Melani Setiawan
Golinelli tidak lahir begitu saja menjadi seorang yang kaya dan terkenal. kariernya justru diawali dengan kehidupan yang terbilang miskin, namun pria berkebangsaan italia ini terus meyakini bahwa dirinya dapat maju dan bermanfaat buat umat manusia, ia terinspirasi orang-orang yang mendapatkan penghargaan nobel, hingga tumbuh tampil dihormati oleh kalangan terpelajar dan penggiat seni italia.
Marino Golinelli (90) demikian nama lengkap pria kelahiran Bologna yang mengharumkan negerinya lewat kepedulian terhadap dunia keilmuan, di mana kariernya diawali sebagai scientist bidang genetik dan bioteknologi, hingga didirikannya Marino Golinelli Foundation. “The knowledge and understanding of the deep meaning of life helps to face the future with a better sense of trust and responsibility”, demikian yang menjadi tanggung jawab hidupnya.
Rupanya tidak hanya ilmu eksakta, tetapi juga kepedulian dan kekaguman terhadap estetika yang terus memberi harkat Golinelli di hormati di dataran Eropa lainnya. Pasalnya Golinelli juga memberi perhatian terhadap dunia seni, bahkan dalam Marino Golinelli Foundation yang didirikan pada tahun 1988, seni dan sains masuk dalam satu paket program dan mengapresiasinya ke setiap jejaring masyarakat. Di antaranya kalangan universitas, bahkan masuk dalam ranah kafe scientifique yang menjadi tren wahana publik.
Golinelli juga dikenal sebagai kolektor karya seni. Di antaranya adalah karya seni rupa, karena di dalamnya memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi, sesuatu yang unik yang dapat diambil dari latar belakang dan refleksi kepribadian perupa.
Koleksi pertamanya adalah lukisan abstrak dari pelukis ternama Hans Hartung (Jerman), koleksi yang kedua Roberto Matta salah satu tokoh pelukis surealisme dunia. Kemudian koleksi Golinelli terus tumbuh mengikuti semangat jaman dan sekarang menfokuskan koleksinya ke seni rupa kontemporer, tidak hanya lokal tetapi juga dari pelbagai penjuru dunia seperti karya seniman terkenal Shaskia Siskandar (Pakistan), William Kentridge (Afrika Selatan), Bill Viola (USA), Jonathan Messe (Jerman), Nam Jung Paik (Korea Selatan), termasuk karya Entang Wiharso (Indonesia).
Yang cukup menarik adalah Golinelli terus mentradisikan untuk membeli di galeri atau event pameran dan pantang untuk membeli langsung ke senimannya. Tentunya ini merupakan elegansi dan spirit akan perilaku yang fair terhadap tumbuh kembangnya infrastruktur dunia seni rupa.
Begitu pula perihal pemilihan karya seni, Golinelli selalu memperhatikan latar proses penciptaan sebuah karya seni, dengan mendahulukan keterlibatan emosional antara ketertarikan terhadap sebuah karya dengan latar si pembuatnya. Seperti yang menjadi kebiasaan Golinelli untuk lebih dahulu kenal dengan senimannya sebelum memastikan untuk membeli. Oleh karena itu di rumah yang sekaligus menjadi museumnya, Golinelli senantiasa menerapkan keterangan karya yang dikomentari sendiri atas deskripsi pengalaman empiris yang dilalui bersama perupanya. Maka tak heran apabila dari semua karya yang dipajang memiliki kisah-kisah singkat menarik dan unik.
Kehadiran Golinelli di Indonesia merupakan berkat informasi yang diberikan oleh Primo Marella, karena pada awal 2009 dan 2010 para perupa Indonesia sempat berpameran di galerinya di kota Milan. Ketertarikan pada Indonesia berkaitan dedikasinya terhadap kemanusiaan yang menjadi salah satu proyeksi menjalin komunikasi melalui seni dan menginformasikan kepada setiap warga negara atas kesadaran difusi dan kemajuan ilmiah ke dalam aspek etika-budaya.
Di Jakarta dan Yogya, Golinelli sempat mengunjungi galeri, pameran, menengok koleksi para kolektor dan datang ke studio seniman. Entah kenapa, ketika melihat-lihat lukisan dan karya seni lainnya, yang selalu menjadi perhatian Golinelli adalah karya yang memiliki nilai keartistikan dan estetika lokal Indonesia. Boleh jadi nilai-nilai lokal merupakan ekspresi yang orisinal dan persoalan yang paling mendasar di Indonesia, yang memang memiliki nilai urgensi untuk diangkat nilai-nilai kemanusiaan dan budayanya.
Di kesempatan perjalanan bersama para pegiat seni Tanah Air, diam-diam Golinelli mencoba mengoreksi harga lukisan dari para perupa yang telah membandrol harga cukup tinggi, terlebih mereka para seniman yang belum masuk dalam jenjang kesenimanan yang namanya telah merambah dunia internasional. Setidaknya masuk dalam level arus utama di Asia Tenggara.
Tidak hanya masalah harga yang fantastis, Golinelli juga memberikan kiat yang ditujukan kepada para kolektor muda untuk tidak sekedar membeli karya seni hanya untuk investasi semata. Dan tentunya adalah menentukan pilihan atas dasar suka karena kualitas karya yang baik, namun semua ini juga tergantung seberapa jauh pengetahuan kita terhadap seni. Dengan demikian kerinduan membangun seni, budaya dan sains dapat bermanfaat untuk kedamaian dan kesejahteraan hidup dimuka bumi. [V]
|