|
ENTANG WIHARSO BUKAN SI MALIN KUNDANG |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 10 December 2010 10:09 |
   | | DI TENGAH BANYAK PERUPA LARUT PADA SELERA PASAR DAN TREN GLOBAL, ENTANG WIHARSO SETIA DENGAN AGENDA DAN EKSPLORASINYA SENDIRI. HINGGA MENGHASILKAN PAMERAN YANG FENOMENAL DAN TERBAIK TAHUN INI.
Pilihan sikap Entang Wiharso tidak ikut selera pasar dan tren global, memang mengandung risiko. Yang paling nyata, karya-karyanya di pasar --sementara ini-- kurang bisa mencetak harga yang mengagumkan. Di sisi lain, ungkapan dan karyanya menjadi tidak biasa di forum global. Akan tetapi hal itu kelihatannya tidak menjadi soal baginya. Toh karya-karyanya yang dekat dengan kanon perkembangan yang dibentuk dengan kekuatan lokal --mengenai keutamaan dan nilai-nilai, persepsi tentang seni dan cita rasa-- mempunyai pesona tersendiri. Terasa sekali bahwa tujuan akhir karyanya bukan semata dinding galeri, dinding kolektor, atau balai lelang, akan tetapi ruang kesadaran bersama yang plural.
Sebagai seniman kelahiran Tegal 1967 yang dibesarkan oleh keluarga dan lingkungan Islam dan tradisi Jawa, belajar seni secara formal di ISI Yogyakarta, menikah dengan perempuan Amerika Serikat dan dikarunia anak, tinggal dan bekerja ulang-alik Rhode Island, AS dan Yogyakarta yang lingkungannya berbeda, bergumul dengan realitas urban dan banyak pandangan lokal hingga internasional, menghadapi fanatisme, kekerasan dalam berbagai bentuknya; akhirnya Entang sampai pada pertanyaan pokok: dasar apakah yang digunakannya untuk ungkapan-ungkapan karyanya? Lalu apakah seni baginya?
Dasar ungkapan Entang Wiharso adalah etika. Dan ungkapan seni berpangkal pada perasaan yang merupakan gabungan antara sensibility yang melibatkan akal dan sensitivity estetis yang punya kapasitas merasakan moral dan etika. Karena itu ungkapan seni – dari yang santun sampai yang provokatif—mengandung kebaikan yang menampilkan pikiran positif tetang realitas apapun dalam kehidupan, begitu tulis Jim Supangkat, yang bertindak sebagai kurator pameran tunggalnya “Love Me or Die” yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, 21-30 Oktober 2010.
Pameran tunggal terbarunya ini, adalah bukti ungkapan-ungkapan aktualnya. Mungkin ini semacam puncak gunung es, karena apa yang muncul dalam pameran ini sudah dirintis beberapa tahun sebelumnya. Bahkan akar-akar idenya menghunjam pada tiga sampai sepuluh tahun yang lalu. Dengan kata lain, pameran tunggalnya ini merupakan presentasi rekaman lintasan perjalanan ide-ide yang bertolak pada permulaan tahun 2000. Citra black goat, ornamentasi, teks, motif kulit binatang dan panorama telah digunakan sebagai simbol-simbol untuk menanyakan, evaluasi, observasi, dan mencerminkan tema-tema utama dalam karyanya.
Sebagai seniman kontemporer, dengan pengalaman internasional, Entang boleh kita sebut sebagai bukan “Si Malin Kundang”. Dalam arti, ia bisa saja memakai bahasa asing (Inggris) untuk teks-teks karyanya, tapi ia tetap menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa. Ia bisa saja menggunakan plat aluminium untuk medium karya-karyanya, tapi logam-logam itu di perlakukan bak belulang kerbau atau sapi, sebagai bahan wayang kulit, yang di dalam siluetnya diberi cut-out berupa ornamen dan bahasa batik. Pada karya “candinya” yang akan dijadikan proyek tumbuh, berjudul “Temple of Hope” ia mempertemukan masa lalu (umpak batu) sebagai landasan empat penjuru angin, dengan kerangka dan dinding logam yang “diukir” dengan banyak (siluet) figur, ornamen dan teks. Teks-teks itu tidak melulu dari pikirannya sendiri, tapi juga ucapan atau tulisan dari kawan-kawan dekatnya. Sehingga karya-karya itu menjadi dekat dan komunikatif, kalau tidak boleh disebut “mengindonesia”. Apalagi ketika di dalam bangunan candi itu diberi lampu, dan cahayanya menerobos lobang-lobang ornamen dan tulisan hingga memantuli kedinding-dinding, mengingatkan kita pada pertunjukan wayang dari balik layar.
Dengan “bahasa ibu” --meminjam istilah Jim-- yang mengalir begitu saja tanpa dihasratkan, kemudian berhasil dijadikan bahasa visual dan bahasa personal terkini Entang, maka karya-karyanya tidak jatuh menjadi “ndeso”. Malahan sebaliknya karya-karnya Entang terasa begitu fasih mengatakan pikiran, hingga perasaannya yang paling dalam. Pikiran dan perasaan khususnya tentang mencari hubungan cinta dan kekuasaan yang terkesan paradoks. Betapa tidak, cinta tidak egosentris. Sementara kekuasaan justru selalu egosentris. Kekuasaan selalu mencurigai ‘pihak lain’, karena paranoid, kekuasaannya akan direbut. Pada kekuasaan seperti ini, Entang merasa tidak menemukan hati, cinta dan spiritualitas.
Pilihan bahasa ibu sebagai bahasa visual, juga memerlukan keberanian tersendiri. Bagi sementara orang, bahasa ibu itu identik dengan craft, seni kriya, atau kerajinan, dan oleh karena itu tidak dimasukkan pada seni tinggi, fine art. Kriya seringkali dimasukkan pada low art, seni yang berkasta rendah. Tapi di tangan Entang, kriya dan sebangsanya itu tadi tidak berhenti pada keindahan yang menyenangkan semata, apalagi kerajinan yang berkasta low art. Memang agak aneh, di era kontemporer, kita masih saja mendengar pengkastaan seni rendah dan seni tinggi, yang merupakan bawaan dari seni rupa modern yang tidak relevan lagi untuk masa sekarang.
Di mata kurator, penulis dan Dosen ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo, Entang adalah tipe seniman penjelajah yang subur dengan gagasan-gasan kritis. Ia melukis, membuat obyek, instalasi, hingga tampil dalam performance art. Hidup dan kehidupannya penuh dengan pengalaman serta benturan yang mengkondisikan dirinya untuk bertarung melawan dominasi, hegemoni, intimidasi, kesewenang-wenangan, dan penilaian sepihak yang anti dialog. Karena itu karya-karya Entang sesungguhnya merupakan upaya terus-menerus untuk memperjuangkan dan merefleksikan nilai, etika dan moralitas.
Dalam kaitan dengan moralitas tersebut, pengamat seni Dr. Amanda Katherine Rath, berpendapat bahwa Entang tidak mengungkapkan moralitas yang lugas dan telanjang. Namun dari citraan karya-karya Entang, yang brutal dan kritiknya yang tajam, jelas bahwa karyanya didasarkan atas pondasi moral dan etik yang kokoh. Tentu saja, karena dia bukan Si Malin Kundang, Amanda. [V] Yusuf Susilo Hartono
| |
|
|
Add comment
|
|
|
|
|
|
|
|