|
Pameran Tunggal Chusin Setiadikara: Tubuh yang Sublim dan Masa Depannya |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Rabu, 16 Desember 2009 16:18 |
 | |
Tubuh, terutama tubuh perempuan, di Indonesia memiliki kompleksitas yang luar biasa. Tubuh bertalian dengan hal-hal yang bersifat religius, sosial, bahkan kepentingan (politik) tertentu. Didorong oleh realitas pemaknaan terhadap tubuh, karya-karya terbaru Chusin Setiadikara menghadirkan tubuh yang sublim. Pamerannya, 15 Agustus-12 September lalu, di Kendra Gallery, bali, menyita perhatian publik senirupa. Hardiman memberikan catatan mengenai pameran ini.
Sosok perempuan, berambut panjang, berdiri dalam pose yang lunglai, berbaju merah, nyaris telanjang. Lukisan tentang perempuan pada kanvas 130 x 200 cm itu diberi judul oleh pelukisnya, Red Shirt. Satu lukisan lagi, Misty, masih juga tentang perempuan. Seorang perempuan muda, sangat muda, kedua tangannya ditekuk ke belakang kepalanya, duduk dengan kaki sedikit terbuka, seluruh tubuhnya nyata terbuka. Apa yang menarik dari lukisan nude yang dikerjakan pada 2009 ini? Nude memiliki maknanya sendiri. Ia (nude) bukanlah ketelanjangan sebagaimana pandangan umum tentang ketelanjangan. Tetapi nude dalam terminologi senirupa, memiliki berbagai benturan, dari upaya menangkap realitas alam (tubuh), kehadiran idealisme seniman tentang tubuh, hingga berbagai konstruksi budaya yang menyertainya.
Tak berlebihan jika Chusin Setiadikara memiliki motivasi dan konsep yang khas tentang seni lukis nude-nya. Suatu hari, kepada penulis, ia bertutur: “Ketika saya memilih perempuan sebagai obyek untuk lukisan saya, apakah saya sedang melakukan eksploitasi atau pelecehan terhadap (tubuh) perempuan? Saya yakin, saya tidak sedang melakukan itu. Bagi saya, tubuh adalah hal yang tak terhindar dalam kehidupan (kesenian) saya. Tetapi saya juga menghargai perbedaan pendapat tentang tubuh perempuan seperti dalam perdebatan tentang Undang-undang Anti-Pornografi. Saya jelas dihadapkan pada situasi terkini di Indonesia yang menyoal tubuh, terutama tubuh perempuan. Saya juga, boleh jadi, harus berhadapan dengan ’polisi moral’ yang belakangan makin memperlihatkan kekuasaannya. Saya berpikir, seni mestinya memiliki acuan yang lebih bijak. Untuk itulah, saya lebih baik tidak berpihak kepada yang pro atau yang kontra dalam perdebatan tentang tubuh ini.”
Berangkat dari kegelisahan itulah, kemudian Chusin Setiadikara menemukan jalannya sendiri dalam menghadapi berbagai pemaknaan tentang tubuh perempuan. Baginya, yang menjadi pokok persoalan tubuh adalah kulit, khususnya warna (pada) kulit. Sensibilitas kulit akan terasa betul kehadirannya manakala warna pada kulit dihadirkan sebagaimana realitas sesungguhnya. Jalan yang ditempuh Chusin Setiadikara adalah melenyapkan sensibilitas itu. Maka, warna pada kulit tidak lagi mengacu pada realitas sesungguhnya. Lahirlah sejumlah lukisan nude dengan warna biru muda yang cenderung abu-abu.
BACA VA EDISI 33
| |
|
|
|
|
Add comment
|
|
|
|
|
|
|
|