SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
PETIKAN SURAT SURAT MALAM NASHAR PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 30 July 2009 16:16
Suasana di Sanggar
Surat Ketiga Belas

Kawan, waktu aku menulis catatan Ini, aku sedang berada di sanggar LPKJ (sekarang IKJ-Red.). Rencanaku, malam ini aku tieak pulang ke Balai Budaya, tapi akan menginap di sinl. Sudah lama rencanaku untuk menulis, mencatat apa yang kualami selama ini; aku ingin menulis di tengah-tengah suasana, di dinding penuh tergantung lukisan-lukisan para siswa. Lukisan-lukisanku sendiri yang kutumpuk dl lantai malam ini kubongkar semua. Lalu kujejer di oang yang kosong. Di tengah malam ini, beberapa siswa ada yang sedang melukis, membaca, can ada yang tidur. Hidup seperti inilah yang kusukai, semangat hidupku didorong¬dorong oleh lukisan-lukisan yang tergantung di dinding penuh harapan untuk masa mendatang, tapl juga penglihatan pada masa yang lalu makin jelas can bening. Suasana seperti Ini sangat baik untukku, untuk merenung dan mempertebal keyakinan yang telah kuyakini... (Larut malam 1972).


Tentang Akademi Seni Lukis
Surat Keempat Belas

A ku pikir begini, seorang talon pelukis haruslah leblh lulu mengalaml lingkungan yang bebas: apakah lingkungan Ini kecil atau besar, tidak soal. Kalau dia masuk akademi seni lukis, akademl inilah yang mempunyai tugas untuk membentuk can menclptakan suasana kebebasan itu. Para eosennya haruslah berjiwa pembimbing. Bukanlah berjiwa pengajar, kalau memang diakui bahwa seorang itu tidak mungkin dlajar untukjaei seniman. Lingkungan yang bebas ini, aku pikir, mutlak harus ada. Dalam dunia inilah, seorang bare bisa mengerti kodrat hidupnya. Ini ialah modal baginya di dalam kehidupan masyarakatnya yang banyak liku-liku norma hidup yang akan dihadapinya. Karena menurut pendapatku, seorang seniman haruslah mendahulukan masyarakatnya. Maka, kalau dia sendiri tidak mengenal kebebasan, dia akan dihanyutkan oleh keadaan di luar dirinya... (Larut malam,1972).

Tentang "Api"
Surat Kelima Belas

Berapa banyak lukisan yang dipamerkan yang kulihat "api"-nya redup. Kanvas-kanvas penuh dengan sapuan warna yang tak berarti, walaupun banyak orang yang mengaguminya. Berhubungan dengan inilah, banyak pelukis terpengaruh oleh penilaian orang lain, apakah penilaian itu positif atau negatif. Bagiku, penilaian orang lain itu hanyalah sebagal penguji kekuatan mental diri sendiri, can hal Ini sangat diperlukan. Tanpa itu, aku tak mungkin mengenal poslsiku, dalam pengertian eksistensiku. Tapi pendapat orang lain itu bukanlah ukuran apa yang telah dimlliki oleh lukisan itu. Apalagi mengingat pendapatku bahwa lukisan itu hanya bersifat memberi kepada orang lain, bukan menerima dari orang lain. Jadl, kalau sifatnya memberi, apakah orang itu menolak atau menerimanya, bukanlah soal lagi untuk diperhitungkan apalagi untuk ruginya,jauh dari itu. Menurut pendapatku, semua hasil kesenian sifatnya hanyalah memberi saja, baik untuk zaman kini maupun untuk zaman mendatang. Karena sifatnya memberi itulah, maka hasil kesenian bisa menerobos segala zaman. Si seniman hanya ingin berdialog dengan zaman kini can zaman mendatang. Kalau seorang pelukis bertolak dari pendapat orang luar, walaupun dari orang sezamannya, maka kekuatan pancar dari apa yang hendak diungkapkannya dalam lukisan-lukisannya menjadi lemah. Paling-paling kekuatan pancar idenya hanya sampal pada orang¬orang sezamannya. Karena apa? Karena terikat oleh orang-orang sezamannya. Hal inilah di antaranya yang kumaksud bahwa seorang pelukis haruslah mendahului zamannya. Menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan "api° dalam lukisan, sama sekali tldak tergantung pada hal-hal yang di luar dirinya... (Larut malam 1972)


Tentang Penilaian Lukisan

Surat Keenam Belas

Memang besar bahwa lukisan itu sendiri yang menentukan apakah lukisan itu bagus atau tidak. Tapl, seperti kuketahui, lukisan bukanlah hal yang verbal. Maka, aku menempuh cara untuk menyatakan bagus atau tidak, selalu mengungkapkan unsur-unsur kehieupan pelukisnya. Aku tak mau bertolak dari teori-teori seni lukis karena teori-teori itu bisa saja diterapkan pada semua lukisan. Lukisan itu balk atau kuat kalau cocok dengan teori itu. Dan kalau sebaliknya, maka lukisan itu menjadi kurang balk. Cobalah, Kawan, kalau teori itu diterapkan pada lukisan yang tidak atau belum bernilai seni clan kebetulan cocok dengan teori yang cligunakan, maka lukisan itu menjadi balk, Apalagi kita sebagai pembaca yang kebetulan tidak mellhat sendiri lukisan yang diblcarakan itu, dengan sendirinya akan terbayang lukisan itu baik, dalam arti bernilai seni. Hal yang semacam ini bukannya jarang terjadl, malahan sering terjadl. Ada lagi kejadian lain, lukisan yang lemah ekspresinya, tapi karena cocok dengan teori yang dikemukakan, maka lukisan itu menjadi balk clan kuat.

Di samping itu, Kawan, timbul pertanyaan: apa betul pelukis yang lukisannya diblcarakan itu melukis bertolak dari teori yang dikemukakan itu? Banyakjuga pelukis klta yang melukisnya tidak bertolak dari pertimbangan teori apa pun juga clan karya-karyanya cukup balk.

Tapi, karena dlsebabkan oleh suatu teori, maka lukisan-lukisannya menjadi hancur nilainya. Dari contoh yang terakhir ini, terasa baglku betapa tidak adilnya penilaian tu. Pernah juga hal ini saya blcarakan dengan beberapa teman yang suka menulis tentang seni lukis. Rata-rata jawaban mereka sama, yaitu seorang penulis seni lukis mempunyai hak clan kebebasannya untuk menafsirkan tiap lukisan. Cuma, mereka ticlak mengerti bahwa bukan itu yang kusinggung. Yang kusinggung adalah bagaimana mungkin penulis mengemukakan suatu kebenaran kalau dia bertolak d ari yang salah? Taruhlah kebenaran yang dikemukakannya itu kebenaran teoretis, tapi tidak ada sangkut pautnya dengan kebenaran pelukis dengan lukisannya itu, apa jadinya? Apakah pelukis clan lukisannya itu barang mati? Atau, bisa juga dipertanyakan: di mana fungsi lukisan itu dalam kebenaran teoretis sebagai tafsiran si penulis itu?... (Larut malam,1974) [V]

Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7547)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6830)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6667)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4152)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa