SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
TANDA-TANDA GLOBAL JIM SUPANGKAT PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 10 December 2010 10:39
KEGELISAHAN SOSOK YANG TAK ASING LAGI BAGI MEDAN SOSIAL SENIRUPA INI SEPERTINYA SAMA SAAT VISUAL ARTS BERTEMU DENGANNYA TAHUN YANG LALU. GAGASAN-GAGASAN UNTUK MENEMPATKAN SENIRUPA INDONESIA DI POSISI YANG LEBIH STRATEGIS DALAM PERCATURAN SENIRUPA DUNIA SEPERTINYA ADALAH SALAH SATU DARI OBSESINYA.

Berbagai terminologi yang kadang kala terdengar asing bagi khasanah wacana senirupa yang banyak didominasi oleh teori-teori senirupa ala barat pun dilontarkan olehnya. Kagunan, contemporaneity dan istilah yang terbaru ethnicity now. Kesemuanya merupakan upaya salah satu eksponen Gerakan Seni Rupa Baru atau GSRB ini untuk kembali --bila tidak selalu—mencoba  mendobrak hegemoni pemikiran dalam wacana senirupa baik dunia maupun Indonesia.

Hal ini tak pelak mendatangkan pro dan kontra seputar pemikirannya baik dari perupa mau pun pemikir senirupa di dalam dan di luar negeri. Tapi  sosok perupa yang memutuskan menjadi kurator pada sekitar dekade 1980-an ini bergeming. Dia tetap menjalankan dan berusaha untuk membuktikan --bila tidak mencari pembenaran-- dari pemikirannya.  

Ambillah contoh tesisnya mengenai contemporaneity yang ia presentasikan di diskusi ZKM di Hong Kong tahun lalu. Istilah ini merupakan upayanya untuk menentang hegemoni Etnologi dan Antropologi saat melihat keberadaan nonBarat (kita, red.) Sehingga --menurutnya-- alih-alih menggunakan terminologi Art Now yang kerap kali didedungkan oleh pemikir senirupa dunia, ia menggunakan terminologi Ethinicity Now untuk memberikan tentangan atas pemikiran tersebut,

Tentunya kening banyak orang akan berkerut saat mendengarkan istilah Ethincity Now ini. Satu keuntungan dan kelemahan Jim Supangkat sebagai pemikir adalah permasalahan bahasa Inggris. Di satu pihak, ia tidak terkotak-kotakan oleh kata-kata dalam bahasa Inggris dengan “rasa” bahasa yang sevalid para penutur bahasa Inggris sebagai bahasa ibu sehingga dengan mudah ia menjungkar-balikkan berbagai konotasi terminologi sesuai dengan pesannya; tapi di lain pihak, ia pun memiliki kesulitan untuk menyampaikan seluruh benaknya dengan fasih melalui bahasa ini. Istilah ini ia tambatkan dengan pembatasan nalar seni tradisional (ethnic arts sensibilities) yang plural dan tak terbatas. Keluasan ini dapat dibatasi dengan architype, metaphor, visual culture. Yang terakhir berkaitan erat dengan modernisasi dan nalar ala Cartesian. Kiranya ketiga aspek ini adalah aspek yang dapat menjembatani jarak antara perkembangan sejarah senirupa Barat di satu sisi dan kontekstual senirupa “Timur” yang secara politis lebih “benar” di sisi yang lainnya. “Dengan tiga nego ini kita bisa mendapatkan posisi baru”, tandasnya.

Ia pun melihat bahwa perkembangan saat dunia saat ini bukanlah perkembangan seperti yang disebut oleh Samuel P. Huntington sebagai clash of civilizations tapi clash of globalizations mengingat arus globalisasi tidak hanya didominasi oleh MacDonaldisasi atau pun Westernisasi seperti yang dirumuskan oleh teoritisi Barat. Globalisasi yang bersumber dari dunia Timur pun muncul dalam globalisasi sebenarnya. Dan  inilah yang penting dan juga menjadi satu “tantangan” bagi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dunia.  Itu mengapa penting bagi pemikiran-pemikiran nonBarat untuk mengklaim posisinya dalam wacana dunia.

“Saya tidak akan menulis buku tentang sejarah sih“, akunya.  “Sejarah buat saya intinya adalah local history. Dan itu persoalannya. Begitu saya bilang bahwa approach saya art history,  pikiran mereka (pemikir dan kritikus senirupa Barat, red.) sudah tidak di sana (local history, red.); sementara saya mau menolak juga susah karena saya menggunakan art discourse Barat karena influence itu ada...Sekali berbicara tentang art history, kita pun jatuh ke wacana sejarah senirupa barat….Dan sekali kita berbicara tentang local history, kita akan tutup mata. Segala istilah contemporary maupun modern akan di-reconstruct,  dan akan menggunakan istilah yang sekarang (yang ia gunakan, red).”

“Kita harus punya strategi untuk berbicara dengan mereka (dunia senirupa global, red.) Karena mereka benar-benar ignore betul. Apa pun yang kita mau omongkan kalau logikanya seperti itu (Barat, red.), percuma”, tukasnya.

Pemikiran-pemikiran inilah yang menggarisbawahi kegiatan kuratorial Jim Supangkat sepanjang tahun 2010. “Saya kira yang signifikan adalah pameran Ethnicity pada tanggal 2 Desember nanti dan pameran Entang,” ungkapnya saat ditanyakan pameran manakah yang penting baginya di antara 12 pameran yang ia kerjakan pada tahun ini. Keduanya ia letakkan sebagai sebuah rangkaian ide yang juga ia tampilkan pada pameran Contemporainety yang diselenggarakan di MoCA.  “Persoalannya sama,” ia pun menerangkan.

Selain mendapatkan pembelaan dari sekelompok pemikir senirupa dunia, pemikiran ini pun ditentang oleh orang-orang seperti kritikus senirupa Australia, Tony Godfrey. Diskusi di antara keduanya pun berlangsung secara virtual bahkan setelah penyelenggaraan diskusi ZKM hingga akhirnya sang penulis buku Conceptual Art ini berkesempatan untuk memberikan ceramah di Yogyakarta atas undangan Langgeng Foundation beberapa bulan yang lalu. Jim pun meminta secara khusus agar Tony dapat mengunjungi beberapa perupa yang dirujuknya selagi ada di Yogyakarta. Setelah mengunjungi perupa-perupa tersebut, Tony pun berkomentar, “saya baru mengerti apa yang kamu bicarakan”.  Dan Jim pun membalasnya dengan,” itu yang saya coba jelaskan selama ini”. [V] Vidhyasuri Utami

Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7546)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6827)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6665)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4151)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa