SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
Dicari: Keedanan atau Kesintingan (Catatan Bambang Bujono, salah seorang juri Jakarta Art Award 2010) PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 15 October 2010 14:38

Dari pameran sekitar 80 lukisan hasil seleksi para juri Jakarta Art Award (JAA) ketiga pada Agustus di North Artspace Gallery, Ancol,  apa yang bisa kita peroleh?

 

Pameran ini menegaskan bahwa dari hanya satu peristiwa sulit, mendekati mustahil, mendapatkan panorama senilukis kita secara keseluruhan. Dulu, ketika Dewan Kesenian Jakarta mengawali pameran besar seni lukis, 1974, dengan tujuan memperoleh gambaran perkembangan seni lukis kita yang mutakhir, dalam perjalanannya pameran dua tahun ini akhirnya juga dibagi untuk sebisa mungkin memperoleh gambaran itu.

Yaitu dibagi dalam dua kategori: pameran pelukis muda dan pameran pelukis (yang tak muda lagi). Alasan DKJ, tidak pada tempatnya membandingkan pelukis yang sudah sekian tahun berkarya dengan pelukis yang mungkin baru empat atau lima tahun lulus dari perguruan tinggi seni rupa.

Pameran besar seni lukis DKJ adalah pameran tertutup, peserta diundang langsung, bukan mengusulkan diri. Masalah kemudian muncul dalam menyusun kriteria siapa diundang siapa tidak. Jadi, kalau mau terus terang, DKJ mengalami kesulitan merumuskan kriteria, ketika perkembangan seni lukis mulai meninggalkan “jiwa nampak”, dan ini terutama terjadi pada pelukis muda, katakanlah di bawah 35 tahun.

Pelukis Bonyong Munny Ardhie (lahir 1946) misalnya, pada tahun 1970-an tak lagi hanya melukis dengan cat atau acrylic pada bidang datar. Ia menjadikan misalnya kanvasnya mempunyai laci-laci, dan di laci itu ditaruh boneka. Lukisan cat pada kanvas kemudian tampak hanya sebagai latar belakang.

Dengan membagi pameran besar menjadi dua kategori, perdebatan mana lukisan mana bukan waktu itu terselesaikan. (Pameran seni lukis DKJ ini kini menjelma menjadi Jakarta Biennale, dan mulai JB 2008, mengundang pula senirupawan luar Indonesia).

Dengan perbandingan ini, tergambar sudah bahwa sebuah acara kompetisi seni lukis yang terbuka, siapa saja boleh mengusulkan diri, sulit dijadikan bahan untuk menggambarkan seni lukis kita hari ini. Ada paradoks di sini, keterbukaan itu justru menjadi keterbatasan. Mengapa? Biasanya para senirupawan yang sudah merasa “jadi”, karya-karyanya sudah menjadi simpanan kolektor serta menjadi buruan di balai lelang, enggan ikut serta. Memang, ada perkecualian, namun ini tak membuat sebuah kompetisi lalu diikuti semua senirupawan kita.

Lalu apa yang kita peroleh dari JAA ketiga ini? Setidaknya sebagian peserta berusia 30-an dan 40-an tahun (lebih dari 76%), usia produktif dan kreatif. Jadi dengan plus-minusnya, pameran hasil seleksi ini bisa dijadikan dasar meninjau seni lukis kita masa kini, dengan catatan bahwa senirupawan kita yang berusia 30-an dan 40-an tahun yang tak muncul di JAA juga banyak.

Yang Kasatmata

Dari sisi yang tampak pada bidang gambar, hal yang mulai terasa pada 1970-an tecermin dari sekitar 80 karya yang terseleksi ini. Pada umumnya masalah menggambar sepersis karya fotografi bukan lagi masalah bagi para senirupawan kita. Realisme Fotografis, begitu lazim disebut.

Dan bukan hanya itu. Kepiawaian memindahkan bentuk, warna, dan sebagainya pada kanvas dari dunia nyata sepersis karya foto, pada beberapa senirupawan “hanya” alat untuk sesuatu yang lain. Misalnya karya Desrat Fianda (lahir 1983), Di Balik Tembok Tetangga. Desart tak hanya melukiskan tembok batu bata merah sepersis mungkin, melainkan tembok sebagai ide. Di atas tembok adalah langit dan sepotong bukit.

Untuk lebih meyakinkan bahwa ini bukan sekadar lukisan realistis sebuah tembok, bidang kanvas Desrat tidak persegi seperti lazimnya, melainkan sebuah trapesium.

Barangkali karena lebih menekankan pada ide, pelukis ini tak merasa perlu membuat perspektif tembok. Bidang sisi tembok tinggi itu dari bawah sampai atas terkesan sama panjang dan lebarnya. Ini, pada rasa saya, menjadi “gangguan”, dan justru karena itu lukisan ini mengajak kita merenungkan soal “tembok” yang kita hadapi sehari-hari: tembok dalam komunikasi antarpribadi, tembok sosial, dan tembok-tembok yang lain.

Contoh yang lain adalah Dimensi Perburuan karya Imam Abdillah (lahir 1976).  Tak sulit melihat bahwa Imam “menggubah” (bukan hanya mengubah) adegan dalam beberapa lukisan terkenal. Antara lain lukisan Raden Saleh Enam Orang Berburu Kijang. Dengan cermat Imam menyusun kembali adegan-adegan itu hingga membentuk satu suasana kekacauan di sebuah jalan besar di sebuah kota yang tampaknya mewah. Bila ada sedikit kejanggalan anatomi, mungkin karya ini dikerjakan agak tergesa.

Yang jelas, kepintaran  Imam menggambarkan apa saja –dari kuda sampai gedung, dari langit sampai balon, dari wajah sampai papan reklame --dan mengomposisikannya sehingga membentuk sebuah “teater” kekacauan adalah satu kredit buatnya.

Lalu begitu telaten dan cermatnya Putu Wirantawan menggunakan pensil dan bolpoin pada kanvas 1,2X2,0 meter. Dengan media tersebut ia menciptakan sebuah dunia yang lain, tanpa sosok makhluk tampak nyata. Imajinasi kita menggambarkan, makhluk-makhluk dunia lain itu mungkin ada dalam semacam pipa-pipa atau kendaraan terbang.

Di samping itu, karya-karya lain yang merupakan gambaran tentang sebuah kota besar dengan lalu-lintas mobil mewah dan gedung-gedung pencakar langit serta jalan bersusun tak meragukan bahwa senimannya memang menguasai keterampilan pada tingkat yang tidak setengah-setengah.

Tapi semua itu, sambil mengingat karya-karya para seniman yang tak serta, masih dalam lingkup yang tak sulit ditemukan di pameran-pameran di galeri-galeri. Penggarapan media oleh tangan-tangan terampil itu kurang membuat kita tercengang. Tak ada misalnya yang menggarap habis gagasan bahwa “medium is the message” – ungkapan terkenal dari ahli komunikasi bernama Marshall McLuhan, sekian puluh tahun yang lalu. Tiada dari sekitar 80 karya ini yang mediumnya (dari cat minyak sampai pensil, dari resin sampai cat air) digarap dan digunakan sedemikian rupa hingga antara medium dan gagasan tak terpisahkan. Medium itu sendiri masuk dalam gagasan, dan gagasan itu tak mungkin dihadirkan tanpa medium pilihan tersebut.

Jadi? Para peserta JAA bekerja sangat tekun dan cermat, namun as usual. Kreativitas, demikian disebarkan ke segala penjuru, memerlukan sejenis keedanan. Keedanan, mungkin kesintingan, itu tak saya temukan dalam JAA 2010 ini.

Memang, kompetisi lazimnya memasang rambu. Salah satu rambu di JAA, ukuran karya antara 60x60 cm dan 200x200 cm. Tapi bukankah seniman justru tertantang oleh rambu-rambu?

Dari sisi kasatmata ini Aditya Novali paling menyatukan antara medium dan gagasan. Lukisannya diwujudkan dalam “jendela” yang “daun” jendelanya berupa susunan balok yang tiap sisi membentuk gambar berbeda. Keterangan ini mungkin kurang jelas. Mudahnya, susunan kanvas Aditya seperti iklan yang berubah-ubah di pertandingan bola zaman sekarang. Rotatable bars atau batang balok yang bisa diputar, begitulah.

Kalau harus ada kritik, lukisan-lukisan itu menarik kita karena ditempatkan pada medium berbeda dari lazimnya, namun kesatuan antara lukisan dan mediumnya kurang digarap habis-habisan.

Aspek-aspek Urban

Inilah tema yang ditentukan panitia. Dari satu kalimat tiga kata ini, sesungguhnya diniatkan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada peserta untuk masing-masing menafsirkan sendiri.

Apa mau dikata, pengalaman mengatakan (dari berbagai pameran tematik yang penah diselenggarakan beberapa galeri di Jakarta, dari tema Frida Kahlo sampai Chairil Anwar, dari sebuah cerita pendek sampai beberapa cerita pendek –lihat “Ketika Karya Seni Rupa Berkisah”, VisualArts, Juli 2010), tampaknya para senirupawan kita perlu dipancing agar kinerja gagasannya optimal. Terkesan dari beberapa pameran tematik, bahwa “riset” dan “referensi” tampaknya kurang diakrabi senirupawan kita.

Ini sebabnya sebagian karya-karya JAA 2010 menampilkan kota lebih dari sisi fisik, dan ini pun stereotip alias mengunyah-kunyah yang sudah lazim. Tentang kemacetan lalu lintas, mobil mewah dan anak jalanan, pemandangan jalan bertingkat. Atau, stereotip yang lain: bahwa kota identik dengan kekerasan maka sang Donald Bebek pun main tembak, dan lukisan Ini Jakarta (Kita) Bung menggambarkan warga kota saling berantem.

Batangkali sebuah pengantar pendek apa yang dimaksudkan dengan “Aspek-aspek Urban” bisa membantu. Memang, di sini pun terkandung bahaya, bila wacana dalam esai ini membuat peserta terkungkung pada gagasan di dalamnya. Alhasil, adalah jalan tengah: sebuah esai sedemikian rupa sehingga kekuatan mengungkungnya kecil. Yang lebih dikemukakan adalah rangsangan untuk berpikir dan mencari ide-ide, agar kota tak seperti itu-itu juga.

Jadi, dari sisi ini, “kelemahan” tak sepenuhnya ada pada peserta. Sebuah esai yang memikat, yang menjelaskan tema yang diminta, yang memancing pemikiran baru, membuat berani seniman yang malu-malu adalah sebuah tawaran kreativitas. Dan dari sisi lain, esai seperti itu bisa menjadi magnet JAA: menarik lebih banyak peserta.

Memang, ada yang menyangsikan bahwa senirupawan kita gemar membaca. Memang, ada kesan bahwa beberapa ilustrasi cerita pendek di Kompas edisi minggu dibuat tanpa senirupawannya membaca cerita pendeknya. Tapi ini bukan alasan untuk tak membuat sebuah esai yang memikat. Ini bukan hanya perlu dicoba, tapi untuk meyakinkan peserta dan siapa saja bahwa panitia paham yang dimauinya.

Jakarta, menjelang peringatan Hari Proklamasi 2010



Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7547)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6828)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6666)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4152)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa