|
FOKUS
|
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Kamis, 10 Mei 2012 11:48 |
| | SEPERTI APA BANGUNAN SENIRUPA INDONESIA 10 - 20 TAHUN KEDEPAN?
JANGANKAN JAWABAN, MENCITA-CITAKAN SAJA BELUM PERNAH KITA
RUMUSKAN BERSAMA. SAATNYA PERLU KONVENSI NASIONAL SENIRUPA UNTUK
MENYUSUN CETAK BIRU.
SEPERTI APA BANGUNAN SENIRUPA INDONESIA 10 - 20 TAHUN KEDEPAN?
JANGANKAN JAWABAN, MENCITA-CITAKAN SAJA BELUM PERNAH KITA
RUMUSKAN BERSAMA. SAATNYA PERLU KONVENSI NASIONAL SENIRUPA UNTUK MENYUSUN CETAK BIRU.
Lebih lanjut baca majalah Visual Arts edisi Mei-Juni 2012
| |
|
|
|
|
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Kamis, 10 Mei 2012 11:43 |
| | SENIRUPA INDONESIA GO INTERNASIONAL PATUT DIHARGAI. TAPI MENGGAIRAHKAN KEMBALI PASAR SENIRUPA DALAM NEGERI DARI KELESUAN, JAUH LEBIH PENTING.
Sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa pasar senirupa di dalam negeri Beberapa waktu belakangan ini memang lesu. Jangan menyalahkan iklim perekonomian di dalam negeri, sebab faktanya saat dunia dilanda krisis global tahun 2008– akibat efek domino krisis ekonomi di Amerika Serikat -- toh perekonomian Indonesia tetap tumbuh, bersama Negara Asia lainnya yaitu Tiongkok dan India.
Lebih lanjut baca tulisah Teguh Wibisana pada rubrik FOKUS pada majalah Visual Arts edisi Mei-Juni 2012
| |
|
|
|
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Kamis, 10 Mei 2012 11:36 |
| | DALAM PANDANGAN SAYA, INFRASTRUKTUR ADALAH IBU SENIRUPA
INDONESIA (SAYA SINGKAT IBU SRI). SEBAGAI IBU SRI, NASIBNYA TAK
KUNJUNG MEMBAIK, BAHKAN ANAK-ANAKNYA “IDIOT”, DAN ADA YANG
JADI DUKUN LUKISAN. ESAI INI SAYA TULIS DENGAN MAKSUD SEBAGAI
REFLEKSI, AUTOKRITIK DAN PEMBELAJARAN BERSAMA, AGAR IBU SRI
TERLEPAS DARI STATUS QUO.
Dalam pandangan saya, infrastruktur adalah Ibu Senirupa Indonesia (Saya singkat Ibu SRI). Sebagai Ibu SRI, nasibnya tak kunjung membaik, bahkan anak-anaknya "idiot" dan ada yang jadi dukun lukisan. Esai ini saya tulis dengan maksud sebagai refleksi, otokritik dan pembelajaran bersama, agar Ibu SRI terlepas dari status quo. baca lebih lanjut pemikiran hendrotan tentang perkembangan terakhir senirupa Indonesia di majalah Visual Arts edisi Mei-Juni 2012
| |
|
|
|
|
|
MENCARI FORMAT BIENAL DI INDONESIA |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Senin, 12 Maret 2012 17:17 |
| | | Belajar dari perhelatan dua bienal di medan sosial senirupa baru-baru ini. Tim Visual Arts dan Wicaksono Adi mengulas tentang penyelenggaraan bienal di Indonesia, kelebihan dan kelemahannya. Adakah format ideal bagi bienal di Indonesia. Lebih lanjut baca majalah Visual Arts edisi Maret-April 2012
| |
|
|
|
Majalah Seni: Swargo Nunut, Neroko Katut |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Jumat, 08 Juli 2011 14:11 |
   | | Payahnya kehidupan majalah seni diawali dari kurang
diapresiasinya seni di Tanah Air. Tragedi itu diawali oleh
terpinggirkannya citra besar Sang Kebudayaan.
Dalam berbagai rumusan yang ditulis oleh beragam kitab besar, Kebudayaan diartikan sebagai upaya manusia untuk melakukan “penghalusan pribadi dan masyarakat”, yang pada ujungnya dikristalkan menjadi “peradaban”. Contoh simpel atas pasal ini adalah, bila ada orang yang bersopan-santun disebut sebagai orang yang berbudaya, atau beradab. Sementara perupa yang menggambarkan (maaf) manusia berlumur kotoran karena terserang desentri, sebagaimana kita pernah melihatnya waktu tahun lalu di majalah ini, disebut sebagai “tidak berbudaya”, atau “tidak beradab”. Dari pemahaman ini, masyarakat yang memiliki “kehalusan” dianggap sebagai berkebudayaan, dan dijunjung sebagai “lebih tinggi” dibanding masyarakat lainnya. Sebagian buah penting dari kebudayaan itu adalah karya seni, seperti sastra, musik, tari, drama, seni rupa dan sebagainya.
Namun dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi dan antropologi, kebudayaan tidak dianggap sekadar sebagai “penghalusan” yang berhubungan dengan pribadi dan masyarakat. Bahkan bukan pula disebut sebagai “prestasi yang lebih tinggi dari kehidupan bersama pada suatu masa dalam sejarah”, sebagaimana para sejarahwan mengartikan. Di sini kebudayaan diartikan sebagai “seluruh prestasi dari kehidupan bersama dengan merengkuh segala aspek yang ada”. Dengan pengertian ini sistem politik, sistem pendidikan, sistem ekonomi dan aneka sistem lain adalah bagian dari kebudayaan, atau hasil kebudayaan.
Selengkapnya baca Majalah Visual Arts edisi Juli-Agustus 2011
| |
|
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 3 |
|
|
|
|
|
|
|
|