Alia Swastika
Seorang lelaki botak berperawakan tinggi besar dengan wajah yang sedikit angkuh itu bernama Ceet (dibaca ci-ty), seniman asal Toulouse, Perancis Selatan yang juga memiliki darah Afrika.
Sejak kunjungan singkatnya di Jakarta selama sekitar satu bulan, sudah ada setidaknya tiga tembok besar di Jakarta yang menjadi “korban” coretan cat semprot dari tangannya. Salah satunya adalah tembok besar panjang di depan Cilandak Town Square. Jika anda teliti, di antara sekian banyak grafiti di tembok itu, anda dapat melihat torehan nama “CEET” yang berbentuk seperti gelembung-gelembung berwarna putih dalam ukuran yang besar. Ceet dan lima seniman lain dari Perancis dan Amerika memang datang ke Jakarta untuk berpameran dan berkolaborasi dengan tujuh seniman grafiti dari Jakarta. Tembok di Citos ini menjadi salah satu saksi kolaborasi besar mereka.
Tanpa bermaksud meniadakan seniman lain yang turut mengikuti pameran Wall Street Arts di Galeri Salihara yang telah berlangsung sejak 10 Juli sampai 8 Agustus 2010, Ceet memang seorang seniman yang cukup menonjol.
Ia memulai aktivitasnya di jalanan ketika ia tinggal di sebuah kota kecil di selatan Perancis. Menurutnya, pada saat itu, anak-anak muda Perancis sudah diperkenalkan dengan budaya baru yang disebut sebagai street arts, sesuatu yang dengan cepat membesar di seluruh tempat di Eropa. Ceet kecil, nama aslinya Fuad Ben Allal, masih remaja belia pada saat itu. Di umurnya yang baru 13 tahun, ia melihat bagaimana budaya baru ini memberi pengaruh pada seluruh semangat pemberontakan. Ia kemudian mencoba pula menuliskan namanya di jalan-jalan, awalnya dengan bentuk yang sangat sederhananya.
“Tetapi pada saat itu, saya merasa puas dan saya seperti diselamatkan dari ketersesatan menghadapi dunia. Hal-hal berlangsung cepat dan simultan, sementara saya tak tahu harus melakukan apa sebagai anak muda. Pada saat itu, grafiti telah memberi jalan pada saya untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya ada. Rasanya tak terbayang bahwa orang-orang melihat pada tag mu di jalanan,” kisahnya.
Ketika berusia 20-an, Ceet pindah ke Paris. Di sini, ia semakin menjadi-jadi memasuki dunia grafiti. Ia bertemu dengan para pelaku grafiti dengan latar belakang yang berbeda-beda. Di Paris, grafiti memang menjadi ruang bertemu bagi kelompok-kelompok anak muda terutama dari kelompok yang marjinal, sehingga tak pelak, pelaku grafiti selalu punya isu-isu politis yang berkaitan dengan identitas, peminggiran, dan sebagainya. Hal ini yang kemudian mendasari Ceet untuk melihat grafiti sebagai sebuah cara untuk menyampaikan sesuatu, terutama melepaskan pandangan yang diredam atau ungkapan kemarahan karena soal-soal ketidakadilan. “Dengan cara macam itulah, grafiti dapat memberikan kontribusi untuk dunia yang lebih baik,” katanya.
Sejak tahun 1990 ia telah malang melintang di dunia grafiti, berpameran di penjuru dunia, sampai pada tahun 2002 ia memutuskan untuk pindah dari Paris ke Hongkong. Kepindahannya ini ternyata menjadi suatu fase penting bagi pergerakan seni jalanan di Hongkong, sebab sebagaimana dalam film dokumenter “Grafiti in Asia” karya Ryo Sanada dan Suridh Hassan, disebutkan bahwa Ceet adalah salah satu orang yang pertama kali mulai menggambar di reruntuhan tembok dan dinding jalanan di Hongkong. Sejak saat itu, semakin banyak anak muda yang mengikuti kebiasaan Ceet menggambar dengan cat semprot, sehingga seni jalanan, khususnya grafiti di Hongkong semakin berkembang pesat. Ceet juga adalah orang yang sering memberi masukan pada seniman grafiti di China untuk mulai membuat grafiti tidak dengan gaya Barat saja, melainkan juga membuat grafiti dengan bentuk aksara Cina.
Dalam pengalaman saya bekerja sama dengan Ceet selama di Jakarta, saya menyadari betapa nalurinya sebagai seorang seniman jalanan sangatlah kuat. Seolah ia tidak bisa melihat dinding yang polos, ia akan menempel stiker atau mencoret dengan spidol dan cat semprot nama “Ceet”, kemanapun ia pergi. Walhasil, mulai dari galeri Salihara, dinding-dinding Jakarta sampai taksi yang kami tumpangi dari Kemang, semuanya kena ulah “iseng” tangan Ceet. Kami agak terperangah dengan kecepatan tangannya itu. Kadang-kadang, ketika semua seniman berkumpul bersama, tiba-tiba Ceet menghilang sendirian, dan kami menemukannya sudah hampir selesai membuat tagging di jalanan yang ramai.
Namun tindakan ini sebetulnya bukan iseng semata. Ceet sadar betul bahwa pola komunikasi dalam grafiti serupa dengan iklan yang kita lihat di jalanan. Semakin sering kita melihatnya, akan semakin mudah kita mengingatnya. Demikian pula baginya, bahwa grafiti adalah sebuah representasi keegoisan seorang artis, artinya bahwa seorang seniman grafiti bebas memilih tembok dan tempat manapun yang ia sukai dan menggambarnya sesuka hati. Keegoisan ini dibarengi kesadaran Ceet bahwa seseorang memang tidak dapat membuat semua orang senang, maka jika grafitinya ditumpuk atau dihapus, seorang seniman grafiti harus bisa menerimanya dengan lapang.
Dari Dinding Jalanan ke Ruang Galeri
Pada awal karirnya sebagai seniman grafiti, Ceet tidak melihat grafiti sebagai sebuah media komunikasi, melainkan sekedar sebagai sebuah pengalaman yang menegangkan dan memicu adrenalin saat menggambar di tembok jalanan, di depan pintu toko atau di kereta subway. Hal ini serupa dengan kebanyakan seniman grafiti yang menggambar di jalan pada tahun 70-80an, di mana grafiti kala itu dianggap sebagai subkultur dan lambang pemberontakan remaja. Menurut cerita para dedengkot grafiti yang turut berpartisipasi dalam pameran Wall Street Arts, dunia seni jalanan pada era itu memang sangat gelap dan penuh kekerasan. Para seniman grafiti kala itu merupakan target operasi yang paling dicari-cari oleh polisi. Bukan hanya polisi, perang antar geng juga kerap menjadi dinamika tersendiri dalam dunia grafiti kala itu.
Pada perkembangan selanjutnya, kecenderungan artistik grafiti mulai dapat diterima sebagai kontribusi penting dalam seni rupa kontemporer dengan visi estetik yang jelas. Dengan demikian semakin banyak pula ditemui seniman grafiti yang bekerja dengan media-media yang telah mapan dalam seni rupa kontemporer.
Masuk ke dalam ruang galeri yang tampak steril, bukan berarti suatu bentuk komersialisasi, sesuatu yang kerap menjadi dilema dalam perkembangan seni jalanan-- sebab dituding telah mereduksi semangat perlawanan budaya grafiti. Bagi Ceet, kanvas justru merupakan media yang sangat ideal dalam menyampaikan pesan. Ia tidak bisa dihapus (sebagaimana dinding jalanan berubah dengan sangat cepat) dan pesannya bisa tersebar ke penjuru dunia tempat kemanapun ia dibawa berpameran. Dalam beberapa karyanya, Ceet tidak hanya menunjukan eksplorasi artistik, namun juga menunjukan ketersiratan visi politis. Berbeda dengan tembok, bagi Ceet berkarya di atas kanvas memerlukan keahlian yang lebih tinggi, demikian pula dengan aspek emosional dan mental seorang artis. Baginya, menggambar di dinding merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan bersama-sama, baik dalam mencampur warna, berbagi pengetahuan, konsep dan berproses bersama. Namun dalam kanvas, seorang artis menjadi seorang individu yang memiliki otoritas, sehingga ia harus lebih fokus karena setiap millimeter dari sebuah kanvas adalah miliknya, dan merupakan representasi dari dirinya.
Konsep Artistik Ceet
Makin serius masuk dalam seni rupa kontemporer, Ceet mengeksplorasi pula kemungkinan-kemungkinan bentuk yang lain dari grafiti. Selain membuat karya kanvas, Ceet juga sekarang mulai berkarya dalam medium tiga dimensi, baik dari resin maupun logam.
Yang menarik adalah bagaimana transformasi dari tagging Ceet yang cenderung ceria dan punya kecenderungan naïf, menjadi satu bentuk karya lukis yang lebih rumit dan punya karakter. Memang, pada karya-karya lukis Ceet, kita hampir sulit mengenali tagging jalanannya, terutama jika kita bandingkan dengan seniman lain seperti Sonic yang memang mengusung tagnya ke kanvas, ataupun kongo yang mentransformasi tagnya sedemikian rupa menjadi sebentuk imaji visual yang baru.
Tak jauh dari grafiti, Ceet mencoba untuk menjelajahi kemungkinan artistic yang lain dari bentuk-bentuk huruf. Sepintas, karya-karya Ceet memang menunjukkan kesan imaji yang geometris, yang terutama dibentuk oleh penggunaan garis pinggir (outline) yang kuat dan tegas. Kanvas Ceet seperti menghadirkan ruang tiga dimensional, dimana huruf-huruf tampak berputar dalam labirin, saling bertumpukan, seolah chaos. Sebagian kanvas ceet tidak menunjukkan warna-warna yang penuh. Di atas kanvas, Ceet tampak pelit menorehkan warna.
Patung dan objek dimensinya dibuat dengan yang sama dengan karya lukis kanvasnya. Ia membuat patung berukuran cukup besar dengan imaji huruf-huruf bertumpukan di halaman depan sebuah galeri seni kontemporer di Hong Kong. Ia banyak bereksplorasi dengan resin, perunggu dan alumunium.
Memasuki dunia seni rupa kontemporer kemudian menantang Ceet untuk mengembangkan gagasan artistiknya jauh dari ‘kerangka’ grafiti. Ia tergerak untuk menciptakan bentuk-bentuk dan kemungkinan baru dari pengalaman dan amatannya terhadap kehidupan jalanan, sesuatu yang telah lama menjadi bagian dari kesehariannya. Karya kanvasnya juga banyak diilhami oleh pengalaman hidupnya sendiri, dari refleksi terhadap relasi personal dan keintiman, rasa sakit, maupun ide-ide lain yang tak melulu soal pemberontakan, sebagaimana yang acap dipikirkan kebanyakan orang tentang grafiti.
Karya-karya Ceet juga telah diapresiasi banyak merek besar dunia yang menjadikannya sebagai kolaborator dalam produk-produk mereka, seperti Prada, Adidas dan Quicksilver.
Ceet, Jakarta, dan Indonesia
Pengalaman berada di Jakarta hampir selama rupanya memberikan referensi baru yang cukup menarik kepada Ceet. Tak hanya berinteraksi dengan seniman-seniman grafiti Jakarta ketika mereka berpameran di Galeri Salihara, ia juga secara intensif membangun diskusi dengan seniman yang secara usia jauh lebih muda ini untuk melukis di jalanan.
Bagi Ceet, karena grafiti sendiri merupakan satu bentuk budaya urban yang usianya masih relatif muda di Indonesia, memang banyak keterbatasan teknis yang dihadapi oleh seniman-seniman Jakarta. Soal bahan baku, misalnya, memang tidak mudah mendapatkan cat yang kualitasnya seperti cat-cat yang ditemukan di Eropa ataupun Amerika. Tetapi, justru, seperti cerita-cerita klasik, keterbatasan-keterbatasan itu melahirkan satu bentuk kreativitas baru, terutama berkaitan dengan teknik dan pendekatan.
Dalam amatan Ceet, imaji-imaji grafiti di Jakarta memang tampak lebih dipengaruhi oleh seniman-seniman grafiti dari kota-kota di Asia, terutama karena berkembangnya bentuk karakter yang terasa lebih dominan ketimbang pemindahan tag atau huruf. Ada juga beberapa seniman yang lebih ngotot mempertahankan semangat grafiti old-school, yang memberi warna lain untuk grafiti yang cenderung seragam. Ia juga memuji Darbotz yang tampak punya gayanya sendiri, sehingga menciptakan kesan yang unik dan eksententrik, tetapi juga komunikatif.
Di masa depan, Ceet melihat, sebagaimana sempat disinggung di awal, grafiti menunjukkan potensi cukup besar untuk diterima sebagai genre yang mapan dalam seni rupa kontemporer, termasuk di Indonesia. Pameran Wall Street Arts, merupakan satu langkah awal yang baik untuk memperkenalkan grafiti sebagai sebentuk seni visual yang sejajar dengan genre-genre lain. [V]
| |