WIYU WAHONO, KOLEKTOR DAN PENULIS SENIRUPA, MEMPUNYAI TEMPAT KHUSUS DI MEDAN SENIRUPA INDONESIA BELAKANGAN INI. DALAM ARTI, KALAU DALAM SUATU ACAR DIA TIDAK ADA BANYAK YANG “MENCARI”, TAPI KALAU ADA, BANYAK YANG “GERAH”, “SEBAL”, DAN “TERANCAM”.
Apa sebab? Itu lho, peluru-peluru pikirannya yang terlontar dari ucapan-ucapannya yang lantang dan blak-blakan, sering terasa memusuhi, membenci, bahkan mematikan bagi orang-orang atau para pihak yang tidak tahan kritik terbuka.
Menurut pandangan Wiyu, proses belajar senirupa lebih efektif jika dilakukan dengan (diskusi) terbuka. Misalnya jika dirinya ditanya apakah suka dengan karya si anu, maka ia akan menjawab jujur sesuai dengan apa uang ia pikirkan, dan yang lebih penting adalah memberi alasan yang melatarbelakanginya. “Saya suka, karena a,b,dan c. Atau, saya tidak suka karena d,e,f dan g,” pasalnya.
Baginya, seorang teman, tidak harus selalu sependapat dengan kita. Seorang teman yang berpendapat beda dan mengutarakan terang-terangan kepada kita, bukan berarti dia menjadi musuh kita. “Oleh sebab itu saya merasa lucu bahwa ada orang yang marah kepada saya, karena kita berbeda pendapat. Perbedaan pendapat dinilai sebagai serangan terhadap personal,” ujarnya.
Ia mengaku tidak segan-segan mengeritik, jika dirinya melihat suatu kondisi yang kurang baik untuk senirupa Indonesia. Sebaliknya, dia akan menerima kritikan dari mana pun datangnya. “Saya yakin sifat kritis saya yang terbuka akan berpengaruh positif terhadap senirupa Indonesia. Dalam semua aktivitas yang saya lakukan selama ini, saya berniat turut serta membangun senirupa Indonesia. Saya yakin bahwa ‘niat baik’ inilah yang paling penting,” tandasnya. Bahwa kemudian ada orang yang gerah, lalu menyebarkan gosip-gosip dan tudingan yang bersifat personal (pembunuhan karakter), ia sudah memutuskan untuk tidak mau menanggapi. Salah satunya, ia dituding sebagai “kolektor yang banyak bicara, tapi sedikit koleksinya”.
Wiyu yang terjun menjadi kolektor sejak 1998, mengakui tahun 2010 merupakan tahun “biasa-biasa” saja. Penambahan koleksinya tidak terlalu banyak, karena kondisi bisnisnya baru mulai membaik awal tahun ini, sehingga daya beli dia pribadi tidak begitu kuat. Sadar akan keterbatasan dana untuk mengoleksi itu, ia banyak membaca dan mendapatkan informasi dari kolektor-kolektor dunia, agar tidak banyak melakukan banyak kesalahan dalam mengoleksi. Istilah awamnya, tidak mengeluarkan uang terlalu banyak untuk “belajar”. Dari bacaan dan dari berbagai sumber lain, maka ia secara sadar menempuh cara mengoleksi secara koheren (coherent collection). Disamping sedang berusaha membangun koleksi yang bersifat in-depth.
“Karya yang saya sukai adalah karya yang misterius (mungkin juga yang mengandung sedikit sensasi). Bagi orang awam, mungkin menimbulkan perasaan ‘seram’, sehingga mereka bertanya mengapa karya seperti itu di koleksi. Saya harapkan pertanyaan itu justru akan membangkitkan keingintahuan mereka tentang senirupa kontemporer Indonesia dan pada akhirnya mereka bisa menjadi kolektor juga,” tandasnya.Karya yang mengandung misteri dan sensasi, bagi Wiyu, tidak akan membosankan dan selalu mengundang dirinya untuk menduga tentang apa yang dipikirkan si perupa saat dia membuat karya tersebut.Ia suka karya Ay Tjoe Christine, Entang Wiharso, Galam Zulkifli, Dipo Andy, Teguh Ostenrik. Juga mulai mengoleksi Gede Mahendrayasa, Tromarama, Wimo Ambala Bayang. Juga suka Ugo Untoro, Jompet, dan lain-lain.
Ya, memang Wiyu mengoleksi dengan “pikiran” bukan dengan perasaan, seperti kebanyakan kolektor tempo dulu. Sedikit banyak, dominasi pikiran atas perasaan ini, berkaitan dengan latar belakang pendidikan formalnya di bidang teknik di Jerman. Ia kuliah di Technical University Berlin, hingga meraih gelar S2 dibidang Teknik Mesin, dan S3 Permukaan Plastik.
Kalau ada kolektor tujuannya beli hari ini, untuk dijual besok supaya dapat untung, Wiyu tidak demikian. Tujuan utama menjadi kolektor adalah mendapatkan pleasure (kesenangan) dalam hidup. Seraya menginginkan bahwa karya koleksinya kelak akan menjadi saksi zaman. Oleh karena itu tantangan dalam mengoleksi adalah memprediksi dan mendapatkan karya-karya yang mempunyai “semangat zaman.”
Pada 2010 ini ia melihat meningkatnya minat dari kolektor-kolektor muda dalam mengoleksi senirupa kontemporer dengan media yang tidak konvensional, seperti photography, scanography, video, dan lain-lain. “Harapan saya untuk tahun 2011, semoga perupa kita bisa menghasilkan karya-karya bermutu dan di apresiasi tidak hanya didalam negeri tapi juga di luar negeri, terutama di Eropa dan Amerika Serikat,” ujar Wiyu yang tengah menggarap beberapa ide untuk diledakkan tahun depan.[V] Yusuf Susilo Hartono
| |