|
JULIE BENA “ DARI TIMUR KE BARAT “ Perupa Prancis di Pusat Kebudayaan Prancis Surabaya (CCCL) |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 19 October 2010 10:57 |
  | | Oleh: Agus Koecink
Berkenalan dengan seniman seni kontemporer sangatlah menyenangkan bila kita bisa berkomunikasi dengan baik dan bertukar gagasan maupun ide tentang proses berkesenian dari masing-masing perupa. Tentu kita akan mendapatkan sebuah pengalaman yang bisa membangun wawasan tentang kesenirupaan kita apalagi pemikiran mereka tentang seni kontemporer akan berbeda dengan pemikiran kita yang sebenarnya belum mempunyai akar yang kuat untuk berbicara seni kontemporer maka berdialog sangatlah mempunyai pengaruh dalam perjalanan seni rupa kita. Sosok seperti Julie Bena seniman muda yang hidup dalam lingkungan sejarah seni rupa dan mempunyai akar yang kuat dalam menyuarakan seni rupa kontemporer ini melakukan kegiatan bertempat tinggal dan berkarya di Pusat kebudayaan Perancis di Surabaya. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua minggu ini juga menampilkan workshop dan dialog senirupa. Setelah dari Surabaya ia akan berkarya di Bali kemudian Jogyakarta untuk mengikuti Festival Gamelan Internasional.
Julie Bena, dalam proses penciptaan karya seninya, menemukan ide dari lingkungan sekitar dan keseharian, berbagai material, dengan mempertahankan kegunaan masing-masing, membuat hal baru yang tak terpikirkan oleh kita. Dalam konsep kekaryaan dijadikannya benda sehari-hari yang dijumpai, ditangannya dicipta menjadi karya seni yang imajinatif penuh eksplorasi dan eksperimentasi. Seperti cahaya matahari yang bergerak, kotak tissue dan isinya. Kecenderungan karya menampakan suasana terang gelap atau cahaya sebagai obyek untuk menimbulkaan effek sensoris. Ibunya seorang pekerja teater maka karya-karyanya sebagian secara tidak langsung terpengaruhi kehidupan panggung, seolah-olah karya yang dibuat menghidupkan kembali suasana panggung dalam bentuk seni fotografi, instalasi dan video. Tema ”Dari Timur ke Barat” akan menjadi pijakan untuk berkarya selama berada di Kota Surabaya, sebuah perjalanan estetika menuju peradaban Timur yang serba magis dan spiritual dan perbedaan budaya dieksplorasi dalam ranah pemikirannya. Bagaimana seorang Julie melihat Timur lalu menyampaikan dalam bahasa seni kontemporer. Pandangan Julie selalu berpikir dengan menggunakan, logika dan rasional sedangkan peradaban Timur memandang alam semesta sebagai sumber keindahan dan memakai perasaan dari dalam diri untuk mencipta sebuah karya seni.
Sebuah tissue yang sehari-hari kita pakai untuk mengusap keringat, tangan kotor,dan membersihkan mulut habis makan menjadi sebuah karya eksplorasi dan eksperimentasi dari seni fotografi. Karya yang diberi judul “ Monument” merupakan hasil karya yang diambil dari sebuah tissue yang ditarik dari kotaknya lalu dipotret menjadi karya seni fotografi. Setiap tarikan akan membentuk monumen yang berbeda begitu juga karya-karya temuannya selama di Surabaya dipamerkan di ruang pamer Pusat Kebudayaan Prancis. Karya seni instalasinya menjadi karya seni yang bersuasana mistik ada bunyi, photo-photo yang diambil dari lingkungan residensi. Karya selama residensi itulah yang bersuasana perpaduan antara keindahan asal negara Julie dan peradaban Timur.
| |
|
|
|
|