Vidhyasuri Utami dan Yusuf Susilo Hartono
PAMERAN BESAR MANIFESTO II MENYUGUHKAN SEBUAH PERCAKAPAN YANG TAK TERFOKUS. MENGAPA?
Dalam benak kita, terminologi “manifesto” adalah sebuah term yang “galak”, revolusioner dan “besar” karena memberikan sebuah platform untuk kerja-kerja perbaikan yang diperlukan di depannya. Dalam sejarah senirupa Indonesia sendiri, kita pun pernah mengenal Manifesto Kebudayaan yang muncul di tahun 1963 sebagai salah satu upaya untuk memberikan jejakan bagi perkembangan senirupa Indonesia dengan membebaskan seni dari dominasi ideologi kiri yang saat itu mendominasi dunia seni.
Di tahun 2008, berkenaan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, sebuah pameran besar pun digelar. Tak ayal, pameran besar ini berusaha menampilkan acuan atau pun jejakan perkembangan senirupa Indonesia dan tajuk pameran tersebut pun dinamakan “Manifesto”. Bila dulu Manifesto Kebudayaan dimulai dengan Surat Kepercayaan Gelanggang, Manifesto 2008 dimulai dengan surat pengantar kuratorial yang berusaha untuk mengumpulkan seniman-seniman Indonesia dalam sebuah perhelatan besar dan “membaca” trend perkembangan senirupa Indonesia. Pameram besar itu pun berlangsung dua tahun yang lalu dan memamerkan ratusan karya seni rupa dan mengelompokkannya menjadi empat ranah tema: seni sebagai narasi baik sosial maupun personal, seni sebagai eksplorasi estetis, seni sebagai identitas, dan seni... Di tengah perdebatan penyelenggarannya, pameran besar ini adalah salah satu pameran terpenting tahun itu dan mampu menampilkan semangat kebersamaan yang sangat tinggi di dunia senirupa Indonesia.
Kini dua tahun setelah penyelenggaraan Pameran Besar Manifesto, pameran besar serupa kembali dilangsungkan di Galeri Nasional Indonesia dengan tajuk “Manifesto 2: Percakapan Masa.” Walaupun sedikit terusik dengan penerjemahan bebas judul ke bahasa Inggris menjadi Common Conversation yang sepertinya alpa untuk mengikutsertakan konteks waktu dalam penerjemahan (apakah mungkin terlupa membedakan antara masa dan massa?), kami pun memasuki ruang pamer Galeri Nasional Indonesia. Hingar bingar senirupa kontemporer Indonesia pun seakan-akan menyambut kami di berbagai sudut ruang pamer. Kami disuguhi oleh berbagai karya berukuran besar dan instalasi bermacam rupa. Semuanya berusaha menyikapi satu hal, yaitu: usaha bercakap-cakap dengan karya-karya maestro milik Galeri Nasional Indonesia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah berhasilkah?
Bila kita berharap menemui sebuah komunikasi tanpa penguasaan, mungkin ini bukan pameran yang tepat. Mungkin karena memang kerangka kuratorial pameran ini yang menempatkan para perupa masa kini menjadi subyek penyikap karya-karya pendahulu merekalah yang menyebabkannya sehingga komunikasi yang cenderung satu arah mendominasi pameran ini. Walaupun demikian, bukan berarti tidak ada percakapan personal yang menarik. Tengoklah karya Heri Dono yang bertajukkan Salehsaurus, Guntur Triadi yang bercakap-cakap dengan karya Ibu Menjahit milik S. Sudjojono dan karya Nasirun yang “serupa tapi tidak sama” dengan karya milik pelukis dekorativisme legendaris Kartono Yudhokusumo.
Percakapan yang muncul juga terlihat tak fokus karena kedua kurator pameran (Rizki A. Zaelani dan A. Rikrik Kusmara) ternyata tidak mengelompokkan karya-karya partisipan menjadi empat kelompok besar pembagian karya maestro (tentang peristiwa, tentang situasi dan potret) seperti yang tercantum pada undangan partisipasi pameran. Hal ini dibenarkan oleh Rikrik Kusmara yang bertujuan untuk memberikan fleksibilitas tampilan pameran selain memang banyak perupa yang tidak bercakap-cakap dengan karya-karya maestro secara spesifik. Kita bisa membandingkan mekanisme kuratorial kali ini dengan pameran sebelumnya. Bila manifesto sebelumnya berusaha untuk “patuh” dengan nuansa galak terminologi tersebut dengan menampilkan “genre” besar sebagai acuan dunia senirupa kontemporer Indonesia, pameran kali ini justru seakan-akan menghilangkan pembagian “genre” yang pernah berusaha dilakukan sebelumnya dan sekaligus menampilkan kondisi senirupa Indonesia masa kini yang sarat dengan carut marut. Sebuah interpretasi akan situasi terkini yang mungkin saja tujuan besar dari pameran ini.
Satu hal yang paling menarik dari perhelatan kali ini bukan datang dari hingar bingarnya karya senirupa kontemporer Indonesia yang banyak muncul dalam format besar; melainkan muncul dari sudut ruang pamer yang menampilkan karya-karya maestro. Sudut-sudut yang terasa lebih hening dari sudut yang lain ini menyimpan kedamaian sekaligus kekuatan yang besar. Sebuah kesempatan yang memang ditunggu oleh publik untuk dapat berhadapan langsung dengan berbagai karya legendari senirupa Indonesia yang mungkin sebelumnya hanya dikenal melalui literatur-literatur saja.
Sang sudut hening ini pun seakan-akan bertanya-tanya kepada hingar-bingar senirupa di luarnya, mau dibawa kemanakah arah senirupa kontemporer Indonesia? [V]
|