Deni Junaedi
SEMANGAT BERKARYANYA TETAP TINGGI, MESKI KARTUNIS GM SUDARTA TENGAH DIRUNDUNG SAKIT HEPATITIS DAN TULANG KERING KAKI KIRINYA HARUS DIOPERASI GARA-GARA JATUH DI KAMAR MANDI.
|
Bagi kartunis garda depan Indonesia, yang telah mengkartun sejak 1967 sampai sekarang, penyakit bukanlah halangan untuk berkarya. “Oom Pasikom harus tetap segar bugar, walaupun saya terkapar,” tutur GM Sudarta puasa Ramadhan lalu, sebelum keluar dari Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Saat menuturkan itu, ia tengah berbaring sambil tangan kirinya memegang buku gambar, dan tangan kanannya lincah memainkan spidol untuk menyelesaikan sebuah kartun Oom Pasikom tentang memanasnya kembali hubungan Indonesia-Malaysia, gara-gara polisi jiran itu menahan tiga petugas patroli laut Indonesia di perairan Indonesia. Ia menggunakan bantuan kaca pembesar untuk mengerjakan detil kartunnya, meskipun lensa kacamatanya sudah begitu tebal.
|
Di atas ranjang rumah sakit yang bisa diatur ketinggiannya itu, selain tetap membuat kartun Oom pasikom, ia juga melakukan hal-hal kreatif lain, yang selama ini telah dilakoninya. Seperti misalnya menulis cerita pendek. Tema yang digali saat itu seputar efek sosial Gerakan 30 September 1965. Juga bermain gitar untuk menyeimbangkan kehidupannya. Peraih penghargaan jurnalistik Adinegoro di bidang karikatur ini memang harus mengerjakan hampir semua hal di atas tempat tidurnya, termasuk makan dan menyeka tubuh. Tangannya tak terlalu kuat untuk menggerakkan kursi roda.
Gerardus Mayela Sudarta yang setelah mualaf menjadi Gafur Muhamad Sudarta, yang dikenal sebagai “ayah ideologis” Oom Pasikom, sudah cukup lama meninggalkan Jakarta, dan memboyong keluarganya ke Klaten, tepatnya di Graha Budaya Sekartaji, Klaten, Yogyakarta. Di Klaten ia tetap aktif mengkartun, dan membina komunitas kesenian. Tahun lalu ia mendapat kesempatan mengajar kartun di Universitas Seika Kyoto Jepang. Di negeri sakura itu, kartunis yang akrab disapa Mas Darta, atau ada juga yang biasa memanggil Mas GM, terserang virus Hepatitis C. Gara-gara serangan virus itu, ia pernah pingsan saat memberikan kuliah. Saat kontrak mengajar habis dan ia harus balik ke Indonesia, “hepatitis Jepang” itu tentu saja ikut terbawa pulang, kalau tidak boleh disebut sebagai “oleh-oleh” yang menyedihkan. Virus hepatitis itulah, yang mengubah penampilan Mas Darta yang dulu gagah, menjadi kurus kering. Berbagai upaya medis telah ia lakukan untuk memerangi virus Hepatitis C itu, namun belum juga sembuh seperti sedia kala. “Pengobatan penyakit Hepatitis C membutuhkan biaya tinggi, karena obatnya harus diimport dan baru satu negara yang bisa memproduksi. Sekali suntik seharga satu kartun Oom Pasikom,” ujar kartunis yang telah meluncurkan berbagai buku antara lain berjudul 40 tahun Oom Pasikom.
Dalam situasi seperti itulah, ia terjatuh di kamar mandi hingga tibia (tulang kering) kaki kirinya harus dioperasi untuk dipasang platina. Ia memilih operasi di Yogyakarta saja, dan tidak memilih operasi ke Singapura, seperti kebanyakan orang Indonesia yang berduit. Dan sungguh tidak nyaman, menghabiskan Ramadhan di atas tempat tidur rumah sakit. Bukan saja harus berkarya dengan berbaring, tapi lebih dari itu, ia tidak bisa menjalankan ibadah puasa dan tarawih, seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya. Syukurlah menjelang Idul Fitri, ia sudah keluar dari rumah sakit. Namun kini ia merasa diuji benar kesabarannya, karena dalam proses penyembuhan hepatitis dan tibia, tidak semua obat bisa saling menerima. “Ya saya akan sabar dan pasrah saja deh Mas, hehehe,” ujarnya pertelpon kepada Yusuf Susilo Hartono, Visual Arts.
Gangguan kesehatan kartunis yang pernah belajar seni rupa formal di ASRI Yogyakarta (1965-1967) ini, tentu saja mengurangi mobilitasnya yang biasanya begitu tinggi dan lintas kota. Salah satunya ia tidak bisa menghadiri malam pembukaan Pameran Kartun The 9th Kyoto International Cartoon Exhibition tanggal 26 Agustus 2010 di Bentara Budaya Jakarta. Padahal mantan Ketua Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia) itu menjadi anggota tim juri yang diketuai oleh Yasuo Yoshitomi.
Self Potrait Kurus Kering
Kendati telah ratusan kali mengkarikaturkan wajah tokoh-tokoh terkenal dari dalam dan lur negeri, termasuk para pemimpin dunia, perupa kelahiran Klaten 20 September 1945 ini jarang sekali membuat karikatur dirinya sendiri. Justru setelah tubuhnya kurus, banyak banyak kehilangan berat badan, Mas Darta tergerak untuk menjadikan dirinya sebagai subjek matter. Muncul lah karya dengan figur kurus kering dan rambut acak-acakan yang menggambarkan dirinya tengah mamainkan Oom Pasikom di tangan kanan. Dalam karya tersebut, GM Sudarta memakai pakaian khasnya yang selalu berwarna hitam rancangan Sanny Budiarto. Ekspresi raut mukanya begitu kontras, Oom Pasikom tetap tersenyum, sedangkan dia sebaliknya.
Dua putri kembarnya yang kini bersekolah di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta lari ketakutan ketika melihat karya tersebut. Beberapa teman seniman mengomentari karyanya itu magis, mencerminkan ambang batas kesadaran GM Sudarta. Karyanya ini, bersama beberapa karya lukisan kartunnya yang lain – termasuk yang jadi cover edisi ini-Red -- ikut dipamerkan dalam pameran Cartoon on Canvas “JogjaKARTUNhadiningART” di Bentara Budaya Yogyakarta, Agustus silam.
Mas Darta, merupakan salah satu asset penting dunia kartun Indonesia, bahkan internasional. Hal itu dapat dibuktikan dari dedikasi dan karya-karya Oom Pasikom selama ini, yang telah menyertai perkembangan bangsa Indonesia, terutama era Orde Baru hingga pasca reformasi sekarang ini. Reputasinya dikukuhkan oleh belasan penghargaan dalam negeri, juga penghargaan internasional seperti Best Cartoon of Nippon dan Gold Prize of Tokyo Nokai. Selain itu, kartunis yang sejak kecil suka mencorat-coret dinding ini juga sering kali kali tampil di berbagai seminar nasional dan internasional.
Secara cerdas ia mampu menanggapi pandangan pengamat manca ketika menyatakan kartunis Indonesia kurang tajam dalam mengkritik. “Apakah ketajaman menjamin tercapainya pesan sebuah kartun?” balas GM Sudarta. Dari pengalaman puluhan tahun membuat kartun ia sampai pada simpulan bahwa, “Pada dasarnya masyarakat Indonesia tidak senang dikritik, maka mesti pintar-pintar menjangkau untuk meraih target. Sebuah kartun mesti bisa membawa senyum yang dikritik, yang terwakili, dan diri sendiri.” Pandangan tersebut juga selaras dengan pepatah Jawa klasik ngono yo ngono ning ojo ngono (apapun yang mau dilakukan, lakukanlah, namun jangan sampai menyakiti siapapun) dan juga tepo seliro (menghargai orang lain).
Kesadaran akan peran kartun sebagai kontribusi kehidupan politik dirasakan GM Sudarta sejak tahun 1971. Memang sebelumnya Oom Pasikom sudah lahir, namun sekedar mengusung lelucon. Tahun itu, ketika Orde Baru tengah berjaya, membuat kartun tentang Golkar. Masa kampanye belum dimulai. Hujan turun, bukan sembarang hujan. Oom Pasikom berkomentar, “Hujan kecap!” Golkar marah, Kompas bermasalah, GM Sudarta sadar, “Kartun mampu menjalankan fungsinya.”
Kartunis yang awalnya bercita-cita sebagai masinis kereta ini tidak segan-segan berkonsultasi dengan dewan redaksi maupun wartawan untuk memahami sebuah peristiwa. Ia sering menasehati kartunis muda, “Membuat kartun jangan sekedar menangkap kulit luar suatu masalah, namun mesti bisa menjangkau isinya.” Kartun yang baik , adalah, “Sebuah kartun yang mampu memprediksi masa depan kendati prediksinya salah, dan juga menuduh walau tuduhannya meleset.”
Semoga Mas Darta lekas sehat kembali seperti sedia kala. Dan mengubah selfpotrait yang kurus kering itu menjadi selfpotrait segar bugar dengan senyum lebar, selebar senyum Oom Pasikom. [V]
Keterangan foto:
- Self portrait, lukisan kartun GM Sudarta, 2010_ foto Probo
- GM Sudarta, di rumah sakit tetap berkarya_foto Deny Junaedi
Petruk, lukisan kartun GM Sudarta, 2010_Dok GM Sudarta
| |