BERANDATENTANG KAMIMENDAFTARGERAIADVERTISEREKANAN
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

BERANDA
GERAI
NASIONAL
INTERNASIONAL
FOKUS
TEKSTUR
SANTIK
WAWANCARA
PROFIL
KRITIK
VIDEO & ART
WARTA KAMPUS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
TILIK
WARTA PASAR
REFLEKSI
JADWAL KEGIATAN
FORUM








Baner
INTERNASIONAL
Transforming Minds: Buddhism in Art PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 10 Mei 2012 11:58

Di tengah gemuruh lelang dan munculnya galeri bergengsi di Hong Kong, pameran Transforming Minds: Buddhism in Art yang digelar Asia Society menawarkan suasana yang jauh dari kesibukan komersial di kota itu. Di Gedung yang baru selesai dibangun dan dibuka tanggal 9 Februari yang lalu, Asia Society menampilkan 13  karya  patung  tradisional sang Buddha dan Boddhisatwa dari koleksi pendirinya, John F. Rockefeller III. Namun yang paling menarik di pameran ini adalah persejajaran dari karya bergaya tradisional dengan karya yang dibuat oleh perupa Asia kontemporer yang terinspirasi oleh ajaran-ajaran Buddhisme. Baca lebih lanjut ulasan Carla Bianpoen di majalah Visual Arts edisi Mei-Juni 2012.

 
 
Chimera: Seni Kontemporer Asia dari Koleksi Pribadi Internasional PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 12 Maret 2012 17:26

Pameran Chimera di SAM, Singapore Art Museum, adalah pameran yang paling mengesankan yang pernah dipamerkan selama ini dan memberikan suatu pandangan segar mengenai senirupa kontemporer Asia. Kejelian para kolektornya, juga tersirat pada kejelian sang kurator, Tan Siuli,  yang menyeleksi karya yang begitu kuat dan terlepas dari nilai komersial.  Tanpa menurunkan teori-teori, ia menunjukan bahwa faktor sejarah, mitos, ilusi dan estetik tidak perlu dimustahilkan dalam senirupa kontemporer, malah memberi aksen tersendiri pada kontemporer di Asia. Kelihatan pran kurator disini yang dapat menggali makna karya dan memberikan narasi dengan begitu menarik, lembut dan puitis, menambah nilai plus untuk memberi pencerahan dan kenikmatan, baik pada kaum cerdas pandai di bidang senirupa, maupun kepada publik biasa. Perlu juga kita catat kepandaian dan selera kolektor dalam mengartikulasi seleksinya.

Simal lebih lanjut pada rubrik Internasional majalah Visual Arts edisi Maret-April 2012

 
 
ROUEN, GEORGE NUKU, DAN IDENTITAS MAORI PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 12 Maret 2012 17:22

pagi yang dingin di kota Rouen. Kami memulai aktivitas residensi di Museum Naturalle a Historial atau Museum de Rouen di kota Rouen, Negara Prancis, untuk melanjutkan proyek yang pertama bertemakan ruang Indonesia. kemudian disusul membuka ruang Asia yang di dalamnya termasuk ruang Indonesia.

Simak lebih lanjut dalam rubrik Internasional majalah Visual Arts edisi Maret-April 2012

 
 
Melepas Animal Plus di Kirishima Open Air Museum PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 03 November 2010 10:09

Dikdik Sayahdikumullah

Open Air Museum bukanlah sebuah konsep baru. Karya-karya senirupa kontemporer pun dapat ditampilkan pada museum seperti ini. Simak saja pameran perupa Jepang, Misawa Atsuhiko di Open Air Museum di Kagoshima City, Pegunungan Kirishima.

Searah perjalanan menuju Kagoshima city, orang-orang bergegas menuju sebuah museum senirupa kontemporer di kawasan pegunungan Kirishima. Museum ini berada di ketinggian 1000m diatas permukaan laut, aksesnya pun tidak biasa, jauh dari keramaian kota. Lokasinya dicapai melalui jalan aspal berkelok dan menanjak, dikelilingi panorama pohon Sugi dan bambu sebagaimana lazimnya hutan Jepang. Di gerbang museum ditandai patung bunga Yayoi Kusama, atmosfir lingkungannya merupakan wahana apresiasi karya seni rupa kontemporer di ruang luar terbuka hijau. Tidak salah jika namanya open air museum, di mana sebagian besar karya-karya seniman ditempatkan diantara rimbunan pepohonan, taman dan ruang luar museum.

Sebenarnya museum tersebut baru didirikan sekitar 10 tahun yang lalu, namun sudah cukup banyak menyelenggarakan program pameran yang melibatkan seniman kontemporer dari Eropa-Amerika dan Asia. Hal ini terlihat dari karya koleksi yang terbagi menjadi dua kategori; koleksi karya open-air gallery yang berada di luar ruangan dan koleksi karya art hall yang hanya bisa dilihat dalam ruang pameran. Ruang museum yang tidak terlalu besar menyebabkan pengunjung hanya mengapresiasi karya spesial event dan koleksi di luar museum. Sayang sekali penulis tidak bisa langsung melihat karya Heri Dono meskipun tercatat sebagai koleksi mereka.

Musim panas tahun ini, open-air museum menampilkan pameran tunggal pematung Misawa Atsuhiko berjudul Animal Plus yang berlangsung sejak 16 Juli – 23 September 2010. Patung karya Misawa terbuat dari kayu yang dipahat membentuk satwa mamalia buas, liar serta jinak, seperti; gajah, buaya, macan, badak, singa, jerapah, beruang, anjing, kucing dan momongga. Umumnya wujud satwa ditampilkan secara utuh, bertumpu diatas keempat kaki mereka namun sedikit menahan gerak ketika kepalanya menatap dingin kedepan. Kehadiran satwa di dalam ruang gallery ini jelas berbeda dengan melihat patung satwa simbolis yang terdapat di ruang publik atau halaman gedung pemerintahan kota. Bukan pula menghadirkan fable binatang apalagi pet-shop yang ramah lingkungan. Sehingga pertama kali memasuki ruang pameran ini terasa kuat bahwa Misawa hendak menawarkan metafora dunia binatang melalui bermacam karakter aneh, asing, kaku dan jenaka.

Sungguh pun patung-patung kayu tersebut tampak kasat mata, sehingga jelas karakternya, tetapi tidak berfungsi sebagai wahana yang mempersoalkan pengalaman individual seniman saja. Terdapat imajinasi kita yang melampui gesture patung sebagai sosok satwa alami. Meskipun tidak selalu meng-copy dengan realistis, tetapi terasa menawarkan personifikasi sense of human yang dibungkus kulit binatang. Pada bagian inilah, karyanya bisa ditafsirkan menunjuk pada makna satwa liar namun estetik. Sepintas bisa mirip satwa mainan yang menggugah imajinasi anak-anak, tapi disisi lain satwa patung kayu itu berdiri kaku disertai tatapan mata dan kepala dingin. Mengapa seniman Misawa sangat tertarik membuat karya seperti itu? Mungkin saja senimannya suka kebun binatang karena semua karakter satwa yang diekspresikan dalam bentuk patung kayu itu semuanya bisa ditemukan di kepulauan Jepang.

Misawa lahir di Murasakino dekat Daitokuji, Kyoto tahun 1961. Sejak masih mahasiswa ia sangat tertarik mewujudkan ide karya melalui bentuk figurative nude dan binatang.  Tahun 1978 ia menamatkan pendidikan Jurusan Seni Patung dari Tokyo National University of Fine Arts and Music. Setahun kemudian ia melanjutkan ke jenjang postgraduate hingga berhasil menyandang gelar Master di bidang seni patung tahun 1989. Sejak tahun 1992-2001 dia terus bekerja sebagai asisten professor di kampus yang sama. Selama proses kreatif Misawa perlu waktu lama untuk hanya menyelesaikan sebuah karya patung, butuh beragam pertimbangan; struktur formal, kesadaran ruang, nilai estetik dan konsistensi kerja. Keasyikan bekerja di studio seringkali membuatnya kesulitan untuk menemukan kata-kata verbal yang tepat untuk menjelaskan detail karyanya kepada audience. Bahkan setiap kesulitan yang dihadapi selalu dilewati dengan intensitas bekerja yang tinggi, sebuah cermin sikap superiority compleks. Bisa diduga, ia menyimpan strategi kreatif sebagai upaya menjauhi dari latar akademis yang dimilikinya maupun batasan estetika yang hendak mengurungnya.

Catatan katalog pameran yang ditulis oleh kurator The Hiratsuka Museum of Art, Hijikata Meiji menyebutkan bahwa;

“Misawa sejak masih kecil sangat menghormati pada dua orang biksu Buddha bernama; Enku(1632-        1695) dan Hashimoto Heihachi(1897-1935). Enku adalah biksu pengelana sekaligus pematung,            kemanapun dia pergi disepanjang kepulauan Jepang dia tidak pernah ketinggalan untuk selalu memahat         patung kayu Buddha. Sebagian karyanya dia sumbangkan ke kuil Buddha dan sebagian lagi kadang dia   berikan kepada orang yang pernah ditemuinya. Ia dikenal memakai teknik ‘natabori’ atau hatchet carving                 untuk menggambarkan peristiwa sang Buddha yang mewujud dari pohon suci. Tak heran bila kemudian, mencatat bahwa tokoh Enku sudah pernah memahat patung Buddha sebanyak 120.000 karya. Kini         sebagian karyanya masih bisa ditemui di banyak  national treasure Jepang. Seperti halnya Enku, sosok                 biksu Hashimoto Heihachi menerapkan pola hidup disiplin ala asketik”.

Melalui kedalaman spiritualnya ia segera dapat menyerap citarasa estetik karya-karya Enku. Sebab itulah, karyanya lebih memperlihatkan karater standing figur yang berbeda dibanding sezamannya, serta mengingatkan pada sosok tertutup yang berjarak dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun, sudah jelas bahwa kedua biksu tidak pernah hidup sezaman dengan Misawa, tetapi dapat kita lihat bahwa pemakaian kayu tidak hanya merupakan gagasan lama yang sudah tertanam dalam tradisi masyarakat Jepang. Perlakuan terhadap material kayu yang mendasari ekspresi suatu gagasan boleh dikatakan memerlukan suatu kepercayaan tersendiri. Sikap mempercayai material kayu yang berbeda dibanding perspektif modern.

Sebelum menemukan bentuk-bentuk hewan, Misawa-pun mengalami episode pembuatan karya tiga dimensi yang memperlihatkan gejala eksperimen, intuitif dan liar. Kegelisahan mengenai eksistensi dunia penciptaan akhirnya mengerucut pada upaya menciptakan bentuk figurative yang berkesan ringan, santai, dangkal sekaligus menyimpan kekurangan di dalamnya. Di sini, Misawa memahami benar bagaimana menggali imajinasi mulai dari kesenangannya membuat bentuk figuratif melalui penggabungan beberapa material, seperti; kayu Katsura, Kushu, clay, kertas, cat minyak dan akrilik.

Selain memamerkan karya tiga dimensi, Misawa juga menampilkan beberapa karya drawing dan satu ruangan khusus yang mendisplay suasana ruang kerja studio seniman, seperti memindahkan studio seniman kedalam ruang pameran. Pengunjung museum dapat sekaligus merasakan situasi seniman bekerja dengan membandingkan sejumlah barang-barang yang biasa dipergunakan seniman; dari model tiga dimensi, sketsa sampai peralatan kerja. Atmosfir ruang pameran yang berdinding putih terasa tepat menonjolkan kekuatan karya-karya patung kayu yang ditempatkan pada berberapa ruang yang berbeda. Jumlah karyanya tidaklah terlalu banyak, sehingga sebagian besar dinding ruang pameran terlihat kosong. Hal ini merupakan bagian dari strategi seniman dan museum untuk mengatasi dan memberikan ruang dialog yang nyaman bagi pengunjung yang terkadang datang dalam jumlah banyak.

Sedemikian jelas suasana tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pihak museum untuk bisa mempertunjukkan sebuah pameran seni rupa kontemporer yang tidak saja unik secara konseptual juga mengundang pengunjung seni rupa kontemporer dari semua kalangan, khususnya anak-anak. Responnya luar biasa bagi anak-anak, mereka begitu menikmati dan antusias meapresiasi karya hingga mendengarkan setiap penjelasan artist talk yang dipandu oleh seorang kurator pameran. Selain itu, anak-anak-pun dimanjakan oleh penyelenggaraan workshop clay bersama seniman, sehingga melengkapi suasana akhir liburan musim panas yang ceria diantara sekelompok satwa liar, lucu nan imajinatif di atas puncak gunung Kirishima. [V]
 
 
MAGNET MOKU HANGA / 8 MINGGU YANG MENGESANKAN PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 19 Oktober 2010 16:09

(Saya menulis ini dalam kabar salah seorang pembimbing workshop kami, sensei Masahiro Takade meninggal karena sakit pada 31 Desember 2009 yang lalu di Kobe, Japan. Selamat jalan sensei, kami akan selalu  mengingat pelajaranmu!).

28 September sampai 20 November 2009 yang lalu saya bersama 5 seniman dari berbagai negara mengikuti Nagasawa Art Park Artist-in-Residence, Workshop Program  for Japanese Woodblock Printmaking di  Awaji City, Hyogo, Japan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nagasawa Art Park (NAP) Committe , sebuah lembaga non-profit yang telah menyelenggarakan program ini sejak tahun 1996 dan berlangsung setiap tahun secara kontinyu. Dalam catatan mereka tidak kurang dari 100 seniman dari 30 negara telah terlibat didalamnya. Saya sendiri adalah  seniman Indonesia ketiga yang berpartisipasi dalam workshop ini. Dua seniman sebelumnya adalah Isa Perkasa (Bandung) di tahun 1997 dan  Eddi Prabandono (Yogyakarta-Jepang) tahun 1998.

Disebabkan sesuatu hal, saya baru berangkat dari Indonesia tanggal 28 September dan tiba keesokan harinya di Bandara Kansai International.  Dari bandara saya menumpang bis dengan perjalanan lebih kurang tiga jam menuju tempat perhentian bis Tsuna Ichinomiya di Pulau Awaji . Disana telah menunggu staff NAP Committee dengan mobilnya, Masahiro Kosaka (manager operasional) dan Ichi-san, sopir yang selanjutnya akan sering mengantar kami untuk berbagai keperluan selama menjalani program.

Tidak lebih dari 20 menit saya telah tiba di Umihira Residence di Awaji City (satu dari 4 kota yang ada di pulau Awaji), tempat dimana kami para peserta program menginap. Lokasi ini terletak di atas sebuah bukit (Umihara Hill) dan jalan kesana sangat menanjak. Saya disapa oleh seorang wanita cukup umur, kira-kira kepala enam atau lebih, yang kemudian saya ketahui sebagai Keiko-san. Ah…agak sedikit terkejut saya. Sepanjang kontak e-mail kami selama ini, saya membayangkan Keiko-san, atau nama lengkapnya Keiko Kadota sebagai perempuan muda yang energik dikarenakan posisinya sebagai Direktur Program NAP. Soal umur ternyata meleset dugaan saya karena ia tidak muda lagi, tapi tidak dalam penampilan dan pembawaan, Keiko-san tidak kalah dengan anak muda  dan sangat energik.

 

Mengapa saya  sampai kesana? Magnet apa yang menarik saya?

Jauh di tahun 1998 saya pernah mengirim lamaran ke NAPP (dulu bernama Nagasawa Art Park Project) Committee yang menyelenggarakan program Workshop Japanese Woodblock Printmaking. Namun keberuntungan belum dipihak saya karena proposal saya tidak diterima. Baru di tahun 2008 saya mengajukan lamaran lagi untuk mengikuti program ‘autumn workshop’ 2009 dan saya diterima. Saya merasa sangat beruntung karena mereka sangat ketat dalam menyaring peserta dan kesempatan ini mesti dijalani sebaik-baiknya.

Selama ini saya hanya mendengar dan mengakses informasi cetak dan digital seputar  Japanese Woodblock Printmaking atau yang  dikenal dunia sebagai Ukiyo-e (images of the floating world). Seni cetak grafis yang lahir  pada zaman Edo (1603-1867) ini menggambarkan keindahan alam, kehidupan sehari-hari dan penggambaran tokoh-tokoh masyarakat Jepang pada waktu itu seperti para raja, pahlawan perang, samurai, pekerja seni termasuk geisha. Kehalusan dan detail gambar yang dihasilkan oleh teknik cetak karya  seniman-seniman Ukiyo-e legendaris seperti  Hokusai dan Hiroshige  diakui Van Gogh telah  mempengaruhi kerja artistik diawal karir kesenimannya.

Dalam pergaulan seni rupa internasional seni cetak ini kemudian popular dengan nama Moku Hanga (istilah wood print dalam bahasa Jepang, Moku=kayu, Hanga=cetak/grafis). Berbeda dengan teknik seni grafis asal Eropah ‘woodcut’ yang saya tekuni selama ini yang merupakan seni grafis ‘basis minyak’, Moku Hanga merupakan  seni grafis ‘basis air’. Bila  dalam teknik woodcut seniman menggunakan tinta cetak atau offset ink guna mencetak image dari papan cukilan atau cutting block,  dalam teknik Moku Hanga seniman  menggunakan  cat air, gouache, tinta cair atau jenis pigmen  semacamnya. Lalu ada pasta pengikat yang dicampurkan pada pigmen warna agar elastis dan tidak cepat mengering pada saat mencetak yang mereka sebut nori (rice paste). Selain itu dalam Moku Hanga dikenal juga istilah kento yang diakui banyak seniman adalah suatu cara register kertas yang sangat baik guna mencetak karya multi warna dengan tingkatan presisi  tinggi. Juga ada bermacam sikat berbulu halus (maru-bake) untuk meratakan pigmen warna diatas permukaan papan pada saat pencetakan. Teknik ini tidak memerlukan peralatan berat atau alat press untuk mencetak gambarnya. Mereka cukup menggunakan baren, sebuah alat penggosok bagian belakang kertas yang dibuat khusus menggunakan daun bambu lebar pada permukaannya.

Bagi saya ini adalah pengalaman baru yang sama sekali saya belum pernah mencobanya. Kesempatan residensi di NAP ini merupakan momen yang saya tunggu-tunggu sebab saya berharap mendapatkan pengalaman langsung serta merasakan aura tradisi Moku Hanga yang mereka sebar-luaskan.

Saya bersama 5 seniman dari German (disainer grafis), Italia (pegrafis dan disainer interior), Irlandia (pelukis), Inggris (pegrafis dan seniman enamel) dan Amerika Serikat  (perupa) ditempatkan di lantai atas residence dan masing-masing mendapat sebuah kamar berdampingan. Studio tempat dimana kami akan bekerja nantinya ada di lantai bawah. Residence hanya diisi oleh kami berenam dan karenanya panitia menginginkan agar kami berlaku layaknya sebuah keluarga. Kami harus mengurus sendiri segala keperluan dari menyiapkan makanan, menjaga kebersihan ruangan dan studio sampai membuang sampah ke tempat pembuangan sementara yang letaknya tidak jauh dari residence. Untuk sementara, residence menjadi ‘milik’ kami yang harus kami jaga dan rawat seperti merawat rumah sendiri. Workshop berlangsung selama 8 minggu dimulai jam 9 pagi sampai jam 5 sore dalam 5 hari setiap minggunya. Sabtu dan Minggu adalah hari libur, namun sewaktu-waktu panitia dapat membuat acara yang harus kami ikuti.

Schedule yang disusun oleh Committee NAP sangat memudahkan kami dalam menyerap dan mengikuti program workshop. Minggu pertama adalah masa pengenalan sejarah singkat dan pengetahuan umum teknik Moku Hanga. Sesi ini diberikan langsung oleh Keiko-san. Kami diperkenalkan dengan alat-alat yang biasa dipakai dan akan kami pergunakan nantinya selama workshop, seperti satu set pisau cukil kwalitas tinggi, pisau kento, cat air dan gouache, nori, maru-bake, bermacam kuas dan lain-lain. Bila seniman Moku Hanga professional menggunakan cherry block sebagai papan cukil karena terkenal baik kwalitasnya, dalam workshop kami akan menggunakan  shina-beni plywood, jenis kayu lapis yang sangat halus kedua permukaannya, cukup lembut saat dicukil namun tidak mudah pecah, dan lebih murah tentunya. Untuk kertas panitia menyediakan kertas khusus untuk Moku Hanga dalam jumlah banyak dan membebaskan kami untuk mencetak sepuasnya.

Kami juga berkesempatan melihat dan menyentuh langsung koleksi cutting block (papan yang telah dicukil) dari karya-karya klasik Moku Hanga yang sudah berumur ratusan tahun namun masih terawat baik. Dan, tentu saja koleksi karya-karya  klasik yang sangat memukau itu. Ada yang dalam bentuk lembaran seperti poster, kartu ucapan dan buku-buku teks maupun komik yang kesemuanya asli hasil cetakan manual!

Kemudian Keiko-san melakukan sedikit demo dan memberi pengarahan kepada kami untuk memastikan agar kami tidak terlalu asing dengan teknik yang akan kami pelajari dibawah bimbingan para master Moku Hanga di minggu-minggu selanjutnya..

Masih dalam rangka pengenalan program, disamping mengikuti beberapa acara penyambutan yang cukup meriah dengan panitia, masyarakat dan beberapa tokoh pemerintahan kota Awaji, dalam minggu pertama ini juga kami bersama panitia melakukan tour island mengunjungi tempat-tempat penting yang menjadi penanda dan andalan Pulau Awaji. Kami mengunjungi beberapa temple/kuil penting, museum earthquake (museum peringatan gempa besar Awaji 1995) yang sangat modern, rumah pembuatan wewangian aromatherapi yang mempertahankan cara kerja manual, tempat pembuatan sake, menonton pertunjukan wayang klasik Jepang dan beberapa tempat menarik lain. Kunjungan tersebut selain buat mengenal lebih dekat kondisi sosial dan budaya setempat bagi saya  juga adalah prolog yang menghipnotis kami untuk masuk lebih dalam lagi dengan praktek Moku Hanga yang menjadi tujuan residensi.

Minggu kedua sampai minggu keempat  adalah pengalaman berharga bersama penekun-penekun tradisi. Dalam tiga minggu ini, selama 3 hari setiap minggunya, kami belajar banyak dari para professional yang merupakan master dalam bidangnya masing-masing. Mereka melatih kami dengan sabar, ramah dan penuh kerendahan hati. Yang turut mengesankan karena mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tapi mereka memberikan kenang-kenangan buat kami berenam berupa; karya Moku Hanga, kartupos, sekeping cherry block dan  benda-benda unik lain yang kesemuanya membuat hubungan guru dan murid terasa intim. Indah sekali cara yang mereka lakukan! Kami memanggil dengan sebutan sensei (guru). Mereka adalah sensei Masahiro Takade-pria ramah dan berpembawaan tenang, seorang  seniman Moku Hanga yang aktif berkarya dan berpameran. Ia juga berpengalaman lama sebagai pengajar di sebuah akademi  seni di Kobe. Lalu sensei Yusuke Sekioka-lelaki pendiam yang lebih banyak bekerja, seorang master carver/pencukil yang merupakan murid langsung dari Hanbei Oekura-generasi keempat dari Moku Hanga carver. Ia juga adalah pendiri Sekioka Horiyu Studio pada tahun 1983 di Tokyo. Kemudian ada sensei Toru Ueba, pria eksentrik yang master printer/pencetak sekaligus pemilik workshop ‘Banpudo’ di Kyoto yang telah mengerjakan pencetakan  ulang ribuan karya klasik Moku Hanga dan banyak karya cetak seniman kontemporer. Ia sendiri banyak membuat karya cetak dan mengikuti pameran.

Selama tiga hari di minggu kedua tersebut, sensei Takade mengajar kami prinsip-prinsip dasar teknik Moku Hanga; mulai dari mempersiapkan disain/gambar,  mempersiapkan woodblock/papan yang akan dicukil, memindai gambar keatas papan, membuat cutting block/cukilan, mempersiapkan kertas-melembabkannya dengan cara dan perhitungan tertentu, menyiapkan pigmen warna-meratakannya di atas papan, mencetak-menggosok belakang kertas, mengangkat kertas, mengeringkan hasil cetakan sampai memberi tanda pensil di setiap karya yang dianggap berhasil. Kesemua tahapan ini harus dilakukan berulang-ulang sampai kami dianggap cukup menguasai prinsip-prinsip teknik tersebut.

Di minggu ketiga, selama tiga hari pula sensei Sekioka memberi kami latihan bagaimana menggunakan pisau cukil secara benar dan efektif. Mengingat profesinya sebagai seorang carver professional -ditengah minimnya jumlah carver Moku Hanga di Jepang sendiri sebagaimana ia katakan- sensei Sekioka mengarahkan kami agar dapat mencukil papan secara efektif guna mencapai hasil yang maksimal. Pencukil dilatih agar dapat melakukan pekerjaannya dalam satu posisi menghadapi papan cukil tanpa perlu banyak memutar-mutar papan yang hanya akan menghambat pekerjaan. Dalam workshop ini saya mendapat pengetahuan bahwa pisau utama dan terpenting dalam Moku Hanga multi warna adalah pisau miring/hangi-to. Pisau ini sangat diandalkan untuk membuat garis  secara tepat dan dibantu dengan pisau lain seperti pisau U/Maru-to dan pisau datar/Hira-to untuk membersihkan bekas cukilan. Seniman Moku Hanga jarang atau hamper tidak pernah menggunakan pisau V/Sankaku-to karena beresiko merusak garis yang dibuat. Sebaliknya dalam teknik woodcut yang saya kembangkan selama ini justru pisau pavorit dan paling banyak saya gunakan adalah pisau V. Saya hanya menggunakan pisau miring dan pisau lainnya untuk memperluas cukilan. Dalam workshop, guna menyesuaikan dengan tradisi Moku Hanga, saya mau tidak mau untuk sementara menyingkirkan pisau V-pisau pavorit-dari jangkauan saya dan berusaha familiar dengan pisau miring/hangi-to. Bukan hal mudah merubah kebiasaan namun saya terus mencoba hingga mulai menikmatinya.

Dalam seni grafis pemeliharaan alat ikut menentukan sukses tidaknya proses berkarya. Merawat pisau cukil adalah hal penting yang juga harus diperhatikan pencukil kayu dengan selalu mengontrol mata pisau agar terjaga ketajamannya. Pisau cukil perlu diasah karena akan tumpul setelah cukup lama dipergunakan.  Kami dilatih teknik yang benar dalam mengasah pisau. Tidak mudah melakukannya karena mesti berhati-hati dan penuh kesabaran agar tidak merusak mata pisau.

Lalu di minggu keempat, selama tiga hari pula Sensei Ueba menggenapkan pelajaran. Keahliannya adalah seluk beluk pencetakan  Moku Hanga. Ia banyak memberikan kami alternatif, trik-trik dan siasat pencetakan mulai dari teknik pembasahan kertas/dampness paper, sizing paper/melapisi kertas dengan campuran air dan bahan kimia untuk memperkuat warna, menggunakan pigmen warna hingga teknik menggosok bagian belakang kertas dengan baren. Sensei Ueba sangat ahli dalam hal ini dan selalu berusaha membantu dari setiap problem pencetakan yang sering kami temui.

Minggu kelima hingga minggu kedelapan kami bekerja tanpa pembimbing. Ini adalah saatnya mempraktekkan hasil latihan bersama para sensei yang sangat berharga tersebut. Kami mendapat  tugas membuat  3 karya individual dengan masing-masing dicetak lebih dari tiga edisi. Dalam Term of Condition program yang dikeluarkan oleh NAP Committe, kami berkewajiban memberikan 3 buah karya berbeda yang kami buat dengan masing-masing sejumlah 3 edisi sebagai koleksi mereka. Karya-karya tersebut akan dipamerkan pada maret 2010 di galeri NAP. Ternyata sisa waktu 4 minggu terakhir dirasakan kurang oleh sebagian dari kami para peserta program untuk menyelesaikan karya. Kegagalan demi kegagalan dalam mencetak harus kami hadapi. Maklum sebagian besar dari kami untuk pertama kalinya bekerja dengan teknik ini. Namun akhirnya kami berenam dapat menyelesaikan karya masing-masing tepat pada waktunya. Mendebarkan dan mengesankan.

Selain kesibukan membuat karya, banyak acara yang kami ikuti ditengah workshop seperti; mengunjungi pabrik kertas terkenal Awagami di Tokushima yang membuat kertas ukuran 2,5x5,5 meter secara manual, hallowen party bersama anak-anak, presentasi karya dan open studio bersama masyarakat sekitar residence, berkaraoke ria.

Salah satu tujuan program ini seperti yang dikatakan oleh Keiko-san dalam sayonara party menjelang berakhirnya workshop adalah bukan untuk menuntut peserta agar berkarya seperti seniman Moku Hanga. Tapi adalah tugas NAP Committee untuk mentransfer teknik kepada para seniman peserta guna lebih merangsang kerja kreatif mereka kedepan. Ini adalah magnet Moku Hanga!


Syahrizal Pahlevi,

Perupa.

 
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 3

images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Kamis, 10 Mei 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Kamis, 10 Mei 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Kamis, 10 Mei 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Kamis, 10 Mei 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Kamis, 10 Mei 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7547)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6832)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6669)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Sedikit Catatan Sekitar Seni Patung
(hits: 4152)


Baner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa