SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
Contemporaneity di MoCA Shanghai. Antara Kepedulian dan Paradigma Senirupa Kontemporer Indonesia PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 15 October 2010 15:05

Melani W. Setiawan

 

Setelah marak dan ramai diperbincangkan seputar pameran senirupa kontemporer di Indonesia, pertaruhan wacana seni rupa tersebut kembali digelar di Museum of Contemporary Art Shanghai (22 Juli - 19 Agustus 2010) dengan tema “Contemporaneity” Contemporary Art in Indonesia.

Ketika itu sekali pun dataran China bersinar berkisar 36-39 derajat celcius yang mampu membuka pori dan menyengat kulit, namun juga memberi rangsangan baru buat peradaban seni rupa negeri sendiri dalam menebar pesona di negeri tirai bambu. Suatu terobosan yang terbilang besar dan kuat dalam mengusung eksistensi dan esensi seni rupa kontemporer tanah air di belahan Asia. Pertumbuhan seni rupa kian gesit berbenah dalam menancapkan semangat membangun peradaban kebudayaan yang kian dinamis. Bukan hanya semata meningkatnya angka minat mengoleksi pada lukisan tetapi juga bagaimana menempatkan seni rupa sebagai bagian dari penanda jaman yang mudah dinikmati, dengan segala elegansi dalam membuka jendela budaya dunia.

Gedung berlantai tiga dengan tampilan desain fasade kaca, memberikan peluang artistik buat Eko Nugroho dalam melabur sebagian sisi kaca sebagai karya mural. Di tambah lagi Pink Tank karya S Teddy D yang diletakkan di samping pintu utama yang kian menambah artistik gedung MoCA. Yang di isi oleh karya 25 seniman Indonesia. Di antaranya Agus Suwage, Angki Purbandono, Arahmaiani, Budi Kustarto, Chusin Setiadikara, Edwin, Entang Wiharso, Erik Pauhrizi, Faozan Rizah, F.X. Harsono, Garin Nugroho, Gede Mahendra Yasa, Gotot Prakosa, Handiwirman Saputra, I Nyoman Masriadi, Jompet Kuswidananto, Mangu Putra, Nasirun, Pintor Sirait, Putu Sutawijaya, Rudi Mantofani, Tromarama, serta Wimo Ambala Bayang.

Pameran bersama secara tunggal di satu gedung museum, merupakan pameran terbesar seniman Indonesia di Shanghai. Suatu kesempatan yang gemilang dalam memperkenalkan seni rupa terkini buat warga China dan masyarakat internasional lainnya, karena bersamaan waktu juga sedang berlangsung pameran World Expo Shanghai China 2010 yang dikunjungi oleh ratusan juta orang dari manca negara. Maka tak heran apabila MoCA dikunjungi kira-kira oleh 500 orang setiap harinya atau 15.000 pengunjung selama 28 hari. Dengan tiket seharga 20 Yuan dan 5 Yuan untuk pelajar.

Pameran seni rupa yang terdiri dari berbagai media seperti lukisan, fotografi, mural, video, patung, instalasi dan lain-lain di kuratori oleh Jim Supangkat dan kurator independent China Biljana Ciric. Upaya yang cukup memuaskan karena dapat maksimal menampilkan karya secara beragam. Di antaranya karya-karya  bergaya abstrak dan figuratif yang mampu menyemarakkan komposisi dan warna display  di ruangan museum, sehingga pengunjung MoCA dapat dengan mudah membaca peta perkembangan seni rupa Indonesia terkini.

Karya menarik lainnya adalah instalasi Jompet Kuswidananto yang menampilkan serombongan pasukan dengan figur-figur  imajiner berseragam ala kerajaan di jaman kolonial, lengkap dengan  perangkat drumband, yang menjadi karya seni multimedia sarat dengan unsur dramatikalnya. Merupakan kilas balik antara nilai-nilai tradisi dan kolonialisasi dalam sajian estetika seni kontemporer. Begitu pula  karya cast-aluminium Entang Wiharso yang menampilkan bentuk unik yang sering terinspirasi oleh relief candi di wujudkan dalam bentuk komikal menghiasi dinding museum yang memiliki spirit seputar peradaban budaya. Atau unik lainnya seperti karya Agus Suwage yang menampilkan absurditas dari realita yang digambarkan manusia-manusia sirkus dalam karya instalasi yang karikatural.

Karya lain yang cukup mengambil perhatian pengunjung adalah karya bordir Erik Pauhrizi yang merajut benang hingga mirip ikan Hiu yang diberi judul Budhist Mock Fish. Begitu pula eksotisme wayang yang dibuat dalam ukuran raksasa yang menggantung di langit-langit gedung, sehingga terkesan wayang-wayang tersebut hendak terbang. Keragaman lain adalah karya lukis dua dimensi dari Chusin Setiadikara, Gede Mahendra Yasa dan Mangu Putra sudah pasti menjadi perhatian bagi para pemerhati senirupa yang konvensional.

Di ujung tangga lantai dua, tiga seniman muda Bandung yang menyebut dirinya Tromarama memamerkan karya stop motion dari piranti videografi, yang belakangan digandrungi oleh kalangan anak muda dan mendapatkan perhatian luar biasa dari komunitas seni animasi di kalangan pegiat seni internasional.

Tak tanggung-tanggung pada paket pameran Contemporaneity juga diselenggarakan forum diskusi (14 Agustus) yang secara khusus membahas keberadaan seni rupa kontemporer terkini, khususnya di Indonesia. Yang tidak hanya mengenal satu bentuk, satu gaya atau satu faham tetapi sifatnya merayakan karya-karya hasil ciptaan yang menunjukkan semangat jaman. Bisa saja terinspirasi pop art, street art, conceptual art atau lainnya, tetapi ada pembaharuan dan tampilan yang menarik. Dengan 4 orang pembicara Jim Supangkat (kurator), Biljana Ciric (kurator), Prof. Wang Dagen (Vice Dean Shanghai Normal University of Fine Arts College) dan Ahmad Mashadi (Director, NUS Museum Singapore).

Pada kegiatan lain Arahmaiani melaporkan petualangannya selama dua minggu dalam melakukan projek seni berbasis komunitas akibat gempa bumi di Yushu dan Labo, Tibet bersama Li Mu seniman Shanghai.  Diskusi di tutup  dengan Pecha Kucha 20x20 adalah presentasi sederhana dimana para artis (Wimo Ambala Bayang, Entang Wiharso dan Ruddy Hatumena / Tromarama) memperlihatkan 20 gambar yang berjalan secara otomatis, masing-masing 20 detik.

Patut disyukuri bahwa penyelenggaraan pameran yang menelan biaya sangat tinggi ini dapat terlaksana dengan baik, tanpa harus menunggu uluran tangan dari pemerintah. Padahal perkembangan seni rupa nasional telah melesat jauh dan menjadi aset ekonomi yang terbilang baik di era informasi yang kian canggih ini. Untungnya telah ada orang yang mau peduli dalam mengembangkan seni rupa berbendera merah putih ini, sekalipun pameran akbar ini tidak untuk diperjual belikan. Dialah Haryanto Adikoesoemo, Presiden Direktur AKR Group (PT. Arthakencana Rayatama). Tokoh yang memiliki kepedulian dan respon yang baik terhadap perkembangan seni di Indonesia yang telah mensponsori seluruh kegiatan pameran serta  pemberangkatan seniman dan pemerhati seni lainnya ke Shanghai, sehingga pameran berjalan dengan baik.

Jika anda seorang pengusaha sukses mempunyai koleksi yang berkelas Internasional, apa yang dapat anda lakukan dalam mendukung dunia seni rupa Indonesia agar kebudayaan Indonesia dapat lebih sejahtera dan  tampil elegan di belahan bumi lainnya.

Sebuah renungan selain soal wacana seni rupa nasional, akankah ada semangat lain yang mau peduli untuk kembali menyajikan seni rupa tanah air ke manca negara dengan lebih beragam, lebih arif dan lebih Indonesia. [V] (sebagian informasi ini didapat dari Wiyu Wahono dan Martha Soemantri)

Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6823)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6661)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa