Satmoko Budi Santoso
DALAM USIA SENJA, PENDIRI SANGGAR BAMBU INI TETAP BERKARYA BERBASIS PASTEL. SAYANG BELUM ADA KOLEKTOR YANG MELIRIK KESETIAANNYA.
Bentara Budaya Yogyakarta, awal Agustus lalu, tak seperti biasanya. Pada dinding galerinya, terpampang begitu banyak potret tokoh, mulai dari potret diri Proklamator dan Presiden pertama RI Bung Karno dan Bu Fatmawati (yang menjahit bendera sang saka merah putih pertama), Jendral Sudirman, ”emaknya seniman” dr. Melani W.Setiawan, politisi muda Rieke Dyah Pitaloka, hingga budayawan Emha Ainun Nadjib. Ada pula lukisan pemandangan dan lukisan hewan.
Pameran tunggal Soenarto PR ini terasa istimewa, karena di tengah gemuruh pameran lukisan dengan berbasis cat minya dan akrilik, ia tampil dengan medium pastel. Dan itu ternyata bukan hanya setahun dua tahun menekuni, tapi sudah dalam rentang waktu puluhan tahun. Bahkan ia bertekat akan melanjutkan sampai kapanpun. Lantaran pastel, disamping ”praktis”, ia bisa digunakan melukis sekali jadi. Tidak seperti medium cat minyak yang prosesnya cukup rumit dan harus menunggu lama (baru kering). Dari sini kita sudah mendapat gambaran bagaimana sikap keseni(m)annya, yang lebih berpihak kepada suara hatinya, meski harus menanggung hidup ”di jalan sunyi”, ketimbang harus ikut tren.
Karya-karya Soenarto dengan medium pastel dalam pameran tersebut, pada umumnya menunjukkan kehalusan, yang boleh jadi hal ini pantulan ekspresi dunia batinnya. Dengan pendekatan realistik-naturalistik yang begitu menantang, setiap kali menggarap potret diri, Soenarto harus berjuang bagaimana sifat kehalusan pastel itu bisa digunakan menangkap dan menggambarkan berbagai karakter tokohnya secara subtil. Apalagi karakter tokoh-tokoh yang digambarnya, sudah menjadi rahasia publik.
Jejak-jejak detil goresan pastelnya, menggambarkan gairah. Bahkan kegairahan itu begitu terasa ketika ia harus menggarap medan cahaya dan bayangan. Di bagian ini, ia merasa punya peluang membarui capian artistiknya secara terus-menerus, hingga merasa lebih baik.
I Gede Arya Sucitra, perupa dan dosen seni lukis Institut Seni Indonesia Yogyakarta, disela pameran itu memberikan komentar bahwa media pastel sebenarnya memang bernilai sangat spesifik. Jelas, kelebihannya adalah pada aspek bahwa semenjak dari awal menggambar sampai akhir, relatif tak ada perubahan warna. Juga lebih membuat karakter yang tegas pada setiap obyek dan cukup bagus untuk meraih efek kontras.
Memang tidak mudah menjadi seniman di Indonesia pada saat ini, yang sudah terlanjur kokoh pada keyakinannya, sementara tren berkata lain, cenderung kontemporer dan berorientasi pasar. Dan Soenarto lewat pamerannya ini adalah salah satu contoh, yang dapat dijadikan pelajaran sekaligus kaca brenggala, ketegaran dalam kesunyian.[V]
| |