Yuke Ardhiati
Kini, visual art menjadi raja di raja. Produk-produk raksasa kesenirupaan terlahir secara spektakuler, masal, sekaligus teramat cepat. Didukung keelokan digital. Abad creatif art, menjadi garda terdepan termasuk produk arsitektur dan derivatnya, berupa Kota dan produk lainnya.
Abad visual yang penuh gairah ini, ditengarai oleh Virginia Postrel, penulis Amerika,2004 sebagai “The Age of Aesthetics”. Kata kunci bahasa visualnya Abad Ikonik (Iconic). Di pentas panggung creatif art ini, mesin ‘industri kreatif’ dipompakan Sang Presiden, sebagai pendorong revenue nasional yang kompetitif. Pemahaman ‘industri kreatif’ menjadi bias dan salah kaprah dengan istilah ‘industri kreatif’. Budayawan Edi Sedyawati memperluas cakupannya menjadi ‘industri budaya’. Ditopang oleh Undang-Undang Suigeneris sebagai perlindungan karya komunitasnya, bila tidak ditemukan karya individu.
Kreator di Abad Visual ini, terpampang nama-nama profesional Urban Desainer, Arsitek dan Pekerja Kreatif Desain seperti Lanskap, Interior Desainer, Grafis - Komunikasi Visual Desain, Desainer Produk, Desainer Busana, Ekonom, Pembangun, Politisi, Budayawan dan lainnya. Spirit yang kudu meliputi jiwa sang kreator hanya satu, tetap di koridor penjaga ecosystem bumi. Teori Empat Lipatan Heidegger mengingatkan tugas manusia di bumi sebagai pemelihara bumi dan langit, karena adanya sifat ke-Tuhanan yang memungkinan kematian atau ketidakabadian makhluk.
Wajah Kota di Abad Estetik
Ironisnya, kini di Abad Estetis, ketika semua unsur rupa dan semua produknya berpeluang tertata secara visual. Karena pakar yang trampil secara edukatif, justru malapetaka Abad Chaos menjemput. Mereka menyungging Wajah-Wajah Kota besar dengan produk rupa yang bertumpang-tindih. Semrawut. Mengejar kesempatan, dan menghabisi ruang-ruang publiK yang harusnya dimuliakan. Termasuk Kota Jakarta. Wajah kotanya dimetaporakan dengan wajah manusia. Meninggalkan jejak. Ada keriaan, ada luka parut. Semua berjejak, Derrida menantangnya melalui teori dekonstruksi.
Kota Jakarta yang ditata genit oleh Penguasanya melalui Perancang Kota, ibarat menjadi Wajah Pesolek. Jakarta mengalami secara structural. Kota Surabaya dan Semarang berpacu menyusul. Me nuju kota pesolek yang cenderung menjadi kacau atau chaos. Barangkali, dampaknya di luar kesadaran penguasa dan perancang kota. Ketika semua alat pengubah rupa digoreskan, wajah kota memang lebih semarak, namun cenderung naïf.
Kota bisa saja berwajah cantik secara klasik. Karena dirancang secara matang oleh perancang kotanya. Tak butuh banyak riasan. Terpenting menggali potensi alamiahnya. Cukup disunting satu dua asesoris, sebagai tengaran kota. Pancaran pamor alamiah seutuhnya menampilkan secara elegan. Asesoris hadir demi penguat karakter, sekedar citra diri bukan sebagai riasan mubazir.
Wajah Kota, Letaknya Strategis di Ruang Publik!
Langsung tercitra ketika bertamu di kota itu. Ada beragam ekspresi Wajah Kota. Kota yang tidak pede dan kota yang sangat pede (baca: dewasa, matang perencanaan kotanya).Ekspresi kota yang ‘tidak percaya diri’, terbelenggu tindakan plastis dan imitatif. Desainnya tumpang tindih. Menyerobot marka jalan dan konvensi lalu-lintas. Iklan televisi berjalan yang menganggu konsentrasi pengendara, mural, graffiti, poster, baliho, menara provider, parabola, dan tiang-tiang listrik jangkung saling berkompetisi menuntut space. Belum lagi derum pedal gas ribuan motor yang menyerupai laron menyerang jalanan tanpa ampun. Mengerikan secara visual maupun auditif. Di sela-sela kepiuhan itu gerobak dorong si penjaja -pun tak ampun meminta space di antara jalur berkecepatan tinggi. Lalu, si gepeng berwajah sayu menjaja doa, dan bayi secara visual memeras haru, makin memperlambat lintasan jalanan.
Kerap kali, polutan suara motor dan oto bermuatan massa berdalih demokrasi dan sara. Penguasa menjadi tumpul ketika berhadapan dengan Wajah Kota yang di tata cantik. Sementara polutan berupa sampah rupa dan suara memukau perhatian melebihi kapasitas kota. Tidak ada lagi citra cantik bagi sebuah performa wajah yang semrawut.
Wajah Kota tergadai oleh dalih kesejahteraan. Buat siapa? Menggantungkan citra pada atribut – atribut, yang seringkali mubazir, naïf, ajaib, tak fungsional serta jauh dari pandangan estetis. Pajangan beribu label iklan di ruang publik justru memerosotkan wajahnya jauh dari cantik. Ternista oleh kapitalis demi rupiah. Tak terbantahkan, inilah Wajah Estetis didera Abad Chaos. Produk peradaban yang mengkultuskan rupiah melampaui religinya.
Wajah Kota di Abad Chaos
Kata pakar, arketipe kota yang ultra maju menunjuk wujud tak beraturan mirip gerak Brownian. Gerak acak yang tak berkesudahan. Wajah Kota tersampul oleh menara-menara provider, parabola, tiang-tiang listrik jangkung, jaringan optic. Sepanjang ruas jalan becek hingga atap penthouse bangunan jangkung. Inilah yang dicitra sebagai Wajah Kota di peradaban Abad Chaos. Ini ekspresi arketipe ke- 7 dari teori Spatial Archetype yang diperkenalkan arsitek Mimi Lobell dan Anders Sandberg. Abad The Network, World of the Infonaut. Peradaban chaos. Semua unsur serba kacau. Dalam pemikiran, dan juga produknya. Serupa gerak Brownian yang acak tak terkendali.
Perupa yang berpeluang merancang Wajah Rupa yang apik, bisa tergerus di arus Brownian yang tak terkendali. Karya perupa kondang Nyoman Nuarta, Tiga Mojang. Ikon di lingkung bangun perumahan elit di Medan Satria Kota Bekasi, Jawa Barat, dirobohkan atas nama sara. Patung Jenderal Sudirman karya perupa Sunaryo di jalan MH Thamrin. Tidak dirobohkan, tapi terabaikan. Dibiarkan ‘bisu’ dan ‘ kesepian’ di tengah arus kemacetan Jakarta dari arah Bundaran Hotel Indonesia. Tak tertebus rasa bersalah, ketika memperlakukan pahlawan gerilya itu bak ‘penunggu jalan’. Terjadi di beberapa patung, monumen dan ruang publik yang dirancang tanpa antisipatif akan chaos-nya peradaban. Membuat semua perupa dan penguasa menjadi tumpul dalam mengasah estetisnya.
Sampai Kapan Peradaban Chaos Berakhir?
Sampai suatu ketika, terjadi entropi dalam peradaban. Yang terlahir oleh sebuah intervensi dari ‘kelas yang berkuasa’. Bisa diwakili pemerintah yang legitimate, ataupn anggota masyarakat madani. Entropi lazim dipakai sebagai parameter termodinamik dalam rangka membuat suatu perancangan unit; permesinan, alat industry kimia, reactor, termasuk perancangan Wajah Kota. Entropi oleh I Made Kartika Dhiputra dirujuk sebagai tingkat ketidak-beraturan komponen system. Artinya semakin besar entropi system, semakin kacau komponen system tersebut sebelum tercapai keadaan kesetimbangan baru.
Citra peradaban chaos, ditengarai secara gamblang berupa entropi dalam perekonomian di 1999. Signifikan dan dipandang sebagai kondisi yang tengah berkelindan ketidakteraturan, kekacauan, dan konflik-konflik sosial yang bersifat latent maupun manifest, penyimpangan sosial atau anomie. Dalam dunia rancang bangun kota, entropi yang menderanya dapat diungkapkan sebagai akibat ketidakazasan terhadap produk hukum yang telah disepakati sebelumnya. Bila mengambil sample Kota Jakarta, diawali adanya ketidakazasan pada masa awal Republik ini berdiri.
Menunggu dan berharap datangnya entropi pengubah peradaban chaos ini. Bila tak kunjung tiba, bisa dijemput dimana sarangnya. Sebagai sebuah ihtiar memuliakan kehidupan di bumi. [V] Yuke Ardhiati. Arsitek, Pengajar Magister Desain FSRD Trisakti. Doktor Ilmu Sejarah peneliti Sukarno. Kandidat Doktor Arsitektur FT Universitas Indonesia
| |