SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
PHOTOGRAPHY
FOTOGRAFI DOKUMENTER KONTEMPORER MALAYSIA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 November 2010 14:06

Zhuang Wubin

SEJAK MUNCULNYA WACANA KRITIS DI DEKADE 1990-AN OLEH REDZA PIYADESA DAN TK SABAPATHY DI MEDAN SOSIAL SENIRUPA MALAYSIA, PERKEMBANGAN PESAT DALAM SENIRUPA KONTEMPORER MALAYSIA PUN TERJADI. TAPI SEPERTINYA PERKEMBANGAN INI ENGGAN MENGHINGGAPI FOTOGRAFI KONTEMPORER. BAHKAN PARA PEMILIK GALERI PRIVAT MALAYSIA PUN SEPERTINYA TIDAK MENGENAL GENRE INI.

Saat perupa Eiffel Chong --yang lahir pada tahun 1977-- memperlihatkan karya-karyanya kepada para pemilik galeri terkemuka di Malaysia, ia kerap kali mendapatkan komentar bahwa karya-karyanya dengan mudah diciptakan oleh orang yang memiliki kamera telepon genggam. Komentar ini muncul berdasarkan asumsi bahwa para fotografer yang memanipulasi karyanya dengan photoshop adalah fotografer yang lebih handal daripada mereka yang memotret secara riil terlepas dari kerangka pemikiran penciptaan karyanya. Dengan kata lain, galeri-galeri ini akan menghiraukan karya-karya fotografer seperti Henri Cartier-Bresson atau pun Daido Moriyama. Mereka pun akan mereduksi narasi fotografi kontemporer dibandingkan dengan karya yang dihasilkan melalui teknik dan teknologi. Ironisnya hal ini bukanlah hal yang asing mengingat dominasi fotografer-fotografer salon dan klub-klub amatir fotografi di Malaysia.

Untungnya, para fotografer kontemporer muda di Kuala Lumpur telah memiliki wadahnya sendiri. Sebut saja biennale KLIP atau Kuala Lumpur International Photography di tahun 2005 yang walaupun singkat daya hidupnya juga telah memberi ruang bagi munculnya Francophile Angkor Photography Festival di Kamboja; atau Central Market Annexe di bulan Januari 2007 yang menjadi wadah bagi perupa-perupa lokal untuk memamerkan karya-karya mereka. Venue ini sendiri telah memamerkan beberapa pameran fotografi sepanjang tahunnya. Dan program direkturnya kebetulan adalah seorang fotografer yang handal.

Ajang seperti CUT: New Photography from Southeast Asia yang pertama kali dilaksanakan pada tahun 2008 di Valentine Willie Fine Art telah menjadi ajang reguler dalam kalender senirupa Malaysia. CUT sendiri berusaha untuk menampilkan “survey fotografer-fotografer baru” yang diharapkan “mempersembahkan respon-respon canggih dari para perupa-fotografer di kawasan yang mencari jawaban menyeluruh atas apa yang kita ketahui tentang diri kita dan masyarakat kita mengingat fotografi sekarang bukanlah semata-mata ala dokumentasi tapi juga medium untuk mempertanyakan isu-isu kontemporer” seperti yang diungkapkan oleh kurator ajang ini, Simon Soon.

Ajang-ajang seperti ini merupakan perkembangan positif dari medium fotografi yang kerapkali digunakan “semata-mata dokumentasi” di wilayah Asia Tenggara yang merupakan warisan penjajah kolonial. Fotografi memang pernah menjadi perpanjangan tangan kekuasaan kolonial.

Dan juga sangatlah wajar untuk menilai para fotografer muda kawasan ini akan melanggengkan stereotipe tertentu pada karya-karya mereka. Sebuah pengamatan prematur yang dalam melihat perkembangan fotografi di kawasan Asia Tenggara ini.

Terdidik di bidang ekonomi perburuhan di Australia, Azrul K. Abdullah kini adalah salah satu fotografer arsitektur terkemuka di Malaysia. Fotografi arsitektur adalah lahan pekerjaan yang sangat menggiurkan mengingat berkembangnya industri properti di kawasan ini. Tidak seperti teman sejawatnya, Abdullah memotret berbagai bangunan-bangunan tua dan yang masih berfungsi untuk karya-karya personalnya. Karya-karya fotografer yang kerap disebut sebagai accidental activist banyak digunakan dalam berbagai kampanye pelestarian bangunon kuno di Kuala Lumpur. “Tidak seperti Malaka atau Penang, Kuala Lumpur adalah tempat yang temporal di mana banyak warganya tidak berasal dari kota tersebut. Mereka bermukim di Kuala Lumpur karena alasan ekonomi dan meninggalkan kota kelahirannya”, ungkap sang fotografer.

Selain mengabadikan berbagai bangunan kuno ala kolonial yang menjadi warisan budaya, Abdullah juga sering mengabadikan berbagai bangunan yang masih berfungsi. Dalam seri karyanya yang berjudul Four Buildings yang dia kerjakan sepanjang tahun 2000-2004, ia mengamati tangga berjalan dan pavement di empat bangunan di Kuala Lumpur.  Berbeda dengan karya-karya komersialnya yang kerap kali lebih “berwarna”, karya-karya personalnya menggunakan cahaya natural dan cenderung memilih film hitam putih analog untuk menyampaikan beberapa nilai dalam karyanya.

Hal ini muncul jelas terlihat dalam karya Pekeliling (2004 sampai sekarang) yang mendokumentasikasikan proyek perumahan publik pertama di Kuala Lumpur. Kehadiran bangunan yang terkesan kokoh ini menyimpan berbagai macam aspek menarik mengingat keberadaannya yang makin ditinggalkan oleh warganya. Sehingga sampai kini, ia menunggu penghancuran kompleks perumahan tersebut sebagai penghujung seri ini.

Serupa dengan Abdullah, K. Azril Ismail pun tertarik dengan warisan budaya Kuala Lumpur dalam karya-karyanya. Tapi tempat-tempat yang menjadi pusat perhatiannya adalah tempat-tempat yang memiliki bobot kultural dan historis. Azril sendiri adalah lulusan jurusan fotografi Columbus College of Art and Design di Ohio. Ia dididik oleh Duncan Snyder yang spesialisasinya adalah fotografi format besar yang tentunya mempengaruhi karya-karya Ismail di kemudian hari. Salah satu tujuannya sebagai fotografer adalah mendapatkan “kualitas meditatif “ dari karya foto, tapi konsep ini tidaklah berguna di Malaysia. Sebagai komoditi, fotografi haruslah mudah dan murah. Sepulangnya ia ke Kuala Lumpur di tahun 2002, Ismail tak henti-henti memotret berbagai ajang untuk tugas-tugas editorial. Jepretan fotonya hanyalah mampu membayar makan siangnya. Dan kegamangan pun melandanya. Ia pun kemudian mulai “melihat” Penjara Pudu sebagai penjara tertua dan terlama di Kuala Lumpur.

Penjara Pudu dibangun pada tahun 1891 dan selesai pada tahun 1895. Penjara ini terdiri dari 240 sel yang tersebar di tiga lantai, sebuah rumah sakit, sebuah bangunan kantor dan sebuah execution chamber di atas 10 hektar tanah. Sejak 1895, penjara ini telah menjadi tempat tahanan kriminal, politis, perang (semasa pendudukan Jepang). Penjara yang dirancang bagi 600 tahanan ini (dan pernah menampung sampai 6.000 tahanan) telah dikosongkan di penghujung 1996.

Melalui koneksi ayahnya yang kebetulan pengacara Maybank, Ismail berbekal kamera medium format Bronica SQ-Ai dan 100 rol film Ilford, ia pun memotret proyek Penjara Pudu ini selama empat bulan. Dan kemudian lahirlah seri karya Ismail yang berjudul Pudu Jail’s Graffiti: Aesthetics Beyond the Walls (2002 – 03). Secara garis besar ada dua kelompok imaji dalam seri ini. Pertama adalah karya-karya yang menggambarkan detil dari Penjara Pudu yang menjadi fokus utama seri ini; sementara yang lain adalah foto-foto grafiti yang ada di dinding penjara tersebut. Karya-karya jenis kedua yang direkamnya dengan bukaan besar dan tanpa flash secara personal memberikannya sebuah ranah dan waktu yang terbebas dari hiruk pikuk dunia fotografi komersial. Karya-karya inilah, yang sekali lagi, memberikan kesempatan langka untuknya berkutat dengan pikiran-pikirannya.

Setelah menyelesaikan seri ini, Ismail pun kembali ke rutinitasnya sebagai fotografer lepas waktu. Dari tahun 2004-2006, ia pun melanjutkan kuliah magisternya di University of Malaya dan tesisnya adalah karya grafiti yang ia potret untuk seri Penjara Pudu. Sejak tahun 2007, ia pun bekerja sebagai dosen di FSRD MARA University of Techonology.

Saat kita melihat subject matter dan visual style para fotografer ini, kita mendapat ketumpangtindihan dalam karya-karya baik Abdullah, Ismail dan juga Eiffel Chong. Seperti Abdullah, Chong juga memotret flat di Pekeliling. Karya-karyanya dirangkum dalam sebuah seri yang bertajukkan This used to be my Playground (2005 –  sekarang).Seperti juga karya-karya Abdullah dan Ismail, Chong pun meniadakan keberadaan manusia dalam karya-karyanya. Terlepas dari strategi visualnya, ia sebenarnya sangat tertarik untuk melihat keberadaan manusia dan ingatannya atas ruang; tapi pendekatannya berbeda dengan pendekatan sosial-politis yang dimiliki oleh Abdullah. Karya-karya Chong cenderung ahistoris. Terinspirasikan oleh buku Roland Barthes, Camera Lucida, karya-karya Chong banyak membicarakan tema kematian yang implisit dalam kegiatan memotret. Hal inilah yang membedakannya dengan teman-teman sejawatnya yang cenderung mengadopsi keberadaan fotografi dokumenter vis a vis karya-karya pelestarian warisan budaya mereka.

Selain foto-foto sekitar flat Peeliling,  This used to be my Playground juga menampikan karya-karya tentang kampus Universitas Limkokwing yang kosong,  penambangan besi di Dengkil, Rumah Sakit Lady Templer di Cheras. Satu hal yang menjadi kesamaan tempat-tempat ini adalah kesemuanya adalah bangunan terlantar. Ia tidak memotret dengan kesadaran bahwa ia melalukan sebuah dokumentasi warisan budaya tetapi ia melihat bahwa tempat-tempat ini akan beralih fungsi menjadi sebuah tempat yang berbeda. Sebagai sebuah dokumentasi, kita pun dapat melihat benih-benih masa depan dalam karyanya. “ Yang saya mau adalah menghasilkan imaji yang “jujur” di mana sebenarnya tidak ada satu pun yang terjadi di level “visual”, ungkap Chong. Sebelum ia memperoleh gelar sarjana S1 di  London College of Communication, ia adalah penggemar fotografi jalanan bak wartawan foto Magnum yang berkerja dengan kamera 35mm. Pendidikannya menilai metoda ini menghasilkan karya-karya yang tak kritis dan “pintar”. Untuk memenuhi persyaratan akademinya, ia pun terpaksa mengubah pendekatannya. Untuk gelar masternya di bidang Contemporary Art and Design Practice dari the University of East London, ia pun mengerjakan Institutionalized Care (2005 – 06), proyek besar pertamanya di Kuala Lumpur. Dengan menggunakan kamera Mamiya 6x7, karya-karya seri ini menampilkan berbagai peralatan dan instalasi yang mengartikulasikan penilaiannya yang ambivalen terhadap tempat-tempat ini. Karya-karya ini pun kemudian ditampilkan di CUT dan Singapore Internasional Photography Festival.

Berbeda dengan Chong, Tan Chee Hon yang lahir di Muar adalah seorang fotografer jalanan dalam artian tradisional. Dilahirkan di sebuah keluarga Hokkien yang bekerja sebagai penyadap karet, Tan pindah ke ibukota Malaysia di tahun1995 untuk belajar di Kuala Lumpur College of Art. Sebagai mahasiswa Jurusan Seni Murni, ia pun diharuskan untuk mengambil mata kuliah Fotografi Dasar. Setelah kelulusannya di tahun 1997, Tan berusaha menjadi pelukis dan fotografer secara profesional. Selama setahun antara tahun 1999 sampai 2000, sambil bekerja sebagai penjaga toko seorang seniman di Central Market, Tan berkolaborasi menyediakan foto bagi seorang kolumnis China Press, sebuah koran lokal berbahasa Mandarin. Pekerjaan inilah yang memaksanya untuk mendapatkan ide-ide segar secara rutin dan juga memperdalaman keahliannya dalam bidang fotografi. Kemudian, Tan menjadi seorang diarist dari kota angkatnya ini walaupun pijakan awalnya bukanlah untuk menggambarkan kota itu sendiri. Karya-karyanya yang kebanyakan dipotret hitam putih dengan kamera 35mm menjadi bagian dari proyek besarnya yang berjudul  Kuala Lumpur yang telah dimulainya di tahun 2004 dan berlangsung sampai sekarang.

Kini cukuplah sulit untuk membayangkan Tan sebagai seorang perupa yang berjuang untuk hidup dengan menjual lukisannya di beberapa pameran. Hal ini secara sadar dihindari Tan yang karya-karya fotonya telah dipamerkan dalam ajang seperti Chobi Mela III di Dhaka atau pun Month of Photography di Tokyo. Berjalan-jalan di kota dan memotret adalah rutinitas paginya. Tapi tetap, seni adalah hidupnya.

Dedikasi Tan ini juga dipunyai oleh Abdul Rahman Roslan yang lahir di Kuala Lumpur pada tahun 1985. Ia adalah fotografer yang mampu menjawab sebuah permasalahan yang rumit. Di malaysia, wartawan foto berkerja secara eksklusif dengan media atau pun kantor berita. Kemungkinan disebabkan oleh beratnya beban kerja mereka, kebanyakan warta foto tidak memiliki proyek dokumenter jangka panjang tentang negaranya. Di era digital seperti sekarang ini di mana semua orang menjadi fotografer dan proyek-proyek jangka pendek biasanya terlihat dangkal dan superfisial. Sebelum Roslan ada Nikt Wong yang berjuang menjadi fotografer dokumenter lepas waktu untuk beberapa tahun. Kebanyakan proyek Nikt difoto di luar Malaysia. Ia pun terpaksa menerima pekerjaan fotografi komersial setelah ia menikah.

PATI adalah sebuah proyek dokumenter yang tumbuh dari sebuah proyek jangka pendek milik Roslan yang menceritakan pengungsi China yang pergi ke Myanmar melalui Malaysia. Proyek yang ia mulai dari tahun 2007 ini masih ia lanjutkan sampai sekarang. PATI sendiri adalah sebuah singkatan Pendatang Tanpa Izin. Proyek ini pun bermula dari keingintahuannya tentang nasib para imigran. Jelaslah bahwa karya Roslan kental terpengaruhi oleh tradisi fotografi humanis. Halal (2008 – sekarang) adalah proyeknya yang lain yang sangat personal. Sebagai seorang muslim, ia menilai liputan tentang Islam dari beberapa fotografer terkenal seperti John Stanmeyer dan James Nachtwey sangatlah superfisial. “Islam bukanlah satu ditambah satu”, ungkap Roslan. “Kamu tidak dapat mereduksinya menjadi sesuatu yang sederhana”.

Dalam hal ini, Halal adalah reaksinya yang menentang pernyataan ini. Ia mendokumentasikan berbagai aspek tentang Islam di Malaysia.

Secara garus besar, jelaslah terlihat bahwa pendekatan artistik yang dilakukan oleh para fotografer yang telah disebutkan sebelumnya ini sangat beragam. Oleh sebab itu, sulit untuk merangkum karya-karya mereka dalam satu pernyataan. Walaupun demikian, dibandingkan fotografi warisan kolonial, tidak ada satu pun proyek-proyek dokumenter yang dilakukan fotografer yang terlihat eksotis atau pun menampilkan sebuah hegemoni. Sebaliknya, karya-karya fotografer ini seakan-akan memberikan ruang bagi perbedaan baik lokal maupun asing. Dan hal inilah yang mempersatukan fotografer-fotografer dokumenter ini. [V]
 
 
Jejak Rutinitas yang Easy Going PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 19 October 2010 11:48

Oleh Satmoko Budi Santoso

DUA orang perempuan itu duduk santai. Seperti sedang melepas lelah. Mereka duduk di antara batang pohon yang cukup besar. Seperti sedang bercakap-cakap meskipun jarak duduk mereka agak berjauhan.

Gambaran visual semacam itu adalah hasil jepretan fotografer Desiree Harahap. Dalam seri karya foto tentang perempuan tersebut, Desiree memang berikhtiar menggali ”jiwa dalam” interaksi masyarakat Meksiko. Melalui pose-pose yang justru bernilai easy going, maka publik dapat menebak gambaran rutinitas masyarakat Meksiko tersebut. Terutama dalam hal interaksi aktivitas keseharian. Lebih dari itu, foto-foto hasil jepretan Desiree juga merambah ranah yang berkaitan dengan adat istiadat. Maka, tampaklah, foto-foto para penari yang sedang menarikan tarian tertentu, orang-orang yang sedang berkerumun di pasar pada hari pasaran tertentu, atau orang-orang yang sedang riuh merayakan pesta.

Sudut pandang yang sama digunakan fotografer Marcela Taboada ketika memotret aktivitas keseharian masyarakat di Indonesia. Foto-foto Marcela bergerak di antara obyek aktivitas keseharian yang berkaitan dengan agama, budaya, dan aspek sosial. Maka, tampaklah, orang-orang yang sedang selesai shalat, perempuan-perempuan berjilbab sedang meminum minuman tertentu, anak-anak mandi di sungai, pemain wayang orang sedang santai merokok, dan sejenisnya. Tentu, obyek-obyek foto Marcela adalah juga easy going.

Eksposisi foto karya dua fotografer Indonesia dan Meksiko di dalam Pameran Fotografi “Looking at Each Other/Saling Menatap” yang digelar di Jogja Gallery 14-27 Juni 2010 tersebut rupanya lebih tepat disebut sebagai rekaman atau catatan jejak dalam perspektif sosiologi dan antropologi pengetahuan. Secara visual, baik fotografer Marcela maupun Desiree, tak terbebani dengan ideologi formal yang kerap diemban dalam setiap jepretan foto. Namun, meski begitu, apa yang mereka potret justru dapat berbicara banyak tanpa harus menjelas-jelaskan. Untuk berbicara tentang pesta tertentu di dalam masyarakat Meksiko, misalnya, Desiree cukup hanya memotret pose sejumlah tubuh yang tampak dari belakang, di mana masing-masing tangan orang tersebut sedang saling berangkulan secara berantai.

Itulah sisi unik pameran foto ini. Karya-karya foto yang dipamerkan cukup memantik imajinasi publik untuk lebih kritis menafsirkan apa yang terjadi sesungguhnya meskipun pameran foto ini disertai dengan teks yang memberikan gambaran situasional atas latar foto.

Dua orang fotografer yang berpameran kali ini memanglah penerima beasiswa dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian  Kebudayaan Meksiko. Mereka adalah penerima beasiswa program art of creation pada 2009. Jadilah, sebanyak 33 karya foto Desiree dan 35 foto karya Marcela juga berusaha menjelmakan diri dalam pengertian art of creation sebagaimana jenis beasiswa yang mereka terima. Dan hasilnya? Relatif mempunyai daya gugah dan daya ganggu.

Melba Pria, Duta Besar Meksiko untuk Indonesia yang menghadiri pameran ini, menyatakan bahwa dirinya ikut merasa bangga dengan diadakannya pameran ini, yang momennya cukup tepat dengan peringatan 200 tahun kemerdekaan Meksiko dan juga bisa dikontekskan dengan peringatan Hari Wanita Internasional pada 2010 ini.

“Saya ikut berbahagia bahwa fotografer Desiree dan Marcela berhasil memperoleh kesempatan untuk menyatukan diri dalam masyarakat yang telah disinggahi. Mereka pun cukup berhasil menangkap apa yang mereka anggap penting dari kecenderungan masyarakat di masing-masing negara,” tutur Melba Pria.

Memang, obsesi visual perihal obyek konkret perempuan, anak-anak, dan laki-laki dewasa dieksplorasi secara tuntas oleh kedua fotografer, termasuk dalam hal mempersepsikan visualisasi perihal kerukunan atau permainan tertentu. Yang membedakan,  Marcela menggunakan teknik foto hitam-putih, sedangkan Desiree menggunakan teknik foto warna. Ternyata, Marcela memang dikenal sebagai spesialis foto hitam putih. Sementara Desiree cenderung memilih foto warna karena obyek foto selama di Meksiko cukup berwarna-warni. Maka, ia perlu menghidupkan suasana di dalam foto tersebut dengan aspek warna.

”Saya sangat terpesona dengan kedinamisan budaya Meksiko. Juga keunikan tempat yang dikunjungi termasuk dengan orang-orang Meksiko yang saya temui di jalanan,” kesan Desiree.

Agak berseberangan dengan Desiree, Marcela mempunyai kesan, ”Memotret bagi saya adalah memulai dan menghidupkan jiwa. Oleh karena itu obyek yang saya tangkap cenderung pada orang-orangnya, budaya dan tradisi, kepercayaan, suasana tinggal di rumah, di jalanan, dan di perkotaan sebagai gambaran komprehensif atas masyarakat urban,” tutur Marcela. ”Oleh karena itu pula, sebuah foto adalah sebuah esensi yang merangkum akumulasi tantangan, keingintahuan, dan hasrat hidup yang kesemuanya terabadikan melalui lensa,” pungkasnya.

Dalam menjalankan proyek beasiswa pemotretan dua negara ini, Desiree berada di Meksiko selama kurun waktu enam bulan pada tahun 2009. Ia kunjungi empat kota, yakni Meksiko, Oaxaca, Chiapas, dan Jalisco. Sementara itu, Marcela juga melakukan hal yang sama, hanya saja yang ia kunjungi adalah Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. ***

 
 



images/stories/articles.jpg
Art Talk with HONF at Umah Seni Jakarta
Monday, 16 January 2012 14:23
images/stories/articles.jpg
2012, JANGAN MEMBABI-BUTA
Monday, 16 January 2012 12:11
images/stories/articles.jpg
2012, JANGAN MEMBABI-BUTA
Monday, 16 January 2012 12:00
images/stories/articles.jpg
Mengelola & Merawat Koleksi Anda: Beberapa Tip Praktis untuk Kolektor
Monday, 16 January 2012 11:17
images/stories/articles.jpg
“WAYANG BEBER” DOKTER AUCKY
Monday, 16 January 2012 10:44


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7186)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 5779)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 5658)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 3893)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 3712)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa