|
Jejak Rutinitas yang Easy Going |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 19 October 2010 11:48 |
      | | Oleh Satmoko Budi Santoso
DUA orang perempuan itu duduk santai. Seperti sedang melepas lelah. Mereka duduk di antara batang pohon yang cukup besar. Seperti sedang bercakap-cakap meskipun jarak duduk mereka agak berjauhan.
Gambaran visual semacam itu adalah hasil jepretan fotografer Desiree Harahap. Dalam seri karya foto tentang perempuan tersebut, Desiree memang berikhtiar menggali ”jiwa dalam” interaksi masyarakat Meksiko. Melalui pose-pose yang justru bernilai easy going, maka publik dapat menebak gambaran rutinitas masyarakat Meksiko tersebut. Terutama dalam hal interaksi aktivitas keseharian. Lebih dari itu, foto-foto hasil jepretan Desiree juga merambah ranah yang berkaitan dengan adat istiadat. Maka, tampaklah, foto-foto para penari yang sedang menarikan tarian tertentu, orang-orang yang sedang berkerumun di pasar pada hari pasaran tertentu, atau orang-orang yang sedang riuh merayakan pesta.
Sudut pandang yang sama digunakan fotografer Marcela Taboada ketika memotret aktivitas keseharian masyarakat di Indonesia. Foto-foto Marcela bergerak di antara obyek aktivitas keseharian yang berkaitan dengan agama, budaya, dan aspek sosial. Maka, tampaklah, orang-orang yang sedang selesai shalat, perempuan-perempuan berjilbab sedang meminum minuman tertentu, anak-anak mandi di sungai, pemain wayang orang sedang santai merokok, dan sejenisnya. Tentu, obyek-obyek foto Marcela adalah juga easy going.
Eksposisi foto karya dua fotografer Indonesia dan Meksiko di dalam Pameran Fotografi “Looking at Each Other/Saling Menatap” yang digelar di Jogja Gallery 14-27 Juni 2010 tersebut rupanya lebih tepat disebut sebagai rekaman atau catatan jejak dalam perspektif sosiologi dan antropologi pengetahuan. Secara visual, baik fotografer Marcela maupun Desiree, tak terbebani dengan ideologi formal yang kerap diemban dalam setiap jepretan foto. Namun, meski begitu, apa yang mereka potret justru dapat berbicara banyak tanpa harus menjelas-jelaskan. Untuk berbicara tentang pesta tertentu di dalam masyarakat Meksiko, misalnya, Desiree cukup hanya memotret pose sejumlah tubuh yang tampak dari belakang, di mana masing-masing tangan orang tersebut sedang saling berangkulan secara berantai.
Itulah sisi unik pameran foto ini. Karya-karya foto yang dipamerkan cukup memantik imajinasi publik untuk lebih kritis menafsirkan apa yang terjadi sesungguhnya meskipun pameran foto ini disertai dengan teks yang memberikan gambaran situasional atas latar foto.
Dua orang fotografer yang berpameran kali ini memanglah penerima beasiswa dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Kebudayaan Meksiko. Mereka adalah penerima beasiswa program art of creation pada 2009. Jadilah, sebanyak 33 karya foto Desiree dan 35 foto karya Marcela juga berusaha menjelmakan diri dalam pengertian art of creation sebagaimana jenis beasiswa yang mereka terima. Dan hasilnya? Relatif mempunyai daya gugah dan daya ganggu.
Melba Pria, Duta Besar Meksiko untuk Indonesia yang menghadiri pameran ini, menyatakan bahwa dirinya ikut merasa bangga dengan diadakannya pameran ini, yang momennya cukup tepat dengan peringatan 200 tahun kemerdekaan Meksiko dan juga bisa dikontekskan dengan peringatan Hari Wanita Internasional pada 2010 ini.
“Saya ikut berbahagia bahwa fotografer Desiree dan Marcela berhasil memperoleh kesempatan untuk menyatukan diri dalam masyarakat yang telah disinggahi. Mereka pun cukup berhasil menangkap apa yang mereka anggap penting dari kecenderungan masyarakat di masing-masing negara,” tutur Melba Pria.
Memang, obsesi visual perihal obyek konkret perempuan, anak-anak, dan laki-laki dewasa dieksplorasi secara tuntas oleh kedua fotografer, termasuk dalam hal mempersepsikan visualisasi perihal kerukunan atau permainan tertentu. Yang membedakan, Marcela menggunakan teknik foto hitam-putih, sedangkan Desiree menggunakan teknik foto warna. Ternyata, Marcela memang dikenal sebagai spesialis foto hitam putih. Sementara Desiree cenderung memilih foto warna karena obyek foto selama di Meksiko cukup berwarna-warni. Maka, ia perlu menghidupkan suasana di dalam foto tersebut dengan aspek warna.
”Saya sangat terpesona dengan kedinamisan budaya Meksiko. Juga keunikan tempat yang dikunjungi termasuk dengan orang-orang Meksiko yang saya temui di jalanan,” kesan Desiree.
Agak berseberangan dengan Desiree, Marcela mempunyai kesan, ”Memotret bagi saya adalah memulai dan menghidupkan jiwa. Oleh karena itu obyek yang saya tangkap cenderung pada orang-orangnya, budaya dan tradisi, kepercayaan, suasana tinggal di rumah, di jalanan, dan di perkotaan sebagai gambaran komprehensif atas masyarakat urban,” tutur Marcela. ”Oleh karena itu pula, sebuah foto adalah sebuah esensi yang merangkum akumulasi tantangan, keingintahuan, dan hasrat hidup yang kesemuanya terabadikan melalui lensa,” pungkasnya.
Dalam menjalankan proyek beasiswa pemotretan dua negara ini, Desiree berada di Meksiko selama kurun waktu enam bulan pada tahun 2009. Ia kunjungi empat kota, yakni Meksiko, Oaxaca, Chiapas, dan Jalisco. Sementara itu, Marcela juga melakukan hal yang sama, hanya saja yang ia kunjungi adalah Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. ***
| |
|
|
|
|
Add comment
|
|
|
|
|
|
|
|