Yusuf Susilo Hartono
BANYAK SEKALI RIWAYAT YANG TERPENDAM DI DALAM BANGUNAN TUA INI. MESKI KELIHATAN SEHAT, BEKAS ISTANA RADEN SALEH INI SESUNGGUHNYA “SAKIT”.
Bekas rumah Raden Saleh saat tinggal di Batavia tahun 1850-an, mirip Istana Kecil dengan gaya Gothic Moors, yang konstruksinya meniru secara mini Ruang Ksatria di Kota Gravenhage (Ridderzaal) di Negara Belanda – tempat ia belajar melukis dan “mengabdi” pada Sang Raja selama 23 tahun. Beberapa sumber lain mengatakan bangunan ini meniru kastil di Callenbergh dekat Coburg, Jerman – salah satu tempat yang pernah didiami selama menjelajah Eropa. Dulu bangunan putih itu menjulang di antara hamparan pohon hijau, lantaran tanah “Sang Pelukis Raja” ini membentang dari Cikini, sampai Pintu Air. Namun sekarang, bangunan itu tenggelam dan terkurung oleh hutan beton metropolitan Jakarta dengan polusi tinggi.
Sejarah mencatat, tahun 1897 Istana Raden Saleh itu dibeli oleh sebuah perkumpulan yang bergerak pada pelayanan orang sakit, atas bantuan uang dari Ratu Emma (Ratu Belanda saat itu). Tanggal 12 Januari 1898 resmi menjadi Rumah Sakit Diakones yang pertama di Indonesia, diberi nama Rumah Sakit Ratu Emma, yang dalam bahasa Belandanya Koningen Emma Ziekenhuis. Dalam sejarahnya kemudian, pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), dijadikan Rumah Sakit Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Mulai tahun 1945, pengelolaannya dilakukan oleh Dienst Volks Gezondheid (DVG) Departemen Kesehatan sekarang. Pasca Kemerdekaan RI, tepatnya sejak 1948 diserahkan kepada Yayasan Kesehatan Kristen. Hingga saat ini berada di bawah Yayasan Kesehatan PGI Cikini dan menjadi RS PGI Cikini. Akan tetapi pihak rumah sakit tidak bisa seenaknya mengubah bangunan ini, karena statusnya sebagai benda cagar budaya yang diatur dan dilindungi Undang-undang Benda Cagar Budaya.
Dewasa ini Jakarta mempunyai puluhan benda cagar budaya, yang bernilai sejarah tinggi, akan tetapi jatah anggaran dari APBD untuk perawatannya amat-sangat minim. Sehingga benda-benda cagar budaya di ibukota Republik ini – termasuk bekas Istana Raden Saleh kelihatannya saja gagah dan “sehat wal afiat”, tapi sesungguhnya “sakit”. Kalau Anda tidak percaya, masuklah ke bekas Istana Raden Saleh yang terletak di kawasan Jalan Cikini Jakarta Pusat. Anda akan ketemu bagian yang lapuk, bocor, dan lain-lain. Para dokter di RS Cikini tidak bisa segera “menyuntik” atau “menginfus” bangunan itu, oleh sebab “kesehatan” bekas Istana Raden Saleh itu berada di tangan belas kasih Pemprov DKI, terutama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Ada yang bertanya, mengapa Raden Saleh setelah kembali ke Pulau Jawa tahun 1757 membangun istananya meski seperti itu? Kok tidak umpamanya mengambil artistektur Nusantara, atau lebih khusus Betawi, karena di Batavia. Apakah hal tersebut ada kaitannya dengan tali batin antara Sang Maestro dengan Belanda yang telah “membesarkan” dirinya. Pertanyaan yang meletik di seminar internasional 200 tahun Raden Saleh di bekas Istana Raden Saleh Juni lalu, memang belum terjawab, dan hilang oleh perbincangan lainnya yang lebih seru, misalnya soal lukisan Penangkapan Diponegoro yang legendaris itu. Terlepas dari itu, bekas istana tersebut, menjadi saksi bisu bagaimana seniman yang pernah menggegerkan Eropa itu harus eksis di tengah zamannya. Dan pilihan Raden Saleh yang disebut sejarawan Peter Carey sebagai sosok “Arab urung, Londo durung, Jawa tanggung --Arab belum, Belanda belum dan Jawa pun tanggung -- adalah menjadi “Pelukis Sang Raja”, berbekal pendidikan melukis terbaik di Eropa, atas jasa A.A.J. Paijen (pelukis pemerintah Belanda yang bertugas di Jawa) yang “menemukan bakat” dan mengajari pertama kali melukis dengan teknik Barat menggunakan medium pensil, krayon, kapur, pastel dan kuas, hingga Raja Belanda Willem III yang memperlakukan dia sebagai “anak” saat belajar melukis di Belanda.
Seandainya bekas Istana Raden Saleh itu bisa berkata, tentu akan bisa memberitahu kita banyak hal, sebab sampai saat ini masih banyak yang “misterius”, apalagi Indonesia sebagai pemilik sah Raden Saleh tidak punya pusat studi atau apa pun namanya tentang seniman bersangkutan. Misalnya, karya-karya master piece-nya seperti lukisan tentang banjir dan kebakaran hutan, termasuk “Penangkapan Diponegoro”, yang dibuat dan dihadiahkan untuk Raja Belanda, apakah dikerjakan di dalam istananya tersebut? Dan benarkah, seperti disinyalir Sardono W.Kusumo, tempat itu dulu juga dijadikan galeri. Sebab jika benar, berarti Raden Saleh adalah pelopor galeri di negeri ini, dan sekaligus dalam riwayat panjangnya itu ada masa keterputusan dengan sejarah galeri yang sekarang.
Tulisan sejarawan Harsya W. Bachtiar telah memberitahu kita bahwa, selama tinggal di Batavia (berarti di istananya itu-Red) selain sebagai pelukis yang fashionable, Raden Saleh diangkat sebagai konservator lukisan-lukisan koleksi pemerintah kolonial yang berada di galeri yang terletak di Istana Gubernur Jendral di Bogor. Tahun 1866, berkat campur tangan Willem III ia diangkat sebagai Kurator Koleksi Lukisan milik Pemerintah. Ia membuat sejumlah gambar, yang akhirnya berkembang menjadi 16 lithografi dan digunakan sebagai model pelajaran bagi guru sekolah pribumi. Karya ini mempunyai arti cukup penting, terutama bila mengingat semakin banyaknya jumlah sekolah yang didirikan untuk anak-anak pribumi. Sayangnya, Raden Saleh sendiri tidak mendirikan sekolah melukis apa pun di Indonesia dan untuk anak pribumi. Akankah kalau masih hidup Raden Saleh akan menjawab begini, “ Lho, tanah yang dipakai Institut Kesenian Jakarta dan kawasan Ismail Marzuki sekarang ini, kan dulunya milik saya.”
Raden Saleh yang dilahirkan di Terboyo, Semarang, Jawa Tengah sekitar tahun 1811 (ada yang bilang 1814), setelah meninggalkan istananya itu, kemudian bertempat tinggal di Bogor, dan wafat 23 April 1880. Menurut catatan sejarawan Harsya Bachtiar, meninggalnya akibat serangan trombosit. Prosesi pemakaman baru dilaksanakan pada Senin pagi, 26 April 1880. Kemudian dari kediamannya yang terletak tidak jauh dari Istana Gubernur Jendral Hindian Belanda, jenasahnya diusung ke peristirahatan terakhir di pinggiran kota Bogor, diiring begitu banyak pelayat. Di makam itulah, Juni lalu para sejarawan dari luar negeri, dan para peserta seminar berziarah, menaburkan bunga dan berdoa di atas pusaranya. [V]
| |