|
MEMPOSISIKAN INDONESIA DI ERA SENI DIGITAL |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 10 December 2010 16:28 |
   | | SELAMA BEBERAPA DEKADE BELAKANGAN INI KITA MENYAKSIKAN SEBUAH PERKEMBANGAN PERADABAN MANUSIA YANG TIDAK PERNAH TERBAYANGKAN SEBELUMNYA. INI TERJADI SEBAGAI AKIBAT DARI BERTEMUNYA BIDANG SENI, TEKNOLOGI DAN ILMU PADA TITIK YANG SANGAT PRODUKTIF. NAMUN JANGAN SALAH, PERTEMUAN INI BUKANLAH PERTEMUAN YANG PERTAMA.
Pertemuan yang pertama terjadi di awal abad ke-20 dengan ditandai oleh munculnya gerakan Futurisme di Italia. Pada tahun 1910, Luigi Rusolo mementaskan sebuah teater-musik dengan memanfaatkan bunyi-bunyian yang merupakan dampak dari teknologi industri. Pada tahun yang sama ia juga menulis sebuah buku berjudul “The Art of Noise”. Dua dekade kemudian Charlie Chaplin membuat sebuah film bisu berjudul “Modern Times”. Film ini merupakan sebuah parodi bagaimana manusia akhirnya harus menjadi korban dari mesin-mesin ciptaannya sendiri. Sekarang kita sudah beranjak persis 100 tahun dari saat terbitnya buku Rusolo yang mencoba menangkap semangat sebuah zaman baru, yaitu zaman teknologi industri, melalui sebuah ungkapan seni. Belum lama ini kita menyaksikan terjadinya kembali sebuah revolusi di bidang teknologi, yaitu teknologi digital. Kali ini revolusi teknologi tersebut tidak hanya melahirkan para seniman yang revolusioner, tetapi sekaligus juga melahirkan bidang seni baru yang bernama New Media Arts. Yang menarik, jika pada revolusi teknologi babak pertama para seniman yang mempelopori munculnya semangat baru di dalam dunia kesenian adalah seniman Eropa, pada babakan yang kedua ini seniman yang menjadi salah seorang pelopornya datang dari Asia, yaitu seniman Korea yang bernama Nam Jun Paik. Dengan menggunakan video kamera Sony Portapak di tahun 1960-an Nam Jun Paik mengembangkan bidang baru yang bernama Video Art. Sekian tahun kemudian, ia menggeluti teknologi video dengan perangkat digital sehingga menghasilkan karya-karya berikut peralatannya yang sangat canggih. Yang sangat penting dari hadirnya Nam Jun Paik ini adalah munculnya indikasi bahwa revolusi teknologi babak kedua ini membuka peluang besar bagi bangsa-bangsa nonBarat untuk berpartisipasi, bahkan menjadi unggul di bidang seni digital. Keunggulan ini pada gilirannya juga akan dapat dinikmati oleh seluruh pihak yang bergerak di bidang industri teknologi digital. Dengan kata lain, dampak ekonomis, sosial, budaya dan politik dari munculnya disiplin seni digital ini sangat luarbiasa bagi masa depan kehidupan bangsa-bangsa non-Barat. Oleh karena itu, dewasa ini universitas-universitas terkemuka di Asia, misalnya NUS di Singapore and Hongkong University di China berlomba-lomba membuka program studi baru yang bernama New Media Arts. New Media Arts (selanjtunya disingkat NMA) pada umumnya dapat diasosiasikan dengan bentuk-bentuk seni yang berhubungan dengan teknologi digital. Namun ini bukan saja sebuah media seni yang baru, tetapi juga sebuah pasar baru yang memungkinkan semua pihak dapat memiliki peluang yang sama dalam memanfaatkan pasar tersebut. Persaingan dalam pasar media seni baru ini akan merupakan persaingan yang lebih adil dan merata karena teknologi digital dan perangkat satelit memungkinkan semua manusia di bumi ini untuk memiliki akses yang sama. Bukti yang nyata dari pernyataan di atas adalah melihat bagaimana dalam beberapa tahun belakangan ini NMA juga telah berkembang di Indonesia. Beberapa seniman Indonesia yang menggeluti bidang ini bahkan mendapat nama yang cukup baik di dunia internasional. Kehadiran mereka di tanah air dapat menjadi dasar dari tolok ukur perkembangan seni media baru Indonesia di arena internasional. Di samping itu, sebagai sebuah negara yang memiliki kekayaan budaya tak terhingga, Indonesia harus berani mengambil posisi yang jelas dalam konteks perkembangan seni digital. Bidang seni digital ini bahkan harus menjadi ujung tombak dari gagasan dan strategi untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia. Dewasa ini perusahaan-perusahan komunikasi raksasa di Indonesia sudah bergeliat untuk mencari muatan-muatan seni digital yang menarik untuk melengkapi peralatan komunikasi yang mereka pasarkan. Di negara maju sudah banyak beredar perhiasan sehari-hari seperti kalung yang berbentuk perangkat teknologi digital. Dengan rendahnya biaya kehidupan, waktu dan tenaga kerja di Indonesia juga menjadi murah. Salah satu yang membuat produk teknologi digital ini dapat dijual dengan nilai dolar yang tinggi di Barat bukan karena mereka memiliki keahlian yang lebih, tetapi justru karena faktor mahalnya waktu dan tenaga kerja tadi. Hal ini telah terbukti dari banyaknya perusahaan seni digital rumahan di Indonesia menerima pesanan-pesanan dari luar. Namun untuk merebut pasar dunia, Indonesia jelas tidak dapat hanya mengandalkan industri rumahan. Pertama-tama, Indonesia memerlukan semacam pusat-pusat pendidikan, penelitian dan produksi seni digital. Setelah itu diperlukan sebuah strategi pengembangan dan pemasaran yang menyeluruh. Dengan demikian baru Indonesia dapat memasuki persaingan pasar global dalam bidang seni digital ini. Dalam rangka merintis jalan ke arah itulah, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) bermaksud mengadakan sebuah festival dan simposium internasional New Media Arts pada tanggal 28 Januari – 11 Februari, 2011 yang akan datang. Festival yang bernama NMA101010 ini di rancang sedemikian rupa agar dapat menyinggung semua aspek yang dibutuhkan untuk dapat memposisikan Indonesia di arena persaingan pasar global tadi. Salah satunya adalah acara simposium yang akan menjajaki kemungkinan sumbangan semua pihak yang terlibat dalam dunia seni digital di Asia pada era baru ini. Para seniman dan sarjana new media arts dari luarnegeri di datangkan khusus untuk memberi lokakarya dan memaparkan pikiran mereka secara mendalam kepada para aktor Indonesia yang bergerak di bidang ini. Selain untuk mendapatkan informasi yang paling mutakhir, lokakarya dan pemaparan pemikiran mereka ini juga akan berguna untuk mengetahui persoalan-persoalan mendasar di bidang seni digital, terutama yang berhubungan dengan faktor pendidikan dan hak cipta. NMA101010 juga akan menampilkan semua jenis karya seni yang berhubungan dengan teknologi digital. Ini termasuk pertunjukkan multimedia, pameran instalasi, tontonan seni video dan animasi, pertunjukkan sonic art, permainan video interactive, dan lain-lain. Untuk pertunjukkan multimedia akan tampil grup hasil kerjasama negara Afrika Selatan dan Itali yang diwakili oleh Rehane Abrahams dan Anello Capuano. Di samping itu NMA101010 juga akan menyajikan pertunjukkan multimedia dari kota Palu yang di garap oleh Zulkifli Paggesa. Yang menarik, pertunjukkan multimedia ini akan di dasarkan pada naskah Putu Wijaya yang berjudul “Zoom”. Karya Zulkifli ini akan merupakan sebuah penapsiran baru atas naskah Putu Wijaya. Penampilan Zulkifli yang berasal dari Sulawesi Tengah ini menunjukkan bahwa perkembangan seni media baru ini di Indonesia tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, tetapi juga di kota-kota yang jauh dari pusat pemerintahan maupun perdagangan. Pertunjukkan multimedia yang ketiga akan di sajikan oleh para seniman dari Jakarta, Bandung dan Bali yang menggarap sebuah karya berjudul “Road of Chaos”. “Kerjasama” merupakan sebuah kata kunci dari perkembangan seni digital. Dengan adanya dunia maya, kerjasama antara seniman tidak lagi dibatasi oleh posisi geografis mereka. Inilah yang membuat NMA berkembang menjadi bidang seni baru yang sangat dinamis dewasa ini. Kerjasama antar seniman semacam ini tidak hanya membawa pertukaran ide, tetapi juga menyeret latar-belakang budaya masing-masing pihak yang pada akhirnya berdampak di tingkat global. Selain kerjasama seniman antar kota ini NMA101010 juga akan menggalang kerjasama antara seniman Indonesia dan Australia dalam sebuah pertunjukkan sonic art (seni bunyi) berjudul “Pocket Gamelan” karya Greg Schiemer. “Pocket Gamelan” adalah sebuah karya musik digital yang menggunakan berpuluh-puluh alat telefon genggam. Jika manifestasi dari revolusi teknologi pertama tadi di ungkapkan dengan baik oleh Luigi Rusolo dengan peralatan noisenya, manifestasi revolusi babak kedua ini juga akan diungkapkan dengan cemerlang melalui peralatan telefon digital dalam “Pocket Gamelan”. Oleh sebab itu, siapa yang berkesempatan menonton nantinya akan menjadi saksi sejarah dari munculnya peradaban teknologi digital yang baru di abad ke-21 ini. [V] Dr. Franki Raden mengajar mata kuliah “Contemporary Arts and Technology”, “Arts and Ideas” dan “Performance Studies” di Faculty of Fine Arts, York University (Toronto) dan di Performing & Visual Arts Program, University of Toronto, Canada.
| |
|
|
|
|
Add comment
|
|
|
|
|
|
|
|