SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
PROFILE
WIENDU NURYANTI: BERTUGAS MEMPERKUAT HULU KEBUDAYAAN PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 16 January 2012 10:29

Sejak 19 Oktober 2011 yang lalu, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D. (52 tahun), menjabat Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan.  Guru Besar Ilmu Arsitektur Jurusan Teknik, Universitas Gajah Mada itu tercatat sebagai Wamendikbud Bidang Kebudayaan pertama, seiring dengan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan reshuffle kabinet dan menyatukan kembali kebudayaan dengan pendidikan, setelah  belasan tahun  kebudayaan “ kawin paksa” dengan pariwisata. Lebih lanjut baca VISUAL ARTS Januari-Februari 2012

 
 
TANDA-TANDA GLOBAL JIM SUPANGKAT PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 10 December 2010 10:39
KEGELISAHAN SOSOK YANG TAK ASING LAGI BAGI MEDAN SOSIAL SENIRUPA INI SEPERTINYA SAMA SAAT VISUAL ARTS BERTEMU DENGANNYA TAHUN YANG LALU. GAGASAN-GAGASAN UNTUK MENEMPATKAN SENIRUPA INDONESIA DI POSISI YANG LEBIH STRATEGIS DALAM PERCATURAN SENIRUPA DUNIA SEPERTINYA ADALAH SALAH SATU DARI OBSESINYA.

Berbagai terminologi yang kadang kala terdengar asing bagi khasanah wacana senirupa yang banyak didominasi oleh teori-teori senirupa ala barat pun dilontarkan olehnya. Kagunan, contemporaneity dan istilah yang terbaru ethnicity now. Kesemuanya merupakan upaya salah satu eksponen Gerakan Seni Rupa Baru atau GSRB ini untuk kembali --bila tidak selalu—mencoba  mendobrak hegemoni pemikiran dalam wacana senirupa baik dunia maupun Indonesia.

Hal ini tak pelak mendatangkan pro dan kontra seputar pemikirannya baik dari perupa mau pun pemikir senirupa di dalam dan di luar negeri. Tapi  sosok perupa yang memutuskan menjadi kurator pada sekitar dekade 1980-an ini bergeming. Dia tetap menjalankan dan berusaha untuk membuktikan --bila tidak mencari pembenaran-- dari pemikirannya.  

Ambillah contoh tesisnya mengenai contemporaneity yang ia presentasikan di diskusi ZKM di Hong Kong tahun lalu. Istilah ini merupakan upayanya untuk menentang hegemoni Etnologi dan Antropologi saat melihat keberadaan nonBarat (kita, red.) Sehingga --menurutnya-- alih-alih menggunakan terminologi Art Now yang kerap kali didedungkan oleh pemikir senirupa dunia, ia menggunakan terminologi Ethinicity Now untuk memberikan tentangan atas pemikiran tersebut,

Tentunya kening banyak orang akan berkerut saat mendengarkan istilah Ethincity Now ini. Satu keuntungan dan kelemahan Jim Supangkat sebagai pemikir adalah permasalahan bahasa Inggris. Di satu pihak, ia tidak terkotak-kotakan oleh kata-kata dalam bahasa Inggris dengan “rasa” bahasa yang sevalid para penutur bahasa Inggris sebagai bahasa ibu sehingga dengan mudah ia menjungkar-balikkan berbagai konotasi terminologi sesuai dengan pesannya; tapi di lain pihak, ia pun memiliki kesulitan untuk menyampaikan seluruh benaknya dengan fasih melalui bahasa ini. Istilah ini ia tambatkan dengan pembatasan nalar seni tradisional (ethnic arts sensibilities) yang plural dan tak terbatas. Keluasan ini dapat dibatasi dengan architype, metaphor, visual culture. Yang terakhir berkaitan erat dengan modernisasi dan nalar ala Cartesian. Kiranya ketiga aspek ini adalah aspek yang dapat menjembatani jarak antara perkembangan sejarah senirupa Barat di satu sisi dan kontekstual senirupa “Timur” yang secara politis lebih “benar” di sisi yang lainnya. “Dengan tiga nego ini kita bisa mendapatkan posisi baru”, tandasnya.

Ia pun melihat bahwa perkembangan saat dunia saat ini bukanlah perkembangan seperti yang disebut oleh Samuel P. Huntington sebagai clash of civilizations tapi clash of globalizations mengingat arus globalisasi tidak hanya didominasi oleh MacDonaldisasi atau pun Westernisasi seperti yang dirumuskan oleh teoritisi Barat. Globalisasi yang bersumber dari dunia Timur pun muncul dalam globalisasi sebenarnya. Dan  inilah yang penting dan juga menjadi satu “tantangan” bagi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dunia.  Itu mengapa penting bagi pemikiran-pemikiran nonBarat untuk mengklaim posisinya dalam wacana dunia.

“Saya tidak akan menulis buku tentang sejarah sih“, akunya.  “Sejarah buat saya intinya adalah local history. Dan itu persoalannya. Begitu saya bilang bahwa approach saya art history,  pikiran mereka (pemikir dan kritikus senirupa Barat, red.) sudah tidak di sana (local history, red.); sementara saya mau menolak juga susah karena saya menggunakan art discourse Barat karena influence itu ada...Sekali berbicara tentang art history, kita pun jatuh ke wacana sejarah senirupa barat….Dan sekali kita berbicara tentang local history, kita akan tutup mata. Segala istilah contemporary maupun modern akan di-reconstruct,  dan akan menggunakan istilah yang sekarang (yang ia gunakan, red).”

“Kita harus punya strategi untuk berbicara dengan mereka (dunia senirupa global, red.) Karena mereka benar-benar ignore betul. Apa pun yang kita mau omongkan kalau logikanya seperti itu (Barat, red.), percuma”, tukasnya.

Pemikiran-pemikiran inilah yang menggarisbawahi kegiatan kuratorial Jim Supangkat sepanjang tahun 2010. “Saya kira yang signifikan adalah pameran Ethnicity pada tanggal 2 Desember nanti dan pameran Entang,” ungkapnya saat ditanyakan pameran manakah yang penting baginya di antara 12 pameran yang ia kerjakan pada tahun ini. Keduanya ia letakkan sebagai sebuah rangkaian ide yang juga ia tampilkan pada pameran Contemporainety yang diselenggarakan di MoCA.  “Persoalannya sama,” ia pun menerangkan.

Selain mendapatkan pembelaan dari sekelompok pemikir senirupa dunia, pemikiran ini pun ditentang oleh orang-orang seperti kritikus senirupa Australia, Tony Godfrey. Diskusi di antara keduanya pun berlangsung secara virtual bahkan setelah penyelenggaraan diskusi ZKM hingga akhirnya sang penulis buku Conceptual Art ini berkesempatan untuk memberikan ceramah di Yogyakarta atas undangan Langgeng Foundation beberapa bulan yang lalu. Jim pun meminta secara khusus agar Tony dapat mengunjungi beberapa perupa yang dirujuknya selagi ada di Yogyakarta. Setelah mengunjungi perupa-perupa tersebut, Tony pun berkomentar, “saya baru mengerti apa yang kamu bicarakan”.  Dan Jim pun membalasnya dengan,” itu yang saya coba jelaskan selama ini”. [V] Vidhyasuri Utami
 
 
ENTANG WIHARSO BUKAN SI MALIN KUNDANG PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 10 December 2010 10:09
DI TENGAH BANYAK PERUPA LARUT PADA SELERA PASAR DAN TREN GLOBAL,  ENTANG WIHARSO SETIA  DENGAN AGENDA DAN EKSPLORASINYA SENDIRI. HINGGA MENGHASILKAN PAMERAN YANG FENOMENAL DAN TERBAIK TAHUN INI.  

Pilihan sikap Entang Wiharso tidak ikut selera pasar dan tren global, memang mengandung risiko. Yang paling nyata, karya-karyanya di pasar --sementara ini-- kurang bisa mencetak harga yang mengagumkan. Di sisi lain, ungkapan dan karyanya menjadi tidak biasa di forum global. Akan tetapi hal itu kelihatannya tidak menjadi soal baginya. Toh karya-karyanya yang dekat dengan kanon perkembangan yang dibentuk dengan kekuatan lokal --mengenai keutamaan dan nilai-nilai, persepsi tentang seni dan cita rasa--  mempunyai pesona tersendiri. Terasa sekali bahwa tujuan akhir karyanya bukan  semata dinding galeri, dinding kolektor, atau balai lelang, akan tetapi ruang kesadaran bersama yang plural.

Sebagai seniman kelahiran Tegal 1967 yang dibesarkan oleh keluarga dan lingkungan Islam dan tradisi Jawa, belajar seni secara formal di ISI Yogyakarta,  menikah dengan perempuan Amerika Serikat dan dikarunia anak, tinggal dan bekerja ulang-alik Rhode Island, AS dan Yogyakarta yang lingkungannya berbeda, bergumul dengan realitas urban dan  banyak pandangan lokal hingga internasional, menghadapi fanatisme, kekerasan dalam berbagai bentuknya; akhirnya Entang sampai pada pertanyaan pokok: dasar apakah yang digunakannya untuk ungkapan-ungkapan karyanya? Lalu apakah seni baginya?

Dasar ungkapan Entang Wiharso adalah etika. Dan ungkapan seni berpangkal pada perasaan yang merupakan gabungan antara sensibility yang melibatkan  akal dan sensitivity estetis yang punya kapasitas merasakan moral dan etika. Karena itu ungkapan seni – dari yang santun sampai yang provokatif—mengandung kebaikan yang menampilkan pikiran positif tetang realitas apapun  dalam kehidupan, begitu tulis Jim Supangkat, yang bertindak sebagai kurator pameran tunggalnya “Love Me or Die” yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, 21-30 Oktober 2010.

Pameran tunggal terbarunya ini, adalah bukti ungkapan-ungkapan aktualnya. Mungkin ini semacam puncak gunung es, karena apa yang muncul dalam pameran ini sudah dirintis beberapa tahun sebelumnya. Bahkan akar-akar idenya menghunjam pada tiga sampai sepuluh tahun yang lalu. Dengan kata lain, pameran tunggalnya ini merupakan presentasi rekaman lintasan perjalanan ide-ide yang bertolak pada permulaan tahun 2000. Citra black goat, ornamentasi, teks, motif kulit binatang dan panorama telah digunakan sebagai simbol-simbol untuk menanyakan, evaluasi, observasi, dan mencerminkan tema-tema utama dalam karyanya.

Sebagai seniman kontemporer, dengan pengalaman internasional, Entang boleh kita sebut sebagai bukan “Si Malin Kundang”. Dalam arti, ia bisa saja memakai bahasa asing (Inggris) untuk teks-teks karyanya, tapi ia tetap menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa. Ia bisa saja menggunakan plat aluminium untuk medium karya-karyanya, tapi logam-logam itu di perlakukan bak belulang kerbau atau sapi, sebagai bahan wayang kulit, yang di dalam siluetnya diberi cut-out berupa ornamen dan bahasa batik.  Pada karya “candinya” yang akan dijadikan proyek tumbuh, berjudul “Temple of Hope” ia mempertemukan masa lalu (umpak batu) sebagai landasan empat penjuru angin, dengan kerangka dan dinding logam yang “diukir” dengan banyak (siluet) figur, ornamen dan teks. Teks-teks itu tidak melulu dari pikirannya sendiri,  tapi juga ucapan atau tulisan dari kawan-kawan dekatnya. Sehingga karya-karya itu menjadi dekat dan komunikatif, kalau tidak boleh disebut “mengindonesia”. Apalagi ketika di dalam bangunan candi itu diberi lampu, dan cahayanya menerobos lobang-lobang ornamen dan tulisan hingga memantuli kedinding-dinding, mengingatkan kita pada pertunjukan wayang dari balik layar.

Dengan “bahasa ibu” --meminjam istilah Jim-- yang mengalir begitu saja tanpa dihasratkan, kemudian berhasil dijadikan bahasa visual dan bahasa personal terkini Entang, maka karya-karyanya tidak jatuh menjadi “ndeso”. Malahan sebaliknya karya-karnya Entang terasa begitu fasih mengatakan pikiran, hingga perasaannya yang paling dalam. Pikiran dan perasaan khususnya tentang  mencari hubungan cinta dan kekuasaan yang terkesan paradoks. Betapa tidak, cinta tidak egosentris. Sementara kekuasaan justru selalu egosentris. Kekuasaan selalu mencurigai ‘pihak lain’, karena paranoid, kekuasaannya akan direbut. Pada kekuasaan seperti ini, Entang merasa tidak menemukan hati, cinta dan spiritualitas.

