Tomy Faisal Alim
Kain tenun tak lepas dari keseharian kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Perempuan atau lelaki, mereka masih patuh membalut tubuhnya sebagai rajutan busana budaya, sosial dan religi.
|
Terutama kaum ibu yang senantiasa menyimpan kain dan merawatnya sebagai piranti tradisi sejak masa perkawinan sebagai bagian dari mahar hingga puluhan lapis kain yang dipersiapkan untuk membungkus rapat tubuh kala datang kematian sang suami atau dirinya. Termasuk sebagai nilai bayar denda pada suatu perselisihan tertentu.
|
Di ranah tradisi dan adat istiadat, tidak sembarang motif dan warna dapat digunakan, semuanya memiliki makna dan strata sosial. Khususnya buat masyarakat Sumba, kain merupakan media ekspresi untuk memuja leluhur sebagai perwujudan terhadap kekuatan alam, bahkan diyakini pada motif tumbuhan dan hewan tertentu dapat mengusir bala. Maka dapat dipastikan bahwa setiap motif kain memiliki makna simbol yang di pelajari atas kearifan alam, sehingga setiap ragam corak senantiasa menelusuri bentuk-bentuk flora dan fauna yang memiliki nilai sakral.
Keahlian menenun masyarakat NTT diperkirakan telah berlangsung pada tahun 700 SM, sejak migrasi dari Dongson, Vietnam. Yang di tenun menggunakan alat gedongan (alat tenun yang terbuat dari bambu dan kayu) termasuk pewarnaan yang diolah dari pewarna alam. Seperti lumpur, bunga dan buah. Di antaranya adalah pohon Tarum (indigo tinctoria) untuk pewarna biru. Warna merah dari kulit pohon Mengkudu (Morinda Citrofolia) dan kunyit untuk warna kuning.
Para penenun tradisi yang menggunakan pewarna alam memiliki kebiasaan memulai kerjanya di musim hujan, karena mereka berkesempatan menuai tumbuh-tumbuhan untuk mewarnai benang hasil pintalannya dan kembali melakun pengeringan di saat musim panas. Teknik yang digunakan adalah tenun sotis yang banyak ditemukan di Kabupaten Kupang dengan ciri garis-garis ikat polos yang banyak digunakan untuk selimut Flores Timur yang dominan digunakan untuk sarung, Belu terkenal dengan sarung ragam hias geometris, Alor dengan ragam hias tradisi tenun yang cukup tua seperti ikat lungsi, Sikka yang terkenal dengan kain sebagai penukaran mas kawin, Ngada yang banyak bermotifkan hewan kuda dan gajah, Manggarai yang sarungnya dapat dikenakan oleh kaum laki dan perempuan, daerah Lembata, Sumba Barat dan Timur serta wilayah Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan. Sementara tenun buna banyak dijumpai di wilayah Kerajaan Insana.
Namun yang lebih banyak dilakukan oleh mayoritas penenun Flobamor sebutan lain dari NTT (Flores, Sumba dan Timor adalah tenun ikat. Di antaranya Ragam hias Tumpal atau Pucuk Rebung yang berasal dari masa Neolitikum atau ragam hias kaif (kait) dan kunci, di antara sekian motif yang memang dikenal di Asia Tenggara. Termasuk motif-motif yang dominan geometris dan simetris yang memiliki kemiripan pada motif potongan keramik dan perunggu yang berasal dari peninggalan kebudayaan Dongson di Flores.
Kemahiran menenun masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan spirit keluhuran terhadap alam sekitar. Saling silang yang dipengaruhi oleh pertukaran budaya yang dibawa oleh pedagang Sriwijaya, Sulawesi, bangsa China, India, Portugis hingga Belanda. Namun tidak hanya kain tenun, tapi masyarakat NTT juga tergolong mahir dalam membuat peralatan dan ragam hias yang terbuat dari perunggu. Seperti terbukti pada artefak peninggalan jaman perunggu di abad ke 6 yang menampilkan sosok perempuan berbentuk patung yang sedang menenun sambil menyusui bayinya, yang kini berada di Museum di Astralia.
Tradisi saling silang penuh denga n cinta ini telah diterima sejak berabad-abad lalu, di antaranya adalah motif geometris yang diambil dari ragam Patola dari Gujarat, ragam hias burung phoenix dari China dan motif-motif geometris lainnya seperti ular atau naga sebagai lambang kesaktian, pohon lambang kehidupan dan kematian, biawak atau buaya lambang penjaga, burung kakatua sebagai lambang musyawarah, ayam jantan sebagai roh, kuda lambang keperkasaan dan kendaraan arwah leluhur termasuk mamuli, hiasan telinga di Sumba sebagai lambang alat kelamin wanita. Dalam Lagu Tenun Sumba Timur menggambarkan:
Paranjanya latinungu, Jijilunya wunango, wotunya linguadana
paihinya pamawango, pahiamanya lapolu, paranjanya larada
tingirunya liuna, utinya lapungu, pahandunya karoaka…
serentak menenun, angkat sisirnya, rapatkan tesa
isi benang pakan, satukan irama, rentangkan tali penyangga
kuatkan pundak, kencangkan kaki… [V]
|