SITE INDEXABOUT USSUBSCRIPTIONSSHOPADVERTISESOCIETY
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

HOME
SHOP
NATIONAL
INTERNATIONAL
FOCUS
PATTERN
SANTIR
INTERVIEW
PROFILE
CRITICS
VIDEO & ART
CAMPUS NEWS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
PREVIEW
MARKET NEWS
REFLECTION
EVENT SCHEDULE
FORUM








Banner
Tromarama: Handmade Video Art PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 15 October 2010 15:36

Oleh: Natsumi Araki*

 

Serigala Militia”(2006) yang saya tonton pada Singapore Biennale II tahun 2008 sangat mengejutkan. Dengan iringan irama heavy metal saya masuk sebuah ruangan dan melihat video animasi, tiba-tiba saya sadar bahwa citra-citra dalam video tersebut dibuat dengan teknik cukil kayu. Ratusan cukilan kayu yang dipasang di dinding menjelaskan bagaimana video tersebut dibuat: satu persatu dipotret. Melalui cukilan kayu tersebut kita bisa membayangkan betapa lama dan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, dan ini seperti antitesa irama heavy metal yang cepat. Pada dasarnya, perpaduan cukilan kayu dan musik metal ini sangat berbeda sifatnya. Antara pop sekaligus sangat kerajinan, futuristik namun klasik, saya tidak pernah melihat karya seperti ini.

Video tersebut adalah video clip grup musik metal Seringai dan pembuatnya adalah tiga seniman muda dengan nama yang aneh: Tromarama. Saya sangat tertarik pada mereka. Ketiga seniman ini alumnus FSRD ITB, Feby Babyrose belajar Seni Grafis, sedangkan Herbert Hans dan Ruddy Hatumena belajar periklanan dan desain grafis. Saya yakin latar belakang mereka inilah yang mempengaruhi perpaduan antara teknis dan selera desain grafis dalam karya ”Serigala Militia” ini.

Video ”Serigala Militia” menggunakan warna hitam sedangkan cukilan dibiarkan warna asli kayu. Outline figur diberi bayangan sehingga bergerak-gerak seolah hidup. Dalam cukilan kayu inilah mengandung dinamika lahirnya kehidupan primitif. Selain itu kita mendapatkan interpretasi yang sangat baru terhadap media cukil kayu. Umumnya cukil kayu dianggap lebih rendah daripada seni lukis karena bisa diperbanyak. Namun di sini Tromarama memamerkan papan kayu ukir itu sendiri. Ia bukan lagi menjadi media untuk mencetak pada kertas, tetapi telah menjadi karya lukis dan juga karya tiga dimensi. Dengan sudut pandang baru nilai akan balik belah, batasan antara pemain utama dengan pemain pembantu akan menghilang.

Pandangan terhadap Benda-benda Sepele

Pada video musik ”Zsa Zsa Zsu” (2007) yang dibuat untuk R.N.R.M. (Rock’n’Roll Mafia), Tromarama menggunakan lautan kancing dan manik-manik. Karya ”banjir warna” ini sangat kontras dengan ”Serigala Militia” dengan ’cahaya dan bayangan’. Warna layar terus berubah merah, pink, ungu, hijau, biru memberikan gerak dalam waktu dan ruang. Keriuhan dari perbedaan sepele warna kancing dan manik-manik menyatu dengan sound electric dari grup musiknya. Tromarama memvisualisasikan irama dengan ”mewarnai” suara dan udara. Sihir Tromarama mampu memvisualisasikan sesuatu yang elektrik sebagai esensi dari band tersebut.

Kreativitas dan perhatian Tromarama terhadap benda dan keseharian sebagai sesuatu yang penting tetapi sepele, kelihatan dalam ”Ting*” (2008). Melalui karya ini mereka lepas dari video musik dan berkarya lebih orisinal. Pemain utamanya adalah mug porselen putih. Seperti karya-karya lainnya, untuk menggambarkan petualangan perabot makan ini, mereka menggunakan animasi dengan melakukan pemotretan satu per satu sehingga membutuhkan waktu lama. Tema karya ini bisa disebut ”bentuk, pola dan cerita”. Pada suatu hari, mug-mug dan piring-piring yang telah bosan digunakan oleh orang setiap hari, kabur dari lemari perabot makan. Mereka melewati pintu dan jalan, bersembunyi, menari-nari di halaman. Karya ”Ting*”, konon memuat perasaan-perasaan pribadi ketiga seniman Tromarama. Awalnya Ruddy bekerja di Jakarta dan aktivitas Tromarama vakum sementara. ”Ting*” adalah karya penting buat mereka karena karya pertama setelah mereka sempat tidak aktif. Tiga jenis mug dalam video ini adalah gambaran ketiga seniman Tromarama sendiri dalam menikmati kebebasan dari pekerjaan rutin. Mimpi dan perjuangan dalam kehidupan yang dialami semua manusia diekspresikan pada karya ini disertai dengan humor Tromarama. Efek suara dalam video ini juga patut diperhatikan. Suara jernih ini, dihasilkan oleh Bagus Pandega dengan menggunakan cangkir porselen berisi air, di mana nada dihasilkan dari banyaknya air di dalam cangkir. Persis cara kerja Tromarama yang halus dan peka. Perpaduan antara suara, irama, dan gerakan menjadi salah satu esensi penting karya Tromarama.

 

Pasar dan Seni Rupa Kontemporer Indonesia

Akan sedikit digambarkan kondisi seni rupa Indonesia untuk memahami situasi keberadaan Tromarama. Booming pasar seni rupa Asia khususnya seni rupa kontemporer Cina sejak tahun 2000 telah memberikan dampak besar terhadap seni rupa Indonesia. Harga-harga karya seniman Indonesia naik di lelang dan tiba-tiba kolektor yang mencari seni rupa kontemporer Indonesia pun bertambah. Fenomena tersebut tidak terjadi pada tahun 1990 an. Art Fair di Cina, Singapura, Hongkong telah ikut ”merubah” galeri dan seniman Indonesia. Seniman-seniman Indonesia yang kena boom tersebut mudah dilihat dari kehidupan mereka yang heboh dengan membangun rumah mewah dan mengendarai mobil-mobil mewah. Meski demikian, masih ada sedikit kurator dan seniman yang menghawatirkan kondisi tersebut. Selama riset di Indonesia, saya menyaksikan keberadaan museum sangat kurang, sementara pameran di galeri atau ruang alternatif demikian gencar. Sedangkan kurator lebih banyak independent curator yang tidak terikat pada lembaga tertentu. Biasanya galeri bergantung pada kurator sehingga terjadi ikatan yang makin erat antara seniman, kurator, galeri, dan kolektor. Selama tiadanya penilaian karya melalui institusi publik seperti museum, seniman lebih banyak terpengaruh pada koneksi di sekitarnya dan ekonomi pasar.

Dalam kondisi seperti ini, selain posisi di pasar, pameran internasional sangat penting perannya. Seniman sohor Indonesia seperti Heri Dono dan Agus Suwage selalu keluar negeri untuk mengikuti biennale dan pameran-pameran. Munculnya Tromarama dalam Singapore Biennale, menjadi langkah penting karena banyak kurator yang melihat dan ini memperluas lingkup karya mereka dalam sekejap. Bagi seniman yang tidak membuat ”lukisan jualan” untuk kolektor, pameran internasional menjadi salah satu bentuk ruang mediasi.

Senirupa sebagai play ground

Meski menggunakan teknik terbaru yaitu video, Tromarama selalu ngotot dengan kerja tangan. Tetap saja mereka memotret video secara halus seperti membuat kerajinan, menyisakan bekas tangan orang, sesuatu yang terasa low-tech. Untuk pameran di Mori Art Museum, Tromarama membuat karya baru ”Extraneous” (2010) dengan mencoba teknik batik, salah satu kerajinan tradisional Indonesia. Mereka mencelup 210 lembar kain dan kemudian memotretnya  untuk video. 210 lembar kain tersebut dipamerkan sebagai bagian dari video instalasi yang mencerminkan perasaan serba beda antara komunikasi virtual di internet dengan dunia nyata. Tromarama mencoba mendokumentasikan persoalan kini yang dialami sendiri melalui kain batik.

Tidak aneh bila karya baru Tromarama akan lebih mengena bila kami mempelajari sejarah batik. Pada dasarnya, warna dan pola batik dikategorikan secara teliti tergantung kasta atau wilayah dan pengaruh budaya yang melingkupinya. Warna dan pola batik mengalami perubahan tergantung adaptasinya dengan berbagai budaya. Mulai dan Hindu dan Islam, Belanda pada jaman penjajahan, pengaruh pola Cina, bahkan Jepang selama masa pendudukan. Dari cara adaptasi tersebut, terlihat jelas bahwa kelenturan atau keluwesan Indonesia lah yang memungkinkan ratusan suku dan budaya bisa hidup berdampingan.

Tromarama juga bebas dan luwes. Mereka menghormati dan menyayangi tradisi hand-made, tidak terlalu mementingkan teknis, dan tidak takut menggunakan metode unkonvensional. Selain budaya tradisi negara sendiri, mereka juga memasukkan budaya pop Amerika dan Jepang, hingga menjadi sesuatu a la Tromarama. Tidak ada formula dan konsep yang rigid seperti konflik high-art dan low-art di Eropa dan Amerika. Barangkali mereka tidak perduli apakah membuat karya ”seni rupa kontemporer” atau hanya berlaku sebagai ”seniman”. Mereka hanya memanfaatkan seni rupa sebagai play-ground spirit, sebuah tempat untuk bebas bereksperimen.

Masa depan mereka sebagai seniman masih panjang, namun saya berharap mereka tetap terus bermain tanpa terikat aturan pasar seni global. Saya rasa itulah khas Tromarama.

 

* Kurator Mori Art Museum di Roppongi, Tokyo, Jepang



Google Yahoo MyWeb Del.icio.us Digg Facebook Myspace Technorati Stumble Upon Blinklist Spurl Ask PlugIM MSN Live
 
 

Add comment


Security code
Refresh


images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Thursday, 10 May 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Thursday, 10 May 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Thursday, 10 May 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Thursday, 10 May 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Thursday, 10 May 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7547)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6831)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6669)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Little bit Statuary Art vicinity Note
(hits: 4152)


Banner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa