|
Instalasi Lumpur Moelyono |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 16 December 2009 16:24 |
   | |
Bapak guru gambar yang terkenal dengan konsepnya, “senirupa penyadaran”, ini akhirnya kompromi mau berpameran di galeri komersial. Pihak galeri memberi kebebasan kepada sang seniman untuk mengeksplorasi gagasannya seputar kenangan kelam 1965. Yusuf Susilo Hartono mengulasnya
Sepeda ontel itu teronggok sendirian. Sekujur tubuhnya terbalut lumpur tebal dan mengering, seperti juga serakan bata-bata. Penunggangnya entah pergi ke mana. Hanya sepasang sandal jepitnya yang berlumpur ketinggalan dan dibiarkan bersandar di dinding kaca tembus pandang galeri itu. Di boncengan belakang sepeda itu, terdapat dua keranjang, ditutup dengan papan sirkuit elektronik, dengan kabel-kabel semrawut yang menghubungkan ke tiga corong yang melekat di bagian sepeda maupun yang dicantelkan di atap galeri. Tidak lupa, semua kabel dan corong itu pun berlumpur. Instalasi ini diberi judul Jejak Bertahan (2009).
Tak jauh dari instalasi tersebut, ada juga instalasi meja yang tergelimpang di lantai, dengan posisi daun meja bagaian dalam terlepas. Meja itu pun terbalut lumpur yang telah mengering. Beberapa langkah dari situ, ada seperangkat gamelan Jawa yang juga terbalut lumpur kering, lengkap dengan latar belakang tembok berlumpur kering. Tentu saja retak-retak lumpur kering yang muncul dari sepeda, meja, gamelan, hingga dinding tembok itu memberikan efek dramatik.
Puncak dramatik muncul ketika di tembok ditayangkan rekaman video tentang sekelompok pengrawit berlatih gamelan. Suara mereka tidak terlalu merdu, meski tetap memberi daya hibur, setidaknya bagi mereka sendiri. Sesekali di antara mereka ada yang berdiri dan berjoget. Dalam mosaik retak lumpur itu, wajah-wajah dan tubuh mereka tidak jelas benar, tapi justru dari kesamaran yang dikonsepkan itu, untuk memancing perhatian kita terhadap nasib mereka pada 1965. Judul instalasi ini adalah Ingatan Berkesenian (2009).
Itulah sebagian karya instalasi terbaru Moelyono yang dipamerkan di Koong Gallery, Jakarta, pada 12-30 September 2009. Instalasi lumpur itu dilengkapi dengan lukisan wajah-wajah berlumpur retak dan drawing hitam-putih terbaru. Juga rekaman suara kesaksian orang-orang kecil (tetangga perupa) yang pada 1965 menjadi korban, yang dikemas dalam tema “Topografi Ingatan” oleh kurator Hendro Wiyanto.
Lebih lanjut bacalah VA edisi #33
| |
|
|
|
|