Pilihan bahasa ibu sebagai bahasa visual, juga memerlukan keberanian tersendiri. Bagi sementara orang, bahasa ibu itu identik dengan craft, seni kriya, atau kerajinan, dan oleh karena itu tidak dimasukkan pada seni tinggi, fine art. Kriya seringkali dimasukkan pada low art, seni yang berkasta rendah. Tapi di tangan Entang, kriya dan sebangsanya itu tadi tidak berhenti pada keindahan yang menyenangkan semata, apalagi kerajinan yang berkasta low art. Memang agak aneh, di era kontemporer, kita masih saja mendengar pengkastaan seni rendah dan seni tinggi, yang merupakan bawaan dari seni rupa modern yang tidak relevan lagi untuk masa sekarang.

Di mata kurator, penulis dan Dosen ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo, Entang adalah tipe seniman penjelajah yang subur dengan gagasan-gasan kritis. Ia melukis, membuat obyek, instalasi, hingga tampil dalam  performance art. Hidup dan kehidupannya penuh dengan pengalaman serta benturan yang mengkondisikan dirinya untuk bertarung melawan dominasi, hegemoni, intimidasi, kesewenang-wenangan, dan penilaian sepihak yang anti dialog. Karena itu karya-karya Entang sesungguhnya merupakan upaya terus-menerus untuk memperjuangkan dan merefleksikan nilai, etika dan moralitas.   

Dalam kaitan dengan moralitas tersebut, pengamat seni Dr. Amanda Katherine Rath, berpendapat bahwa Entang tidak mengungkapkan moralitas yang lugas dan telanjang. Namun dari citraan karya-karya Entang, yang brutal dan kritiknya yang tajam, jelas bahwa karyanya didasarkan atas pondasi moral  dan etik yang kokoh. Tentu saja, karena dia bukan Si Malin Kundang, Amanda. [V] Yusuf Susilo Hartono
 
 
SEMARANG GALLERY: ANTARA DUA KOTA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 09 December 2010 17:11

SEORANG HENDRO WIYANTO PERNAH MENJULUKI GALERI INI SEBAGAI “NATIONAL MUSEUM” DI SEMARANG. DAN MEMANG SAAT SEMARANG GALLERY PINDAH KE LOKASI TERBARUNYA DI TAMAN SRIGUNTING, JANTUNG KOTA TUA SEMARANG, DI PERTENGAHAN TAHUN 2008, GALERI INI BANYAK MEMBUAT ORANG BERDECAK KAGUM.

Gedung tua yang dulunya merupakan sebuah bangunan komersial ala arsitektur kolonial direnovasi untuk menjadi sebuah ruang pameran yang layak dan juga lapang untuk menampung berbagai karya-karya gigantik di dalamnya.


Ini adalah buah ide seorang arsitektur-pemilik galeri, Chris Dharmawan yang sebagian besar waktunya dihabiskan di kota Semarang. Ia pun telah merintis keberadaan Semarang Gallery sejak tahun 2001. Dan hampir satu dekade setelah berdiri, Semarang Gallery merupakan salah satu galeri teraktif di medan sosial senirupa Indonesia di tahun 2010. Berikut adalah perbincangan Visual Arts dengan Chris Dharmawan seputar program-program kegiatan Semarang Gallery.


Dari data-data yang kami coba kumpulkan, Semarang Gallery adalah salah satu galeri yang paling aktif di tahun 2010? Bolehkah Bapak jelaskan frekuensi program pameran galeri Bapak ini apakah sangat terpengaruhi dengan dibukanya outlet Semarang Gallery di Jakarta Art District Jakarta?
Program pameran Semarang Gallery (bukan Semarang Gallery) sudah disusun setahun didepan, dengan tentunya bisa bergeser dan bertambah kurang menyesuaikan dengan kondisi dan situasi. Semarang Gallery JAD di Mal Grand Indonesia berdiri kira kira 8 bulan yang lalu telah berpameran sebanyak 6 kali sampai November 2010. Total Semarang Gallery merencanakan mengadakan pameran  sebanyak 17 kali pada tahun 2010 ini ( 7 kali di Semarang Gallery di Semarang, 7 kali di Semarang Gallery JAD, satu kali Bazaar Art, 1 kali Art Singapore dan satu kali di Galeri Nasional .

Kesulitan dan hambatan apa yang sangat dirasakan untuk mengatur program-program di dua venue yang Bapak miliki?
Secara umum tidak mempunyai hambatan berarti dalam mempersiapkan pameran di kedua venue . Semakin lama kami merasa makin profesional . Hambatan jadwal yang mundur mundur karena seniman belum siap, cetakan katalog terlambat karena banyak faktor bisa diatasi dengan kematangan persiapan dan komunikasi yang baik dengan sesama  pemangku pameran , seperti kurator, seniman, translator,pihak percetakan dan lain lain.

Apakah Semarang Gallery memiliki semacam “in-house curator”? Dan apa pendapat bapak tentang kurator yang berafiliasi dengan galeri tertentu?
Kami tidak mempunyai in house kurator. Pendapat saya tentang kurator yang berafiliasi ke galeri tertentu sah-sah saja.

Apakah Semarang Gallery memiliki perupa-perupa galeri yang secara eksklusif dimanaje oleh Galeri? Bila iya, bolehkah ceritakan sedikit bagaimana konsep hubungan galeri-perupa yang dimiliki oleh Semarang Gallery?
Semarang Gallery mempunyai beberapa seniman yang bekerja sama dalam hal management , kami menyebutnya “Friends of Semarang Gallery” .Konsepnya untuk masing masing seniman berbeda, tidak selalu eksklusif seperti yang dibayangkan, seperti kontrak atau manajemen eksklusif. Rata rata kami saling  mempunyai komitmen yang sama dalam hal mengatur jadwal pameran, menentukan harga jual dan mendampingi dengan memanfaatkan  kurator untuk menjadi mitra dalam hal wacana.

Dari seluruh program yang dikerjakan Semarang Gallery tahun 2010 ini, program mana yang paling menarik untuk Bapak dan apa alasannya?
Program yang paling menarik di tahun 2010 adalah pameran tunggal Krisna Murti pada tanggal 3 - 23 Desember nanti.  Menarik karena kita tahu Krisna Murti adalah rajanya Seni Media Baru di Indonesia dan ini adalah pameran tunggal retrospektif yang akan menyajikan karya karya Krisna Murti dari tahun 1993 sampai karya karya terakhirnya. Selain itu juga juga kami mengadakan diskusi dan artist talk.

Bisakah Bapak menceritakan sedikit tentang rencana Semarang Gallery 2011? Program manakah yang kira-kira akan menarik untuk disimak oleh publik senirupa Indonesia?
Rencana tahun 2011 yang menarik adalah kita akan mengikuti Art Stage di Singapore ,Januari 2011 dan Art Hongkong, Mei 2011; selain program program pameran yang sudah kami rancang.

Bolehkah Bapak sedikit berbagi dengan kami tentang harapan-harapan serta misi Semarang Gallery di medan sosial senirupa Indonesia kedepannya dan langkah-langkah apa saja yang sudah dirintis untuk pencapaiannya dari sekarang?
Harapan harapan kedepan bagi medan sosial seni rupa di Indonesia adalah lahirnya pecinta pecinta seni sejati yang mempunyai selera dan apresiasi yang tidak mudah terombang ambing oleh trend pasar.  Langkah-langkah Semarang Gallery yang sudah dicapai selama ini adalah peningkatan profesionalisme Semarang Gallery di semua  bidang. [V] VU

 
 
TUBAGUS ANDRE DAN GALERI NASIONAL INDONESIA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 09 December 2010 16:54

SAAT KITA MENYEBUTKAN BAROMOTER KEGIATAN SENIRUPA INDONESIA, NAMA GALERI NASIONAL INDONESIA PASTINYA MENJADI SALAH SATU TOLAK UKURNYA. DI TANGAN  TUBAGUS ANDRE, GNI TELAH BERUPAYA MELAKUKAN BERBAGAI PERBAIKAN DAN SALAH SATU HAL YANG PENTING ADALAH RANCANGAN PERLUASAN BANGUNAN FISIK GALERI YANG DIHARAPKAN DAPAT DILAKUKAN PADA TAHUN 2012.

Dan bila sekarang kita menyebut Galeri Nasional Indonesia, nama Tubagus Andre pun mengikuti. Sosok yang telah memimpin Galeri Nasional selama kurang lebih empat tahun ini memang dinilai banyak pihak telah mampu melaksanakan program-program edukasi dan juga program pameran yang bekerjasama dengan galeri komersial Indonesia sehingga sedikit demi sedikit merintis GNI sebagaimana peruntukkan awalnya yaitu merintis sebuah museum senirupa Indonesia.

Kinerja Tubagus Andre sebagai pimpinan GNI di tahun 2010 tidaklah terlepas dari tantangan-tantangan, Satu di antaranya adalah insiden seputar pameran tunggal perupa Malaysia Yussof Ghani yang mengalami keterlambatan pengiriman barang sehingga pameran dibuka sebelum karya-karya berhasil sampai di GNI. “ini adalah kesalahan teknis. Ada kesalahan pengiriman manifest dari pihak penyelenggara di Malaysia yang menyebabkan proses di imigrasi terhambat”, ia pun meluruskan seputar “dicekalnya” pameran ini akibat insiden perairan batas negara Indonesia-Malaysia yang terjadi sebelum insiden tersebut.

Sepanjang tahun 2010 ini pulalah, program-program pameran di Galeri Nasional Indonesia menajdi sorotan banyak pihak. Dari program pameran tunggal perupa-perupa “emerging artist” sampai dominasi segilintir nama kurator yang menampilkan pameran-pameran di GNI. Semuanya menjadi kritik sekaligus masukan bagi Tubagus Andre.
Saat ditanyakan mengenai “pembedaan” program di Hall A, B dan C; ia menjawab, “sebenarnya publik sendiri yang memilah-milah sehingga pameran di gedung B dan gedung C seringkali dianggap ‘kurang’ dibandingkan Gedung A. Pengalaman kami, yang pertama adalah karena faktor belum pas di gedung utama karena mungkin jam terbangnya, kapasitas karyanya sehingga mereka dipamerkan di Gedung B. Itu memang ada kebijakan ke situ. Di satu sisi ada yang memilih Gedung B dan C karena sesuai dengan konsep pameran mereka. Karena mungkin pamerannya banyak menampilkan karya-karya yang membutuhkan space lebih kecil dan lebih banyak multimedia. Selain pameran Mella Jaarsma, ada beberapa program yang berkerjasama dengan seniman asing dan kedubesan, entang mengapa, mereka lebih nyaman berpameran di Hall B dan C. Mungkin karena tidak terlalu glamour dan pembukaan bisa dikemas dengan sederhana”.
Ia pun menambahkan, “inginnya pameran-pameran di Gedung A, B atau pun C adalah memang pameran yang bagus dan berkualitas”.

Sementara tentang nama-nama tertentu yang muncul di balik pameran-pameran di Gedung A Galeri Nasional, “ kurator yang mengusung itu (program, red) juga diminta pertanggungjawabannya artinya kita harus bisa memahami juga bahwa tidak semata-mata semua kurator diberi kesempatan. Ada juga kurator yang mungkin tidak serius atau hanya didompleng. Kita lihat postive thinking-nya saja”.

Selain kontroversi seputar program GNI, banyak pula program yang menarik disimak dan menjadi highlight pameran tahun ini seperti pameran grafis Itallia yang berkerjasama dengan pihak kedubesan Italia. Pameran ini juga mengikutsertakan Achile Bonito Olivia --pemikir senirupa dunia-- sebagai kurator pameran bersama-sama kurator GNI, Rizki A. Zaelani. [V] Vidhyasuri Utami

 
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3

images/stories/articles.jpg
Art Talk with HONF at Umah Seni Jakarta
Monday, 16 January 2012 14:23
images/stories/articles.jpg
2012, JANGAN MEMBABI-BUTA
Monday, 16 January 2012 12:11
images/stories/articles.jpg
2012, JANGAN MEMBABI-BUTA
Monday, 16 January 2012 12:00
images/stories/articles.jpg
Mengelola & Merawat Koleksi Anda: Beberapa Tip Praktis untuk Kolektor
Monday, 16 January 2012 11:17
images/stories/articles.jpg
“WAYANG BEBER” DOKTER AUCKY
Monday, 16 January 2012 10:44


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7186)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 5779)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 5658)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 3893)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 3712)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa