Komik bukanlah semata-mata cerita bergambar tapi dalam sejarahnya sendiri, komik merupakan sebuah media ekspresi visual maupun garda depan kritik sosial yang banyak dilansir di media cetak atau pun tampil di publik. Agung Puspito mengulas tentang perkembangan komik Indonesia.
Banyak bangsa di dunia berupaya merumuskan seni sebagai identitas budaya nasional, terkadang sambil menolak pengaruh kebudayaan asing. Setidaknya di Indonesia, hingga pertengahan tahun 2000-an, orang masih memperdebatkan apakah suatu karya seni tergolong seni rupa Indonesia atau bukan; apakah lukisan-lukisan Raden Saleh menunjukkan patriotisme karya bangsa Indonesia (atau bangsa Jawa, karena pada zamannya belum ada negara Indonesia) ataukah bangsa kolonial Belanda; dan apakah komik manga karya perupa Bandung atau Jakarta merupakan komik Indonesia atau bukan?
Comic --ini jelas istilah impor-- menurut definisi kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1974), artinya “strips of humorous drawings, as printed in newspapers, etc”. Kamus yang sama juga mencandra comic menurut kosakata Amerika Serikat, yang artinya “book or magazine containing stories etc in the form of drawings”. Batasan ini telah mengacu pada istilah teknik secara akademik, yaitu drawing. Dalam perkembangannya, istilah ini mengalami perluasan makna, tak hanya sebatas gambar-gambar lucu di majalah atau buku, melainkan juga mural, seperti karya Popok Tri Wahyudi dari Apotik Komik di Yogya atau karya Muhammad Reza dari IKJ berupa komik di ruang tunggu publik (halte bus) di Jakarta.
Peneliti komik Indonesia, Marcell Bonnef, menyebutkan bahwa komik Indonesia pertama kali muncul dalam bentuk strip di koran Sin Po, yaitu serial strip Put On karya Kho Wang Gie (sejak 1931), yang kemudian menggunakan nama Sopoiku. Put On adalah seorang pemuda jomblo keturunan Tionghoa peranakan yang tinggal bersama ibunya di Jakarta dan sering mengalami kegagalan cinta. Sebagaimana dituturkan pengamat komik Hikmat Darmawan, ide tokoh Put On diambil dari tokoh Jigg dalam serial strip Bringing Up the Father karya George McManus yang terbit di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Put On telah dikenal sebagai tokoh komik ternama pada masa Hindia Belanda dan berlanjut hingga ke masa pemerintah RI.
Pada masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia punya nama-nama komikus besar yang mengangkat reputasi buku-buku bergambar ini. Sebutlah salah satunya RA Kosasih, yang mengadaptasi kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, lalu mengindonesiakannya sedemikian rupa sehingga menjadi sangat populer. Tapi popularitas Kosasih didahului dengan karyanya, Sri Asih, dan karya John Lo, Nina Putri Rimba, pada 1953. Sri Asih dan Nina masing-masing adalah tokoh superheroine dan sejenis tarzan perempuan --jelas keduanya terpengaruh komik Amerika Serikat yang memang sedang mengalami masa jaya.
Seperti diutarakan Hikmat Darmawan, kalangan pendidik menganggap komik adalah pengaruh buruk dari Barat, terutama Amerika Serikat. Ini berujung protes keras mereka pada 1954 yang menyimpulkan bahwa komik harus enyah selamanya dari Indonesia. Tapi hal ini justru membangkitkan kreativitas Kosasih maupun John Lo. Keduanya mencipta komik wayang seperti Gatotkaca dan epik Mahabharata (RA Kosasih) dan Raden Palasara (John Lo) yang justru mengangkat reputasi komik. Kreativitas orang Indonesia lainnya tampak pada komikus Indri Soedono, sosok yang tak banyak diketahui asal Semarang, yang mengangkat khazanah kebudayaan wayang lokal (punakawan) berupa Dagelan Petruk-Gareng.
Menurut Hikmat, pada 1950-an hingga 1970-an, komik dielu-elukan para pembacanya dan menjadi bagian penting dari masyarakat Indonesia. Di Medan, mengambil hikmah dari penerbitan wayang yang menggali mitologi tradisional, penerbit Casso meminta para komikus di sana membuat komik dengan tema legenda Minangkabau, Tapanuli, atau Deli kuno. Tampillah nama-nama komikus seperti Taguan Harjo, Zam Nuldyn, dan Delsy Syamsuar.
Karya Taguan Harjo, Mencari Musang Berjanggut (1958) dan Di Batas Firdaus (1962) dinilai menunjukkan kepiawaian sang komikus dengan taknik gambar halus. Seperti diinformasikan Wikana di Bataviase Nouvelles (2007), Taguan adalah keturunan Jawa yang lahir dan besar di Suriname, Amerika Latin. Ketika terjadi kekacauan politik di Suriname pada 1954, ayah Taguan, Salikin Mardi Hardjo, membawa anaknya dan 1.000 orang asal Jawa lainnya kembali ke Indonesia. Dan nyatanya, di daerah transmigran di Sumatera inilah Taguan tumbuh menjadi komikus andal.
Beberapa komikus ternama adalah keturunan Tionghoa. Kwik Ing Hoo, contohnya. Komik karyanya, Wiro Anak Rimba Indonesia (pertama kali diterbitkan pada 1956 oleh penerbit Liong, Semarang), dinilai mampu memikat para pembacanya --dan mengundang perasaan haru, terutama ketika Wiro kehilangan para sahabat, hewan-hewan kesayangannya, sewaktu menghadapi pasukan Jepang di Irian. Ada pula Siauw Tik Kwie, dikenal juga sebagai perupa Otto Swastika, yang diakui memiliki teknik gambar yang lihai, terutama pada karyanya, Sie Djin Koei, yang ia buat atas permintaan P.K. Ojong (pendiri harian Kompas) di koran Star Weekly (1954--1961). Siauw dianggap sebagai pelopor genre komik silat yang gayanya pada 1960-an dipercaya mempengaruhi “pendekar-pendekar” komik silat di Jakarta, seperti Jan Mintaraga, Ganes TH (Si Buta dari Goa Hantu), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak). Dua orang yang terakhir ini (Ganes dan Hans) adalah keturunan Tionghoa. Komikus silat lainnya, Teguh Santosa, pernah diminta industri komik Marvel di Amerika Serikat menjadi inker untuk seri Punisher. Tapi pengakuan internasional ini tak terlalu terdengar di Indonesia.
Lalu genre superhero. Kita pernah punya Hasmi dengan Gundala Putera Petir-nya yang legendaris, juga Maza Si Penakluk beserta konconya, Jin Kartubi; Wid NS dengan Godam yang bisa terbang; dan Kus Bram dengan Labah-Labah Merah-nya yang diambil dari jagoan Amerika, Spiderman. Meski teknik drawing mereka tak terlalu istimewa, para pembaca --terutama anak-anak yang kini sudah menjadi bapak-bapak-- dipastikan amat terkesan oleh cerita yang seru dan mencekam mengenai petualangan jagoan-jagoan mereka menghadapi lawan-lawan yang tangguh. Sayang, kejayaan mereka tak berlangsung lama.
Kritik mulai muncul, kali ini mengenai pengaruh buruk domestik. Salah satunya datang dari seorang ibu di sebuah majalah wanita, yang mengkritik unsur klenik dalam cerita komik lokal. Karya Hasmi yang menampilkan tokoh antagonis Ki Wilawuk, misalnya, dikritik sebagai “gado-gado science fiction dan horor” yang tak baik buat anak-anak, dan sang pengkritik pun menyebut kebaikan komik impor seperti Tintin --pada saat itu dengan judul Tawanan Dewa Matahari. Meski masih populer, komik pada akhir 1970-an kembali dianggap remeh sebagai bacaan rendahan dan merusak. Itu saat ketika komik terbitan Indonesia mulai berhadapan dengan komik-komik asal Eropa, seperti Tintin (Belgia) atau Eppo (Belanda)....(baca lebih lanjut Refleksi VA#31)
| |