|
PROFIL
|
|
|
TITIEK SOEHARTO: Juru Mudi Baru YSRI |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Senin, 12 Maret 2012 16:37 |
| | Setelah yaasinan di lantai dua, dan potong tumpeng di lantai satu kantor YSRI yang baru di Jl. Salak 24, Menteng, Jakarta Pusat, oleh Mbak Titiek yang diserahkan kepada Miranda Goeltom dan Susrinah S. Sastrowardoyo, maka roda ysri hingga 2016 berada di bawah juru mudi baru dengan wajah lama. Simak wawancara Visual Arts dengan Titiek Soeharto pada majalah Visual Arts edis Maret-April 2012
| |
|
|
|
|
|
WIENDU NURYANTI: BERTUGAS MEMPERKUAT HULU KEBUDAYAAN |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Senin, 16 Januari 2012 10:29 |
| | Sejak 19 Oktober 2011 yang lalu, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D. (52 tahun), menjabat Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan. Guru Besar Ilmu Arsitektur Jurusan Teknik, Universitas Gajah Mada itu tercatat sebagai Wamendikbud Bidang Kebudayaan pertama, seiring dengan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan reshuffle kabinet dan menyatukan kembali kebudayaan dengan pendidikan, setelah belasan tahun kebudayaan “ kawin paksa” dengan pariwisata. Lebih lanjut baca VISUAL ARTS Januari-Februari 2012
| |
|
|
|
TANDA-TANDA GLOBAL JIM SUPANGKAT |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Jumat, 10 Desember 2010 10:39 |
    | | KEGELISAHAN SOSOK YANG TAK ASING LAGI BAGI MEDAN SOSIAL SENIRUPA INI SEPERTINYA SAMA SAAT VISUAL ARTS BERTEMU DENGANNYA TAHUN YANG LALU. GAGASAN-GAGASAN UNTUK MENEMPATKAN SENIRUPA INDONESIA DI POSISI YANG LEBIH STRATEGIS DALAM PERCATURAN SENIRUPA DUNIA SEPERTINYA ADALAH SALAH SATU DARI OBSESINYA.
Berbagai terminologi yang kadang kala terdengar asing bagi khasanah wacana senirupa yang banyak didominasi oleh teori-teori senirupa ala barat pun dilontarkan olehnya. Kagunan, contemporaneity dan istilah yang terbaru ethnicity now. Kesemuanya merupakan upaya salah satu eksponen Gerakan Seni Rupa Baru atau GSRB ini untuk kembali --bila tidak selalu—mencoba mendobrak hegemoni pemikiran dalam wacana senirupa baik dunia maupun Indonesia.
Hal ini tak pelak mendatangkan pro dan kontra seputar pemikirannya baik dari perupa mau pun pemikir senirupa di dalam dan di luar negeri. Tapi sosok perupa yang memutuskan menjadi kurator pada sekitar dekade 1980-an ini bergeming. Dia tetap menjalankan dan berusaha untuk membuktikan --bila tidak mencari pembenaran-- dari pemikirannya.
Ambillah contoh tesisnya mengenai contemporaneity yang ia presentasikan di diskusi ZKM di Hong Kong tahun lalu. Istilah ini merupakan upayanya untuk menentang hegemoni Etnologi dan Antropologi saat melihat keberadaan nonBarat (kita, red.) Sehingga --menurutnya-- alih-alih menggunakan terminologi Art Now yang kerap kali didedungkan oleh pemikir senirupa dunia, ia menggunakan terminologi Ethinicity Now untuk memberikan tentangan atas pemikiran tersebut,
Tentunya kening banyak orang akan berkerut saat mendengarkan istilah Ethincity Now ini. Satu keuntungan dan kelemahan Jim Supangkat sebagai pemikir adalah permasalahan bahasa Inggris. Di satu pihak, ia tidak terkotak-kotakan oleh kata-kata dalam bahasa Inggris dengan “rasa” bahasa yang sevalid para penutur bahasa Inggris sebagai bahasa ibu sehingga dengan mudah ia menjungkar-balikkan berbagai konotasi terminologi sesuai dengan pesannya; tapi di lain pihak, ia pun memiliki kesulitan untuk menyampaikan seluruh benaknya dengan fasih melalui bahasa ini. Istilah ini ia tambatkan dengan pembatasan nalar seni tradisional (ethnic arts sensibilities) yang plural dan tak terbatas. Keluasan ini dapat dibatasi dengan architype, metaphor, visual culture. Yang terakhir berkaitan erat dengan modernisasi dan nalar ala Cartesian. Kiranya ketiga aspek ini adalah aspek yang dapat menjembatani jarak antara perkembangan sejarah senirupa Barat di satu sisi dan kontekstual senirupa “Timur” yang secara politis lebih “benar” di sisi yang lainnya. “Dengan tiga nego ini kita bisa mendapatkan posisi baru”, tandasnya.
Ia pun melihat bahwa perkembangan saat dunia saat ini bukanlah perkembangan seperti yang disebut oleh Samuel P. Huntington sebagai clash of civilizations tapi clash of globalizations mengingat arus globalisasi tidak hanya didominasi oleh MacDonaldisasi atau pun Westernisasi seperti yang dirumuskan oleh teoritisi Barat. Globalisasi yang bersumber dari dunia Timur pun muncul dalam globalisasi sebenarnya. Dan inilah yang penting dan juga menjadi satu “tantangan” bagi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Itu mengapa penting bagi pemikiran-pemikiran nonBarat untuk mengklaim posisinya dalam wacana dunia.
“Saya tidak akan menulis buku tentang sejarah sih“, akunya. “Sejarah buat saya intinya adalah local history. Dan itu persoalannya. Begitu saya bilang bahwa approach saya art history, pikiran mereka (pemikir dan kritikus senirupa Barat, red.) sudah tidak di sana (local history, red.); sementara saya mau menolak juga susah karena saya menggunakan art discourse Barat karena influence itu ada...Sekali berbicara tentang art history, kita pun jatuh ke wacana sejarah senirupa barat….Dan sekali kita berbicara tentang local history, kita akan tutup mata. Segala istilah contemporary maupun modern akan di-reconstruct, dan akan menggunakan istilah yang sekarang (yang ia gunakan, red).”
“Kita harus punya strategi untuk berbicara dengan mereka (dunia senirupa global, red.) Karena mereka benar-benar ignore betul. Apa pun yang kita mau omongkan kalau logikanya seperti itu (Barat, red.), percuma”, tukasnya.
Pemikiran-pemikiran inilah yang menggarisbawahi kegiatan kuratorial Jim Supangkat sepanjang tahun 2010. “Saya kira yang signifikan adalah pameran Ethnicity pada tanggal 2 Desember nanti dan pameran Entang,” ungkapnya saat ditanyakan pameran manakah yang penting baginya di antara 12 pameran yang ia kerjakan pada tahun ini. Keduanya ia letakkan sebagai sebuah rangkaian ide yang juga ia tampilkan pada pameran Contemporainety yang diselenggarakan di MoCA. “Persoalannya sama,” ia pun menerangkan.
Selain mendapatkan pembelaan dari sekelompok pemikir senirupa dunia, pemikiran ini pun ditentang oleh orang-orang seperti kritikus senirupa Australia, Tony Godfrey. Diskusi di antara keduanya pun berlangsung secara virtual bahkan setelah penyelenggaraan diskusi ZKM hingga akhirnya sang penulis buku Conceptual Art ini berkesempatan untuk memberikan ceramah di Yogyakarta atas undangan Langgeng Foundation beberapa bulan yang lalu. Jim pun meminta secara khusus agar Tony dapat mengunjungi beberapa perupa yang dirujuknya selagi ada di Yogyakarta. Setelah mengunjungi perupa-perupa tersebut, Tony pun berkomentar, “saya baru mengerti apa yang kamu bicarakan”. Dan Jim pun membalasnya dengan,” itu yang saya coba jelaskan selama ini”. [V] Vidhyasuri Utami
| |
|
|
|
|
|
ENTANG WIHARSO BUKAN SI MALIN KUNDANG |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Jumat, 10 Desember 2010 10:09 |
   | | DI TENGAH BANYAK PERUPA LARUT PADA SELERA PASAR DAN TREN GLOBAL, ENTANG WIHARSO SETIA DENGAN AGENDA DAN EKSPLORASINYA SENDIRI. HINGGA MENGHASILKAN PAMERAN YANG FENOMENAL DAN TERBAIK TAHUN INI.
Pilihan sikap Entang Wiharso tidak ikut selera pasar dan tren global, memang mengandung risiko. Yang paling nyata, karya-karyanya di pasar --sementara ini-- kurang bisa mencetak harga yang mengagumkan. Di sisi lain, ungkapan dan karyanya menjadi tidak biasa di forum global. Akan tetapi hal itu kelihatannya tidak menjadi soal baginya. Toh karya-karyanya yang dekat dengan kanon perkembangan yang dibentuk dengan kekuatan lokal --mengenai keutamaan dan nilai-nilai, persepsi tentang seni dan cita rasa-- mempunyai pesona tersendiri. Terasa sekali bahwa tujuan akhir karyanya bukan semata dinding galeri, dinding kolektor, atau balai lelang, akan tetapi ruang kesadaran bersama yang plural.
Sebagai seniman kelahiran Tegal 1967 yang dibesarkan oleh keluarga dan lingkungan Islam dan tradisi Jawa, belajar seni secara formal di ISI Yogyakarta, menikah dengan perempuan Amerika Serikat dan dikarunia anak, tinggal dan bekerja ulang-alik Rhode Island, AS dan Yogyakarta yang lingkungannya berbeda, bergumul dengan realitas urban dan banyak pandangan lokal hingga internasional, menghadapi fanatisme, kekerasan dalam berbagai bentuknya; akhirnya Entang sampai pada pertanyaan pokok: dasar apakah yang digunakannya untuk ungkapan-ungkapan karyanya? Lalu apakah seni baginya?
Dasar ungkapan Entang Wiharso adalah etika. Dan ungkapan seni berpangkal pada perasaan yang merupakan gabungan antara sensibility yang melibatkan akal dan sensitivity estetis yang punya kapasitas merasakan moral dan etika. Karena itu ungkapan seni – dari yang santun sampai yang provokatif—mengandung kebaikan yang menampilkan pikiran positif tetang realitas apapun dalam kehidupan, begitu tulis Jim Supangkat, yang bertindak sebagai kurator pameran tunggalnya “Love Me or Die” yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, 21-30 Oktober 2010.
Pameran tunggal terbarunya ini, adalah bukti ungkapan-ungkapan aktualnya. Mungkin ini semacam puncak gunung es, karena apa yang muncul dalam pameran ini sudah dirintis beberapa tahun sebelumnya. Bahkan akar-akar idenya menghunjam pada tiga sampai sepuluh tahun yang lalu. Dengan kata lain, pameran tunggalnya ini merupakan presentasi rekaman lintasan perjalanan ide-ide yang bertolak pada permulaan tahun 2000. Citra black goat, ornamentasi, teks, motif kulit binatang dan panorama telah digunakan sebagai simbol-simbol untuk menanyakan, evaluasi, observasi, dan mencerminkan tema-tema utama dalam karyanya.
Sebagai seniman kontemporer, dengan pengalaman internasional, Entang boleh kita sebut sebagai bukan “Si Malin Kundang”. Dalam arti, ia bisa saja memakai bahasa asing (Inggris) untuk teks-teks karyanya, tapi ia tetap menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa. Ia bisa saja menggunakan plat aluminium untuk medium karya-karyanya, tapi logam-logam itu di perlakukan bak belulang kerbau atau sapi, sebagai bahan wayang kulit, yang di dalam siluetnya diberi cut-out berupa ornamen dan bahasa batik. Pada karya “candinya” yang akan dijadikan proyek tumbuh, berjudul “Temple of Hope” ia mempertemukan masa lalu (umpak batu) sebagai landasan empat penjuru angin, dengan kerangka dan dinding logam yang “diukir” dengan banyak (siluet) figur, ornamen dan teks. Teks-teks itu tidak melulu dari pikirannya sendiri, tapi juga ucapan atau tulisan dari kawan-kawan dekatnya. Sehingga karya-karya itu menjadi dekat dan komunikatif, kalau tidak boleh disebut “mengindonesia”. Apalagi ketika di dalam bangunan candi itu diberi lampu, dan cahayanya menerobos lobang-lobang ornamen dan tulisan hingga memantuli kedinding-dinding, mengingatkan kita pada pertunjukan wayang dari balik layar.
Dengan “bahasa ibu” --meminjam istilah Jim-- yang mengalir begitu saja tanpa dihasratkan, kemudian berhasil dijadikan bahasa visual dan bahasa personal terkini Entang, maka karya-karyanya tidak jatuh menjadi “ndeso”. Malahan sebaliknya karya-karnya Entang terasa begitu fasih mengatakan pikiran, hingga perasaannya yang paling dalam. Pikiran dan perasaan khususnya tentang mencari hubungan cinta dan kekuasaan yang terkesan paradoks. Betapa tidak, cinta tidak egosentris. Sementara kekuasaan justru selalu egosentris. Kekuasaan selalu mencurigai ‘pihak lain’, karena paranoid, kekuasaannya akan direbut. Pada kekuasaan seperti ini, Entang merasa tidak menemukan hati, cinta dan spiritualitas.
Pilihan bahasa ibu sebagai bahasa visual, juga memerlukan keberanian tersendiri. Bagi sementara orang, bahasa ibu itu identik dengan craft, seni kriya, atau kerajinan, dan oleh karena itu tidak dimasukkan pada seni tinggi, fine art. Kriya seringkali dimasukkan pada low art, seni yang berkasta rendah. Tapi di tangan Entang, kriya dan sebangsanya itu tadi tidak berhenti pada keindahan yang menyenangkan semata, apalagi kerajinan yang berkasta low art. Memang agak aneh, di era kontemporer, kita masih saja mendengar pengkastaan seni rendah dan seni tinggi, yang merupakan bawaan dari seni rupa modern yang tidak relevan lagi untuk masa sekarang.
Di mata kurator, penulis dan Dosen ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo, Entang adalah tipe seniman penjelajah yang subur dengan gagasan-gasan kritis. Ia melukis, membuat obyek, instalasi, hingga tampil dalam performance art. Hidup dan kehidupannya penuh dengan pengalaman serta benturan yang mengkondisikan dirinya untuk bertarung melawan dominasi, hegemoni, intimidasi, kesewenang-wenangan, dan penilaian sepihak yang anti dialog. Karena itu karya-karya Entang sesungguhnya merupakan upaya terus-menerus untuk memperjuangkan dan merefleksikan nilai, etika dan moralitas.
Dalam kaitan dengan moralitas tersebut, pengamat seni Dr. Amanda Katherine Rath, berpendapat bahwa Entang tidak mengungkapkan moralitas yang lugas dan telanjang. Namun dari citraan karya-karya Entang, yang brutal dan kritiknya yang tajam, jelas bahwa karyanya didasarkan atas pondasi moral dan etik yang kokoh. Tentu saja, karena dia bukan Si Malin Kundang, Amanda. [V] Yusuf Susilo Hartono
| |
|
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 4 |
|
|
|
|
|
|
|
|