SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
SURVEI 2010: TENTANG KURATOR KITA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 20 December 2010 17:31
MENJELANG AKHIR TAHUN BEBERAPA PERTANYAAN-PERTANYAAN SEPUTAR KINERJA KURATOR PUN MUNCUL. TAK DAPAT DISANGKAL BAHWA PERAN KURATOR CUKUP SIGINIFIKAN DALAM MEMBENTUK SERTA MENGARAHKAN PERKEMBANGAN DUNIA SENIRUPA INDONESIA.

Berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana, siapakah kurator yang paling giat di tahun 2010. Kami pun berusaha unutk memperoleh jawaban pertanyaan ini diantaranya melalui penyebaran kuisioner ke berbagai kurator dan juga penulis senirupa yang kerap kali menjadi kurator untuk beberapa kesempatan.  Sayangnya memang para kurator yang menjawab kuisioner tidaklah sebanyak yang diharapkan sehingga data-data pameran mereka pun harus dilengkapi dengan sumber lain seperti katalog pameran dan juga situs-situs galeri di Indonesia.

Beberapa hal yang perlu dicermati sepanjang tahun 2010 ini. Pertama adalah kecenderungan hubungan yang cukup erat antara galeri dan kurator sehingga ada semacam “pemetaan” afiliasi kurator tertentu dengan galeri tertentu pula. Hal tersebut wajar mengingatk kerjasama antara galeri dan kurator adalah kerjasama yang berdasarkan trust atau kepercayaan dan juga kesesuaian. Kedua adalah tak banyaknya kurator perempuan yang aktif menyelenggarakan pameran di tahun ini selain Alia Swastika. Hal ini juga perlu diingat minimnya jumlah kurator perempuan di ranah senirupa Indonesia. Ketiga adalah beberapa nama baru yang muncul sebagai kurator muda yang menggawangi beberapa proyek seperti Sutrisno, Grace Samboh (bekerjasama dengan Bambang Toko), Dodo Hartoko dan juga Chabib Duto Hapsoro. Keempat adalah kemunculan Platform3 yang memasuki tahun pertamanya di tahun 2010 ini menjadi sebuah anomaly data dari survei kurator 2010 yang dilaksanakan oleh Visual Arts. Karena konsep kuratorial institusi ini yang lebih egaliter sehingga sulit untuk menunjuk orang per orangan yang bertanggungjawab pada satu proyek, Platform3 mengandalkan diskusi dari para pendiri (Agung Hujatnikajennong, Rifky Effendy, Aminuddin Th. Siregar, Wiyoga M., J. Araditya Pramuhendra dan Radi Arwinda) dan pengurus (Heru Hikayat serta Herra Pahlasari) sehingga proyek-proyek pameran di sini tidak dimasukkan dalam data survei kurator kami. Kelima adalah kecenderungan kebangkitan “kurator-kurator Bandung” yang telah terdeteksi di tahun kemarin dan berlangsung sampai tahun ini. Sehingga lumrah bila kita mendapatkan nama-nama kurator Bandung dalam berbagai program pameran senirupa tahun ini.

Berikut ini adalah hasil survei kurator 2010 versi Visual Arts berdasarkan alfabet.
AGUNG HUJATNIKAJENNONG. Basisnya memang sebagai kurator di Selasar Sunaryo Artspace, Bandung sehingga lumrahlah bila kegiatan kuratorialnya banyak dilaksanakan di ruang ini. Walaupun demikian, ia juga “menggawangi” pameran launching Jakarta Art District di awal tahun dan juga peringatan 10 Tahun Ruang Rupa di akhir tahun.

ALIA SWASTIKA. Kurator yang sempat hijrah ke Jakarta untuk menjalankan berbagai proyek di Ark Galerie ini kembali pulang kampung, Yogyakarta, di tahun 2010. Tapi hal ini tidak menghalanginya untuk menyelenggarakan berbagai proyek pameran di Jakarta. Sebutlah pameran tunggal bomber Darbotz di d Gallery, Ayu Arista Murti di JAD dan juga perupa video art, Tintin Wulia, di Ark.

AMINUDDIN TH SIREGAR. Kurator dan pengajar FSRD ITB ini memang berbasis di Bandung serta berafiliasi dengan Galeri Soemardja yang berada di bawah institusi akademis ITB. Selain kerja kuratorial yang ia laksanakan di galeri kampus ini seperti pameran sketsa S. Sudjojono, ia juga “menggawangi” pameran galeri komersial seperti pameran No Direction Home yang diselenggarakan oleh Edwin’s Gallery di Galeri Nasional Indonesia.

ARIEF BAGUS PRASETYO. Penulis-kurator yang berbasis di Denpasar, Bali. Untuk tahun 2010, Arief mengerjakan 14 proyek pameran yang di berbagai galeri di Bali diantaranya Hanna Artspace dan juga Maha Art.

ASMUDJO J. IRIANTO. Kurator sekaligus perupa ini cukup sibuk di tahun 2010 dengan paling tidak delapan pameran di Jakarta dan juga Bandung serta menulis sebuah pengantar pameran perupa-perupa Indonesia di New York. Kerja kuratorialnya di tahun ini banyak berafiliasi dengan Sigi Arts Jakarta dan juga Lawangwangi-Artsociates di Bandung.

ENIN SUPRIYANTO. Kurator ini banyak bekerjasama dengan Nadi Gallery untuk menyelenggarkan paling tidak lima pameran di tahun ini; dari pameran tunggal Laksmi Shitaresmi sampai pameran ulang tahun Nadi Gallery yang dilaksanakan di Galeri Nasional Indonesia.

HARDIMAN. Penulis yang juga berkerja sebagai dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali ini membantu 14 pameran di tahun 2010 ini yang tersebar di berbagai kota seperti Denpasar, Jakarta dan Yogyakarta. Ia pun banyak menangani pameran-pameran bekerjasama dengan Andi’s Gallery, MD Artspace dan juga Bentara Budaya

HENDRO WIYANTO. Kurator ini menuai banyak kontroversi setelah diskusi di Platform3 di pertengahan tahun karena pernyataan-pernyataan seputar hubungan kurator, galeri dan pasar. Di tahun ini, ia berkerjasama dengan Langgeng Gallery mengadakan pameran tunggal FX Harsono di Singapore Art Museum. Selain itu ia juga menampilkan pameran tunggal beberapa emerging artist --Andy Wahono dan Umbu L.P. Tangela-- di Langgeng Gallery dan Emmitan CA Gallery.

JIM SUPANGKAT. Kurator independen ini mengerjakan 12 pameran sepanjang tahun 2010 yang tersebar di Jakarta, Semarang, Bandung dan juga Shang Hai. Ia kerap kali mengerjakan pameran besar yang dilaksanakan di Galeri Nasional diantaranya IAA --yang ia kerjakan bersama-sama dengan Asmudjo J. Irianto, Rizki A. Zaelani, Suwarno Wisetrotomo dan Kuss Indarto-- dan juga pameran Ethinicity Now, pameran tunggal Entang Wiharso dan juga Mangu Putra yang masing-masing bekerjasama dengan Canna Gallery dan Vanessa Art Link

RIFKY EFFENDI. Kurator kelahiran 1968 ini adalah salah satu dari dua kurator tersibuk di tahun 2010. Paling tidak 14 pameran yang ia “gawangi” selama tahun 2010. Di antara semua pameran tersebut, pameran Keramik Kontemporer yang ia gagas bersama Asmudjo J. Irianto di North Art Space, Ancol dirasanya sebagai salah satu pameran yang paling menarik yang ia kerjakan. Ia banyak “menggawangi” pameran-pameran di Semarang Gallery dan juga Canna Gallery serta North Art Space.

RIZKI A. ZAELANI. Dari data-data yang dikumpulkan, paling tidak Kiki “menggawangi” delapan pameran yang sebagian besar pameran tersebut diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, tempat ia juga duduk sebagai Dewan Kurator. Selain pameran-pameran di Galeri Nasional, ia pun terlibat dengan berbagai program pameran galeri seperti Vanessa Art Link, Koong Gallery dan juga d Gallery.

Di antara sibuknya kerja para kurator di tahun 2010, ada beberapa kurator yang justru “menarik” diri dari hingar bingarnya program pameran tahun ini. SUWARNO WISETROTOTOMO adalah salah satu diantaranya. Ia menangani paling tidak dua pameran tahun ini, yaitu Artpreneurship di Ciputra Art World dan juga pameran tunggal Made Wiguna Valasara selain tentunya menjadi juri dan kurator bagi Indonesian Art Award. Alasan mengapa ia “membatasi” kerja kuratorial di tahun ini karena ia sedang menyelesaikan gelar doktoralnya di Yogyakarta. Nama lain yang juga terlihat menarik diri di tahun 2010 ini adalah KUSS INDARTO. “Saya ingin merefleksi aktivitas saya sendiri dan merefleksi hingar-bingar dunia senirupa yang tidak semua aktivitas mengayakan senirupa sendiri. Bahkan ada semacam pembusukan yang terus dipelihara”, dalihnya.

Terlepas dari pilihan-pilihan personal para kurator untuk pelaksanaan program atau pun juga menarik diri dari medan sosial senirupa Indonesia, tahun 2010 adalah tahun yang menarik di mana kita disuguhkan oleh berbagai pameran. Satu hal yang nyata juga dirasakan tahun ini adalah bagaimana sejarah mulai “diangkat” di berbagai pameran seperti Pameran Sketsa S. Sudjojono, No Direction Home, dan juga pameran tunggal Edhi Sunarso dan Emiria Soenassa. Semoga kedepannya kita dapat berkembang tanpa melupakan di mana kita berjejak dan sejarahnya. Salam [V] Vidhyasuri Utami

Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7547)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6828)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6666)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4152)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa