Vidhyasuri Utami
Bagaimana bila kartun dapat menyelamatkan dunia. Pertanyaan ini terjawabkan saat kita memasuki ruang pameran Bentara Budaya Jakarta akhir Agustus 2010. Dalam pameran Kyoto International Cartoon Exhibition ini, seluruh karya-karya yang dipajang merupakan resep tersendiri bagi skema penyelamatan bumi yang menua.
Kyoto International Cartoon Exhibition ini adalah pameran kompetisi kartun yang diselenggarakan secara reguler sejak pertama kali diadakan di tahun 1991 mengikuti dirumuskannya Protokol Kyoto yang mencanangkan skema antisipasi pemanasan global yang tengah mengancam dunia. Temanya pun serupa, bagaimana kartun melihat perkembangan dampak pemanasan global. Tema tahun ini adalah “What is the best way to develop our planet?” atau apakah cara terbaik untuk membangun planet kita.
Adalah Jitet Koestana dari Indonesia yang dinilai juri memberikan jawaban yang menarik. Sebagai pemenang pertama, Jitet memberikan jawaban yang lugas sekaligus menjawab dua permasalahan --perang dan pemanasan global-- dalam satu karya. Bayangkanlah bila artefak militer dan militerisme adalah jawaban dan ruang bagi permasalahan pemanasan global di mana tank diubah menjadi rimba tanaman rambat yang juga memberikan ruang bagi tumbuh kembangnya satwa (burung dalam hal ini). Itulah solusi Jitet.
Karya Pawel Kuczynski, kartunis dari Polandia, menyedot perhatian juri kali ini. Karya pemenang kedua ini menampilkan kualitas visual yang serupa dengan karya seni lukis sehingga menempatkan kartun pada tempat yang refined, sesuatu yang tidak muncul di dalam ranah kartun sebelumnya. Dalam karyanya, Pawel menampilkan reruntuhan bumi (lingkungan hidup) yang dikembangkan sebagai simfoni oleh manusia bak pemain orkestra.
Martin Honeysett sebagai penerima penghargaan spesial dari juri kali ini mempersembahkan kartun dengan karateristik yang khas. Melihat karya-karya membuat kita bernostalgia dengan buku-buku anak-anak ala Eropa dengan figur-figur berpipi tembam dan detil yang halus. Secara kritis, martin menampilkan bagaimana bumi adalah hidangan utama bagi para petinggi negara-negara besar dunia sementara yang lain digambarkan bak liliput yang berusaha menjangkau meja dari lantai. Sebuah kenyataan politik yang ironis yang harus kita hadapi sehari-hari.
Dalam pengantarnya, Yasuo Yoshitomi selaku ketua komite seleksi melihat bahwa kartun adalha jenis seni yang sukar digambar. Karya kartun dibuat dengan asumsi pada suatu hari akan dicetak sehingga denagn demikian kartun memiliki keterbatasan ukuran (biasanya relatif kecil atau sebesar kerta ukuran A3 atau A4). Tapi keterbatasan ukuran kartun inilah yang sepertinya berusaha dipiuhkan oleh seorang Pavel Taussig. Alih-alih melihat goresan cat air atau tinta di atas kertas, kita mendapatkan foto sebagai kartun dalam karyanya. Ini menarik karena permasalahan ukuran dan media pun berusaha didobraknya. Menampilkan lukisan perempuan bak mural di tank, Taussig memiliki konsep yang serupa dengan karya Jitet hanya saja ia tidak beralih ke alam tapi melihat manusia sebagai jawaban baik bagi perang dan permasalahan lingkungan.
Dari karya kartun “konvensional” lainnya, kartunis asal Jepang, Nakahara Mikio juga m memberikan sebuah jawaban yang menarik bagi pertanyaan yang menjadi tema besar kompetisi ini. Karyanya yang cenderung “gelap” dan membicarakan tentang masalah kematian dikemasnya dengan jenaka. Karya menampilkan prosesi pemakaman di mana yang dimakamkan memegang satu bibit pohon yang nantinya akan menjadi pengganti nisan kubur. Sementara para pelayat pun membawa bibit pohon mereka masing-masing dibandingkan mempersembahkan bung apotong seperti yang biasanya kita lakukan. Manusia bisa melakukan perubahan bagi kelangsungan alamnya bahkan setelah ia mati. Mungkin inilah yang berusaha diwanti-wantikan oleh Nakahara.
Dari 55 negara asal kartunis peserta kompetisi ini, peserta dari Indonesialah yang terbanyak. Dari kartunis media massa yang sudah sering menghiasi halaman media cetak sampai perupa pun ikut serta dalam kompetisi ini. Rudi St Dharma atau yang kerap dipanggil Uday, seorang seniman lukis yang juga sekaligus salah satu penggagas ruang alternatif Rumah Proses, mampu menarik perhatian para juri. Karya Rudi yang unik – menamplkan subyek kesukaannya (semut) yang bergerak menuju sebuah lingkaran yang berasal dari cetakan pantat gelas di atas kertas-- diakui oleh Yasuo sebagai karya yang unik dan sepertinya memiliki makna filosofis tertentu. Dalam pengantarnya pun Yasuo menceritakan bagaimana dewan juri terbelah menjadi dua dalam menilai karya Uday. Di satu sisi, juri melihat karya ini sebagai karya yang menarik dan mampu keluar menjadi pemenang, sementara di sisi lain anggota juri yang lain menilai karya ini bukanlah karya kartun yang sesungguhnya. Sehingga penilaian terhadap karya ini tidak mufakat walhasil karya ini tidaklah muncul dalam jajaran pemenang. Ia juga mencermati karya kartunis perempuan asal Indonesia, Ika W Burhan walaupun menyayangkan kualitas karya sang kartunis yang tidak digambarkan dengan baik. Yasuo pun mengharapkan satu-satunya kartunis perempuan dari Indonesia di ajang ini mampu mengembangkan karya-karyanya di kemudian hari.
Selain Indonesia, kompetisi kartun ini pun didominasi oleh para kartunis Eropa Timur (seperti Polandia, Slovakia, Serbia atau pun Rumania), Asia Timur dan juga Amerika Latin. Rata-rata sebagian besar peserta mampu menampilkan karya kartun yang jenaka sekaligus memperlihatkan kemampuan menggambar yang baik. Detil-detil bak lukisan berukuran besar mampu ditampilkan oleh para peserta dan juga sekaligus menjadi kekuatan karya-karya mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran memang tidaklah menjadi keterbatasan bagi kualitas kartun itu sendiri.
Dengan beberapa “dobrakan” yang disuguhkan peserta kompetisi kartun ini, diharapkan kartun dapat berkembang dan mampu melintasi keterbatasan ukuran maupun tujuan awal kartun tersebut dibuat (semata-mata hanya untuk dicetak). Sekiranya hal ini dapat “dibebaskan” dari seni kartun diharapkan tiadalah tabu untuk menggabungkan seni lukis atau pun seni-seni yang lain dengan kartun kedepannya. [V]
|