|
TUBAGUS ANDRE DAN GALERI NASIONAL INDONESIA |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 09 December 2010 16:54 |
  | | SAAT KITA MENYEBUTKAN BAROMOTER KEGIATAN SENIRUPA INDONESIA, NAMA GALERI NASIONAL INDONESIA PASTINYA MENJADI SALAH SATU TOLAK UKURNYA. DI TANGAN TUBAGUS ANDRE, GNI TELAH BERUPAYA MELAKUKAN BERBAGAI PERBAIKAN DAN SALAH SATU HAL YANG PENTING ADALAH RANCANGAN PERLUASAN BANGUNAN FISIK GALERI YANG DIHARAPKAN DAPAT DILAKUKAN PADA TAHUN 2012.
Dan bila sekarang kita menyebut Galeri Nasional Indonesia, nama Tubagus Andre pun mengikuti. Sosok yang telah memimpin Galeri Nasional selama kurang lebih empat tahun ini memang dinilai banyak pihak telah mampu melaksanakan program-program edukasi dan juga program pameran yang bekerjasama dengan galeri komersial Indonesia sehingga sedikit demi sedikit merintis GNI sebagaimana peruntukkan awalnya yaitu merintis sebuah museum senirupa Indonesia.
Kinerja Tubagus Andre sebagai pimpinan GNI di tahun 2010 tidaklah terlepas dari tantangan-tantangan, Satu di antaranya adalah insiden seputar pameran tunggal perupa Malaysia Yussof Ghani yang mengalami keterlambatan pengiriman barang sehingga pameran dibuka sebelum karya-karya berhasil sampai di GNI. “ini adalah kesalahan teknis. Ada kesalahan pengiriman manifest dari pihak penyelenggara di Malaysia yang menyebabkan proses di imigrasi terhambat”, ia pun meluruskan seputar “dicekalnya” pameran ini akibat insiden perairan batas negara Indonesia-Malaysia yang terjadi sebelum insiden tersebut.
Sepanjang tahun 2010 ini pulalah, program-program pameran di Galeri Nasional Indonesia menajdi sorotan banyak pihak. Dari program pameran tunggal perupa-perupa “emerging artist” sampai dominasi segilintir nama kurator yang menampilkan pameran-pameran di GNI. Semuanya menjadi kritik sekaligus masukan bagi Tubagus Andre. Saat ditanyakan mengenai “pembedaan” program di Hall A, B dan C; ia menjawab, “sebenarnya publik sendiri yang memilah-milah sehingga pameran di gedung B dan gedung C seringkali dianggap ‘kurang’ dibandingkan Gedung A. Pengalaman kami, yang pertama adalah karena faktor belum pas di gedung utama karena mungkin jam terbangnya, kapasitas karyanya sehingga mereka dipamerkan di Gedung B. Itu memang ada kebijakan ke situ. Di satu sisi ada yang memilih Gedung B dan C karena sesuai dengan konsep pameran mereka. Karena mungkin pamerannya banyak menampilkan karya-karya yang membutuhkan space lebih kecil dan lebih banyak multimedia. Selain pameran Mella Jaarsma, ada beberapa program yang berkerjasama dengan seniman asing dan kedubesan, entang mengapa, mereka lebih nyaman berpameran di Hall B dan C. Mungkin karena tidak terlalu glamour dan pembukaan bisa dikemas dengan sederhana”. Ia pun menambahkan, “inginnya pameran-pameran di Gedung A, B atau pun C adalah memang pameran yang bagus dan berkualitas”.
Sementara tentang nama-nama tertentu yang muncul di balik pameran-pameran di Gedung A Galeri Nasional, “ kurator yang mengusung itu (program, red) juga diminta pertanggungjawabannya artinya kita harus bisa memahami juga bahwa tidak semata-mata semua kurator diberi kesempatan. Ada juga kurator yang mungkin tidak serius atau hanya didompleng. Kita lihat postive thinking-nya saja”.
Selain kontroversi seputar program GNI, banyak pula program yang menarik disimak dan menjadi highlight pameran tahun ini seperti pameran grafis Itallia yang berkerjasama dengan pihak kedubesan Italia. Pameran ini juga mengikutsertakan Achile Bonito Olivia --pemikir senirupa dunia-- sebagai kurator pameran bersama-sama kurator GNI, Rizki A. Zaelani. [V] Vidhyasuri Utami
| |
|
|
|
|
Comments
coba ditinjau kembali "predikat" yg terlalu di paksakan tersebut,mudah-mudahan GNI akan lebih baik di masa yg akan dtg......
Terlalu sensasi......