paranjanya larada
tingirunya liuna, utinya lapungu, pahandunya karoaka…
serentak menenun, angkat sisirnya, rapatkan tesa
isi benang pakan, satukan irama, rentangkan tali penyangga
kuatkan pundak, kencangkan kaki… [V]
| |
|
|
|
|
|
WAHAHA KOTA DI ABAD CHAOS |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 03 November 2010 13:46 |
  | | Yuke Ardhiati
Kini, visual art menjadi raja di raja. Produk-produk raksasa kesenirupaan terlahir secara spektakuler, masal, sekaligus teramat cepat. Didukung keelokan digital. Abad creatif art, menjadi garda terdepan termasuk produk arsitektur dan derivatnya, berupa Kota dan produk lainnya.
Abad visual yang penuh gairah ini, ditengarai oleh Virginia Postrel, penulis Amerika,2004 sebagai “The Age of Aesthetics”. Kata kunci bahasa visualnya Abad Ikonik (Iconic). Di pentas panggung creatif art ini, mesin ‘industri kreatif’ dipompakan Sang Presiden, sebagai pendorong revenue nasional yang kompetitif. Pemahaman ‘industri kreatif’ menjadi bias dan salah kaprah dengan istilah ‘industri kreatif’. Budayawan Edi Sedyawati memperluas cakupannya menjadi ‘industri budaya’. Ditopang oleh Undang-Undang Suigeneris sebagai perlindungan karya komunitasnya, bila tidak ditemukan karya individu.
Kreator di Abad Visual ini, terpampang nama-nama profesional Urban Desainer, Arsitek dan Pekerja Kreatif Desain seperti Lanskap, Interior Desainer, Grafis - Komunikasi Visual Desain, Desainer Produk, Desainer Busana, Ekonom, Pembangun, Politisi, Budayawan dan lainnya. Spirit yang kudu meliputi jiwa sang kreator hanya satu, tetap di koridor penjaga ecosystem bumi. Teori Empat Lipatan Heidegger mengingatkan tugas manusia di bumi sebagai pemelihara bumi dan langit, karena adanya sifat ke-Tuhanan yang memungkinan kematian atau ketidakabadian makhluk.
Wajah Kota di Abad Estetik
Ironisnya, kini di Abad Estetis, ketika semua unsur rupa dan semua produknya berpeluang tertata secara visual. Karena pakar yang trampil secara edukatif, justru malapetaka Abad Chaos menjemput. Mereka menyungging Wajah-Wajah Kota besar dengan produk rupa yang bertumpang-tindih. Semrawut. Mengejar kesempatan, dan menghabisi ruang-ruang publiK yang harusnya dimuliakan. Termasuk Kota Jakarta. Wajah kotanya dimetaporakan dengan wajah manusia. Meninggalkan jejak. Ada keriaan, ada luka parut. Semua berjejak, Derrida menantangnya melalui teori dekonstruksi.
Kota Jakarta yang ditata genit oleh Penguasanya melalui Perancang Kota, ibarat menjadi Wajah Pesolek. Jakarta mengalami secara structural. Kota Surabaya dan Semarang berpacu menyusul. Me nuju kota pesolek yang cenderung menjadi kacau atau chaos. Barangkali, dampaknya di luar kesadaran penguasa dan perancang kota. Ketika semua alat pengubah rupa digoreskan, wajah kota memang lebih semarak, namun cenderung naïf.
Kota bisa saja berwajah cantik secara klasik. Karena dirancang secara matang oleh perancang kotanya. Tak butuh banyak riasan. Terpenting menggali potensi alamiahnya. Cukup disunting satu dua asesoris, sebagai tengaran kota. Pancaran pamor alamiah seutuhnya menampilkan secara elegan. Asesoris hadir demi penguat karakter, sekedar citra diri bukan sebagai riasan mubazir.
Wajah Kota, Letaknya Strategis di Ruang Publik!
Langsung tercitra ketika bertamu di kota itu. Ada beragam ekspresi Wajah Kota. Kota yang tidak pede dan kota yang sangat pede (baca: dewasa, matang perencanaan kotanya).Ekspresi kota yang ‘tidak percaya diri’, terbelenggu tindakan plastis dan imitatif. Desainnya tumpang tindih. Menyerobot marka jalan dan konvensi lalu-lintas. Iklan televisi berjalan yang menganggu konsentrasi pengendara, mural, graffiti, poster, baliho, menara provider, parabola, dan tiang-tiang listrik jangkung saling berkompetisi menuntut space. Belum lagi derum pedal gas ribuan motor yang menyerupai laron menyerang jalanan tanpa ampun. Mengerikan secara visual maupun auditif. Di sela-sela kepiuhan itu gerobak dorong si penjaja -pun tak ampun meminta space di antara jalur berkecepatan tinggi. Lalu, si gepeng berwajah sayu menjaja doa, dan bayi secara visual memeras haru, makin memperlambat lintasan jalanan.
Kerap kali, polutan suara motor dan oto bermuatan massa berdalih demokrasi dan sara. Penguasa menjadi tumpul ketika berhadapan dengan Wajah Kota yang di tata cantik. Sementara polutan berupa sampah rupa dan suara memukau perhatian melebihi kapasitas kota. Tidak ada lagi citra cantik bagi sebuah performa wajah yang semrawut.
Wajah Kota tergadai oleh dalih kesejahteraan. Buat siapa? Menggantungkan citra pada atribut – atribut, yang seringkali mubazir, naïf, ajaib, tak fungsional serta jauh dari pandangan estetis. Pajangan beribu label iklan di ruang publik justru memerosotkan wajahnya jauh dari cantik. Ternista oleh kapitalis demi rupiah. Tak terbantahkan, inilah Wajah Estetis didera Abad Chaos. Produk peradaban yang mengkultuskan rupiah melampaui religinya.
Wajah Kota di Abad Chaos
Kata pakar, arketipe kota yang ultra maju menunjuk wujud tak beraturan mirip gerak Brownian. Gerak acak yang tak berkesudahan. Wajah Kota tersampul oleh menara-menara provider, parabola, tiang-tiang listrik jangkung, jaringan optic. Sepanjang ruas jalan becek hingga atap penthouse bangunan jangkung. Inilah yang dicitra sebagai Wajah Kota di peradaban Abad Chaos. Ini ekspresi arketipe ke- 7 dari teori Spatial Archetype yang diperkenalkan arsitek Mimi Lobell dan Anders Sandberg. Abad The Network, World of the Infonaut. Peradaban chaos. Semua unsur serba kacau. Dalam pemikiran, dan juga produknya. Serupa gerak Brownian yang acak tak terkendali.
Perupa yang berpeluang merancang Wajah Rupa yang apik, bisa tergerus di arus Brownian yang tak terkendali. Karya perupa kondang Nyoman Nuarta, Tiga Mojang. Ikon di lingkung bangun perumahan elit di Medan Satria Kota Bekasi, Jawa Barat, dirobohkan atas nama sara. Patung Jenderal Sudirman karya perupa Sunaryo di jalan MH Thamrin. Tidak dirobohkan, tapi terabaikan. Dibiarkan ‘bisu’ dan ‘ kesepian’ di tengah arus kemacetan Jakarta dari arah Bundaran Hotel Indonesia. Tak tertebus rasa bersalah, ketika memperlakukan pahlawan gerilya itu bak ‘penunggu jalan’. Terjadi di beberapa patung, monumen dan ruang publik yang dirancang tanpa antisipatif akan chaos-nya peradaban. Membuat semua perupa dan penguasa menjadi tumpul dalam mengasah estetisnya.
Sampai Kapan Peradaban Chaos Berakhir?
Sampai suatu ketika, terjadi entropi dalam peradaban. Yang terlahir oleh sebuah intervensi dari ‘kelas yang berkuasa’. Bisa diwakili pemerintah yang legitimate, ataupn anggota masyarakat madani. Entropi lazim dipakai sebagai parameter termodinamik dalam rangka membuat suatu perancangan unit; permesinan, alat industry kimia, reactor, termasuk perancangan Wajah Kota. Entropi oleh I Made Kartika Dhiputra dirujuk sebagai tingkat ketidak-beraturan komponen system. Artinya semakin besar entropi system, semakin kacau komponen system tersebut sebelum tercapai keadaan kesetimbangan baru.
Citra peradaban chaos, ditengarai secara gamblang berupa entropi dalam perekonomian di 1999. Signifikan dan dipandang sebagai kondisi yang tengah berkelindan ketidakteraturan, kekacauan, dan konflik-konflik sosial yang bersifat latent maupun manifest, penyimpangan sosial atau anomie. Dalam dunia rancang bangun kota, entropi yang menderanya dapat diungkapkan sebagai akibat ketidakazasan terhadap produk hukum yang telah disepakati sebelumnya. Bila mengambil sample Kota Jakarta, diawali adanya ketidakazasan pada masa awal Republik ini berdiri.
Menunggu dan berharap datangnya entropi pengubah peradaban chaos ini. Bila tak kunjung tiba, bisa dijemput dimana sarangnya. Sebagai sebuah ihtiar memuliakan kehidupan di bumi. [V] Yuke Ardhiati. Arsitek, Pengajar Magister Desain FSRD Trisakti. Doktor Ilmu Sejarah peneliti Sukarno. Kandidat Doktor Arsitektur FT Universitas Indonesia
| |
|
|
|
|
|
ISTANA RADEN SALEH RIWAYATMU KINI |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 17 October 2010 23:26 |
  | | Yusuf Susilo Hartono
BANYAK SEKALI RIWAYAT YANG TERPENDAM DI DALAM BANGUNAN TUA INI. MESKI KELIHATAN SEHAT, BEKAS ISTANA RADEN SALEH INI SESUNGGUHNYA “SAKIT”.
Bekas rumah Raden Saleh saat tinggal di Batavia tahun 1850-an, mirip Istana Kecil dengan gaya Gothic Moors, yang konstruksinya meniru secara mini Ruang Ksatria di Kota Gravenhage (Ridderzaal) di Negara Belanda – tempat ia belajar melukis dan “mengabdi” pada Sang Raja selama 23 tahun. Beberapa sumber lain mengatakan bangunan ini meniru kastil di Callenbergh dekat Coburg, Jerman – salah satu tempat yang pernah didiami selama menjelajah Eropa. Dulu bangunan putih itu menjulang di antara hamparan pohon hijau, lantaran tanah “Sang Pelukis Raja” ini membentang dari Cikini, sampai Pintu Air. Namun sekarang, bangunan itu tenggelam dan terkurung oleh hutan beton metropolitan Jakarta dengan polusi tinggi.
Sejarah mencatat, tahun 1897 Istana Raden Saleh itu dibeli oleh sebuah perkumpulan yang bergerak pada pelayanan orang sakit, atas bantuan uang dari Ratu Emma (Ratu Belanda saat itu). Tanggal 12 Januari 1898 resmi menjadi Rumah Sakit Diakones yang pertama di Indonesia, diberi nama Rumah Sakit Ratu Emma, yang dalam bahasa Belandanya Koningen Emma Ziekenhuis. Dalam sejarahnya kemudian, pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), dijadikan Rumah Sakit Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Mulai tahun 1945, pengelolaannya dilakukan oleh Dienst Volks Gezondheid (DVG) Departemen Kesehatan sekarang. Pasca Kemerdekaan RI, tepatnya sejak 1948 diserahkan kepada Yayasan Kesehatan Kristen. Hingga saat ini berada di bawah Yayasan Kesehatan PGI Cikini dan menjadi RS PGI Cikini. Akan tetapi pihak rumah sakit tidak bisa seenaknya mengubah bangunan ini, karena statusnya sebagai benda cagar budaya yang diatur dan dilindungi Undang-undang Benda Cagar Budaya.
Dewasa ini Jakarta mempunyai puluhan benda cagar budaya, yang bernilai sejarah tinggi, akan tetapi jatah anggaran dari APBD untuk perawatannya amat-sangat minim. Sehingga benda-benda cagar budaya di ibukota Republik ini – termasuk bekas Istana Raden Saleh kelihatannya saja gagah dan “sehat wal afiat”, tapi sesungguhnya “sakit”. Kalau Anda tidak percaya, masuklah ke bekas Istana Raden Saleh yang terletak di kawasan Jalan Cikini Jakarta Pusat. Anda akan ketemu bagian yang lapuk, bocor, dan lain-lain. Para dokter di RS Cikini tidak bisa segera “menyuntik” atau “menginfus” bangunan itu, oleh sebab “kesehatan” bekas Istana Raden Saleh itu berada di tangan belas kasih Pemprov DKI, terutama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Ada yang bertanya, mengapa Raden Saleh setelah kembali ke Pulau Jawa tahun 1757 membangun istananya meski seperti itu? Kok tidak umpamanya mengambil artistektur Nusantara, atau lebih khusus Betawi, karena di Batavia. Apakah hal tersebut ada kaitannya dengan tali batin antara Sang Maestro dengan Belanda yang telah “membesarkan” dirinya. Pertanyaan yang meletik di seminar internasional 200 tahun Raden Saleh di bekas Istana Raden Saleh Juni lalu, memang belum terjawab, dan hilang oleh perbincangan lainnya yang lebih seru, misalnya soal lukisan Penangkapan Diponegoro yang legendaris itu. Terlepas dari itu, bekas istana tersebut, menjadi saksi bisu bagaimana seniman yang pernah menggegerkan Eropa itu harus eksis di tengah zamannya. Dan pilihan Raden Saleh yang disebut sejarawan Peter Carey sebagai sosok “Arab urung, Londo durung, Jawa tanggung --Arab belum, Belanda belum dan Jawa pun tanggung -- adalah menjadi “Pelukis Sang Raja”, berbekal pendidikan melukis terbaik di Eropa, atas jasa A.A.J. Paijen (pelukis pemerintah Belanda yang bertugas di Jawa) yang “menemukan bakat” dan mengajari pertama kali melukis dengan teknik Barat menggunakan medium pensil, krayon, kapur, pastel dan kuas, hingga Raja Belanda Willem III yang memperlakukan dia sebagai “anak” saat belajar melukis di Belanda.
Seandainya bekas Istana Raden Saleh itu bisa berkata, tentu akan bisa memberitahu kita banyak hal, sebab sampai saat ini masih banyak yang “misterius”, apalagi Indonesia sebagai pemilik sah Raden Saleh tidak punya pusat studi atau apa pun namanya tentang seniman bersangkutan. Misalnya, karya-karya master piece-nya seperti lukisan tentang banjir dan kebakaran hutan, termasuk “Penangkapan Diponegoro”, yang dibuat dan dihadiahkan untuk Raja Belanda, apakah dikerjakan di dalam istananya tersebut? Dan benarkah, seperti disinyalir Sardono W.Kusumo, tempat itu dulu juga dijadikan galeri. Sebab jika benar, berarti Raden Saleh adalah pelopor galeri di negeri ini, dan sekaligus dalam riwayat panjangnya itu ada masa keterputusan dengan sejarah galeri yang sekarang.
Tulisan sejarawan Harsya W. Bachtiar telah memberitahu kita bahwa, selama tinggal di Batavia (berarti di istananya itu-Red) selain sebagai pelukis yang fashionable, Raden Saleh diangkat sebagai konservator lukisan-lukisan koleksi pemerintah kolonial yang berada di galeri yang terletak di Istana Gubernur Jendral di Bogor. Tahun 1866, berkat campur tangan Willem III ia diangkat sebagai Kurator Koleksi Lukisan milik Pemerintah. Ia membuat sejumlah gambar, yang akhirnya berkembang menjadi 16 lithografi dan digunakan sebagai model pelajaran bagi guru sekolah pribumi. Karya ini mempunyai arti cukup penting, terutama bila mengingat semakin banyaknya jumlah sekolah yang didirikan untuk anak-anak pribumi. Sayangnya, Raden Saleh sendiri tidak mendirikan sekolah melukis apa pun di Indonesia dan untuk anak pribumi. Akankah kalau masih hidup Raden Saleh akan menjawab begini, “ Lho, tanah yang dipakai Institut Kesenian Jakarta dan kawasan Ismail Marzuki sekarang ini, kan dulunya milik saya.”
Raden Saleh yang dilahirkan di Terboyo, Semarang, Jawa Tengah sekitar tahun 1811 (ada yang bilang 1814), setelah meninggalkan istananya itu, kemudian bertempat tinggal di Bogor, dan wafat 23 April 1880. Menurut catatan sejarawan Harsya Bachtiar, meninggalnya akibat serangan trombosit. Prosesi pemakaman baru dilaksanakan pada Senin pagi, 26 April 1880. Kemudian dari kediamannya yang terletak tidak jauh dari Istana Gubernur Jendral Hindian Belanda, jenasahnya diusung ke peristirahatan terakhir di pinggiran kota Bogor, diiring begitu banyak pelayat. Di makam itulah, Juni lalu para sejarawan dari luar negeri, dan para peserta seminar berziarah, menaburkan bunga dan berdoa di atas pusaranya. [V]
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>
|
|
Page 1 of 3 |
|
|
|
|
|
|
|
|